SUKSES TERBESAR DALAM HIDUPKU

December 23, 2013

Tulisan ini sebagai prasyarat untuk mengikuti Program Doktor Luar Negeri dari Kementerian Keuangan dengan tema “Sukses Terbesar dalam Hidupku”

*Oleh: Hasrul Harahap, SS, M.Hum

Setiap orang pasti menginkan kesuksesan dalam hidupnya masing-masing. Karena tak ada manusia didunia ini yang dilahirkan dalam keadaan miskin dan serba kekurangan. Allah menciptakan segala sesuatunya yang ada dimuka bumi tanpa ada yang sia-sia. Karena sejatinya apa yang selalu di ciptakan-Nya selalu bermanfaat bagi makhluk yang ada di alam jagat raya ini. Terlahir dari keluarga yang ekonomi pas-pasan dan serba terbatas yang hidup di Kota Medan, semenjak kecil sudah diajarin hidup mandiri dan mencari nafkah sendiri untuk memenuhi kebutuhan pendidikan. Saya anak ke 2 dari 4 bersaudara semenjak duduk di bangku SMP sudah berjuang untuk memenuhi kebutuhan pendidikan. Didepan rumah yang luasnya sekitar 8 meter berdirilah sebuah kedai kecil (warung) yang menjadi sebuah profesi ibuku setiap hari. Dari situlah nafkah keluarga dipenuhi untuk menghidupi keempat anaknya walaupun penghasilan perhari sekitar 150.000 ribu perhari. Maklumlah pendidikan ibu hanya tamatan Sekolah Dasar (SD). Kalau dilihat dari penghasilan hidup ibu perhari sangat mustahil untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya yang empat orang tersebut. Ayah hanya seorang pegawai PNS yang berpenghasilan 2.000.000 perbulan. Bahkan anak pertama yang tamatan MAN 1 Medan menjadi korban untuk tak dapat melanjutkan jenjang pendidikan keperguruan tinggi karena tak adanya biaya orang tua dan dia memutuskan untuk bekerja di warung manisan Toko Cina. Pengorbanannya bekerja semata-mata bukan untuk dirinya sendiri bahkan dia menjadi tulang punggung untuk membantu adik-adiknya sekolah sampai setinggi-tingginya. Pernah suatu hari dia memutuskan untuk berjualan pecal dikereta api, sontak dan terkejut hati ini mendengarkan keputusan kakakku tersebut karena dia tak mau nasib adiknya sama sepertinya.

Semenjak itulah aku dan adik-adikku memutuskan untuk bekerja keras asalkan halal untuk biaya pendidikan. Pernah suatu hari Ibu (mamak) berpesan kepada anak-anaknya di ruang tamu, selapar apapun kita nak! mamak (ibu) tidak akan memberikan makanan yang haram kepada kalian. Pesan inilah yang selalu tertanam dalam sanubari anak-anaknya untuk bekerja keras asalkan halal. Bahkan banyak ocehan tetangga dengan nada miris mengatakan dan selalu ku ingat sampai sekarang ini “Mana bisa dia menyekolahkan anak-anaknya hanya dengan penghasilan puluhan ribu rupiah” emang jaman sekarang sekolah gampang. Profesi tukang becak, cuci motor, jualan kue bahkan juru parkir kami lakoni dengan adik ketigaku dari SMP hingga kuliah. Hasil tabungan ini dikumpul hari demi hari untuk biaya pendidikan SMP dan SMU, bahkan dahulu tak ada kepikiran dibenak kami untuk melanjutkan ke jenjang peruguruan tinggi, “cukuplah sampai SMU aja sebagai modal hidup“dalam benakku”. Mendayung becak setiap malam menyebabkan aku dan adik lelakiku tak ada kesempatan bermain seperti anak lain pada umumnya. Terkadang profesi ini malu kami lakoni ketika bertemu atau berpapasan dengan teman-teman sekolah dijalanan, ketika semua orang beristirahat aku dan adikku bekerja tetapi inilah tuntutan pendidikan agar kami bisa menyelesaikan sekolah. Setelah tamat SMU kuputuskan untuk memberanikan diri masuk keperguruan tinggi di Medan hanya bermodalkan uang pendaftaran 300 ribu tanpa sepengetahuan orang tuaku. Setelah beberapa hari baru kuberi tahu mamak (ibu) bahwa aku akan masuk kuliah. Mendegar itu mamak (ibu) langusng pusing dan berkata “dari mana mamak (ibu) punya uang sebanyak itu nak” aku hanya terdiam dan tertunduk bahwa yang ku kabarkan bukanlah kabar gembira melainkan beban yang selalu di pikirkannya setiap hari. Belum lagi mamak (ibu) memikirkan kedua adikku yang masih duduk dibangku SMA dan SMP.

Setelah beberapa hari tanpa sepegetahuanku ibu (mamak) dan kakak memutuskan menjual emas yang selama ini dia tabung selama bekerja. Keesokannya meberikan hasil penjualan emas kakak ku kepadaku. Hasil penjualan emas kakakku dan tabunganku tak cukup membayar uang kuliah dan uang pembangunan di perguruan tinggi tersebut. Dalam hatiku “aku harus kuliah” “aku harus kuliah” apapun alasannya, kuberanikan diriku untuk bertemu pimpinan perguruan tinggi. Hasilnya berbuah manis, kekurangan uang kuliah ternyata dapat dispensasi dan kelonggoran dan harus dicicil beberapa kali. Semenjak duduk dibangku kuliah aku selalu mendapatkan beasiswa Supersemar yang diprioritaskan kepada mahasiswa-mahasiswa yang berprestasi dan kurang mampu. Dari sinilah kebutuhan kuliah terpenuhi dan kebetulan diamanahkan menjadi pengurus Badan Aspirasi Mahasiswa Fakultas semacam BEM dan bergabung di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Semenjak di peguruan tinggi profesi tukang parkir disebuah klinik ternama di Medan yang tak jauh dari rumah tetap kami dilakoni tanpa menyandang predikat malu. Sekarang, aku menyadari ternyata Allah tak pernah tidur memikirkan ummat-Nya  kalau kita berdoa dan bekerja keras. Alhamdulillah. semuanya berbuah manis sekarang dua adikku menempuh kuliah di Pascasarjana Universitas Sumatera Utara (USU).

Image*Penulis adalah Calon Penerima Beasiswa Program Doktor Luar Negeri Kementerian Keuangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: