BUDAYA LEBARAN

July 24, 2015

Terbit di Harian Waspada Medan 15/07/2015, semoga bermanfaat bagi para pembaca

Lebaran merupakan agenda rutinitas yangdilakukan ummat muslim setahun sekali. Banyak cara yang dilakukan ummat muslimIndonesia dalam menyambut datangnya lebaran. Salah satunya adalah melakukanmudik kekampung halaman masing-masing atau kembali kedaerah asal dimanaseseorang dilahirkan. Ada fenomena yang unik dalam tradisi masyarakat kitabahwa lebaran merupakan momentum bersilaturahmi sesama keluarga dan salingmemaafkan satu dengan yang lainnya. Mudik kekampung halaman dalam tradisimasyarakat kita dianggap merupakan salah satu bentuk bahwa seseorang telahberhasil diperantauan sehingga stigma yang dibangun di masyarakat seandainyaseseorang tidak melakukan tradisi mudik lebaran dianggap belum berhasil diperantauan.Seperti yang kita lihat sekarang bahwa lebaran merupakan tradisi puluhan tahundan sudah mengakar dalam budaya masyarakat kita, padahal tradisi lebaran initidak dikenal dinegara-negara luar. Seorang budayawan terkenal Umar Kayammenyatakan bahwa tradisi Lebaran merupakan terobosan akulturasi budaya Jawa danIslam. Kearifan para ulama di Jawa mampu memadukan kedua budaya tersebut demikerukunan dan kesejahteraan masyarakat. Akhirnya tradisi Lebaran itu meluas keseluruh wilayah Indonesia, dan melibatkan penduduk dari berbagai pemeluk agama.Untuk mengetahui akulturasi kedua budaya tersebut, kita cermati dulu profilbudaya Islam secara global. Di negara-negara Islam di Timur Tengah dan Asia(selain Indonesia), sehabis umat Islam melaksanakan salat Idul Fitri tidak adatradisi berjabatan tangan secara massal untuk saling memaafkan, yang adahanyalah beberapa orang secara sporadis berjabatan tangan sebagai tandakeakraban. Menurut Budayawan Rahar Panca Dahana mudik lebaran mulai memasukifenomena sosial sejak tahun 70-an ketika migrasi dan urbanisasi memberikandampak kuat. Apalagi bagi warga pulau Jawa yang paling banyak melakukan migrasidan urbanisasi, ada kebutuhan untuk pulang kampung dan kembali kepada duniaasli mereka. Radhar berpendapat bahwa mudik itu tak lebih dari kebutuhanseseorang untuk kembali kepada asal mula mereka. Kembali kepada diri semula,diri dimana seseorang dilahirkan, diri dimana seseorang diteguhkan. “Denganmudik itu, dia memurnikan dirinya kembali, menemukan dirinya kembali, yangdalam perantauan mungkin dirinya itu hilang dalam kepura-puraan, dalamkepalsuan, dalam kehidupan yang penuh tipu,”

Budaya Lebaran

Kalaukita cermati di tradisi lebaran yang dilakukan di Negara tetangga seperti diMalaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam, hari lebaran juga dinamai denganhari raya Aidil Fitri. Di kampung-kampung, masyarakat menyulut pelita (obor)dan mudik lebaran dari kota ke desa juga merupakan hal yang lumrah, dinamakanbalik kampung. Tradisi lebaran ini hampir sama dengan lebaran yang terjadidinegeri kita. Bahkan dari segi mengkonsumsi makanan budaya lebaran di Negaratetangga tersebut relatif sama, makanan khas lebaran mereka adalah ketupat,dodol dan lemang. Laki-laki mereka mengenakan baju Melayu lengkap dengan peci,sementara para wanita mengenakan baju kurung. Di Malaysia, kunjungan ke kuburanorang tua kemudian membacakan Surat Yasin adalah hal yang jamak dilakukan dihari lebaran, kemudian dilanjutkan dengan silaturahmi ke kerabat dan handaitolan. Tetapi lain halnya dengan India, Pakistan, dan Bangladesh, malamterakhir bulan puasa kerap disebut Chand Raat (malam bulan). Penduduk akanmemenuhi mal atau pusat-pusat pembelanjaan untuk membeli baju baru, gunadikenakan pada hari Chand Raat atau Idul Fitri itu. Pada hari lebaran tersebut,para wanita ketiga negara di kawasan Asia Selatan tersebut akan mengecat tanganmereka dengan henna (inai) dan mengenakan pakaian yang warna-warni. Ucapan yangpaling populer pada saat lebaran adalah “Eid Mubarak”, di mana para orang tuabiasanya memberikan eidi (uang atau angpao) kepada anak-anak dan kerabatmereka. Lain halnya tradisi lebaran yang terjadi di Mesir, Idul Fitri tidakdisambut semeriah di Indonesia. Karena itu, Idul Fitri sering disebut Idel-Shogayar atau Hari Raya Kecil, sedangkan Idul Adha disebut Idul Kabir (HariRaya Besar), karena dirayakan jauh lebih meriah. Meskipun demikian Idul Fitridi Mesir tetap menjadi perayaan kegembiraan yang cukup menarik disimak.Anak-anak kecil bermain-main dan meluapkan kegembiraan dengan baju-baju barumereka. Makanan khas pada hari lebaran ini berupa biskuit manis yang disebutkahk. Rata-rata perayaan lebaran di negara-negara Eropa yang memiliki komunitasmuslim sedikit sangat jauh dari kemeriahan. Karena Idul Fitri bukanlah harilibur resmi, maka muslim di negara ini harus tetap bekerja atau sekolahsebagaimana hari biasanya. Muslim akan berusaha mengambil cuti di hari inisupaya tetap bisa mengikuti Shalat Id dan berkumpul dengan sesama muslim dimasjid, kemudian berkumpul bersama keluarga di rumah. Meskipun tradisi dankemeriahan menyambut lebaran atau hari raya Idul Fitri, berbeda antara satunegara dengan negara lainnya atau satu tempat dengan tempat lainnya, namun yangpasti esensi memperingati atau merayakan Idul Fitri adalah sama. Yakni, membukakesucian diri dan merayakan kemenangan melawan nafsu.

Esensi Lebaran

Pergeseranbudaya yang terjadi dalam masyarakat kita dalam menyambut hari lebaranmenyebabkan terjadinya hilangnya esensi nilai lebaran tersebut. Esensi lebaranyang dimaknai sebagai momentum untuk menjalani silaturahmi antara sanak saudaraberubah begitu drastis kedalam budaya konsumerisme. Sehingga masyarakat direduksi hanya sebagai makhluk berlabel konsumerisme daripada makhluk sosial.Padahal kalau kita cermati dari segi sosial budaya seharusnya makna lebaranharus menititikberatkan terhadap perubahan pola sikap, tingkah laku, hubungansesama manusia dan penciptaNya. Kemudian nilai tambah dari nilai-nilai yangterdapat dalam esensi lebaran tersebut adalah meningkatkan rasa sosial individuitu sendiri dalam melihat penyakit sosial yang ada dimasyarakat. Makna lebarantidak hanya mengajarkan dan membentuk individu memiliki nilai sosial yangtinggi dilingkungan dimana dia tinggal tetapi yang terpenting adalah perubahansikap yang bertentangan dalam diri seseorang seperti sombong, tamak, angkuh,apatis dan lain sebagainya. Dengan demikian, jika esensi lebaran ini dapatdipertahankan dalam budaya masyarakat Indonesia seperti yang dijelaskan diatassudah dipastikan nilai-nilai kultural Islam tidak hilang begitu saja. Disampingitu hal ini berguna sebagai modal bagi seseorang untuk peningkatan aktualisasidiri dalam peran sosialnya. Artinya, dengan lebih memahami akar sosial danbudaya, manusia menjadi lebih peduli dengan yang lain sehingga tidak terjebakindividualisme dan egoisme, tetapi menjadi pribadi yang peduli.

Asketisme Lebaran

Nilailebaran akan mempunyai makna kalau pribadi seseorang mempraktekkan jiwakesederhanaan, kejujuran, rela berkorban dan nilai sosial yang tinggi. Dalam kontekskebangsaan saat sekarang ini diperlukan sebagai media untuk membangunsolidaritas dan persaudaraan sesama ummat manusia. Tidak hanya itu saja maknalebaran akan lebih bermanfaat asketisme atau pengendalian nafsu/godaan menjadisalah satu solusi dalam menjawab dan mengembalikan kultur lebaran padaesensinya. Ini berarti bahwa makna lebaran tidak diartikan dan diukur daribanyak materi yang berlimpah ruah akan tetapi lebih menonjolkan kepribadianseseorang sesuai dengan fitrahnya. Bahwa sejatinya keperibadian seseorangterlahir dari sesuatu yang suci dan bersih. Dalam sistem kehidupan dimasyarakatacap kali tradisi lebaran distigmakan dengan materialisme yang melimpah ruahatau pemilik pemodal seolah-olah mereka yang mempunyai kapital yang mapan yangberhak merayakan lebaran. Tentu saja, lebaran tidak selalu identik dengankesuksesan bagi mereka yang melakukan urbanisasi dinegeri orang. Bagi merekakaum urban yang tidak sukses ini menjadi beban sosio ekonomis dan psikologiskarena momentum lebaran dianggap traumatik bagi mereka yang tidak sukses. Namuntidak sedikit orang yang memanipulasi makna lebaran itu sendiri karena stigmayang dibangun masyarakat kita jika seseorang tidak melakukan silaturrahmi atausungkeman yang tradisinya dilakukan setahun sekali mereka dianggap gagal dalamperantauan. Semoga asketisme lebaran kali ini yang tradisinya dilakukan olehummat muslim Indonesia akan membawa pribadi-pribadi yang bersih dan suci dankita benar-benar dalam puncak kemenangan dalam menghadapi lebaran nanti. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H, MohonMaaf Lahir dan Batin

*Penulis adalah Peneliti di Candidate lebaranCenter dan Tenaga Ahli DPR RI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: