MENUJU SUKSESI KONGRES HMI

November 26, 2015

lafran paneOleh: Hasrul Harahap

(Tulisan Dipersembahkan dalam Rangka Kongres HMI Ke- XXIX di Pekanbaru Riau)

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merupakan organisasi kader yang berorientasikan pada nilai-nilai keislaman, keindonesiaan dan keumatan. Dalam kesejarahannya, HMI senantiasa berhadapan dengan tantangan dan permasalahan pada situasi serta kondisi yang berbeda-beda. Sebagai organisasi yang bersifat independen, HMI selalu mengedepankan pijakan terhadap kebenaran dan pembelaaan kaum mustadh’afin. Tidak bisa dipungkiri, begitu besar kontribusi HMI terhadap Bangsa dan Negara Indonesia.  Hal ini terlihat dari peran serta secara aktif para alumni dan aktivis HMI untuk berjuang bersama-sama dalam membangun negeri ini. Perkembangan jaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi informasi dan transportasi telah memunculkan berbagai tantangan baru. Tantangan-tantangan tersebut ternyata kurang begitu direspon oleh  HMI, sehingga HMI cenderung tenggelam dengan dunianya sendiri. Di sisi lain dengan munculnya beragam organisasi mahasiswa yang sejenis seolah-olah semakin menghilangkan nama besar HMI yang pernah diraihnya pada masa lalu. Sejak didirikan tahun 1947, HMI sebagai salah satu kawah candradimuka kepemimpinan nasional harus kembali berbenah. Sejujurnya harus diakui bahwa baik secara langsung maupun tidak langsung banyak kader HMI yang telah mewarnai dinamika perjalanan Indonesia dalam konteks berbangsa dan bernegara. Meskipun catatan-catatan emas telah ditorehkan, namun tidak sedikit pula catatan kelam ditorehkan oleh warga Insan Cita. Membanggakan sejarah kebesaran para senior tanpa dibarengi dengan upaya menciptakan prestasi kekinian, maka akan menjadikan HMI hanya sebagai beban sejarah bagi kadernya. Tidak mengherankan bila almarhum Nurcholis Madjid dipuncak kegelisahannya terhadap kiprah para pengurus organisasi ini yang cenderung larut dalam bayang-bayang para alumni, kemudian sempat melontarkan penyataan bahwa HMI sebaiknya dibubarkan saja (Navis 2002). Menyalahkan diri sendiri adalah sikap yang paling elegan untuk mengawali perbaikan. Sistem perkaderan di HMI yang menproses anggotanya melewati berbagai jenjang kepemimpinan organisasi mulai dari komisariat, cabang, badko hinga pengurus besar sudah saatnya melakukan upaya penyegaran kembali (refreshment) mengingat stigma tertua dan terbesar yang melekat pada HMI dalam peta gerakan mahasiswa secara nasional. HMI saat ini harus bisa melihat fenomena-fenomena kepemimpinan yang berkembang saat ini baik dalam konteks nasional maupun internasional. Sebagai organisasi kader HMI sudah seyogyanya melakukan rekonstruksi kepemimpinan kader dalam hal mempersiapkan kepemimpinan bangsa kedepan. Pentingnya kaderisasi kepemimpinan HMI harus disiapkan melalui tujuan yang jelas yaitu; melalui tujuan antara (intermediate goal), kemudian tujuan (visi) utama (ultimate goal). Lebih-lebih dalam menghadapi era. Oleh karena itu, Kongres HMI ke 29 merasa terpanggil untuk meimilih pemimpin dan kader-kader terbaik guna disiapkan untuk mengisi dinamika persoalan bangsa dalam rangka terwujudnya peradaban umat yang lebih baik.

 Inklusifitas HMI

Setelah 68 tahun menghadirkan dirinya di atas pentas kehidupan umat, bangsa, dan negara, HMI banyak menghadapi tantangan. Bukan saja karena ia harus menunjukkan kemampuan untuk meningkatkan perannya, tetapi juga karena justru untuk meningkatkan peran itu HMI harus mampu memberi respons pada tantangan zaman yang berbeda dari yang pernah ada. Berkenaan dengan ini, penulis sering mengemukakan bahwa tantangan sekarang tidak lagi lebih banyak bersifat “fight against” atau “berjuang melawan” seperti dahulu sekitar awal kelahiran Orde Baru ketika negara terancam oleh berkembangnya ideologi anti-Pancasila dan antiagama; tantangan sekarang lebih banyak menuntut kemampuan untuk “fight for” atau “berjuang untuk”, yakni sikap-sikap proaktif (positif ), bukan reaktif (negatif ).  Agaknya hanya jika HMI mampu melancarkan sikap-sikap proaktifpositif itu, maka “raison etre”-nya akan tetap bertahan dan kukuh. Pegangan setiap kader adalah kebenaran agama Islam yang hanief. Dengan cenderung kepada kebenaran, setiap kader dibimbing oleh jalan suci Islam. Namun, kader HMI tidak dibenarkan untuk memaksakan kebenaran Islam kepada orang lain di luar Islam termasuk untuk melakukan klaim kebenaran tanpa landasan rasional yang dapat diterima secara akliah. Dari internalisasi akan kebenaran  yang sejati, maka setiap diri tidak hanya akan memancarkan kesalehan indiviual termasuk pula kesalehan sosial.  Inklusifitas  hanyalah konsekuensi logis dari kebebasan berpikir. Setiap kader HMI seyogyanya memahami hakikat keterbukaan demi menghindarkan kejumudan kader untuk memperkaya khazanah Islam maupun Indonesia. Soalnya, begitu kecenderungan kader mengarah pada eksklusifitas (ketertutupan) maka alamatlah HMI menjadi organisasi yang terbelakang. Sehingga, tak ada alasan bagi kader untuk mengharamkan sumber-sumber pengetahuan dan kebaikan yang berasal dari Barat ataupun Timur. Kuntowijowo malah mengingatkan kita bersama bahwa Islam adalah paradigma yang terbuka : “ …kita perlu terus menyadari bahwa kita mewarisi tradisi sejarah dari seluruh peradaban manusia. Itu artinya kita tidak membangun dari sebuah vacuum. Semua peradaban dan semua agama mengalami proses meminjam dan memberi dalam interaksi mereka satu sama lain sepanjang sejarah. Oleh karena itu hampir tidak mungkin kita bersikap eksklusif. Sikap seperti itu adalah a-histroris, dan tidak realistis .

Insan Intelektual

Ide progrressif berarti memandang kehidupan secara positif. Karena sejarah kehidupan manusia dipandang bergerak maju, secara material (duniawi) ataupun spiritual (eskatologis/akhirat). Sehingga, dengan ide kemajuan atau progresifitas sejarah, maka manusia akan secara aktif mempersiapkan diri menghadapi tantangan dan perubahan di masa depan. Sebagai konsekuensinya umat Islam harus merespon secara kreatif. Disinilah Islam menjadi dimanis, karena menuntut  kontekstualisasi, konteks zaman dan tempat, dalam menghadapai tantangan zaman. Selanjutnya, pilar-pilar akademis ini, merupayakan sebuah keniscayaan status HMI sebagai organisasi kemahasiswaan. Menjadi bagian dari civitas akademika, berarti harus menjadi insan kampus yang mampu berpikir logis, terstruktur, sesuai kaedah ilmiah dan objektif. Termasuk yang terpenting adalah pandangan kritis dan artikulatif, tidak sekedar membeo  atau meniru apa yang sudah menjadi pakem umum. Kader HMI harus mampu mengaktualisasikan citra diri insan akademik melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dengan demikian, sebetulnya citra kader HMI yang intelektual tak lain karena berpendidikan Tinggi, berpengetahuan luas, berfikir rasional, obyektif, dan kritis. Penciptaan kondisi iklim intelektual dan akademis semacam itu akan mengingatkan slogan bahwa HMI adalah universitas kedua bagi mahasiswa. Karena tradisi diskusi, menulis dan membaca tak pernah sepi di kalangan HMI. Selain itu, zaman ini menghendaki tuntutan profesionalitas kader di bidangnya masing-masing. Seorang kader harus memiliki ketrampilan khusus seperti komputer ataupun bahasa asing. Dengan kapasitas keilmuan dan profesionalitas seperti itu akan membuat kader HMI memiliki nilai jual (selling point) sebagai konsekuensi logis dari keunggulan komparatif mereka dari mahasiswa lain. Dalam konteks HMI, disinilah kita merasakan betul bagaimana kuatnya rasa solidaritas dan persaudaraan sesama muslim. Wajarlah jika di lingkungan HMI, antara junior dan senior, terbina hubungan yang sangat dekat. Bahkan, HMI tak berhenti di lingkaran kecil HMI, umat Islam secara keseluruhan di dunia ini merupakan bagian yang tidak bisa. Kemudian pilihan keberpihakan kepada mustadhafin (yang tertindas) karena tuntutan doktrin teologis Islam. Mereka yang terindas, tidaklah harus dikategorikan sebagai kalangan miskin. Setiap yang merasa teraniya akibat perlakukan yang zalim, baik secara politik, sosial, ekonomi ataupun budaya berhak untuk menuntut keadilan. HMI harus berada di garda terdepan untuk melakukan pembelaan atas perlakuan yang semena-mena dari kalangan mustakbirin (penindas). Bentuk-bentuk keberpihakan kepada kaum mustadhafin bermacam cara, mulai dari upoaya konfrontatif hingga yang paling soft dengan pemberdayaan dan pengembangan masyarakat (community development).

Peran Kebangsaan

HMI sejak awal pendiriannya bertujuan untuk turut serta memberikan sumbangan baik berupa materil maupun immaterial kepada perjuangan bangsa Indonesia dalam usahanya untuk meraih kemerdekaan dan mewujudkan cita-cita nasional. Oleh karena itu seperti yang diungkapkan oleh Jendral Besar Soedirman, bahwa HMI adalah Harapan Masyarakat Indonesia, HMI memiliki peran-peran dalam masalah kebangsaan di Indonesia. setidaknya ada beberapa peran kebangsaan yang include pada HMI, ketika ia menjalankan aktivitas perjuangan organisasinya.

HMI adalah organisasi perkaderan, di mana fungsi utamanya adalah mendidik putra-putri bangsa, muslimin dan muslimah pilihan yang berada pada jenjang perguruan tinggi untuk menjadi pemimpin umat dan bangsa. Penguasaan terhadap ilmu pengetahuan yang telah dimiliki, disempurnakan oleh proses perkaderan di HMI dengan pendalaman pemahaman, serta pengejawantahan nilai-nilai keislaman dalam konteks sebagai individu yang bertanggung jawab sebagai sebagai bagian dari “anak” umat dan bangsa. Perkaderan di HMI berlandaskan pada tiga nilai yaitu nilai ideologis, nilai politis, dan nilai sosiologis. Nilai ideologis HMI diinisiasikan lewat Nilai Nilai Dasar Perjuangan (NDP), dengan maksud perjuangan HMI adalah perjuangan suci yang diridloi Allah SWT. Landasan nilai yang berikutnya adalah nilai politis. Nilai politis HMI tercantum dalam tujuan HMI, yang berkeinginan untuk menciptakan Insan Cita yang memiliki kesadaran Ketuhanan untuk siap menjadi pemimpin sekaligus mengemban misi kenabian untuk terus melakukan perubahan, pembaharuan, pembangunan dan pencerahan dalam kehidupan bagi umat dan bangsa, dengan terus memperjuangkan kebenaran sebagai pengejawantahan nilai-nilai ideologisnya sepanjang hidup dan kehidupannya. Jadi, nilai sosiologis ini merupakan derivasi dan manifestasi dari nilai ideologis dan nilai politis organisasi ketika ia di operasionalisasikan pada level pengamalan di lapangan. Konsekuensi dari nilai-nilai tersebut tergambarkan dalam pola dan karakter perjuangannya, HMI tidak taklid pada simbol-simbol keislaman semata, nilai-nilai ini menuntun kader-kader HMI menjadi lebih moderat dan inklusif saat berhubungan dengan entitas masyarakat lainnya. Selamat Berkongres Buat HMI yang ke XXIX di Pekanbaru Riau.

Penulis adalah Tenaga Ahli Anggota Komisi II DPR RI

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: