MENGUKUR ELEKTABILITAS CAPRES 2014

June 15, 2013

*Hasrul Harahap

Tak terasa sebentar lagi hajatan demokrasi yang dilakukan lima tahunan akan segera berlangsung. Kalau tak ada arah melintang pemilihan presiden dan legislatif tinggal hitungan bulan. Berbagai agenda politik sudah dilakukan oleh partai politik untuk merebut simpatisan publik. Beberapa survey terahkir di media elektronik dan cetak dan elektronik sosok Joko Widodo yang akrab dipanggil Jokowi di jagokan menjadi Calon Presiden 2014 yang potensial. Menurut pengamat politik Universitas Indonesia Iberamsjah memperkirakan Megawati Soekarnoputri akan memperhitungkan secara matang untuk memajukan Joko Widodo yang pernah menjabat Walikota Solo, sebagai bakal calon presiden di tahun 2014. Kemenangan Jokowi di Jakarta akan dipertimbangkan oleh PDIP untuk bertarung menjadi orang nomor wahid di republik ini. Jokowi menang di Jakarta namun untuk level Indonesia harus diperhitungkan matang karena dalam beberapa pilkada di daerah yang merupakan basis suara partai tetapi calon yang diusung PDI kalah. Kemudian, dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Sumatera Utara, Bali, dan Jawa Barat calon yang diusung PDI Perjuangan menjadi runner-up. Kita ketahui bersama, sosok Jokowi memang menempati peringkat teratas dalam elektabilitasnya namun dalam politik tidak ada perhitungan yang selalu tepat karena politik adalah segi berbagai kemungkinan. Dalam hasil survei beberapa lembaga terakhir, nama Jokowi memiliki elektabilitas dan popularitas yang tinggi. berdasarkan survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) tingkat elektabilitas Capres Joko Widodo adalah 28,6 persen. Tokoh lain yang disebut, yakni Prabowo Subianto sebanyak 15,6 persen, Aburizal Bakrie 7 persen, Megawati Soekarnoputri 5,4 persen, Jusuf Kalla 3,7 persen, Mahfud MD 2,4 persen, Hatta Rajasa 2,2 persen, dan 28 persen responden belum memiliki pilihan. Dari segi popularitas, Jokowi paling populer di antara pejabat publik atau pejabat negara lainnya. Popularitas politikus PDI Perjuangan itu sebesar 85,9 persen, mengalahkan Ibu Negara Ny Ani Yudhoyono di angka 78,5 persen. Pejabat lainnya, yakni Sri Sultan Hamengku Buwono X 59,5 persen, Dahlan Iskan 42,6 persen, Mahfud MD 39,6 persen, Pramono Edhie Wibowo 20,2 persen, Djoko Suyanto 15,2 persen, dan Gita Wirjawan 8,4 persen.

Peluang Partai Nasionalis

Sementara itu, Komisi Pemilihan Umum menetapkan 15 partai politik yang akan bertarung di 2014. Partai Demokrat yang didirikan oleh Susilo Bambang Yudhoyono sebagai parpol pemenang pemilu pada 2009 yang tak kunjung diterpa isu korupsi di internalnya dimungkinkan akan bersaing dengan Partai Golkar dan PDIP. Menurunnya elektabilitas Partai Demokrat disebabkan oleh dugaan keterlibatan beberapa pejabat teras yang berada di Parati Demokrat. Peluang partai nasionalis dalam pertarungan pilpres masih ditentukan oleh figur tokoh seperti Susilo Bambang Yudhoyono di Partai Demokrat, Megawati Soekarno Putri di PDIP, Prabowo Subianto di Partai Gerindra, Wiranto di Partai Hanura dan Surya Paloh di Partai NasDem. Ada yang menarik dari Partai Demokrat, kalau di pilpres 2004 dan 2009 calon presiden masih ditentukan oleh figur seorang Susilo Bambang Yudhoyono, di Pilpres 2014 Partai Demokrat akan membuka konvensi untuk mencari figur alternatif yang akan bertarung kedepan meskipun toh akhirnya keputusan final ada di tangan SBY. Strategi politik yang dimainkan Partai Demokrat dengan menggelar konvensi merupakan salah satu cara untuk mendongkrak kembali elektabilitas partai penguasa tersebut. Ini disebabkan karena pengurus teras yang berada di partai demokrat terlilit kasus korupsi yang tak kunjung selesai. Beberapa tokoh yang akan dikabarkan mengikuti konvensi di Partai Demokrat antara lain Gita Wirjawan, Irman Gusman, Marzuki Alie, dan Mahfud MD. Kemudian Partai Hanura masih tetap ditentukan oleh figur Wiranto yang akan dicalonkan menjadi Capres 2014 oleh Partai Hanura. Partai Amanat Nasional (PAN) diperkirakan akan berpeluang memimpin koalisi Capres-Cawapres kendati perolehan suaranya di bawah 10% atau bukan yang terbesar di antara partai koalisi. Keunikan koalisi PAN ini memungkinkan karena faktor Hatta Rajasa pribadi. Sebagai orang dekat dan besan, sangat memungkinkan Demokrat akan memberi dukungan (berkoalisi) dengan PAN untuk mengusung Hatta Rajasa sebagai Capres. Jika ini terjadi, Cawapresnya adalah adik ipar SBY, Pramono Edhie Wibowo. Dengan demikian pula, PAN akan lebih mudah mengajak PKS, PPP, PKB, dan partai-partai kecil lainnya untuk bergabung. Dengan demikian, Hatta Rajasa akan menjadi kuda hitam yang berpeluang terpilih menjadi presiden.

Nasib Partai Islam

Saya pernah menulis di Harian Detik mengenai “Masa Depan Partai Islam” http://news.detik.com/read/2011/07/01/114630/1672501/471/masa-depan-partai-islam?nd991103605 dalam perjalanan sejarah bangsa partai Islam tidak bisa dianggap remeh. Partai Islam memainkan peranan penting dalam dinamika politik di Indonesia. Pada tahun 1950an ada Masjumi, PSII, Perti dan Nahdatul Ulama, kemudian partai-partai tersebut melebur menjadi Partai Persatuan Pembangunan yang merupakan fusi dari keempat partai tersebut pada tahun 1970an. Selanjutnya, ditetapkannya presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishak sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi menyebabkan partai yang mengusung slogan bersih ini menjadi terpuruk. Karena itu boleh dibilang masa depan partai Islam di 2014 nanti berada di pundak PKS. Jika PKS gagal mengembalikan kepercayaan publik paska penangkapan Luthfi Hasan Ishaq, boleh jadi masa depan partai-partai Islam akan semakin suram. Bisa dibilang, praktis saat ini hanya PKS satu-satunya partai Islam yang bisa dikatakan mampu bersaing di kancah politik nasional. PKS bisa disebut sebagai representasi kekuatan politik Islam yang cukup signifikan meski belakangan menyatakan diri sebagai partai terbuka. Sementara partai Islam jangankan menyamai PKS, untuk eksis pun sudah kesulitan. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) misalnya, setelah memperoleh suara yang cukup signifikan di 2004, malah terpuruk pada Pemilu 2009 lalu. Lebih-lebih PBB, PBR dan PKNU yang sekarang ini lolos verifikasi administrasi KPU untuk menjadi peserta Pemilu 2014 pun gagal. Sebuah kritikan terhadap partai Islam juga pernah diungkapkan oleh Nurcholish Madjid (Cak Nur) yang melontarkan sebuah jargon “Islam yes! partai Islam No!”. Sebuah analisis yang sederhana bahwa Cak Nur melihat bahwa peranan partai Islam tidak memainkan peranan yang penting dalam konteks kebangsaan dan ke-Indonesiaan sehingga partai Islam terjabak terhadap politik yang transaksional. Dengan demikian, partai Islam sudah menjadi tak menarik dalam kancah perpolitikan nasional karena memudarnya nilai-nilai Islam. Jargon Cak Nur mungkin bisa menjadi renungan dan intropeksi diri bagi partai Islam untuk mengutamakan nilai-nilai Islam sebagai jargon Politik partai Islam.

Duet Prabowo-Jokowi

Jokowi – Ahok telah memenangkan Pilkada DKI Jakarta dengan dua putaran mengalahkan Fauzi – Nara. Dengan meroketnya popularitas Jokowi beberapa hari terakhir di lembaga survey memungkinkan bagi Jokowi untuk mendampingin Prabowo dalam pilpres 2014. Tetapi yang menjadi persoalan adalah apakah Megawati merestui duet antara Prabowo-Jokowi mengingat bahwa ketentuan dan kebijakan dalam memutuskan capres 2014 masih tersentral terhadap sosok Megawati. Salah satu kendala yang dihadapi Prabowo adalah jika Megawati tetap “ngotot” menjadi capres kedepan meskipun sudah sudah gagal dalam pemilu 2004 dan 2009, apalagi hubungan antara Mega dan Prabowo belum harmonis pasca terpilihnya Jokowi menjadi Gubernur DKI. Bila melihat tren opini publik, memang Jokowi sosok yang nilai jualnya tinggi baik untuk urusan elektabilitas, popularitas, akseptabilitas dan kesuksesan pemilih. Kendati demikian, Mantan Wali Kota Solo ini akan menghadapi dilema dengan para pemilih yang telah membawanya sukses menjadi orang nomor satu di Jakarta. Jokowi dihadapkan pada beban dan tanggungjawab untuk mengerjakan kiprahnya maksimal dalam satu periode kepemimpinannya. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan Jokowi seperti permasalahan banjir, persoalan kemacetan dan solusi untuk perumahan kumuh merupakan 3 agenda besar yang menjadi tantangan luar biasa bagi Jokowi. Dengan track record apa yang pernah Jokowi lakukan di Kota Solo, maka harusnya Jokowi mampu meskipun banyak pihak yang meragukan karena Jakarta tidak bisa di samakan dengan Solo

*Penulis adalah Peneliti di Candidate Center

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: