MENYOAL PENYADAPAN ASING

November 24, 2013

*Hasrul Harahap, SS, M.Hum

Hubungan bilateral antara Indonesia dan Australia kembali memanas semenjak tertangkapnya penyadapan yang dilakukan negara Kanguru tersebut terhadap pejabat teras Indonesia termasuk Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Adapun pejabat teras Indonesia yang menjadi target penyadapan oleh Australia antara lain; Presiden Republik Indonesia, Ani Yudhoyono, Boediono, Jusuf Kalla, Dino Patti Djalal, Andi Mallarangeng, Hatta Rajasa, Sri Mulyani, Widodo AS, dan Sofyan Djalil (Kompas 19/11/2013). Ini bukan insiden yang pertama kali yang dilakukan oleh Australia kepada Indonesia. Pada tanggal 08 Oktober 2004 penyeludupan Narkoba yang dilakukan oleh Schapelle Leigh Corby ditangkap oleh Bea Cukai Bandara Ngurah Rai Bali karena membawa 4,2 Kg Mariyuna dan kemudian di vonis 20 tahun penjara dan mendapatkan remisi 5 tahun oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang kemudian menimbulkan kontroversi di mata publik. Kemudian pada tanggal 11 Maret 2011 surat kabar “Sydney Morning Herald” dan “The Age” mengutip bocoran situs Wikileaks dan menimbulkan kontroversi dimana didalam tulisan tersebut menyebutkan bahwa Kedutaan Besar AS di Jakarta melaporkan Presiden Republik Indonesia menyalahgunakan kekuasaannya untuk melindungi koruptor dan memata-matai lawan politiknya. Pada tanggal 07 November 2005 lagi-lagi Australia mendominasi perairan laut Timor melalui batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) dan batas landas kontinen. Kemudian apa yang menjadi motif Australia melakukan penyadapan terhadap Indonesia? Mungkin saja dalam era teknologi dan informasi yang serba terbuka ini, semuanya bisa seputar motif politik, ekonomi, keamanan, sosial dan budaya yang menjadi landasan Australia melakukan penyadapan tersebut. Mengingat Indonesia yang kaya akan Sumber Daya Alam (SDA) yang melimpah ruah dan kekayaan alam lainnya.

Pentingnya Peran Intelijen

Aktivitas spionase kalau kita lihat dari perjalan sejarah sudah lama terjadi. Pada saat pemberontakan PRRI/Permesta tahun 1958 ketika tertangkapnya agen spionase dari negeri Paman Sam Allen Lawrence Pope. Pope ditangkap dalam kegiatannya mengebom armada gabungan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang tak jauh dari Kota Ambon. Kegiatan spionase yang dilakukan oleh Pope ternyata gagal dilakukan meskipun Pope sendiri selamat ketika ditangkap oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Keberhasilan yang dilakukan oleh ABRI pada saat itu tak bisa dianggap remeh karena peranan intelijen kita yang memainkan peranan penting. Bahkan situasi tersebut diambil oleh Bung Karno untuk memanfaatkan situasi politik dan ekonomi di mata Amerika. Pentingnya penguasaan informasi dan teknologi mutlak diperlukan oleh Badan Inteligen Negara (BIN) kita karena sekecil apapun informasi yang diperlukan menjadi dasar unutk melakukan operasi intelijen. Mengingat canggihnya informasi dan teknologi pada era sekarang ini BIN harus mampu mengkonsolidir dan menjaga aset-aset nasional yang begitu melimpah ruah. Peranan BIN untuk mengetahui informasi dan teknologi tak hanya diketahui secara internal saja tetapi harus bisa mengetahui secara detail informasi yang dilakukan oleh spionase luar. Ini berarti operasi intelijen yang dilakukan oleh pihak asing mutlak diketahui. Sebagai negara yang diprediksi akan diperhitungkan dalam geopolitik internasional wajar sajar kalau Indonesia akan menjadi ancaman bagi negara-negara disekitarnya mengingat Indonesia di tahun 2030 akan disetarakan dengan negara Cina, Jepang, Korut dan Korsel . Memang sekarang ini negara lain masih memandang sebelah mata terhadap Indonesia karena belum optimal memanfaatkan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimilikinya. Tapi, apabila kesadaran kolektif ini dihimpun secara maksimal bukan tidak mungkin Indonesia menjadi pusat peradaban dunia dengan apa yang di prediksi Samuel P. Huntington dalam bukunya “Clash of Civilization”.

Revitalisasi Intelijen Nasional

Menurut pengamat intelijen D.R. AC. Manullang penting dan urgennya pengumpulan data informasi yang akurat bagi intelijen kita. Siapa yang menguasai informasi dengan akurat dan cepat maka akan menguasai situasi. Peran inilah yang dimanfaatkan oleh Australia untuk melakukan penyadapan terhadap pejabat teras Indonesia. Dengan mengetahui dan menguasai informasi secara akurat Australia akan mengetahui semua aspek kehidupan seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya akan secara cepat diketahui sejak dini. Pada abad modern, kegiatan spionase menjadi salah satu bentuk ancaman yang banyak terjadi dan dilakukan oleh berbagai aktor kepentingan di negara lain. Aksi spionase dilakukan oleh agen-agen rahasi untuk mencari dan mendapatkan rahasia pertahanan negara dari negara disekitarnya. Kegiatan spionase dilakukan secara silent dengan menggunakan kemajuan teknologi sehingga tidak mudah diketahui. Kalau kita lihat secara geografis Indonesia memiliki objek vital nasional dan instalasi strategis yang rawan untuk di sadap oleh negara asing. Itulah sebabnya fungsi Badan Intelijen Negara (BIN) dan TNI sebagai pertahanan negara dalam pengamanan objek vital nasional mempunyai peranan yang strategis karena menyangkut eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Setiap objek vital dalam konteks pertahanan negara menjadi sasaran dan ancaman bagi negara luar. Maka dalam kerangka itu, pengamanan objek vital tersebut yang bersifat strategis mempunyai efek negatif terhadap negara luar. Hamparan Nusantara yang sangat luas serta karakteristiknya yang terdiri dari gugusan pulau dan memiliki wilayah laut yang sangat luas berpotensi atas terjadinya gangguan keamanan dilaut dan ini pernah terjadi antara Indonesia dan Australia. Gangguan keamanan dilaut dan udara merupakan wilayah yurisdiksi nasional Indonesia. Besarnya potensi yang dimiliki oleh Indonesia menurut penulis menjadi sorotan secara serius oleh negara yang dijulukin Kanguru tersebut dan bisa-bisa menjadi ancaman kedepan bagi mereka.

Penutup

Dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia dari sejak zaman perjuangan kemerdekaan hingga kini telah terbukti bahwa sistem keamanan negara mampu melawan penjajah dan berhasil menegakkan Indonesia menjadi negara yang berdaulat. Ini terbukti ketika kegagalan CIA menugaskan Pope dalam peperangan yang ada di Permesta. Perubahan geopolitik internasional yang ditandai dengan situasi global yang penuh dengan ketidakpastian, sudah saatnya BIN dan TNI agar berbenah diri agar insiden penyadapan yang dilakukan Australia tidak akan terulang kembali. Munculnya penyadapan yang dilakukan oleh Australia sudah tentu akan berimplikasi terhadap hubungan bilateral yang selama ini dijaga dengan baik. Kedepan diharapkan potensi ancaman yang dihadapi Indonesia semakin kompleks dan beragam. Seperti kondisi sosial, ekonomi, politik, budaya dan memerlukan fungsi dan peran Badan Intelijen Negara (BIN) dan TNI sebagai pertahanan negara yang kuat semata untuk tegaknya kedaulatan NKRI. Munculnya gangguan negara luar akan berdimensi dalam berbagai bentuk ancaman dan konflik antara kedua negara baik yang berakibat terhadap rasa aman masyarakat Indonesia. Berdasarkan penjelasan diatas, postur pertahanan negara Republik Indonesia harus melibatkan seluruh komponen masyarakat khususnya BIN dan TNI. Kemudian, Sistem Teknologi dan Informasi  harus segera mungkin di revitalisasi mengingat ancaman dari negara luar setiap saat bisa saja terjadi. Melalui revitalisasi sistem Teknologi dan Informasi diharapkan insiden penyadapan yang dilakukan oleh negara luar akan mudah di antisipasi secara dini. Terakhir, peningkatan kapasitas intelijen baik melaui suprastruktur seperti kemampuan Badan Intelijen Negara (BIN) dam struktur dibawahnya dalam kerangka menjaga ketahanan negara dari ancaman negara luar.

Images

*Penulis adalah Peneliti di Candidate Center

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s