MENYEGARKAN (KEMBALI) GERAKAN MAHASISWA

September 28, 2015

http://issuu.com/waspada/docs/waspada__selasa_22_september_2015/17?e=0Gerakan Mahasiswa

*Hasrul Harahap

Gerakan Mahasiswa yang didominasi oleh para pemuda yang memiliki watak orang muda yaitu menginginkan perubahan. Mahasiswa yang memiliki peran-peran perubahan seperti diungkap Ernest Mandel menempatkan dirinya sebagai “student power”, walaupun dalam  masyarakat luas  slogan  ini memang dihindari karena artinya bahwa  sebuah minoritas  kecil menempatkan dirinya sebagai pemimpin  mayoritas masyarakat. Tapi di dalam universitas slogan “student power” ini, atau  slogan lain yang sejurus dengan ide “self-management”  oleh massa mahasiswa, jelas punya arti dan valid. Karena mahasiswa merupakan individu yang berpotensi mampu meramu kesadaran diri dan intelektualnya, ketika menyikapi setiap perubahan dalam lingkungannya untuk menjadi sebuah gerakan. Inilah yang disebut dengan Intelektual Organik oleh Antonio Gramschi. Terkadang lahirnya Gerakan Mahasiswa itu tidak dengan perencanaan sebelumnya yang matang, melainkan banyak dikarenakan adanya momentum politik an sich.  Tapi jauh lebih penting dari itu adalah pembuktian sejarah gerakan mahasiswa sesuai dengan konteks zamannya, haruslah memberikan kesimpulan apakah  gerakan tersebut, dari orientasi atau tindakan politiknya, benar-benar mengarah serta bersandar pada problem-problem dan kebutuhan struk­tural rakyat. Karena dari memahami orientasi dan tindakan politik gerakan mahasiswa menunjukan bagaimana mahasiswa memahami masyarakatnya, menentukan pemihakan pada rakyatnya serta kecakapan merealisasi nilai-nilai tujuan atau ideologinya. Kesadaran akan adanya realitas kemasyarakatan yang muncul melalui cita-cita perwujudan keadilan, persamaan hak, dan nilai-kemanusian, telah menempatkan mahasiswa sebagai garda terdepan (Avant-Garde) dari perjuangan rakyat. Ali Syariati mengatakan bahwa perubahan sosial akan tercapai apabila munculnya individu dan masyarakat yang tercerahkan (Raushanfikr), manusia tercerahkan yang dimaksud adalah individu yang sadar akan dirinya, kondisi kemasyarakatannya, dan perangkat kesejarahannya. Mahasiswa yang merupakan bagian dari cendikiawan atau intelektual yang bergulat dengan ilmu pengetahuan, kemudian turun dari menara gading dunia akademisnya berusaha menjawab masalah sosial kemasyarakatan dan menjadi individu pertama yang tercerahkan. Hal ini seperti yang diungkap oleh Cak Nur dalam risalah Islam Doktrin dan Peradaban bahwa yang perlu dijawab oleh mahasiswa dari keadilan sosial ekonomi dalam masyarakat adalah pemerataan ekonomi dengan berpihak pada mustadaafin. Pembelaan atas mustadaffin dari kepemilikan yang tak terbatas dari kaum mustakbirin (Kapitalis), merupakan konsekuensi penegakan keadilan dan nilai kemanusian.

Yang Harus Dilakukan

Dalam pergaulan berbangsa dan bernegara mahasiswa merupakan pemimpin masa depan yang akan menegakkan nilai dan martabat negerinya. Karena seperti yang diungkapkan oleh Hans Kohn bahwa inti dari tegaknya suatu negara adalah adanya kemartabatan dari rakyat yang mengakuinya. Mahasiswa merupakan bagian dari massa rakyat yang menjadi trigger (pemicu) utama, untuk membangun kesadaran berbangsa  dan bernegara terutama dalam konteks mewujudkan harkat dan martabat rakyat. Nilai  lebih  secara organisasi dalam gerakan  mahasiswa, hanyalah bermakna  bahwa  di dalam organisasi mahasiswa ditempa dan dipenuhi syarat-syarat untuk turut serta melakukan perubahan. Diantaranya yang bisa kita catat adalah adanya pemahaman terhadap masyarakat dan persoalan-persoalannya, pemihakan pada rakyat, dan kecakapan-kecakapan dalam mengolah massa. Dari ketiga syarat tersebut Mahasiswa kemudian menurunkannya melalui beberapan tindakan yang melingkupi adanya perumusan tujuan dan orientasi gerakan mahasiswa, metodologi gerakan mahasiswa, serta strukturalisasi, sumber daya manusia, logistik  dan keuangan gerakan mahasiswa, dan Program-program  gerakan mahasiswa yang bermakna strategis-taktis. Kemampuan mahasiswa dalam memahami masyarakat dan persoalannya bukanlah tanpa sebab. Hal ini bersumber dari konsekuensi intelektualitasnya sebagai insan akademis. Pembacaannya atas persoalan kemasyarakan muncul dari perenungan dan pengakajian, ketika melalui proses pengembangan ilmu pengatahuan. Mahasiswa sebagai unsur akademik kemudian menjadi pilar utama dalam melakukan penelitian terhadap kondisi masyarakat. Tridharma Perguruan Tinggi yang terdiri dari pendidikan, penelitian dan pengabdian, merupakan sebab dasar mahasiswa kemudian mulai memperoleh pengetahuan tentang masyarakat. Keberpihakan terhadap rakyat itu sudah menjadi tuntutan, ketika mahasiswa mampu menjadi penyambung aspirasi. Sehingga peran mahasiswa untuk rakyat sudah menjadi panggilan suci yang menjadi keharusan untuk menjaga amanat rakyat dalan ranah pergaulan berbangsa. Kemampunnya untuk mengorganisir dirinya bersama rakyat menjadi kunci bahwa gerakan mahasiswa memiliki kemampuan untuk menggedor setiap penyimpangan dan ketidakadilan.

Format Gerakan Mahasiswa

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menafsirkan format gerakan mahasiswa kedepan, terutama dalam hal membangun konsolidasi Internal gerakan mahasiswa serta memilih wacana nasional yang lebih strategis. Format membangun konsilidasi gerakan secara internal dapat dilakukan melalui regenerasi organisasi mahasiswa serta ideologisasi yang berkelanjutan. Sedangkan kemampuan memilih wacana nasional didasarkan pada koridor pembangunan demokrasi, pemberantasan korupsi dan mengontrol perwujudan  kekuatan ekonomi rakyat. Dalam regenerasi organisasi gerakan mahasiswa, kemampuan untuk melakukan internalisasi ideologi sebagai cita-cita perjuangan dapat dilakukan melalui pembinaan kesadaran mahasiswa secara berkesinambungan. Ranah-ranah pembinaan ini diharapkan senantiasa selalu menyegarkan semangat setiap mahasiswa, untuk tetap kritis terhadap ketidakadilan yang ada. Pembentukan kesadaran mahasiswa akan jati diri, sejarah, dan pola kemasyarakatannya diharapkan mampu menjadikan mahasiswa senantiasa menjadi individu yang pertama kali tercerahkan dalam strata masyarakat yang ada. Dalam melakukan rumusan tujuan dan orientasi gerakan, mahasiswa dituntut mampu membuat   konsep  yang dapat menyatukan antara teori dan praktek  sebagai gagasan sentral aktivitas mereka. Persatuan teori dan praktek ini dapat dibilang pelajaran  yang paling berharga dari rekaman sejarah yang  diukir oleh revolusi-revolusi yang telah berlalu di Eropa, Amerika  dan bagian dunia lainnya. Melalui  sebuah tujuan dan orientasi gerakan dari hasil abstraksi teori dan praktek, gerakan mahasiswa akan mengerucut pada identitas mainstream gerakan yang jelas. Kejelasan mainstream menujukan adanya nilai-nilai ideologis yang dibawa dalam melakukan perjuangan. Dari segi metodologi gerakan sudah sepatutnya mahasiswa mampu menempatkan sebagai lembaga kontrol rakyat dan menjadi extra-ordinary parliament. Tegaknya kuasa rakyat sebagai pilihan dari pemerintahan demokrasi atas suatu negara, ketika adanya ‘check balance’ melalui kontrol agenda. Mahasiswa dalam berbagai hal bisa menjadi penyambung lidah rakyat, untuk melakukan advokasi kebijakan maupun pemberdayaan rakyat secara langsung. Untuk strukturalisasi sumber daya manusia, logistik dan keuangan gerakan mahasiswa, menitikberatkan pada keberlangsungan gerakan. Strukturalisasi sumber daya manusia melalui penyusunan fungsionaris organisasi dan regenerasi organisasi, adalah demi menjaga estafet perjuangan. Dari segi pemenuhan logistik mahasiswa dalam melakukan gerakan harus mampu mengelola sumber dan pendapatan dalam batas-batas koridor ideologi dan aturan organisasi. Sehingga menghidari adanya motif untuk menjadi intelektual penghianat, yang dapat mencederai cita-cita perjuangan. Selanjutnya capaian gerakan mahasiswa dapat diukur ketika mampu merealisasikan program-program gerakan baik secara taktis maupun strategis. Tanpa adanya program yang jelas maka gerakan mahasiwa terkesan tidak memiliki format, karena realisasi tujuan gerakan hanya mampu terukur dari aktivitas tindakan melalui program-program. Adanya program taktis secara jangka pendek dan program strategis jangka panjang mengindikasikan pengorganisasian gerakan mahasiswa berjalan secara teratur dan terukur.

Penutup

Dengan demikian, sebagai sebuah tindakan nyata gerakan mahasiswa telah mampu melakukan perubahan sosial. Kesimpulan yang dapat diambil bahwa potensi tetap akan selalu ada pada peran serta mahasiswa, untuk terlibat mengawal kemajuan negeri ini. Oleh karena itu tanpa bermaksud untuk meragukan kesungguhan hasil dari gerakan sebelumnya, gerakan mahasiswa yang akan datang harus lebih baik. Karena bagaimanapun kita tidak mungkin hanya sekedar menjadikan euporia sejarah sebagai sebuah kebanggaan, tetapi format gerakan yang aktual mesti terus dirumuskan. Berdasarkan uraian diatas akan dicoba untuk kembali merejuvenasi (menyegarkan) gerakan mahasisiwa hari ini mengingat ada banyak pergeseran seiring perkembangan jaman. Dengan melihat masalah; peran posisi mahasiswa; tujuan dan orientasi gerakan; metodologi gerakan; strukturalisasi sumber daya, logistik, dan keuangan gerakan; serta realisasi program-program gerakan mahasiswa baik taktis maupun strategis, diharapkan mampu menyegarkan kembali semangat perjuangan mahasiswa.  Disamping itu juga, gerakan mahasiswa sering diidentikan sebagai extra-ordinary-parlement, dalam demokrasi yang membutuhkan kontrol agenda dari rakyat. Penempatan mahasiswa sebagai mediator kelas sosial antara pemerintah elit dengan massa rakyat merupakan dinamika untuk menjaga keseimbangan sosial.

*Penulis adalah Aktif di Candidate Center & Tenaga Ahli DPR RI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: