BONUS DEMOGRAFI; PELUANG DAN TANTANGAN

November 7, 2013

Terbit di Harian Waspada Medan Senin 04 Nopember 2013

Semoga bermanfaat bagi para pembaca

*Hasrul Harahap, SS, M.Hum

Wacana tentang Bonus Demografi hangat di diskusikan di forum ilmiah, seminar, lokakarya dan sebagainya beberapa waktu yang lalu. Untuk itulah diskursus tentang Bonus Demografi perlu diapresiasi karena merupakan peluang yang tak mungkin terulang dalam satu generasi. Peluang Bonus Demografi harus bisa dijadikan momentum bersama bagi semua pihak agar kita tak terjerambab dalam persoalan-persoalan yang tak kunjung usai. Dalam ekonomi kependudukan dikenal istilah transisi demografi yaitu sebuah konsep mengenai proses penurunan angka kelahiran sampai terciptanya tingkat populasi yang stabil. Transisi demografi akan mengubah struktur usia dari populasi penduduk, dimana proporsi penduduk muda (usia 0-14 tahun) mengalami penurunan, proporsi penduduk usia produktif (usia 15-64 tahun) meningkat pesat, dan proporsi penduduk usia tua (66 tahun keatas) meningkat perlahan.  Definisi tentang Bonus Demografi merupakan keuntungan secara ekonomis yang disebabkan penurunan proporsi penduduk muda yang mengurangi besarnya biaya investasi untuk pemenuhan kebutuhannya, sehingga sumber daya dialihkan kegunaannya untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan keluarga. Bagi Indonesia ada rentan waktu 7-17 tahun lagi untuk mempersiapkan modal manusia agar bisa memanfaatkan peluang emas periode 2020-2030 dengan cara menanamkan investasi modal manusia untuk menggantikan angkatan kerja yang berpendidikan rendah dengan angkatan kerja baru yang memiliki pendidikan dengan keterampilan yang lebih baik. Indonesia akan memasuki fase emas yang disebut Bonus Demografi  selama 10 tahun, yang diprediksi akan terjadi pada periode 2020-2030 dengan angka dependency ratio berkisar antara 0,4-0,5 yang berarti 100 orang usia produktif hanya menanggung 40-50 orang usia tidak produktif. Menurut guru besar demografi Universitas Indonesia Prof. Dr Sri Moertiningsih Adioetomo, Indonesia sudah mendapat Bonus Demografi mulai 2010 dan akan mencapai puncaknya sekitar tahun 2020 hingga tahun 2030. Ada tiga fase yang terjadi dengan hadirnya Bonus Demogrfi di Indonesia. Fase pertama, angka kelahiran dan kematian melaju dengan sangat tinggi. Fase kedua, meningkatnya kebutuhan hidup rakyat Indonesia sehingga angka kematian menjadi menurun dan angka kelahiran menjadi bertambah. Fase ketiga, angka kematian rendah disebabkan oleh gaya hidup (life style) sehingga membuat angka kelahiran menjadi turun. Inilah fase yang disebut sebagai window of opportunity (jendela kesempatan), saat jumlah penduduk produktif yang banyak itu dapat diakumulasikan untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan mengurangi angka kemiskinan karena meningkatnya total investasi yang berimplikasi langsung terhadap kesejahteraan dalam skala komunal serta dapat dinikmati dalam jangka panjang.

Menyongsong Perubahan

Dengan melihat data diatas, Bonus Demografi yang  sebentar lagi menghampiri Indonesia harus dijadikan momentum emas bagi semua pihak khususnya pemerintah. Alokasi dana pendidikan 20% dari APBN harus seoptimal mungkin digunakan dan dikelolah. Dalam hal pendidikan masih saja ada rakyat miskin yang tak tersentuh program wajib belajar 9 tahun karena kapitalisasi lembaga pendidikan yang hanya memberi kesempatan kepada kelompok kaya. Jadi tak mengherankan kalau saja ada anak di negeri ini yang lebih memilih bekerja dalam usia dini karena mahalnya biaya pendidikan. Selanjutnya, Bonus Demografi tanpa diikutin pendidikan yang merata dan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memadai akan menjadikan ancaman bagi Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah dalam hal ini kementerian pendidikan nasional harus cekatan dalam menempatkan penduduk Indonesia dewasa yang melimpah sebagai kekuatan yang potensial dengan menempatkan program pendidikan nasional sebagai pilar utama pembagunanan nasional (Sumber Daya Manusia). Melihat data diatas begitu amat fantastisnya, asal saja pemerintah fokus memberikan jaminan pendidikan kepada generasi muda. Menurut Prof. Richey dalam bukunya ‘Planning for teaching, an Introduction to Education’ menjelaskan bahwa Pendidikan adalah yang berkenaan dengan fungsi yang luas dari pemeliharaan dan perbaikan kehidupan suatu masyarakat terutama membawa warga masyarakat yang baru (generasi baru) bagi penuaian kewajiban dan tanggung jawabnya di dalam masyarakat. Jika pemerintah berhasil membelanjakan alokasi dana APBN sebesar 20% dalam sektor pendidikan dipastikan akan terjadi perubahan yang signifikan pada dunia pendidikan kita yang mendorong terjadinya keberhasilan Bonus Demografi. Untuk itulah pendidikan harus murah dan terjangkau untuk masyarakat yang kurang mampu secara ekonomi. Pendidikan jangan dijadikan komoditas barang eksklusif agar seluruh elemen masyarakat bisa menikmatinya. Dengan demikian terciptalah generasi emas yang siap menghadapi tantangan pada era Bonus Demografi pada tahun 2020-2030.

Melihat Peluang

Kalau kita lihat sekilas Indonesia dihadapkan pada tantangan yang berat dan serius. Salah satunya adalah daya saing Indonesia yang kembali turun. Dalam laporan The Global Competitiveness Index 2012-2013, Indonesia menempati posisi ke-50 dari 144 negara di dunia dengan skor 4,4, atau turun 4 level dari tahun lalu yang berada di posisi 46. The Global Competitiveness Index yang dirilis oleh World Economic Forum (28/5/2013) menempatkan Swiss sebagai negara yang paling kompetitif dengan skor 5,72. Sementara itu, posisi kedua ditempati oleh Singapura dengan skor 5,67. Penurunan posisi daya saing itu menegaskan bahwa Indonesia masih menghadapi masalah serius. Di tengah kompetisi global, Indonesia perlu mematangkan strategi baru untuk meningkatkan daya saing sebagai prasyarat mutlak kemajuan. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), tahun 2013 jumlah pemuda mencapai 62,6 juta orang.  Artinya, rata-rata jumlah pemuda 25 persen dari proporsi jumlah penduduk secara keseluruhan. Itulah sebabnya, strategi terhadap pembangunan pemuda memiliki arti penting. Jika menggunakan basis data proyeksi jumlah pemuda versi BPS di atas, maka secara umum persebaran jumlah pemuda di Pulau Jawa menempati posisi pertama dengan persentase 57,94 persen. Kemudian, Pulau Sumatera dan sekitarnya memiliki persentase 21,71 persen, Pulau Sulawesi dan sekitarnya (8,13 persen), Pulau Kalimantan (5,78 persen), Pulau Bali dan Nusa Tenggara (5,2 persen) dan Papua (1,2 persen). Persebaran pemuda di setiap wilayah itu harus menjadi landasan dalam menggulirkan kebijakan pemuda di setiap wilayah. Untuk itulah, dalam konteks daya saing bangsa, Bonus Demografi itu harus dilihat sebagai peluang untuk mencapai visi ‘Indonesia 2050’ di era 2020-2030 (Harian Waspada Medan .14/12/2011) yang pernah penulis muat di Harian Waspada Medan. Melihat peluang diatas kita menaruh harapan kepada generasi muda sebagai duta perubahan masa depan untuk terjun dan aktif dalam menyongsong pembangunan nasional kedepan. Aktivitas generasi muda harus diarahkan dengan grand design yang jelas dan bukan diposisikan sebagai event sesaat sehingga kerangka pembangunan pemuda mempunyai visi yang jelas.

Tantangan Abad XXI

Tantangan untuk mencapai ketahanan ekonomi, kalau kita lihat menurut pandangan para ahli maka salah satu keharusan bagi setiap bangsa untuk mempertahankan kedaulatannya dalam abag XXI ialah memenuhi tiga tuntutan secara simultan. Pertama, mencapai ketahanan militer untuk menjaga kepentingan nasionalnya, Kedua, memenuhi kebutuhan sosial dan kebutuhan ekonomis dari penduduknya dan yang terakhir Ketiga, menjamin kebutuhan yang berkelanjutan adil dan merata. Menurut hemat penulis dari ketiga tantangan besar diatas, kalau kita sebagai bangsa yang besar harus mampu menjaga kepentingan nasional (national interest)  kita diatas kepentingan segalanya. Disinilah diperlukan hadirnya seorang pemimpin sebagai kepala pemerintahan atau kepala Negara yang mempunyai jiwa rasa memiliki (sense of belonging) dari apa yang kita miliki selama ini. Kekayaan sumber daya alam kita yang begitu melimpah ruah menjadi modal besar dalam mencapai pembangunan nasional yang berkelanjutan. Kemudian kekuatan ekonomi yang semakin membaik kalau dilihat dari data statistik menjadikan Indonesia akan diperhitungkan dalam kancah pergaulan perdagangan internasional.  Dalam hal ini dua lembaga terkenal yaitu Goldman Sach dan Price Water House Coopers (PWC) memprediksikan bahwa peta kekuatan ekonomi dunia akan berubah dimana kekuatan-kekuatan ekonomi baru akan mendominasi dan menggeser kekuatan ekonomi lama. PWC sendiri membuat prediksi berjudul “The World in 2050”, pada Maret 2010 lalu. Disana dituliskan ada kelompok negara yang disebut E-7 The Emerging Seven yang terdiri dari tujuh negara berkembang yakni China, India, Brasil, Rusia, Indonesia, Meksiko dan Turki. Kelompok E-7 ini diprediksikan akan melampaui kekuatan ekonomi negara-negara G-7 sekarang, pada tahun 2050 kelak. Meskipun targetan dari kedua prediksi tersebut masih lama yakni sekitar kurang lebih 40 tahun lagi, namun tanda-tanda kebangkitan kekuatan ekonomi baru dan peluang Bonus Demografi sudah dapat dilihat.   

*Penulis adalah Peneliti di Candidate CenterImage

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: