SISI LAIN DARI LEBARAN

August 23, 2016

mudik-lebaran

*Oleh: Hasrul Harahap

Makna ruhani Idul Fitri dapat dipahami dengan baik hanya jika kita dapat melihatnya dari sudut pandangan keagamaan yang melatarbelakanginya. Seperti halnya dengan semua pranata keagamaan, Idul Fitri merupakan rangkuman nilai-nilai Islam dalam sebuah kapsul kecil, dengan muatan simbolik yang sangat kental. Hari raya Idul Fitri sebagai puncak pelaksanaan ibadah puasa memiliki makna yang berkaitan erat dengan tujuan yang akan dicapai dari kewajiban berpuasa itu sendiri. Secara etimologi (kebahasaan), Idul Fitri berarti hari raya Kesucian atau juga hari raya Kemenangan yakni kemenangan mendapatkan kembali, mencapai kesucian, fitri. Sebagaimana tradisi-tradisi lainnya yang berkembang subur dimasyarakat, mudik telah diangap sebagai ritual yang wajib dilakoni oleh mayoritas masyarakat urban di Indonesia. Mudik atau kembali ke mudik secara biologis adalah jembatan untuk kembali ke kampung halaman bertemu dan bersilaturahmi dengan orang tua, keluarga dan handai taulan. Mudik secara spiritual menjadi ajang menemukan kembali asa, adab dan jati diri pribadi yang seakan telah menjauh bahkan menghilang dari lingkungan serta peradaban yang membentuk dan membesarkan karakternya sejak dini.  Selanjutnya lebaran secara sosial dianggap sebagai medium penyegaran kembali ukhuwah serta kehangatan relasi sosial yang sempat renggang karena tuntutan kerja diperantauan. Kewajiban mengeluarkan zakat adalah bentuk tanggung jawab sosial kaum yang memperoleh kemenangan di hari lebaran kepada para kaum papa dan dhuafa. Selanjutnya disambung dengan semangat silaturahmi atau halal bihalal sebagai jalan mendapatkan pembebasan dari dosa dan khilaf dengan saling membuka lebar pintu maaf. Lebaran dalam tataran sosial juga seharusnya menjadi titik balik kemenangan umat untuk keluar dari telikung sifat bathil, gemar menjarah, sikap telengas atas sesama serta jebakan jiwa penuh amarah. Mampukah ritual mudik dan lebaran menghapus paradoks kompleksitas dan kekeliruan pemaknaan atas kewenangan umat muslim selama ini. Akankah spiritualisasi mudik mampu mengantarkan umat muslim menjadi insan kamil (insan paripurna) yang juga berlebaran secara paripurna?

Instabilitas Ekonomi

Instabilitas ekonomi, keamanan dan membumbungnya bahan-bahan kebutuhan pokok menjadi hal yang biasa berulang tanpa terkendali setiap tahun menjelang Lebaran. Fenomena ini barangkali hanya terjadi di Indonesia. Padahal, akibat kenaikan bahan-bahan pokok ini mengakibatkan angka kriminalitas semakin tinggi. Semakin terhimpit ekonomi seseorang, semakin pendek akal pikiran sehingga terpaksa melakukan tindak kriminal. Karena kejahatan terjadi bukan hanya ada kesempatan, namun juga karena tekanan. Tekanan ekonomi membuat seseorang dapat menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang dan kebutuhan hidup. Sehingga terjadilah pencurian, penjambretan, bahkan perampokan yang berakhir dengan pembunuhan. Instabilitas ekonomi ini menyebabkan keamanan masyarakat terancam. Di satu sisi, perasaan rindu berjumpa keluarga dan kampung halaman tidak begitu mudah untuk dihilangkan. Namun di sisi lain, tekanan ekonomi dan jaminan keamanan masih menjadi barang langka bagi kebanyakan pemudik. Mudik adalah fenomena realitas sosial budaya dan ekonomi yang walaupun tidak ada dasar di dalam ajaran agama namun seolah telah menjadi ritual wajib. Ajang silaturahim terbesar di dunia yang hanya ada di Indonesia. Bukti nyata bahwa di negara ini azas kekeluargaan tetap hidup lestari walaupun justru sering dinafikan para pemimpin, pejabat dan wakil rakyat demi kepentingan sesaat yang sesat sehingga setiap tahun kita melihat bagaimana negara ini gagal melakukan penataan manajemen untuk melayani para pemudik secara layak, aman, nyaman dan bermartabat. Yang kita lihat selalu hanya keruwetan dan berbagai tragedi kemanusiaan yang seharusnya dapat diantisipasi sehingga tidak perlu terjadi. Fenomena mudik ini seharusnya harus membuat semua pihak lebih peka terhadap masalah-masalah yang ditimbulkan. Tidak hanya pemerintah, masyarakat pun turut berpartisipasi. Munculnya akar permasalahan mudik timbul karena tidak adanya keseimbangan dalam berbagai hal. Bila pihak pemerintah dan masyarakat dapat bekerja keras dan bekerja sama secara efisien, niscaya masalah mudik akan dapat teratasi. Sehingga nanti tidak akan ada lagi arus urbanisasi yang menekan laju pertumbuhan penduduk, stabilitas ekonomi mulai menunjukkan perubahan ke arah yang lebih maju, dan resiko berjatuhannya korban kecelakaan lalu lintas dapat diantisipasi.

Makna Asketisme Lebaran

Makna spiritualitas dari tradisi mudik adalah mengembalikan fitrah masyarakat kampung yang sepanjang tahunnya hidup di alam perkotaan dengan segala dinamikanya yang oleh Cholil Mansyur (1992) dicirikan dalam tiga karakteristik. Pertama, sikap hidupnya cenderung individualisme atau egois, yaitu masing-masing anggota masyarakat berusaha sendiri-sendiri tanpa terikat oleh anggota masyarakat lainnya, hal mana menggambarkan corak hubungan yang terbatas, di mana setiap individu mempunyai otonomi jiwa atau kemerdekaan pribadi. Kedua, tingkah lakunya bergerak maju, mempunyai sifat kreatif, radikal dan dinamis. Dari segi budaya masyarakat kota umumnya mempunyai tingkatan budaya yang lebih tinggi, karena kreatifitas dan dinamikanya kehidupan kota lebih menerima yang baru atau membuang sesuatu yang lama, lebih reaktif, lebih cepat menerima mode-mode dan kebiasaan-kebiasaan baru. Ketiga, perwatakannya cenderung pada sifat materialistis, akibat dari sikap dan egoisme dan pandangan hidup yang radikal dan dinamis menyebabkan masyarakat kota lemah dalam segi religi, yang menimbulkan efek-efek negatif yang berbentuk tindakan amoral, indisipliner, dan kurang memperhatikan tanggung jawab sosial. Dengan mudik, mereka seolah ingin menanggalkan kondisi kehidupan perkotaan yang keras dan kejam untuk sebuah keinginan menemukan jati dirinya yang asli sebagai masyarakat kampung yang hidup dengan penuh kesederhanaan, ramah dan jujur serta kental religi. Setidaknya mereka ingin beromantisme dengan masa lalunya di kampung. Untuk itulah, masyarakat perlu mengubah kultur Lebaran dari kultur konsumsi ke kultur yang kuyup nilai-nilai spiritual dan sosial. Karena itu, masyarakat membutuhkan Lebaran yang lebih asketis. Dengan asketisme itu, masyarakat mampu menggenggam pencerahan. Sementara itu, dalam logika kapital dan kultur konsumsi itu, Lebaran menjadi amat mahal, bahkan sulit dijangkau, terutama bagi masyarakat bawah, kaum duafa, kaum yang terpinggirkan secara sosial-ekonomi. Harga-harga kebutuhan mendasar dan ongkos jasa yang melejit menjadi prasyarat wajib bagi siapa pun untuk dapat merayakan dan menikmati Lebaran. Tingkat kebutuhan dan keinginan yang amat melesat memaksa setiap orang berjuang untuk mendapatkan tambahan pendapatan. Tunjangan hari raya pun menjadi keniscayaan yang tidak dapat ditawar bagi masyarakat yang hidup dalam struktur kelembagaan, baik resmi maupun swasta. Bagi pegawai negeri sipil, tunjangan hari raya bukan masalah. Namun, bagi karyawan swasta, tunjangan hari raya sering menimbulkan masalah.

Sisi Lain Lebaran

Salah satu tulisan seorang sastrawan dan budayawan terkenal (Alm) Umar kayam dalam cerpennya yang berjudul “Menjelang Lebaran”, merupakan salah satu cerpen di kumpulan cerpennya yang bertemakan lebaran. Beliau dalam cerpen-cerpennya tersebut ingin menggambarkan suatu fenomena yang berbeda dibalik kebiasaan saat lebaran yaitu ketika kita sedang merayakan euforia hari raya Idul Fitri Umar Kayam malah menghadirkan sebuah ironi, yaitu sebuah kedukaan menjelang hari lebaran. Memang seharusnya hari lebaran dimaknai   sebagai perayaan besar bagi umat  agama Islam, hal inipun dibumbui sebuah sosio-kultur yang sering kita lakukan yaitu silahturahmi, seperti pulang kampung, dan juga berbagai kegiatan seperti berbelanja baju baru, memasak masakan istimewa dan lain sebagainya. Umar Kayam seolah ingin menyadarkan kita semua bahwa dimana ketika akan lebaran pun ternyata ada hal-hal yang mengironikan perayaan lebaran itu, dengan kedukaan. Cerita yang mengharukan dan membuat kita menyadari bahwa nyatanya ada kedukaan dibalik perayaan lebaran. Nyatanya ada realitas yang menyatakan bahwa dikala perayaan yang mengatasnamakan kemeriahan, kegembiraan, kemenangan dan rasa syukur ternyata ada hal yang tak terduga oleh kita yaitu, kedukaan ketika menjelang lebaran. Dengan begitu, maka perayaan lebaran tidak perlu diperingati dengan konsumtif, glamour dan pesta pora yang tidak bernilai kemanusiaan atau keagamaan. Perayaan Lebaran Idhul Fitri adalah tempat kesunyian refleksi menata hidup ke depan. Idhul Fitri memiliki makna kembali pada kesucian, manusia kembali lagi seperti kertas putih. Dari kertas putih tersebut, esok hendaknya dihiasi dengan warna kebajikan. Kebajikan dalam konteks kisah orang miskin di cerpen- cerpen Umar Kayam dan ironi makna lebaran dalam Sajak Sitor Sitomorang tidak terjumpai lagi di bumi Indonesia. Kemenangan milik semua orang dan bangsa ini selalu diisi dengan aktivitas kebajikan. Manusia yang kembali menjadi kertas putih suci mencapai makna yang hakiki dan berkesadaran sosial yang tinggi. Ibadah puasa dan bulan Ramadhan mestinya menjadi momen mawas diri untuk mengintropeksi diri (kembali) ke jalan fitrah (kemurnian asal kita sebagai manusia dan bangsa). Gema takbir (pengagungan Tuhan) mengajak kita keluar dari kesempitan ke kelapangan jiwa. Dalam kebesaran Tuhan, setiap insan merupakan wujud ciptaannya yang paling sempurna dengan kondisi awal yang sama-sama suci. Keyakinan akan keaslian yang suci mengandaikan setiap orang memiliki sifat Ketuhanan dengan lentera hanifnya yang menuntun ke jalan benar. (Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H Minal Aidin wal Faizin Mohon Maaf Lahir dan Batin)

*Penulis adalah Tenaga Ahli Wakil Ketua Komisi II DPR RI

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: