BAHASA DAN KEKUASAAN

November 14, 2013

*Hasrul Harahap, SS, M.Hum

Alat komunikasi yang utama adalah bahasa. Hubungan antara satu bangsa dengan bangsa yang lain dijalin dengan bahasa. Bahasa sebagai alat komunikasi memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia, dengan berbahasa manusia sebagai makhluk sosial dapat berinteraksi dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan disebutkan bahwa bahasa merupakan kekuatan (language is power). Seperti George Orwell sudah menulis, ‘Bahasa politik dirancang untuk membuat kebohongan kelihatan jujur dan pembunuhan sopan’ (Orwell, 2004). Tetapi bahasa dalam politik tidak selalu jadi jahat karena bahasa sebagai alat yang sama digunakan baik oleh politikus. Bahasa dan kekuasaan mempunyai hubungan yang erat satu dengan yang lainnya, karena ketika orang duduk dalam sebuah tahta kekuasaan pasti menggunakan bahasa sebagai instrumennya. Terminologi kekuasaan selalu dikaitkan erat dengan politik, maka bahasa memainkan peranan yang vital dalam bahasa politik. Kemudian bahasa politik secara umum dapat didefinisikan sebagai sebagai bahasa yang digunakan oleh perangkat penyelenggara negara seperti eksektutif , legislatif, yudikatif dan warga negara dalam konteks politik. Dalam konteks politik peranan bahasa sangatlah besar. Proses politik yang terjadi selalu menggunakan komunikasi sebagai alat untuk mencapai tujuan politik. Kemudian bahasa dimanfaatkan untuk menjangkau seluruh aspek kehidupan masyarakat. Tidak hanya itu, dalam konteks sosial, budaya, politik, ekonomi dan keamanan bahasa juga dimanfaat untuk mengontrol dan mengendalikan masyarakat. Itulah sebabnya hubungan antara bahasa dan kekuasaan seperti dua mata uang yang tak bisa dipisahkan. Meminjam apa yang dikemukan Weber (1922) bahwa kekuasaan sebagai konsep fundamental dalam hubungan ketidaksamaan. Dengan kata lain bahwa kekuasaan menunjukkan kemampuan seorang individu atau segelintir orang untuk memaksakan kehendak kapanpun dan dimanapun terhadap kelompok lainnya.

Bahasa (sebagai alat) Politik

Penggunaan bahasa dalam konteks konteks politik menunjukkan apakah seorang aktor politik itu memiliki budaya politik yang santun apa tidak? Ini tergantung dari bahasa politik yang diujarkannya. Susunan bahasa yang disampaikan akan tercermin dan tergambarkan apakah bahasa politik yang disampaikan berbanding lurus dengan perilaku kesaharian dari seorang aktor politik. Dari bahasa politik yang ditampilkan ini akan menunjukkan apakah bahasa dan politik selalu mempengaruhi satu dengan yang lain. Oleh karena itu bahasa politik yang ideal seharusnya tidak hanya dilakukan dengan wacana belaka tetapi lebih dari itu bahwa bahasa dan tindakannya tidak direkayasa. Dalam era sekarang ini, sosok Jokowi yang gaya bahasanya ndeso menjadi soroton publik karena gaya bahasanya yang apa adanya. Menurut Fairclough ada tiga dimensi yang secara simultan mempresentasikan wacana; pertama, bahasa teks (yang diucapkan, dituliskan, atau ditandai), kedua, praktik wacana (meliputi produksi teks dan produksi tafsiran), ketiga, praktik sosiokultural (meliputi hubungan sosial dan politik yang lebih luas). Dari ketiga pernyataan yang disampaikan oleh Fairclough, Jokowi berhasil melakukan praktik sosiokultural kepada masyarakat dengan cara berkomunikasi langsung dan mencarikan solusi dari problema yang terjadi ditengah warga ibu kota. Kemudian, menurut Antonio Gramsci bahwa dominasi kekuasaan diperjuangkan disamping dengan kekuatan senjata juga dengan penerimaan publik. Penerimaan publik inilah yang dimaksud oleh Gramsci diterimanya ide kelas berkuasa oleh masyarakat luas seperti media massa, koran, televisi dan sebagainya. Meroketnya popularitas Jokowi dari kompetitor lainnnya kalau kita lihat dibeberapa survei disebabkan karena peranan media yang begitu menggurita memberitakan orang nomor wahid di ibu kota Jakarta tersebut dan penerimaan publik yang puas dengan ala kepemimpinan Jokowi. Hadirnya media dalam pemberitaan sosok Jokowi tak dapat dipisahkan dari kepentingan di balik media tersebut. Kuat cengkraman media dalam pemberitaan benar-benar menentukan apakah informasi yang disiarkan ke publik mengandung kebenaran (truth) atau kepalsuan, (pseudo-truth). Media, disatu pihak akan menjelma menjadi perpanjangan tangan dari kelompok capital tertentu dengan cara menguasi ruang publik. Hal ini terjadi apabila ranah publik oleh politik informasi yang kemudian menjadikan informasi sebagai alat kekuasaan politik. Sebagai contoh, bisa saja kalangan media elektronik dan media massa menganggap apa yang dilakukan oleh seorang sosok Jokowi di DKI Jakarta secara pemberitaan mengandung efek negatif di mata publik. Media boleh jadi mencoba untuk memberitakan sesuatu secara objektif dan transparan akan tetapi berbagai bentuk tekanan dan kepentingan akan menyebabkan terperangkap dalam politisasi media.

Kekuasaan dan Wacana

Menurut Fireclough memberikan pengertian kekuasaan menjadi dua, pertama, kekuasaan sebagai kapasitas tranformatif, kapasitas agen-agen untuk mempengaruhi jalannya berbagai peristiwa, kedua, kekuasaan adalah konsepsi rasional, artinya kekuasaan atas pihak lain yang berkaitan dengan dominasi. Sementara menurut Weber kekuasaan merupakan peluang untuk memaksa seseorang. Rumusan tersebut masih menunjukan bahwa kekuasaan selalu mengandung unsur tertentu yang membuat orang lain patuh. Keterkaitan bahasa dan wacana, bahasa bukanlah medium yang netral, bahasa sebagai representasi dirinya sendiri dari hubungan-hubungan politis dan berperan pula dalam membentuk jenis-jenis subjek, tema-tema wacana, maupun strategi-strategi di dalamnya. Oleh karena itu, bahasa khususnya wacana dipandang sebagai praktik sosial. Lebih jauh dijelaskan bahwa bahasa mnggambarkan bagaimana realitas dunia dilihat, memberi kemungkinan sesorang untuk mengontrol dan mengatur pengalaman pada realitas sosial. Bahkan menurut pendapat Fowler melihat bagaimana pengalaman dan politik yang berbeda itu dapat dilihat dari bahasa yang dipakai yang menggambarkan bagaimana pertarungan sosial terjadi. Kata-kata yang berbeda itu tidaklah dipandang semata teknis, tetapi sebagai suatu praktik ideologi tertentu. Karena bahasa yang berbeda itu akan menghasilkan realitas yang berbeda pula. Dalam perspektif ilmu politik, kekuasaan diartikan sebagai setiap kemampuan, kapasitas dan hak yang dimiliki seseorang, lembaga atau institusi untuk mengotrol perilaku dan kehidupan orang lain. Menurut Foucault, kekuasaan tidak hanya milik para pemimpin atau raja-raja, lembaga, negara dan gereja melainkan kekuasaan sama dengan banyaknya relasi kuasa yang bekerja di salah satu tempat atau waktu. Oleh sebab itu, kekuasaan bukanlah dimiliki seseorang secara individu melainkan bagaimana memfungsikan kekuasaan secara kolektif. Dengan demikian kekuasaan tidak selalu diidentikkan dengan tindakan represif, penindasan tetapi selalu beriringan dengan regulasi, sistem dan kontrol yang bersifat konstruktif.

Penutup

Bahasa dalam politik sekarang ini sangat lazim digunakan oleh aktor politik. Bahasa politik bahkan mampu mendongkrak popluritas seorang aktor politik. Bahasa sebagai alat komunikasi sosial bisa disalah pahami sebagai keculasan dari bahasa verbal karena karena menjadi produk kebudayaan yang berpotensi menggeser kesadaran publik. Inilah yang menurut Gadamer bahwa sebuah konsep/kata-kata yang melahirkan pemahaman manusia dengan menyusun kata-kata yang tidak benar. Untuk itulah, penutur bahasa harus mencerminkan keterbukaan manusia terhadap realitas disekitarnya. Segala aktivitas yang berhubungan dengan bahasa idealnya dalam kerangka panggilan realitas yang terjadi. Kemudian bahasa haruslah dipahami dalam konteks pertarungan wacana yang sehat oleh penutur bahasa dalam hal ini aktor politik. Pertarungan wacana ini mutlak diperlukan oleh pengguna bahasa (aktor politik) dalam merebut simpatisan publik untuk mempertahankan wacana yang dilontarkan. Sehingga wacana tidak hanya dipahami sebagai studi tentang bahasa saja tetapi lebih dari bentuk dan praktik keseharian. Wacana sebagai praktik sosial yang akan melahirkan sesuatu yang dialektis diantara peristiwa-peristiwa tertentu, seperti mengkaji bagaimana kelompok sosial (penguasa dan oposisi) yang saling bertarung mempertahankan wacananya.

*Penulis adalah Peneliti di Lembaga Candidate Center

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: