PENERJEMAHAN FRASA VERBAL DARI BAHASA INGGRIS KE DALAM BAHASA INDONESIA (Pada novel Things Fall Apart karya Chinua Achebe dan terjemahannya diterjemahkan oleh Cahya Wiratama)

May 27, 2013

Hasrul Harahap
No. Reg. : 7326100244

Tesis yang Ditulis untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
untuk Memperoleh Gelar Magister

PROGRAM STUDI LINGUISTIK TERAPAN
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2013

LEMBAR PERNYATAAN
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Tesis yang saya susun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta seluruhnya merupakan hasil karya saya sendiri.
Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan Tesis yang saya kutip dan hasil karya orang lain telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.
Apabila di kemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian Tesis ini bukan karya saya sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, saya bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang saya sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Jakarta, April 2013

Hasrul Harahap

KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan Puji dan Syukur ke hadirat Allah SWT, atas segala Rahmat dan Karunia-Nya, akhirnya penulis dapat menyelesaikan Penelitian Tesis yang berjudul “Penerjemahan Frasa Verbal Dari Bahasa Inggris Ke Dalam Bahasa Indonesia” karya Chinua Achebe”. Tesis ini ditulis dalam rangka memenuhi sebagian persyaratan untuk memperoleh gelar Magister Humaniora pada Program Studi Linguistik Terapan Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta.
Penulis menyadari bahwa penulisan tesis ini dapat diselesaikan berkat dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis berterima kasih kepada semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung memberikan kontribusi dalam penulisan Tesis ini. Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada Rektor Universitas Negeri Jakarta, Prof. Dr. Bedjo Sujanto, M.Pd., Direktur Pascasarjana, Prof. Dr. H. Djaali, beserta segenap jajarannya yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas serta kemudahan kepada penulis selama menjalani studi Program Magister di Universitas Negeri Jakarta.
Secara khusus penulis menyampaikan terimakasih kepada ketua Prodi PB/LT sekaligus pembimbing I Prof. Dr. Emzir, M. Pd, dan pembimbing II Prof. Dr. Sabarti Akhadiah, M. Pd, yang selalu membimbing dan mengarahkan penulis dalam penyelesaian Tesis ini. Ucapan terimakasih kepada Bapak Dr. Aceng Rahmat, M. Pd. Sekretaris Prodi PB yang selalu membantu dan mengarahkan dalam urusan akademik maupun administratif.
Ucapan terima kasih kepada Direktur PPS UNJ beserta jajarannya, Bapak/Ibu Dosen di Program studi PB/LT, Karyawan PPS, dan lebih spesial ucapan terimakasih untuk Ayahanda Aminullah Harahap, dan Ibunda Nurbainah Siregar yang telah mendidik dan mendukung penulis hingga dapat melanjutkan studi ke jenjang strata dua. Teman-teman seperjuangan di Prodi LT yang selalu memberikan dukungan, semangat kerja sama yang baik selama proses perkuliahan.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunanTesis ini masih terdapat kekurangan disana sini, oleh karena itu koreksi dan saran sangat diharapkan untuk menyempurnakan tesis ini.
Jakarta, April 2013

Hasrul Harahap
THE TRANSLATION VERBAL PHRASE IN ENGLISH INTO
INDONESIA LANGUAGE

HASRUL HARAHAP
ABSTRACT
The purpose of this research is to obtain the comprehensive description in concerning with the translation. The methodology used in this research is qualitative approach with content analysis technique. This research focused only the translation of verbal phrase from the source language to target language in the novel “Things Fall Apart” written by Chinua Achebe.
This novel tells a man who is considering weaknesses in all his life. He is Okonkwo that obsessed to be a strong man, the rich, and respected. The translation of verbal phrase from Indonesian to English cannot be separated from the deviation that contained in the source language.
There are several factors caused in occurrence of deviation at the novel “Things Fall Apart”, first, there is a phrase that is not translated, second, the error of correspondence lexical and grammatical. The result of this research show that the strategy of the literal translation is more effectively in using in translating the text of source language. The result of this research has drawan that translator impose some techniques of the translation to obtain the meaning of correspondence from the source language as follow: transposition and description. Then, there are also shifts from the grammatical into lexical. It is caused the system of source and target language having difference.
Key words: verbal phrase, translation.

RINGKASAN
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran secara menyeluruh mengenai masalah yang terkait dengan penerjemahan frasa verbal dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia pada novel “Things Fall Apart” karya Chinua Achebe. Metodologi dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan teknik analisis isi. Penelitian ini difokuskan hanya pada penerjemahan frasa verbal dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia pada novel “Things Fall Apart” karya Chinua Achebe.
Novel ini mengisahkan seorang pria yang sepanjang hidupnya takut dianggap lemah. Dia adalah Okonkwo yang terobsesi menjadi pria sejati, pria yang kaya, kuat, dan dihormati. Penerjemahan frasa verbal dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris tidak terlepas dari penyimpangan yang terdapat dalam teks bahasa sumber.
Ada beberapa faktor penyebab terjadinya penyimpangan pada novel “Things Fall Apart”, pertama, adanya frasa yang tidak diterjemahkan, kedua, kesalahan kesepadanan gramatikal dan leksikal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi penerjemahan harfiah yang paling efektif digunakan dalam menerjemahkan teks bahasa sumber. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa penerjemah menerapkan beberapa teknik penerjemahan guna mendapatkan kesepadanan makna bahasa sumber BSu yaitu seperti transposisi dan deskripsi. Kemudian, terdapat juga bentuk pergeseran dari gramatikal atau leksikal. Ini disebabkan karena sistem bahasa sumber dan bahasa sasaran memiliki perbedaan.

DAFTAR ISI
Hal
BAB I PENDAHULUAN 1
a. Latar Belakang Masalah 1
b. Fokus dan Subfokus Penelitian 6
c. Rumusan Masalah 7
d. Kegunaan Penelitian 8

BAB II KAJIAN TEORETIK 10
A. Deskripsi Konseptual Fokus dan Subfokus Penelitian 10
1. Hakikat Penerjemahan 10
1. Definisi Penerjemahan 10
2. Metode Penerjemahan 25
3. Kesepadanan Penerjemahan 38
4. Strategi Penerjemahan 43
5. Pergeseran Penerjemahan 51
6. Penyimpangan Penerjemahan 55
2. Hakikat Penerjemah 59
3. Hakikat Kesulitan dalam Penerjemahan 63
4. Hakikat Frasa Verbal dalam Bahasa Inggris 68
5. Hakikat Frasa Verbal dalam Bahasa Indonesia 72
B. Hasil Penelitian yang Relevan 74
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 85
1. Tujuan Penelitian 85
2. Tempat dan Waktu Penelitian 86
3. Metode dan Prosedur Penelitian 86
4. Data dan Sumber Data 88
5. Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data 89
6. Prosedur Analisis Data 89
7. Pemeriksaan Keabsahan Data 91

BAB IV HASIL PENELITIAN 106
A. Gambaran Umum tentang Fokus Penelitian 106
B. Temuan Penelitian 109
C. Deskripsi tentang Kesepadanan Frasa Verbal dalam Penerjemahan 109
D. Deskripsi tentang Strategi Penerjemahan 114
E. Deskripsi tentang Bentuk Pergeseran Frasa Verbal dalam Penerjemahan 118
F. Deskripsi tentang Penyimpangan Frasa Verbal dalam Penerjemahan 120

BAB V PEMBAHASAN TEMUAN PENELITIAN 126
A. Pembahasan tentang Kesepadanan Frasa Verbal dalam Penerjemahan 126
B. Pembahasan tentang Strategi Penerjemahan 131
C. Pembahasan tentang Bentuk Pergeseran Frasa Verbal dalam Penerjemahan 134
D. Pembahasan tentang Penyimpangan Frasa Verbal dalam Penerjemahan 137

BAB VI SIMPULAN DAN REKOMENDASI 140
1. Simpulan 140
2. Rekomendasi 141

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Alat komunikasi yang utama adalah bahasa. Hubungan antara satu bangsa dengan bangsa yang lain di jalin dengan bahasa. Bahasa sebagai alat komunikasi memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia, dengan berbahasa manusia sebagai makhluk sosial dapat berinteraksi dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa adalah sebuah sistem yang memadukan faktor makna dan bunyi.
Bahasa sebagai alat komunikasi memiliki fungsi dan peranan yang penting dalam kehidupan manusia, melalui bahasa manusia sebagai makhluk sosial dapat berinteraksi dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa itu bersifat dinamis. Bahasa itu tidak lepas dari berbagai kemungkinan perubahan yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Perubahan tersebut dapat terjadi pada semua tataran linguistik yaitu fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan leksikon.
Bahasa dan komunikasi mempunyai hubungan yang erat satu dengan yang lainnya, karena ketika orang berkomunikasi dengan orang lain pasti menggunakan bahasa sebagai instrumennya. Komunikasi merupakan proses informasi antar individual atau kelompok melalui sistem simbol, tanda atau tingkah laku yang umum, sebagai alat komunikasi, bahasa dapat di kaji secara internal dan eksternal. Kajian secara internal merupakan kajian terhadap struktur intern bahasa tersebut, seperti struktur fonologis, morfologis, sintaksis, dan semantik, sedangkan kajian secara eksternal merupakan kajian yang dilakukan terhadap faktor yang berada diluar bahasa yang berhubungan dengan pemakaian bahasa oleh para penuturnya di dalam kelompok masyarakat.
Dengan demikian, penerjemahan dan linguistik berkaitan erat. Mendalami kedua bidang ini akan memberikan kesempatan untuk memikirkan secara lebih mendalam sejumlah masalah dalam penerjemahan. Salah satu masalah dalam penerjemahan adalah penerjemahan kata kerja. Baker mengatakan bahwa pengungkapan makna harus ditangani dengan sensitif dan hati-hati dalam penerjemahan. Secara khusus masalah yang dapat dapat kita lihat adalah dalam penerjemahan novel berbahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia .
Frasa termasuk salah satu bagian dari kajian linguistik karena berhubungan dengan antarkata. Menurut pendapat Elson dan Picket (1969) mendefinisikan bahwa frasa adalah satuan linguistik yang secara potensial merupakan gabungan dua kata atau lebih yang tidak memiliki ciri-ciri sebagai klausa. Sementara itu Kridalaksana, mendefinisikan frasa verbal ialah frasa yang terjadi dari verba sebagai induk dengan verba, atau kata berkelas kata lain, yaitu adverbia, atau frasa preposisional, sebagai modifikator. Kemudian, Moeliono (1988: 127) mengatakan frasa verbal ialah satuan bahasa yang terbentuk dari dua kata atau lebih dengan verba sebagai intinya dan tidak merupakan klausa.
Teori penerjemahan bukan penyedia solusi bagi semua persoalan yang timbul dalam kegiatan menerjemahkan. Teori penerjemahan merupakan pedoman umum bagi penerjemah dalam membuat keputusan-keputusan pada saat dia melakukan tugasnya. Oleh karena itu, keterampilan dan kejeliannya dalam menerapkan teori penerjemahan akan menentukan keberhasilan terjemahannya. Pemahamannya terhadap konsep umum teori penerjemahan adalah penting dan bermanfaat. Mustahil dia bisa menghasilkan terjemahan yang baik jika dia, misalnya tidak memahami definisi atau pengertian penerjemahan sebagai salah satu konsep teori penerjemahan .
Kata penerjemahan mengandung pengertian proses alih pesan, sedangkan kata terjemahan artinya hasil dari suatu penerjemahan. Para pakar teori penerjemahan mendefinisikan penerjemahan dengan cara yang berbeda-beda. Catford (1965), misalnya, mendefinisikan penerjemahan sebagai proses penggantian suatu teks bahasa sumber (Bsu) dengan teks bahasa sasaran (Bsa) . Kedua definisi penerjemahan yang dikemukakannya itu lemah. Seorang penerjemah tidak akan mungkin dapat menggantikan teks bahasa sumber dengan teks bahasa sasaran karena struktur kedua bahasa itu pada umumnya berbeda satu sama lain. Materi teks bahasa sumber juga tidak pernah digantikan dengan materi teks bahasa sasaran. Bahkan dalam penerjemahan ditekankan agar isi teks bahasa sasaran tetap setia dengan isi teks bahasa sumber.
Perwujudan bahasa dapat dilihat dari teks karena teks merupakan salah satu dari ketujuh unsur di atas. Karena tidak ada kebudayaan yang sama, maka akan timbul kesulitan dalam mendapatkan padanan yang tepat dari teks sumber (TSu) ke teks sasaran(TSa). Untuk mengatasi masalah perbedaan (mismatch) ini, menurut Nida (1964) dan Larson perlu dilakukan penyesuaian yang menentukan strategi yang sangat ditentukan oleh kompetensi penerjemah, metode penerjemahan, dan sasaran penerjemahan.
Sementara itu, Newmark mengkategorikan ciri bahasa ke dalam tiga jenis, yaitu (1) bahasa bersifat universal, (2) bahasa bersifat kultural, dan (3) bahasa bersifat personal (1988: 94-95). Catford (1965:20) menyatakan bahwa penerjemahan adalah “the replacement of textual material in one language by equivalent textual material in another language.” Sepadan menurut Catford di sini bisa dilihat dari apakah teks itu sepadan dari segi makna ataupun gaya bahasa.
Itulah sebabnya, mengamati dari beberapa definisi terjemahan diatas penulis ingin memfokuskan diri untuk menganalisis terjemahan frasa verbal bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia dalam novel “Things Fall Apart”. Sebagai mahasiswa pascasarjana yang fokus terhadap kajian linguistik terapan yang memperdalam studi penerjemahan, dianggap perlu untuk melakukan kajian secara komprehensif dalam menerjemahkan frasa verbal bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, tesis ini digunakan untuk menempuh ujian program magister/S2 di bidang linguistik terapan fokus penerjemahan dengan mengambil judul tesis “Penerjemahan Frasa Verbal dari Bahasa Inggris ke dalam Bahasa Indonesia”. Selanjutnya, penelitian ini merupakan analisis isi yang digunakan dalam novel “Things Fall Apart”.
B. Fokus dan Subfokus Penelitian
e. Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah pada bab I, terlihat banyak komponen yang berhubungan erat dengan masalah penerjemahan, maka fokus penelitian difokuskan pada penerjemahan frasa verbal dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia pada novel “Things Fall Apart” karya Chinua Achebe dan terjemahannya oleh Cahya Wiratma ke dalam Bahasa Indonesia.
f. Subfokus Penelitian
Merujuk pada fokus penelitian di atas, penulis dapat menguraikan beberapa subfokus dalam penelitian ini sebagai berikut:
8. Bentuk-bentuk kesepadanan yang dipergunakan dalam terjemahan frasa verbal dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia dalam novel “Things Fall Apart”.
9. Strategi-strategi penerjemahan yang dipergunakan untuk menerjemahkan frasa verbal dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia dalam novel “Things Fall Apart”.
10. Bentuk-bentuk pergeseran yang terjadi dalam tataran satuan gramatikal pada terjemahan frasa verbal dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia dalam novel “Things Fall Apart”
11. Penyimpangan-penyimpangan di dalam terjemahan novel “Things Fall Apart” yang mempengaruhi tingkat kejelasan dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran dalam novel “Things Fall Apart”.
C. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan di analisis dalam penelitian ini meliputi pertanyaan sebagai berikut:
1. Bagaimana bentuk-bentuk kesepadanan yang dipergunakan dalam terjemahan frasa verbal dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia dalam novel “Things Fall Apart”?
2. Bagaimana strategi-strategi penerjemahan yang dipergunakan untuk Menerjemahkan frasa verbal dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia dalam novel “Things Fall Apart”.?
3. Bagaimana bentuk-bentuk pergeseran yang terjadi dalam tataran satuan gramatikal pada terjemahan frasa verbal dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia dalam novel “Things Fall Apart”?
4. Bagaimana penyimpangan-penyimpangan di dalam terjemahan novel “Things Fall Apart” yang mempengaruhi tingkat kejelasan dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran dalam novel “Things Fall Apart”?
D. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan hasil penelitian ini adalah:
3. Bagi penulis, penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan memahami secara komprehensif teori-teori tentang penerjemahan yang telah penulis dapatkan selama proses perkuliahan.
4. Bagi penerjemah, penelitian ini dapat menjadi rujukan atau bahan dalam menerjemahkan teks bahasa sumber ke dalam teks bahasa sasaran.
5. Bagi almamater, penelitian ini dapat menambah referensi yang ada dan dapat digunkan oleh semua pihak
6. Bagi pembaca, penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi kepustakaan yang merupakan informasi tambahan yang berguna bagi para pembaca.
7. Bagi mahasiswa, penelitian diharapkan memberikan referensi dalam melakukan penelitian yang lebih lanjut baik di tingkatan pascasarjana atau sarjana.

BAB II
KAJIAN TEORETIK
A. Deskripsi Konseptual Fokus dan Subfokus Penelitian
1. Hakikat Penerjemahan
a. Definisi Penerjemahan
Menurut Newmark penerjemahan merupakan suatu keahlian atau seni yang berusaha untuk mengganti suatu pesan pernyataan tertulis dalam suatu bahasa dengan pesan atau pernyataan yang sama dalam bahasa yang lain. Oleh karena itu seorang penerjemah dituntut mempunyai kompetensi dan strategi dalam penerjemahan.
Masih menurut pendapat Newmark (1988: 81-93), prosedur penerjemahan berbeda dari metode penerjemahan. Prosedur penerjemahan diterapkan pada tataran yang lebih kecil seperti klausa, frasa, dan kata, sementara metode penerjemahan berkaitan dengan seluruh teks. Namun, pada kenyataannya metode penerjemahan juga dipakai dalam tataran kalimat.
Menurut Larson penerjemahan merupakan kegiatan yang mengalihkan makna bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran, lebih lanjut Larson bahwa dalam pengalihan ini dilakukan dari bentuk bahasa pertama ke dalam bentuk bahasa kedua melalui struktur semantis. Menurut Larson maknalah yang dialihkan dan harus dipertankan sedang bentuk boleh diubah. Proses penerjemahan digambarkan oleh Larson sebagai berikut:
BAHASA SUMBER BAHASA SASARAN

Memahami makna Mengungkap kembali
Makna

Gambar 1. Proses penerjemahan yang digambarkan Larson
Menurutnya menerjemahkan berarti pertama, mempelajari leksikon, struktur gramatikal, situasi komunikasi, dan konteks budaya dari teks bahasa sumber. Kedua, menganalisis teks bahasa sumber untuk menemukan maknanya dan yang ketiga, mengungkapkan kembali makna yang sama itu dengan menggunakan leksikon dan struktur gramatikal yang sesuai dalam bahasa sasaran dan konteks budayanya. Jadi dalam suatu penerjemahan yang harus dipertahankan adalah aspek makna, karena aspek yang mendasar pada setiap bahasa itu adalah makna yang dikandungnya. Sedangkan dalam faktor bentuknya boleh berubah, yang dimaksudkan oleh Larson disini adalah struktur formalnya atau struktur permukaan bahasa berupa morfem, kata, frasa, klausa dan kalimat dalam satu bahasa yang diterjemahkan.
Penerjemahan bukan hanya pengalihan pesan yang terdapat dalam teks suatu bahasa ke dalam teks bahasa lain, melainkan juga pentransferan di antara dua kebudayaan yang berbeda. Kebudayaan melatari setiap bahasa yang terlibat dalam penerjemahan. Menurut Larson (1984), penerjemahan adalah pengalihan pesan dari bahasa sumber (BSu) ke bahasa sasaran (BSa) dengan menggunakan struktur leksikal dan gramatikal yang sesuai dengan BSa dan budayanya.
Menurut Catford (1974: 24) di dalam bukunya Theory of Translation, penerjemahan adalah; “The replacement of textual material in one language bye equivalent textual material ini another language” (Pengertian materi teks dari satu bahasa dengan materi teks bahasa lain yang padan). Secara luas penerjemahan dapat diartikan sebagai semua kegiatan manusia yang mengalihkan seperangkat informasi atau pesan baik verbal atau non verbal dari informasi asal atau informasi sumber ke informasi sasaran. Dalam pengertian dan cakupan yang lebih sempit, penerjemahan biasa diartikan sebagai suatu proses pengalihan pesan yang terdapat di dalam teks bahasa pertama atau bahasa sumber dengan padanannya di dalam bahasa kedua atau bahasa sasaran.
Eugene A. Nida dan Charles K. Taber, dalam bukunya The Theory On Practise of Translation yang dikutip dari buku Teori Terjemahan, mengartikan terjemahan sebagai berikut: “Translating consist in reproducing in receptor language the closest natural equivalent in the source language message firist in term of meaning and secondly in term of style” (Menerjemahkan merupakan kegiatan menghasilkan kembali di dalam bahasa penerima barang yang secara sedekat-dekatnya dan sewajar-wajarnya sepadan dengan bahasa sumber, pertama menyangkut makna dan kedua menyangkut gayanya).
Secara sederhana menerjemahkan dapat diartikan sebagai suatu kegiatan memindahkan suatu amanat dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran yang pertama mengungkapkan maknanya dan kedua mengungkapkan gaya bahasanya. Akan tetapi dalam proses penerjemahan tidak boleh dilakukan pemaksaan terhadap kesepadanan bentuk, karena pemaksaan itu akan menimbulkan kejanggalan dalam hasil terjemahannya sehingga pembaca tidak akan mengerti hasil terjemahan tersebut. Maka untuk memperoleh hasil penerjemahan yang wajar dan mudah dimengerti, kesepadanan istilah lebih diutamakan dari pada kesepadan bentuk. Bertitik tolak dari pandangan bahwa penerjemahan merupakan suatu proses pengalihan makna yang berlangsung dalam lingkup memori penerjemah maka secara teoritis proses pengalihan makna tersebut dapat diformulasikan melalui model berikut:

Gambar 2: Diadaptasi dari konsep wacana Halliday (1985); proses penerjemahan Nida (1975); Bell (1991)

Selain itu menurut B.H Hoed, seorang penerjemah harus menjiwai, baik bahasa sumber maupun bahasa sasarannya dan harus menempatkan dirinya menjadi anggota masyarakat kedua dunia tersebut, sehingga dapat mengetahui perbedaan persepsi dalam memandang dunia ini.
Kemudian, pengertian terjemahan menurut Munday adalah peralihan bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran dalam bentuk teks tulis “… as changing of an original written text in the original verbal language into a written text in a different verbal language” (Munday, 2001:5). Terkait dengan perihal ekivalensi yang ditetapkan sebagai suatu kata kunci, Catford mendefinisikan penerjemahan sebagai penempatan (replacement) teks bahasa sumber dengan teks yang ekivalen dalam bahasa sasaran. “The replacement of textual material in one language (SL) by equivalent textual material in another language (TL) and the term equivalent is a clearly a key term” (Catford, 1965: 20-21). Meskipun sangat jarang terdapat padanan suatu kata dalam bahasa sumber yang sama dengan arti dalam bahasa sasaran, namun keduanya dapat berfungsi secara ekivalen pada saat keduanya dapat saling dipertukarkan (interchangeable).
Berdasarkan ketiga definisi mengenai penerjemahan tersebut di atas, terlihat adanya kesepakatan bahwa penerjemahan adalah suatu pekerjaan yang menyangkutan keterkaitan antara dua bahasa atau lebih (multy-language) yang menekankan suatu kesamaan, yakni adalah ekivalensi. Dalam penerjemahan, yang kemudian terjadi adalah transfer makna dari bahasa sumber (source language) ke bahasa sasaran (target language), dengan keakuratan pesan, keterbacaan, dan keberterimaan produk.
Dari perspektif yang agak berbeda namun masih relevan dengan translasi sebagai penggunaan interpretatif bahasa (interpretative use of language), Ernst dan Gutt memberi pengertian penerjemahan sebagai suatu upaya yang dimaksudkan untuk pernyataan ulang (restate) apa yang telah dinyatakan atau dituliskan oleh seseorang dalam suatu bahasa ke dalam bahasa lainnya. “The translation is intended to restate in one language what someone else said or wrote in another language” (Ernst dan Gutt dalam Hickey, 1998: 46).
Terkait dengan perihal makna, Larson mendefinisikan penerjemahan sebagai pengalihan makna dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran melalui tiga langkah pendekatan, yakni: 1) mempelajari leksikon, struktur gramatikal, situasi komunikasi, dan konteks budaya dari teks bahasa sumber; 2) menganalisis teks bahasa sumber untuk menemukan maknanya; dan 3) mengungkapkan kembali makna yang sama dengan menggunakan leksikon dan struktur gramatikal yang sesuai dalam bahasa sasaran (Larson, 1984: 3). Adakah keterkaitan antara penerjemahan dengan seni? Bell mengemukakan suatu perdebatan mengenai status proses penerjemahan sebagai suatu ilmu pengetahuan atau suatu seni. Keduanya mengarah pada dua hal berbeda; di mana ilmu pengetahuan (science) adalah identik dengan objektivitas, sementara seni (art) cenderung merujuk pada sesuatu yang tidak objektif (not amenable to objective).
Bell menegaskan pengertian penerjemahan yang hampir sama dengan Catford, yakni penerjemahan sebagai suatu bentuk pengungkapan suatu bahasa dalam bahasa lainnya sebagai bahasa sasaran, dengan mengedepankan semantik dan ekivalensi. .Translation is the expression in another language (or sasaran language) of what has been expressed in another, source language, preserving semantic and stylistic equivalences. (Bell, 1991: 4-5).
Berdasarkan beberapa definisi mengenai penerjemahan tersebut di atas, terlihat adanya kesepakatan bahwa penerjemahan merupakan suatu kegiatan yang menyangkut keterkaitan antara dua bahasa atau lebih (multy-language) yang kemudian adanya transfer makna dari bahasa sumber (SL) ke bahasa sasaran. (TL), dengan keakuratan pesan, keterbacaan, dan keberterimaan yang akan bermuara pada produk terjemahan yang baik, sebagaimana dikemukakan Halliday dalam Steiner bahwa terjemahan yang baik adalah suatu teks yang merupakan terjemahan ekivalen terkait dengan fitur-fitur linguistik yang bernilai dalam konteks penerjemahan. A good translation is a text which is a translation (i.e.is equivalent) in respect of those linguistic feautures which are most valued in the given transalation. (2001: 17).
Sementara itu menurut Catford (1965:20) dalam O. Setiawan Djharie, penerjemahan sebagai pengalihan wacana dalam bahasa sumber (BSu) dengan wacana padanannya dalam bahasa sasaran (BSa). Di sini Catford menekankan bahwa wacana alihan haruslah sepadan dengan wacana aslinya, karena padanan merupakan kata kunci dalam proses penerjemahan, dengan sendirinya pesan dalam wacana alihan akan sebanding dengan pesan wacana asli dan sebaliknya. Catford mendefinisikan terjemahan sebagai “The replacement of textual material in one language (SL), by equivalaent textual material in another language (TL) (pemindahan materi teks dari bahasa sumber ke dalam materi teks yang sepadan dalam bahasa target).
Menurut Nida bahwa penerjemahan berupaya memperoleh kesepadanan makna (meaning equivalence) dari dua bahasa yang berbeda. Kesepadanan makna ini tentunya tidak muda diperoleh karena penerjemahan melibatkan dua bahasa yang berbeda dengan sendirinya akan melibatkan dua budaya yang berbeda pula. Kalau dilihat dari struktur lahir bahasa memang seakan-akan penerjemahan itu tidak dapat dilakuk an, akan tetapi karena pada struktur batin ada kesemestaan karena itu penerjemahan dapat dilakukan.
Menurut Nida dan Taber (1974:12)
“Translating consists in reproducing in the receptor language the closest natural equivalent of the source language message, first in terms of meaning and secondly in terms of style”.
Definisi diatas menjelaskan bahwa pesan yang terdapat dalam bahasa sumber (BSu) harus diungkapkan sewajar mungkin dalam bahasa sasaran (BSa). Kewajaran yang dimaksud disini ditentukan oleh aturan-aturan bahasa sasaran (BSa) menuntut agar penerjemah mempunyai otoritas untuk menerjemahkan bahasa sumber (BSu).
Sementara itu, menurut Hoed secara teoritis penerjemahan merupakan suatu proses satu arah, yakni dari BSu ke BSa, atau lebih tepat lagi dari TSu ke TSa. Jenis nosi pertama yang dipaparkan adalah tiga definisi penerjemahan yang berasal dari Nida dan Taber, Newmark, serta Larson. Menurut Nida dan Taber penerjemahan adalah usaha mereproduksi pesan dari bahasa sumber ke dalam bahasa penerima (receptor) dengan mendahulukan makna pesan dari pada bentuk untuk mencari perpadanan pesan yang terdekat dan wajar (translating consists in reproducing in the receptor language to the closest natural equivalent of the source language message, first in terms of meaning and secondly in terms of style.
Catford menyatakan bahwa penerjemahan merupakan pengalihan materi tekstual dari satu bahasa ke bahasa lain, sementara Nida dan Taber menyatakan bahwa penerjemahan adalah mereproduksi padanan terdekat dari TSu ke dalam TSa dalam hal makna dan gaya bahasa (Nida dan Taber, 1974). Larson menekankan bahwa penerjemahan lebih mementingkan makna daripada bentuk. Di luar ketiga pendapat pakar penerjemahan mengenai definisi penerjemahan, Newmark menyatakan bahwa penerjemahan dari tiga sisi yang berbeda, yaitu sebagai ilmu, keterampilan, dan seni (1988: 189-190).
Sebagai sebuah keterampilan, kemampuan menerjemahkan dapat diperoleh dari praktik dan pengalaman. Semakin seringnya praktik dan pengalaman, maka penerjemah akan semakin terampil dalam menerjemahkan. Lambat laun ia akan menghasilkan gaya atau seni menerjemahkan yang tersendiri. Pendapat di atas sejalan dengan yang diungkapkan Baker bahwa penerjemahan adalah seni yang hanya membutuhkan bakat, praktik, dan pengetahuan umum (1992: 3).
Namun, Baker juga menyebutkan bahwa agar penerjemahan dapat lebih dari sekedar bakat dan praktik, pengetahuan akan teori penerjemahan pun sangat diperlukan. Dengan kata lain, penerjemah harus memiliki pengetahuan yang baik akan materi yang mereka kerjakan, yaitu pemahaman bahasa dan fungsinya. Pendapat Baker ini didukung oleh Hatim yang menyebutkan bahwa penerjemah dapat dilatih untuk menerjemahkan dan bahwa hanya spekulasilah yang menyatakan kemampuan menerjemahkan itu merupakan bakat dan bahwa terjemahan yang baik tidak dapat diselesaikan di bawah tekanan (2001: 162).
Selain itu, penerjemahan sebagai ilmu juga berhubungan dengan disiplin ilmu lain, seperti linguistik, filsafat, kajian kesusasteraan, dan kajian budaya (Hatim dan Munday, 2004: 8). Bell menyatakan bahwa penerjemahan (translating) adalah suatu proses mengalihkan pesan dari satu bahasa ke bahasa lainnya. Jadi, penerjemahan merupakan suatu aktivitas, bukan suatu obyek yang nyata. Sementara itu, terjemahan (a translation) merupakan produk dari proses penerjemahan, misalnya sebuah hasil karya terjemahan (1991: 13).
Namun, satu hal yang patut dicatat dari pendapat Bell adalah ia meyakini bahwa proses penerjemahan merupakan aktivitas yang melibatkan berbagai unsur dan kegiatan, seperti analisis, representasi semantis, dan sintesis. Adanya berbagai perbedaan definisi penerjemahan, misalnya penerjemahan sebagai kiat, keterampilan, ataupun seni, sebaiknya tidak lagi dipersoalkan karena saya berpendapat, perbedaan definisi itu akan membingungkan orang yang belajar penerjemahan. Dari definisi yang diberikan banyak pakar, saya berpendapat bahwa penerjemahan adalah pengalihan pesan dari suatu teks sumber ke teks sasaran melalui prosedur dan tujuan penerjemahan tertentu untuk menciptakan terjemahan yang akurat, sepadan, dan berterima dengan tetap memertahankan makna yang ada di dalam teks sumber.
Oleh karena itu, penerjemahan itu memang tidak muda dilakukan, tetapi sekaligus juga bisa dapat dilakukan. Lanjut Nida bahwa dalam penerjemahan tersebut, makna adalah hal utama yang akan dialihkan dan untuk itu sering penerjemah harus mengubah sudut pandangnya berdasarkan sudut pandang bahasa sasaran. Kata penerjemahan atau dalam bahasa Inggris disebut “translation” dapat diartikan dalam lingkup yang luas. Dalam bahasa Inggris kata penerjemahan (translation) berasal dari kata kerja ‘translate’ yang memiliki arti menerjemahkan.
Banyak teori tentang makna telah dikemukakan orang. Untuk permulaan barangkali kita ikuti saja pandangan Ferdinand de Saussure dengan teori tanda linguistiknya. Menurut de Saussure setiap tanda linguistik atau tanda bahasa sendiri dari dua komponen yaitu komponen signifian atau yang mengartikan yang wujudnya runtunan bunyi dan komponen signifie atau yang diartikan yang wujudnya berupa pengertian atau konsep.
Dengan demikian, menurut teori yang dikembangkan dari pandangan Ferdinand de Saussure bahwa makna adalah “pengertian” atau “konsep” yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda linguistik. Masalah kita sekarang di dalam praktek berbahasa tanda linguistik itu berwujud apa. Kalau tanda linguistik itu disamakan identitasnya dengan kata atau leksem, maka berarti makna adalah pengertian atau konsep yang dimiliki oleh setiap kata atau leksem, maka berarti makna adalah pengertian atau konsep yang dimiliki oleh setiap kata atau leksem, kalau tanda linguistik itu disamakan identitasnya dengan morfem, maka berarti makna itu adalah pengertian atau konsep yang dimiliki oleh setiap morfem baik disebut morfem dasar atau pun morfem afiks. Lihat Kridalaksana misalnya yang menyatakan setiap tanda bahasa (yang disebutnya penanda) tentu mengacu pada suatu yang ditandai (disebutnya penanda).
b. Metode Penerjemahan
Dalam praktek menerjemahkan diterapkan berbagai jenis penerjemahan. Hal itu disebabkan oleh 4 faktor, yaitu: (1) adanya perbedaan antara sistem bahasa sumber dengan sistem bahasa sasaran, (2) adanya perbedaan jenis materi teks yang diterjemahkan, (3) adanya anggapan bahwa terjemahan adalah alat komunikasi, dan (4) adanya perbedaan tujuan dalam menerjemahkan suatu teks. Dalam kegiatan menerjemahkan yang sesungguhnya, ke empat faktor tidak selalu sendiri dalam artian bahwa ada kemungkinan kita menerapkan dua atau tiga jenis penerjemahan sekaligus dalam menerjemahkan sebuah teks.

Gambar 3. Metode Penerjemahan
Pada dasarnya terjemahan dapat dibedakan ke dalam tiga jenis: (1) terjemahan intralingual atau rewording, yakni interpretasi tanda verbal dengan menggunakan tanda lain dalam bahasa yang sama; (2) terjemahan interlingual atau translation proper, merupakan interpretasi tanda verbal dengan menggunakan bahasa (bahasa bahasa) lain; dan (3) terjemahan intersemiotik atau transmutation, yakni `interpretasi tanda verbal dengan tanda dalam sistem tanda non-verbal (Jakobson dalam Venuti, 2000: 114).
Tipe penerjemahan pertama atau .intralingual. menyangkut proses menginterpretasikan tanda verbal dengan tanda lain dalam bahasa yang sama. Dalam penerjemahan tipe yang kedua (interlingual translation) tidak hanya menyangkut mencocokkan/membandingkan simbol, tetapi juga padanan kedua simbol dan tata aturannya atau dengan kata lain mengetahui makna dari keseluruhan ujaran. Terjemahan tipe ketiga yakni transmutation, menyangkut pengalihan suatu pesan dari suatu jenis sistem simbol ke dalam sistem simbol yang lain seperti lazimnya dalam Angkatan Laut Amerika suatu pesan verbal bisa dikirimkan melalui pesan bendera dengan menaikkan bendera yang sesuai dalam urutan yang benar (Nida, 1964: 4). Jenis terjemahan yang dimaksudkan dalam hal ini adalah terjemahan interlingual atau translation proper.
Sementara Larson mengklasifikasi terjemahan dalam dua tipe utama, yakni terjemahan berdasarkan bentuk (Form-based translation) dan terjemahan berdasarkan makna (Meaning-based translation). Terjemahan berdasarkan bentuk, cenderung mengikuti bentuk bahasa sumber yang dikenal dengan terjemahan harfiah, sementara terjemahan berdasarkan makna cenderung mengkomunikasikan makna teks bahasa sumber dalam bahasa sasaran secara alami.
Jenis-jenis penerjemahan sebagai berikut:
1. Penerjemahan Kata Demi Kata
Penerjemahan kata demi kata (word for word translation) adalah suatu jenis penerjemahan yang pada dasarnya masih sangat terikat pada tataran kata. Dalam melakukan tugasnya, penerjemah hanya mencari padanan kata bahasa sumber dalam bahasa sasaran, tanpa mengubah susunan kata dalam terjemahannya. Susunan kata dalam kalimat terjemahan sama persis dengan susunan kata dalam kalimat aslinya. Penerjemahan tipe bisa diterapkan hanya kalau bahasa sumber dan bahasa sasaran mempunyai struktur yang sama. Sebaliknya, kalau struktur kedua bahasa itu berbeda satu sama lain, penerjemahan kata demi kata seyogyanya dihindari karena hasilnya akan sulit dipahami dan struktur kalimatnya tentu saja menyalahi struktur kalimat bahasa sasaran.

2. Penerjemahan Bebas
Penerjemahan bebas (free translation) sering tidak terikat pada pencarian padanan kata atau kalimat, tetapi pencarian padanan itu cenderung terjadi pada tataran paragraf atau wacana. Penerjemah harus mampu menagkap amanat dalam bahasa sumber pada tataran paragraf atau wacana secara utuh dan kemudian mengalihkan serta mengutamakan penyampaian informasi yang akurat.
Dalam penerjemahan estetik-puitik, penerjemah tidak hanya memusatkan perhatiannya pada masalah penyampaian informasi, tetapi juga pada masalah kesan, emosi, dan perasaan dengan mempertimbangkan keindahan bahasa sasaran. Itulah sebabnya penerjemahan estetik-puitik disebut juga sebagai penerjemahan sastra, seperti penerjemahan puisi, prosa, dan drama yang menekankan konotasi emosi dan gaya bahasa. Penerjemahan tipe ini sulit dilakukan karena sastra bahasa yang satu berbeda dari sastra bahasa lain, dan demikian juga kebudayaan yang melatarbelakanginya.
3. Penerjemahan Etnografik
Dalam penerjemahan etnografik, seorang penerjemah berusaha menjelaskan konteks budaya bahasa sumber dalam bahasa sasaran. Dia harus peka, misalnya, terhadap penggunaan yang berbeda-beda antara kata yes dan yea dalam bahasa Inggris Amerika. Dia juga harus mampu menemukan padanannya dalam bahasa sasaran. Hal ini akan sukar dilakukan apabila suatu kata bahasa sumber ternyata belum atau tidak mempunyai padanan dalam bahasa sasaran, yang disebabkan oleb berbedanya budaya pemakai kedua bahasa itu. Kata modin, misalnya, tidak mempunyai padanan dalam bahasa Inggris. Untuk mengatasi masalah seperti ini, penerjemah biasanya akan membiarkan katan modin itu tetap tertulis dalam bahasa Indonesia. Kemudian ia memberi anotasi atau keterangan perihal arti dari kata tersebut. Cara ini dianggap yang paling tepat dalam mengatasi ketiadaan padanan kata bahasa sumber dalam bahasa sasaran yang disebabkan oleh budaya kedua bahasa itu berbeda satu sama lain.
4. Penerjemahan Linguistik
Penerjemahan linguistik ialah penerjemahan yang hanya berisi informasi linguistik yang implisit dalam bahasa sumber yang dijadikan eksplisit, dan yang dalam perubahan bentuk dipergunakan transformasi balik dan analisis komponen makna. Dalam penerjemahan linguistik, kita hanya menemukan informasi linguistik, seperti morfem, kata, frasa, klausa dan kalimat. Informasi itu tersirat dalam bahasa sumber yang kemudian dijadikan tersurat dalam bahasa sasaran.
Pada umumnya penerjemahan linguistik diterapkan jika terdapat ketaksaan dalam bahasa sumber baik pada tataran kata, frasa, klausa, atau pun pada tataran kalimat, khususnya kalimat kompleks. Kalimat kompleks bahasa Inggris yang mengandung ketaksaan, misalnya, harus diubah menjadi kalimat inti untuk menangkap maknanya, sebelum kata kalimat taksa itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Penerapan transformasi balik dan analisis komponen makna itu dalam penerjemahan dianggap perlu mengingat ada kemungkinan penerjemah berhadapan dengan dua buah kalimat bahasa sumber yang mempunyai struktur lahir yang sama, tetapi struktur batin kedua kalimat itu berbeda satu sama lain, ada kemungkinan dia juga berhadapan dengan kata bermakna ganda.
5. Penerjemahan Komunikatif dan Semantik
Dalam bukunya yang berjudul Approaches to Translation, Newmark (1981) menyediakan dua bab khusus untuk membahas penerjemahan komunikatif dan semantik. Pada bagian pertama dari dua bab itu diuraikan secara singkat sejarah dan hakekat penerjemahan mulai dari periode pra-linguistik sampai perriode linguistik modern abad ke 19. Newmark juga menjelaskan timbulnya silang pendapat tentang apakah penerjemah harus lebih memperhatikan bahasa sumber ataukah bahasa sasaran, dan adanya pandangan tentang prinsip penerjemahan pada masa itu yang memberi penekanan pada pencarian padanan unsur-unsur forrmal, seperti kata atau struktur kata.
6. Penerjemahan Idiomatik
Proses penerjemahan dengan menggunakan metode ini, dapat menyampaikan kembali BSu tetapi terdapat penyimpangan nuansa makna karena mengutamakan kosakata sehari-hari dan idiom yang tidak ada di dalam BSu tetapi biasa digunakan di dalam BSa. Namun, tidak selalu berhasil karena idiom tidak selalu sejajar sama BSu dan BSa.
7. Penerjemahan Komunikatif
Dengan berpedoman pada hakekat komunikasi, Newmark (1981:62) mengemukakan pandangannya tentang fungsi terjemahan sebagai alat komunikasi melalui pernyataannya sebagai berikut: “translation is basically a means of communication or a manner of addressing one or more persons in the speaker presence”. Sebagai alat komunikasi, terjemahan harus dikembalikan pada fungsi utamanya sebagai suatu alat untuk menyampaikan atau mengungkapkan suatu gagasan atau perasaan kepada orang lain.
Jika pendapat bisa diterima, maka suatu terjemahan seyogyanya tidak hanya mempunyai bentuk dua makna, tetapi juga fungsi. Newmark juga menganggap terjemahan sebagai fenomena sosial yang mempunyai multidimensi. Oleh karena itu, dalam aktivitas menerjemahkan, unsur-unsur seperti bahasa sumber dan bahasa sasaran, budaya, penulis teks asli, penerjemah dan pembaca terjemahan perlu diperhatikan. Cakupan yang menyeluruh itu kiranya merupakan salah satu kekuatan dari penerjemah komunikatif.
Seperti tipe-tipe penerjemahan lainnya, penerjemahan pesan. Perbedaannya, selain itu terletak pada kepeduliannya pada masalah efek yang ditimbulkan oleh suatu terjemahan pada pembaca atau pendengar. Penerjemahan komunikatif sangat memperhatikan para pembaca atau pendengar bahasa sasaran yang tidak mengharapkan adanya kesulitan-kesulitan dan ketidakjelasan dalam teks terjemahan.
Mereka mengharapkan adanya pengalihan unsur-unsur bahasa sumber ke dalam kebudayaan dan bahasa mereka. Penerjemahan komunikatif juga sangat memperhatikan keefektifan bahasa terjemahan. Penerjemahan komunikatif mempersyaratkan agar bahasa terjemahan mempunyai bentuk, makna dan fungsi. Hal ini perlu mendapatkan perhatian karena ada kemungkinan suatu kalimat sudah benar secara sintaksis, tetapi maknanya tidak logis; atau bentuk dan maknanya sudah benar, namun penggunaannya tidak tepat.
8. Penerjemahan Semantik
Anggitan atau konsep (concept) penerjemahan semantik dan penerjemahan komunikatif sangat mirip dan seringkali tumpang sua, sehingga perbedaan nyata antara keduanya hanyalah perbedaan penekanan. Penerjemahan semantik terfokus pada pencarian padanan pada tataran kata dengan tetap terikat pada budaya bahasa sumber. Penerjemahan tipe ini berusaha mengalihkan makna kontekstual bahasa sumber yang sedekat mungkin dengan struktur sintaksis dan semantik bahasa sasaran (Newmark 1981: 39).
Maksud dari pernyataan itu adalah jika suatu kalimat perintah bahasa Inggris diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, misalnya, maka terjemahannya pun harus berbentuk kalimat perintah. Kata-kata yang membentuk kalimat perintah bahasa Inggris itu harus mempunyai komponen makna yang sama dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Penerjemahan tipe ini juga mirip dengan penerjemahan linguistik pada tataran kata, tetapi sangat berbeda dengan penerjemahan kata demi kata yang tidak terikat pada budaya bahasa sumber.
Seperti penerjemahan komunikatif, penerjemahan semantik mempunyai kelemahan jika diterapkan, yang disebabkan oleh keterikatan penerjemah pada budaya bahasa sumber pada saat dia melakukan tugasnya. Padahal, budaya yang melatarbelakangi bahasa sumber dan bahasa sasaran pasti berbeda. Akibatnya, penerjemahan tipe ini seringkali sulit diterapkan terutama dalam menerjemahkan kata-kata yang bermakna abstrak dan subjektif.
Bell (1991: 71) mengungkapkan bahwa ada tujuh metode yang digunakan dalam penerjemahan istilah yaitu borrowing, loan translation (calcue), literal translation, transposition, modulation, equivalance, dan adaptation.
1. Metode Borrowing (Metode Peminjaman)
Yang dimaksud dengan metode borrowing (metode peminjaman) adalah suatu cara penerjemahan terhadap kata (lexical) dari bahasa sumber (BSu) ke dalam bahasa sasaran (BSa) dengan cara menggunakan langsung (pinjam langsung) kata tersebut. Proses peminjaman langsung itu tidak merubah sedikitpun bentuk dan makna yang dimaksud dalam bahasa sasaran (BSa) dalam hal ini bahasa Indonesia.
Haugen dan (Fishman, ed. 1978: 37-43) menegaskan bahwa istilah pure borrowing dianggap kurang tepat dalam proses penerjemahan. Haugen kemudian membagi metode ini ke dalam tiga jenis, yaitu (1) pure loanwords yaitu peminjaman dalam bentuk kata murni bahasa sumber (BSu) tanpa mendapat proses adaptasi morfologis maupun ortografis, (2) mix loanword, yaitu peminjaman kata dari bahasa sumber (BSu) tetapi dengan menggunakan proses adaptasi morfologis atau ontologis, dan (3) loanblends yaitu peminjaman kata bahasa sumber (BSu) yang mengalami proses komposisi atau yang berbentuk kata majemuk.
1.1 Pure Loanwords (Pinjaman Murni)
Pure loanwords (proses peminjaman murni) adalah peminjaman kata atau frasa pada teks bahasa sumber ke bahasa sasaran. Dengan kata lain, kata-kata yang ditransfer tersebut tidak mengalami proses afiksasi, abreviasi, reduplikasi, dan derivasi.
1.2 Mix Loanwords (Pinjaman tak Murni)
Yang dimaksud pinjaman takmurni di sini adalah pinjaman istilah bahasa Inggris yang digunakan dalam teks bahasa sumber ke dalam bahasa Indonesia yang mengalami adaptasi morfologis atau ortografis. Adaptasi yang dimaksud bias berupa afiksasi dan derivasi.

1.3 Loanblend (Pinjaman Campuran)
Loanblend (pinjaman campuran) adalah pinjaman istilah yang berbentuk kata majemuk dengan perpaduan antara sebuah kata yang dipinjam dari bahasa Inggris dengan sebuah kata bahasa Indonesia.
2. Loan Translation (Calque)
Bell (1991: 71) menyebutkan bahwa suatu metode penerjemahan atas unsur bahasa sumber (BSu) ke bahasa sasaran (BSa) adalah dengan cara substitusi linier (linier substitusion).
3. Terjemahan Harfiah (Literal Translation)
Salah satu metode dalam penerjemahan dikenal dengan istilah penerjemahan dengan cara harfiah atau word-for-word translation. Bell (1991: 71) menyebutkan bahwa terjemahan harfiah (literal translation) adalah suatu cara menerjemahkan kata demi kata dan struktur sintaksisnya secara sama atau hampir sama baik jumlah maupun unsurnya (isomorfik) yang ada dalam teks bahasa sasaran dan teks bahasa sumber.
4. Transposisi
Menurut Bell (1991: 71) metode penerjemahan dengan transposisi adalah suatu metode yang melibatkan pergesaran kelas kata. Ada dua jenis transposisi, yaitu (1) transposisi wajib (obligatory transposition) adalah ketika bahasa sasaran tidak memiliki pilihan lain dari sistem kebahasaan yang ada, (2) transposisi pilihan (opitonal transposition) adalah berkaitan dengan gaya penyusunan struktur dalam bahasa sasasran.
5. Modulasi
Modulasi adalah variasi bentuk pesan yang diperoleh dengan merubah cara pandang. Perubahan ini dapat ditentukan ketika hasil terjemahan yang secara gramatis mendekati ujaran yang benar tetapi dalam pertimbangan ketidaktepatan atau tidak idiomatik atau rancu dalam bahasa sasaran. Bell (1991: 71) menyebutkan bahwa dalam metode penerjemahan bias terjadi pergeseran sudut pandang atau pesan yang sama dan dilihat dari segi yang berbeda
Ada dut tipe modulasi, yaitu (1) modulasi bebas atau pilihan (free or optional modulation) dan (2) modulasi wajib (obligatory modulation). Modulasi bebas dapat terjadi ketika kata, struktur frasa atau kalimat tidak dapat ditemui dalam bahasa sasaran.
6. Kesepadanan
Kesepadanan (equivalence) sering digunakan dalam proses penerjemahan khususnya dalam kasus penggunaan struktur dan makna yang seluruhnya berbeda dari teks bahasa sumber selama fungsi situasi komunikasinya masih sama. Penerjemahan dengan metode ini biasanya digunakan ketika penerjemah menghadapi teks yang sama dengan bentuk-bentuk idiom dan pepatah. Bell (1991: 71) juga menyebutkan bahwa metode penerjemahan dengan metode kesepadanan adalah metode yang menekankan pada kesepadanan fungsi suatu unit linguistik seperti peribahasa, idiom, dan lain-lain.
7. Penyesuaian
Metode penerjemahan dengan penyesuaian (adaptation) adalah metode yang melakukan penyesuaian karena adanya perbedaan latar belakang budaya di kedua bahasa sehingga konsep yang diacu oleh istilah bahasa sumber tidak terdapat dalam bahasa sasaran (Bell 1991: 71). Prosedur ini diambil ketika objek atau situasi yang berkaitan dengan budaya yang ada pada bahasa sumber tidak diketahui dalam bahasa sasaran. Dalam hal ini penerjemah harus menemukan istilah baru atau ungkapan baru yang sesuai dengan konteks situasinya.
c. Kesepadanan Penerjemahan
Padanan adalah suatu bentuk dalam bahasa sasaran dilihat dari segi semantik sepadan dengan suatu bentuk bahasa sumber. Kemungkinan adanya suatu kesepadanan didasarkan atas keuniversalan bahasa dan budaya. Namun demikian masalah kesepadanan bukanlah identik dengan kesamaan karena perdebatan mengenai kedua konsep tersebut lebih banyak terkait dengan penerjemahan karya sastra khususnya puisi yang melihat kesepadanan sebagai tuntutan untuk menghasilkan kesamaan (Lihat Machali, 2000: 106).
Kesepadanan dalam kajian terjemahan selalu dikaitkan dengan fungsi teks dan metode penerjemahan. Konsep kesepadanan dalam penerjemahan telah dianalisis, dievaluasi dan diperbincangkan dari berbagai perspektif yang berbeda. Pluralitas perspektif tersebut diwarnai oleh berbagai pendapat seperti Vinay dan Darbelnet, Jakobson, Nida dan Taber, Catford, House, dan Baker. Kesepadanan merupakan isu sentral dalam penerjemahan karena menyangkut perbandingan teks dalam bahasa yang berbeda.
Vinay dan Darbelnet (1995) dalam Leonardi (2000) memandang penerjemahan yang beorientasi mencari padanan (equivalence-oriented translation) sebagai suatu prosedur menciptakan kembali replika situasi yang sama sebagaimana situasi aslinya dengan menggunakan ungkapan yang berbeda. Perspektif perpadanan Jakobson dalam Venuti (2000: 113) didasarkan atas konsepsinya tentang terjemahan, yakni intralingual (dalam satu bahasa, berupa parafrasa, interlingual (antara dua bahasa) dan intersemiotic (antar sistem tanda), dan menyatakan bahwa penerjemahan menyangkut dua pesan yang sepadan dalam dua kode (code) yang berbeda.
Nida dan Taber membedakan kesepadanan dalam terjemahan ke dalam 2 jenis (1) kesepadanan formal dan (2) kesepadanan dinamis. Kesepadanan formal pada dasarnya dihasilkan dari proses penerjemahan yang berorientasi pada bahasa sumber dan diarahkan untuk mengungkap sejauh mungkin bentuk dan isi dari pesan asli. Oleh karena itu dalam proses penerjemahan segala usaha ditujukan untuk mereproduksi elemen formal termasuk (1) unit gramatikal, ketaatasasan penggunaan kata dan (2) makna yang sesuai dengan konteks eks sumber.
Berlawanan dengan kesepadanan formal, kesepadanan dinamis berorientasi pada prinsip kesepadanan efek yang diperoleh melalui pemusatan perhatian dalam penerjemahan lebih utama ke arah tanggapan penerima mencapai tingkat kealamian pesan bahasa sumber. Padanan alami ini mengandung pengertian sesuai dengan (1) bahasa dan budaya target, (2) konteks pesan tertentu, dan (3) khalayak pembaca bahasa target.
Berbeda dengan Nida dan Taber, pendekatan Catford terhadap kesepadanan dalam penerjemahan lebih bersifat linguistik. Catford membedakan tiga jenis terjemahan dalam tiga kriteria yang berbeda, yakni (1) berdasarkan jangkauan penerjemahan (terjemahan penuh (full translation) vs terjemahan tidak penuh (partial translation), (2) berdasarkan rank gramatikal pada tataran mana kesepadanan penerjemahan dibangun (rank-bound translation vs unbounded translation), dan (3) berdasarkan tingkatan bahasa yang dicakup dalam penerjemahan (total translation vs restricted translation).
Dalam kaitannya dengan perpadanan, Catford mengidentifikasi dua jenis kesepadanan, yaitu (1) kesepadanan formal (formal equivalence) yang selanjutnya dirubah ke dalam istilah korespondensi formal (formal correspondence) dan (2) kesepadanan tekstual (textual equivalence) yang terjadi bila suatu teks atau sebagian dari teks bahasa target dalam siatuasi tertentu sepadan dengan teks atau sebagian teks bahasa sumber. Sebagaimana yang dikutip oleh Lionardi, konsep kesepadanan House berorientasi pada fungsi.
House membedakan kesepadanan dalam kesepadanan semantik dan pragmatik dan berargumentasi bahwa dari segi fungsi kedua teks sumber dan teks target haruslah sebanding (match). Konsep kesepadanan yang lebih rinci dikemukakan oleh Baker. Dia melihat pengertian kesepadanan dalam berbagai tataran dalam hubungannya dengan proses penerjemahan termasuk berbagai aspek penerjemahan yang mengintegrasikan pendekatan linguistik dan komunikatif. Dengan mengutip Culler, Baker dalam bukunya In Other Words: A Course Book on Translation (1992: 10) mengungkapkan bahwa bahasa tidaklah nomenclature dengan pengertian bahwa suatu konsep dari suatu bahasa bisa jadi berbeda sama sekali dengan bahasa lainnya karena setiap bahasa mengartikulasikan dunia secara berbeda.
Selanjutnya Baker juga menjelaskan dengan berbagai ilustrasi bahwa masalah kesepadanan bisa muncul dalam berbagai tingkatan. Menurutnya kesepadanan bisa terjadi pada tingkat (1) kata dan di atas kata seperti kolokasi, idiom dan ungkapan, (2) gramatikal, (3) tekstual, dan (4) pragmatik. Penerjemahan itu sendiri menyangkut pemilihan padanan yang paling mendekati untuk unit bahasa sumber dalam bahasa target. Berdasarkan pada tingkat unit bahasa yang akan diterjemahkan Riazi mengelompokkan pendekatan terhadap penerjemahan menjadi (1) penerjemahan pada tataran kata (word for word translation), (2) penerjemahan pada tataran kalimat, dan (3) penerjemahan konsepsual (unit terjemahan bukan pada tingkatan kata atau kalimat) 10 Secara garis besar terdapat beberapa kemungkinan kesepadanan dalam penerjemahan, yakni (1) sepadan sekaligus berkorespondensi, (2) sepadan tapi bentuk tidak berkorespondensi, dan (3) sepadan dan makna tidak berkorespondensi karena beda cakupan makna.

d. Strategi Penerjemahan
Strategi penerjemahan berkaitan dengan tataran lebih kecil dari suatu teks yaitu kalimat, klausa, frase, dan kata; sedangkan metode penerjemahan berkenaan dengan keseluruhan teks sebagai wacana yang utuh. Berbeda dengan metode, strategi penerjemahan atau teknik penerjemahan lebih bermain pada tataran teks pada bahasa sasaran. Ada beberapa kalangan juga menyebut strategi penerjemahan sebagai prosedur penerjemahan.
Jean-Paul Vinay dan Jean Darbelnet (1958/1995) menyatakan ada beberapa prosedur penerjemahan atau sering disebut dengan pergeseran penerjemahan. Prosedur itu adalah sebagai berikut: (1) Peminjaman merupakan metode penerjemahan yang paling sederhana, (2) Calque merupakan bentuk khusus dari peminjaman di mana bahasa meminjam bentuk ekspresi dari bahasa lainnya, tetapi kemudian menerjemahkan literal masing-masing elemen tersebut, (3) Penerjemahan literal yakni penerjemahan langsung dari teks bahasa sumber ke teks bahasa target dengan penyesuaian gramatikal dan idiomatik, (4) Transposisi melibatkan pergantian satu kelas kata dengan lainnya tanpa mengubah makna pesan, (5) Modulasi adalah variasi bentuk pesan yang didapatkan dengan mengubah cara pandang. Lebih mudahnya, modulasi adalah pergeseran penerjemahan dalam bentuk sudut pandang atau pespektif, (6) Ekuivalen adalah penggantian sebagian bahasa sumber dengan padanan fungsionalnya dalam bahasa target, (7) Adaptasi adalah pengupayaan padanan kultural antara dua situasi tertentu.
Kemudian, Newmark menawarkan kurang lebih enam belas alternatif prosedur atau strategi yang dapat diterapkan dalam mencari padanan (1988: 68 – 93). Namun Machali hanya melihat lima prosedur yang menonjol, antara lain pergeseran bentuk atau transposisi, pergeseran makna atau modulasi, pemadanan berkonteks, adaptasi, dan pemadanan bercatatan (2009: 91-103). Dari keenam belas alternatif yang diberikan Newmark, khusus untuk kata bermuatan kata budaya, hanya dua belas yang ia gunakan (1988: 103). Kedua belas prosedur itu adalah:
1. Transferensi
Istilah transferensi ini juga disebut pakar penerjemahan lain dengan istilah berbeda. Baker (1992: 34) menggunakan istilah penerjemahan dengan menggunakan kata pinjaman (translation using a loan word), sedangkan Vinay dan Darbelnet (Munday, 2001: 56) menggunakan istilah pungutan (borrowing). Beberapa pakar penerjemahan menganggap bahwa transferensi bukanlah prosedur penerjemahan. Namun, Newmark (1988: 81) berpendapat bahwa penerjemah dapat menggunakan prosedur ini ketika ia berada dalam kondisi yang mengharuskannya mentransfer kata budaya dalam BSu yang tidak familier dan memiliki referensi khusus di dalam budaya BSu ke dalam BSa, maka ia biasanya akan melengkapinya dengan prosedur lain. Penggunaan dua prosedur dalam mengatasi satu masalah penerjemahan disebutnya sebagai couplet (1988: 91).
2. Pemadanan Budaya
Penerjemahan dengan pemadanan budaya (cultural equivalent) ini dikenal juga sebagai penerjemahan dengan penyulihan budaya (translation by cultural substitution) yang diperkenalkan oleh Baker (1992: 31). Menurut Newmark (1988: 82), prosedur ini merupakan penerjemahan yang dilakukan ketika kata budaya dalam BSu diterjemahkan ke dalam kata budaya BSa.
3. Penerjemahan Deskriptif
Penerjemahan deskriptif adalah pemberian uraian yang berisi makna kata yang bersangkutan yang tidak ada padanannya dalam BSa. Prosedur ini tidak mempertahankan bentuk dalam BSu, tetapi mengalihkan makna.
4. Penerjemahan Harfiah
Penerjemahan harfiah adalah penerjemahan yang dilakukan dengan menerjemahkan kata atau ungkapan yang mirip dengan BSu, namun strukturnya sudah disesuaikan dengan struktur BSa.
5. Penerjemahan dengan Label
Prosedur penerjemahan ini biasanya diterapkan pada istilah institusional yang baru dan belum dikenal luas. Bentuk penerjemahannya dapat dilakukan secara harfiah dan diletakkan dalam tanda petik tunggal.
6. Naturalisasi
Naturalisasi adalah penerjemahan yang mengadaptasikan bentuk fonologis dan morfologis BSu menjadi bentuk fonologis dan morfologis BSa (Newmark: 1988: 82). Naturalisasi biasanya dilakukan pada kata yang sudah akrab dalam BSa sehingga menimbulkan leksem baru yang disebut neologisme.
7. Analisis Komponen
Analisis komponen adalah prosedur penerjemahan yang menganalisis komponen makna BSu dan BSa. Menurut Newmark (1988:119), analisis komponen dapat dilakukan dalam menerjemahkan kata bermuatan budaya. Analisis komponen ini dapat dilakukan bersamaan dengan prosedur penerjemahan yang lain seperti penerjemahan baku, transferensi, padanan fungsional dan prosedur lain bergantung pada kekhususan tipe teks, pembaca sasaran atau klien, dan pentingnya penggunaan kata budaya itu di dalam teks.
8. Penghapusan
Prosedur ini dikemukakan oleh dua pakar, yaitu Newmark (1988: 103) dan Baker (1992: 40). Newmark menyebut prosedur ini sebagai penghapusan (omission) sedangkan Baker menyebutnya sebagai penerjemahan dengan penghapusan (translation by omission). Walaupun prosedur ini nampak sebagai prosedur penerjemahan yang drastis, Baker menyatakan bahwa prosedur ini dapat dilakukan asalkan kata atau ungkapan yang dihapus tidak memiliki pengaruh besar terhadap makna keseluruhan teks.
9. Couplet
Seperti yang telah dijelaskan pada prosedur transferensi, prosedur couplet ini dilakukan dengan menggunakan beberapa prosedur untuk memecahkan satu masalah dalam penerjemahan.

10. Penerjemahan baku
Menurut Newmark (1988: 103), prosedur penerjemahan baku (accepted standard translation) juga dikenal sebagai prosedur penerjemahan resmi (recognized translation) (1988: 89). Prosedur ini dilakukan agar terjemahan sesuai dengan makna yang sudah ada dalam masyarakat BSa. Oleh karena itu, penerjemah harus benar-benar memerhatikan budaya BSa karena jika ia menerjemahkan suatu kata dalam BSu yang sudah ada padanan bakunya dalam BSa dengan kata baru, maka dikhawatirkan kata yang baru itu akan mengacaukan terjemahan yang sudah berlaku dalam BSa.
11. Parafrasa
Prosedur penerjemahan ini dikemukakan oleh dua pakar. Newmark (1988: 90) menyebutnya sebagai parafrasa (paraphrase), sedangkan Baker (1992, 38-39) menyebutnya penerjemahan dengan parafrasa (translation by paraphrase).
12. Penerjemahan dengan kata yang lebih umum (classifier)
Classifier adalah prosedur penerjemahan yang dilakukan dengan cara memberikan ungkapan yang lebih umum dalam BSa ntuk menjelaskan ungkapan yang khusus dalam BSu. Baker (1992, 26 – 27) menyebutkan prosedur ini sebagai penerjemahan dengan kata yang lebih umum (translation by a more general word). Menurutnya, prosedur ini merupakan strategi yang paling lazim dipakai.
Kemudian, Lucia Molina dan Amparo Hurtado Albir memaparkan mengenai teknik atau strategi penerjemahan adalah cara yang dilakukan oleh penerjemah dalam mengatasi masalah penerjemahan yang dilihat teks penerjemahan. Teknik penerjemahan berorientasi pada hasil, dan berlangsung pada tataran mikro teks. Mereka merekomendasikan beberapa teknik penerjemahan tambahan seperti:
1. Amplifikasi: Menyertakan detail yang tidak tercantum dalam bahasa sumber, dalam bentuk informasi dan paraphrase eksplisit.
2. Calque: Teknik ini merupakan bentuk penerjemahan Literal sebuah kata atau frasa asing. Calque dapat bersifat leksikal maupun struktural.
3. Kompensasi: Konsep ini hampir sama dengan konsep amplifikasi, yaitu menambahkan unsure informasi ke dalam teks BSa karena unsur tersebut hilang dalam BSa yang disebabkan oleh perbedaan struktur sintaksis maupun budaya kedua bahasa.
4. Kreasi Diskursif: Membuat padanan sementara yang sangat tidak sesuai dengan konteks.
5. Generalisasi: Menggunakan istilah yang lebih netral dan umum.
6. Amplifikasi Linguistik: Menambahkan unsur-unsur linguistik. Teknik ini sering dipakai dalam penerjemahan lisan konsekutif dan sulih suara (dubbing).
7. Kompresi Linguistik: Teknik ini berkebalikan dengan teknik amplifikasi linguistik. Teknik ini memadatkan elemen-elemen linguistic, dan diterapkan dalam penerjemahan lisan simultan dan penerjemahan film.
8. Penerjemahan Literal: Konsep ini sama dengan penerjemahan kata demi kata. Teknik ini sejalan dengan konsep kesepadanan formal Nida.
9. Partikularisasi: Menggunakan istilah yang lebih khusus dan konkret.
10. Reduksi: Teknik ini mengurangi informasi teks bahasa sumber di dalam bahasa sasaran. Teknik ini sejalan dengan teknik implisistasi dan teknik penghilangan. Teknik ini adalah kebalikan dari teknik amplifikasi.
11. Substitusi: Dalam teknik ini, unsur linguistic diubah menjadi unsur paralinguistic (intonasi, gerak tubuh./gesture), atau sebaliknya.
12. Variasi: Teknik ini mengubah unsur linguistic ataupun paralinguistic (intonasi, gesture) yang berpengaruh terhadap aspek variasi linguistik yaitu perubahan ciri tekstual, gaya, dialek sosial, dialek geografis, dan sebagainya, seperti mengubah ciri dialek tokoh dalam drama, atau mengubah warna suatu novel ketika diadaptasi untuk anak-anak.
e. Pergeseran Penerjemahan
Merujuk penjelasan yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa setiap bahasa mempunyai aturan tersendiri, oleh karena itu untuk mengalihkan suatu pesan atau amanat dari bahasa sumber (BSu) ke dalam bahasa sasaran (BSa), seorang penerjemah harus melakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap aturan-aturan tersebut, seperti penyesuain struktur dan penyesuaian semantis sehingga amanat atau pesan yang ada dalam bahasa sumber dapat diterima.
Penyesuaian-penyesuaian atau prosedur yang dilakukan dalam proses penerjemahan tersebut mengakibatkan terjadinya pergeseran struktur dan pergeseran semantis. Pergeseran penerjemahan adalah serangkaian perubahan yang teratur yang dilakukan penerjemah untuk menyesuaikan system dan aturan yang ada dalam bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran untuk menemukan padanan yang tepat. Dalam konteks penerjemahan, Catford menggunakan istilah (shift) yang ditulis dalam bukunya A linguistic Theory of Translation. Dalam melakukan analisis pergeseran-pergeseran Catford berbendapat bahasa sebagai alat komunikasi atau bahasa yang beroperasi secara fungsional dalam konteks. Catford menemukan perbedaan antara korespondensi formal dan kesepadanan teks. Korespondensi formal berhubungan dengan kesamaan dan perbedaan sistem kebahasaan antara bahasa sumber dan bahasa sasaran. Sementara kesepadanan teks adalah situasi dimana sebuah terjemahan dianggap sepadanan dengan teks sumbernya. Dengan klasifikasi ini ketika terjadi perselisihan antara korespondensi formal dan kesepadanan teks berarti dapat disimpulkan bahwa ada pergeseran yang terjadi, pergeseran ini berupa pergeseran livel dan category. Seperti yang diungkapkan oleh Catford. Translation shifts are thus departure from formal correspondence in the process of going from SL to the TL.
Selain pergeseran formal yang dikemukakan Catford di atas. Pergeseran lain yang juga sering terjadi dalam suatu penerjemahan yaitu pergeseran makna dan semantis. Pergeseran semantis ini merupakan prosedur penerjemahan yang berhubungan dengan perubahan sudut pandang dalam mengekspresikan fenomena melalui cara yang berbeda. Hal ini biasanya disertai dengan perubahan leksikal dalam bahasa sasaran. Makna dalam suatu penerjemahan adalah unsur yang harus dipertahankan tetapi karena masing-masing bahasa mempunyai aturan-aturannya sendiri maka sering dirasa sulit untuk mendapatkan padanan yang identik, baik dalam bentuk maupun dalam makna.
Jadi, walaupun makna harus dipertahankan, pergeseran makna juga tidak dapat dihindarkan. Hal ini timbul karena adanya pengubahan sudut pandang dan bentuk leksikal. Perubahan sudut pandang ini bisa terjadi dari perubahan pola subjek menjadi objek, makna denotative ke konotatif, kata konkrit ke abstrak, sebab ke akibat, ruang ke waktu, aktif ke pasif dan sebaliknya. Untuk menyampaikan amanat atau pesan teks bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran, seorang penerjemah seyogyanya menghindari bentuk yang sama antara bahasa sumber dengan bahasa sasaran, hal ini sering menimbulkan apa yang disebut dengan pergeseran struktur atau bentuk.
Pergeseran merupakan hasil penyimpangan dari korespondensi formal di dalam proses pengalihan dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Hatim dan Munday mengemukakan bahwa sebuah pergeseran muncul apabila sebuah teks bahasa sumber diterjemahkan ke dalam teks bahasa sasaran dengan kesepadanan gramatikal yang berbeda.
Pergeseran formal atau juga disebut dengan pergeseran struktur merupakan adalah salah satu prosedur dalam kegiatan penerjemahan yang mengacu kepada suatu hubungan formal atau formal correspondence yang terjadi dalam proses penerjemahan dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Hal yang sama juga disampaikan oleh Machali, bahwa pergeseran formal seperti disebabkan adanya perubahan gramatikal dan leksikal dalam proses penerjemahan dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran.
Pergeseran formal terdiri atas pergeseran level dan kategori. Pada pergeseran level ini berhubungan dengan upaya melakukan padanan makna dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran pada level bahasa yang berbeda. Pergeseran ini berhubungan dengan penerjemahan subuah level linguistik dalam bahasa sumber yang memiliki kesepadanan penerjemahan pada level yang berbeda dalam bahasa sasaran.
Teori pembagian jenis terjemahan berdasarkan Larson memiliki persamaan dengan teori pergeseran-pergeseran (shifts) Catford yang mengembangkan Form based translation menjadi pergeseran-pergeseran berdasarkan kategori (category shifts) dalam empat jenis pergeseran, yakni (1) pergeseran struktural (Structural Shifts), (2) pergeseran kelas (Class Shifts), (3) pergeseran unit (Unit Shifts), serta (4) pergeseran intra-sistem (Intra-system Shifts).
f. Penyimpangan Penerjemahan
Sebagai produk manusia, maka karya terjemahan tidak luput dari penyimpangan. Namun, penyimpangannya itu dapat diminimalkan dengan ketekunan dan ketelitian. Ada dua jenis kesalahan mutlak yang dikemukakan Newmark, yaitu kesalahan referensial dan kesalahan bahasa. Kesalahan referensial adalah kesalahan pemberian makna acuan untuk TSu yang mengacu kepada fakta (nama tempat, nama benda, peristiwa sejarah) dan isi proposisi (pernyataan yang kebenarannya secara logika sebenarnya dapat dinilai secara langsung. Kesalah referensial juga mencakup ketidaktahuan penerjemah akan bidang-bidang tertentu didalam teks terjemahan. Kesalah mutlak jenis kedua yakni kesalahan bahasa, meliputi kesalahan mengartikan kata, frasa, atau klausa, kesalahan mengalihkan bentuk-bentuk idiom dan kolokasi, serta kesalahan mengalihkan pronominal.
Kesalahan mutlak kedua melihat TSa sebagai kata, frasa, atau kalimat yang harus benar secara gramatikal atau referensial dan kesalahan di dalam ranah ini menjadikan TSa dikategorikan “salah” (kegagalan pragmalinguistik mengakibatkan ada bagian pesan TSa yang bisa dikategorikan “meleset” (misfire) ketika dialihkan ke TSa. Kesalahan pada idiom disebabkan karena idiom yang diterjemahkan secara harfiah atau tidak secara harfiah di dalam TSa sering kali tidak dapat mengungkapkan pesan yang sepadan dengan idiom TSu.
Penyimpangan yang disebutkan Newmark itu yang paling lazim adalah kesalahan kesepadanan gramatikal dan leksikal karena kurangnya pemahaman dengan struktur dalam bahasa sumber dan bahasa sasaran. Kadang, penerjemah juga ingin menggunakan pemahamannya sendiri tanpa mengecek secara langsung ke kamus, sehingga akibatnya pun sangat fatal.
Newmark menyebut penyimpangan dalam penerjemahan sebagai translationese. Newmark menyebutkan beberapa jenis penyimpangan di dalam penerjemahan. Pertama, pergeseran kalimat dalam penerjemahan kerap menimbulkan keganjilan semantik karena adanya penerjemahan leksikal karena adanya perubahan susunan kata. Kedua, umumnya ada kata-kata atau frase atau kalimat yang tidak diterjemahkan. Padahal dalam penerjemahan teks non-sastra, penerjemah seyogyanya menyampaikan semua fakta. Ketiga, hal berbahaya bagi penerjemah adalah ketika menggunakan bahasa individu dibandingkan bahasa sosial yang lazim digunakan didalam masyarakat. Keempat, adanya perubahan sudut pandang yang berbeda dengan bahasa sumber. Kelima, banyaknya kesalahan kesepadanan gramatikal dan leksikal.
Penerjemahan bukanlah suatu hal yang sederhana, melainkan sesuatu yang dapat dikategorikan sebagai sesuatu yang kompleks. Disebut kompleks karena penerjemahan tidak terlepas dari berbagai faktor lain yang terkait dengan linguistik, seperti faktor budaya misalnya. Kompleksitas penerjemahan yang telah disinggung pada bahagian latar belakang sebelumnya ditegaskan oleh Hatim, bahwa dalam proses penerjemahan tidak hanya menyangkut kosa kata dan tata bahasa semata, melainkan juga menyangkut perihal budaya. (A translation work is a multi-faceted activity; it is not a simple matter of vocabulary and grammar only but that it can never be separated from the culture (Hatim, 2001: 10). Di samping keharusan akan kemahiran dalam bahasa sumber dan bahasa sasaran, penerjemahan sebagai proses juga mensyaratkan keterampilan lain; keluwesan, dan kepemilikan wawasan mengenai berbagai disiplin ilmu, tergantung jenis teks yang sedang diterjemahkan. Pada poin ini, Hatim yang dikutip oleh Richards menjelaskan: .Translation as very probably the most complex type of event yet produced in the evolution of the cosmos. (Hatim, 2001: 11).
Kompleksnya masalah yang dihadapi oleh seorang penerjemah seperti diuraikan di atas, menuntut keterampilan lebih untuk menerapkan penggunaan dua pilar utama sebagai penyangga penerjemahan, yakni yang pertama penerapan teknik-teknik penerjemahan dan penerapan penggeseran-pergeseran pada teks yang diterjemahkan. Oleh karena kompleksitas proses penerjemahan, maka profesionalisme adalah sesuatu yang mutlak. Profesionalisme dalam hal ini ditandai dengan beberapa kompetensi, yakni: 1) Kompetensi dalam dua bahasa (ideal bilingual competence), 2) Memiliki keahlian (expertise) dalam pengetahuan dasar genre teks serta terampil menyimpulkan (inference), dan3) Kompetensi dalam komunikasi (Bell, 1991: 38-41). Kepemilikan keahlian serta kompetensi tersebut di atas merupakan penanda seorang penerjemah ideal, yang seterusnya akan dapat dengan piawai menerapkan teknik-teknik penerjemahan dalam pekerjaannya. Dalam melaksanakan kegiatan penerjemahan, penerjemah tidak terlepas dari permasalahan teknis. Berbagai jenis teknik penerjemahan tersebut di atas adalah suatu keniscayaan yang harus dimiliki. Untuk memecahkan permasalahan kompleksitas penerjemahan sebagaimana dipaparkan pada bahagian terdahulu, maka seorang penerjemah sangat membutuhkan penerapan berbagai teknik penerjemahan seperti yang telah disebut di atas, yang pada praktiknya diterapkan secara tentatif. Di samping penerapan berbagai teknik penerjemahan, hal kedua, yang lazim diterapkan adalah pergeseran-pergeseran(shifts) dalam proses penerjemahan.
2. Hakikat Penerjemah
Larson mengemukakan bahwa untuk memperoleh terjemahan yang baik, terjemahan haruslah (a) memakai bentuk-bentuk bahasa sasaran yang wajar, (b) mengkomunikasikan sebanyak mungkin makna bahasa sumber, sebagaimana dimaksudkan oleh penutur bahasa sumber tersebut kepada penutur bahasa sasaran, (c) mempertahankan dinamika teks bahasa sumber. Kemudian menurut Larson seorang penerjemah bagaimana pun baiknya selalu menyadari betapa sulitnya untuk memenuhi semua persyaratan yang dipaparkan diatas.
Sementara itu menurut Nida berpendapat bahwa seorang penerjemah itu haruslah berkemampuan sebagai berikut:
a. Penerjemah harus mempunyai pengetahuan bahasa sumber yang memadai, tidak cukup kalau mengandalkan kamus saja. Ini adalah persyaratan seorang penerjemah yang utama.
b. Penerjemah juga harus berkemampuan memahami isi pesan yang disampaikan penulis Bahasa Sumber (BSu).
c. Penerjemah juga harus pula memperhatikan kehalusan makna dan nilai emotif tertentu dari kosakata bahasa sumber serta gaya bahasa yang akan dapat menentukan cita rasa (flavour and feel) pesan yang disampaikan.
Selain itu, penerjemah juga harus memiliki kahlian spesifik, seperti:
a. Memiliki pengetahuan linguistik yang memahami baik BSu maupun BSa agar mampu menganalisa setiap makna yang diperlihatkan oleh bentuk gramatikal bahasa sumber dan bahasa sasaran.
b. Mengetahui aspek kebudayaan dari kedua bahasa, karena setiap bahasa mempunyai kebudayaan yang berbeda dengan yang lainnya.
c. Mempunyai pengetahuan yang cukup atau mengenal bidang atau masalah bidang (subject matter) pengetahuan yang diterjemahkannya, karena setiap bidang (field) pengetahuan yang mempunyai kendala linguistik dalam sebuah penerjemahan.
Kapabilitas penerjemah juga dituntut untuk selalu berkembang dan memiliki klasifikasi sebagai berikut:
a. Menguasai bahasa sumber (BSu), baik lisan maupun tulisan dengan kemampuan 95% pada tingkat reseptif, dan 85%-90% pada tingkat produktif.
b. Menguasai bahasa sasaran (BSa) sepenuhnya, baik lisan maupun tulisan pada kemampuan reseptif maupun produktif.
c. Menguasai bidang ilmu, pengetahuan, ataupun kiat yang akan diterjemahkan, setidaknya konsep-konsep dasarnya.
d. Mengetahui latar belakang sosial budaya Bahasa Sumber (BSu) yang akan diterjemahkan.
e. Memiliki keluwesan kebahasaan sehingga ia mudah beradaptasi ke dalam kondisi Bahasa Sumber (BSu) dan Bahasa Sasaran (BSa), tanpa dilandasi prasangka baik atau buruk.
Kemudian menurut Susan Bassnett mengemukakan syarat-syarat sebagai berikut:
a. Mampu memahami frasa yang tidak dapat diterjemahkan dalam bahasa sumber ke bahasa target pada tataran linguistic.
b. Mengerti kekurangan konvesi budaya pada bahasa target.
c. Memperhatikan frasa pada bahasa target berkaitan dengan kelas, status, usia, jenis kelamin, hubungannya dengan penerjemahan, serta konteks.
d. Memperhatikan pentingnya frasa tersebut dalam konteks tertentu, misalnya peristiwa ketegangan dalam teks yang dramatik dan.
e. Mampu menggantikan frasa utama bahasa target dalam dua system referensi (system khusus teks dan system budaya dimana teks tersebut dibuat).

3. Hakikat Kesulitan dalam Penerjemahan
Penerjemahan bukanlah suatu hal yang sederhana, melainkan sesuatu yang dapat dikategorikan sebagai sesuatu yang kompleks. Disebut kompleks karena penerjemahan tidak terlepas dari berbagai faktor lain yang terkait dengan linguistik, seperti faktor budaya misalnya. Kompleksitas penerjemahan yang telah disinggung pada bahagian latar belakang sebelumnya ditegaskan oleh Hatim, bahwa dalam proses penerjemahan tidak hanya menyangkut kosa kata dan tata bahasa semata, melainkan juga menyangkut perihal budaya. (A translation work is a multi-faceted activity; it is not a simple matter of vocabulary and grammar only but that it can never be separated from the culture (Hatim, 2001: 10).
Di samping keharusan akan kemahiran dalam bahasa sumber dan bahasa sasaran, penerjemahan sebagai proses juga mensyaratkan keterampilan lain; keluwesan, dan kepemilikan wawasan mengenai berbagai disiplin ilmu, tergantung jenis teks yang sedang diterjemahkan. Pada poin ini, Hatim yang dikutip oleh Richards menjelaskan: .Translation as very probably the most complex type of event yet produced in the evolution of the cosmos. (Hatim, 2001: 11). Kompleksnya masalah yang dihadapi oleh seorang penerjemah seperti diuraikan di atas, menuntut keterampilan lebih untuk menerapkan penggunaan dua pilar utama sebagai penyangga penerjemahan, yakni yang pertama penerapan teknik-teknik penerjemahan dan penerapan penggeseran-pergeseran pada teks yang diterjemahkan.
Oleh karena kompleksitas proses penerjemahan, maka profesionalisme adalah sesuatu yang mutlak. Profesionalisme dalam hal ini ditandai dengan beberapa kompetensi, yakni: 1) Kompetensi dalam dua bahasa (ideal bilingual competence), 2) Memiliki keahlian (expertise) dalam pengetahuan dasar genre teks serta terampil menyimpulkan (inference), dan 3) Kompetensi dalam komunikasi (Bell, 1991: 38 – 41). Kepemilikan keahlian serta kompetensi tersebut di atas merupakan penanda seorang penerjemah ideal, yang seterusnya akan dapat dengan piawai menerapkan teknik-teknik penerjemahan dalam pekerjaannya. Dalam melaksanakan kegiatan penerjemahan, penerjemah tidak terlepas dari permasalahan teknis. Berbagai jenis teknik penerjemahan tersebut di atas adalah suatu keniscayaan yang harus dimiliki.
Untuk memecahkan permasalahan kompleksitas penerjemahan sebagaimana dipaparkan pada bahagian terdahulu, maka seorang penerjemah sangat membutuhkan penerapan berbagai teknik penerjemahan seperti yang telah disebut di atas, yang pada praktiknya diterapkan secara tentatif. Di samping penerapan berbagai teknik penerjemahan, hal kedua, yang lazim diterapkan adalah pergeseran-pergeseran (shifts) dalam proses penerjemahan.
Para pakar bahasa dan mereka yang menaruh minat pada bidang kebahasaan sudah akrab dengan pernyataan bahwa setiap bahasa mempunyai sistem sendiri. Sistem dalam setiap bahasa adalah polisistemik karena setiap bahasa mempunyai struktur sintaksis, sintagmatik, leksikal, dan morfem yang berbeda dari sistem bahasa lainnya. Perbedaan dalam hal sistem itu tidak hanya terdapat pada bahasa-bahasa yang tidak serumpun, melainkan juga terjadi pada bahasa-bahasa yang serumpun.
Perbedaan-perbedaan dalam hal sistem bahasa itulah yang menyebabkan timbulnya kesulitan-kesulitan dalam pengajaran bahasa, terutama bahasa asing, dan dalam penerjemahan. Jika seandainya semua bahasa di dunia mempunyai sistem yang sama, menerjemahkan bukan lagi menjadi tugas yang sulit untuk dilakukan. Jika seandainya bahasa sumber dan bahasa sasaran mempunyai kata sama yang mengacu pada objek atau referen yang sama pula, maka konsep padanan akan menjadi persoalan yang sepele.
Bahkan pembahasan tentang padanan pada tataran kata, padanan diatas tataran kata, padanan gramatikal, padanan tekstual dan padanan pragmatik tidak diperlukan lagi. Akan tetapi, adalah kenyataan bahwa tidak ada satupun bahasa yang mempunyai sistem yang sama, baik ditinjau dari sudut struktur sintaksis, leksikal, dan morfem. Perbedaan antara sistem bahasa sumber dan sistem bahasa sasaran juga ditunjukkan oleh perbedaan struktur baik pada tataran kata, frasa, klausa, dan kalimat. Dalam bahasa inggris, inconceivable, ditulis sebagai satu kata tetapi terdiri atas tiga morfem: in, conceive, dan able. Jika kata itu alihkan kedalam bahasa Indonesia, terjemahannya akan berbunyi: tidak dapat dipikirkan atau tidak dapat dibayangkan.
Bidang semantik merupakan bidang yang paling rumit. Sering orang enggan berdebat tentang bidang ini. Hal itu dapat dimengerti mengingat masalah makna sangat luas cakupannya dan cenderung bersifat subjektif. Tingginya subjektivitas pada bidang makna itu tak lepas dari begitu eratnya hubungan makna suatu kata dengan sosio-budaya pemakai bahasa itu. Setiap suku bangsa di dunia ini memiliki budaya sebagai hasil dari perkembangan pikiran dan interaksi mereka terahadap alam sekitarnya. Berbedanya sosio-bdaya suatu suku bangsa dengan sosio-budaya suku bangsa lainnya menimbulkan terjadinya cara yang berbeda dalam mengungkapkan hakekat budaya.
Bahasa sebagai alat ungkap kebudayaan secara otomatis akan berbeda pula. Perbedaan bahasa dan budaya pada hakekatnya bahasa adalah juga budaya ini akan menimbulkan permasalahan yang sangat rumit bagi seorang penerjemah terutama jika dia tidak akrab dengan budaya bahasa sumber dan bahasa sasaran. Kompleksitas stilistik juga merupakan salah satu faktor penyebab sulitnya penerjemahan itu dilakukan. Teks sastra, seperti puisi, prosa, dan drama diungkapkan dengan gaya yang berbeda dari gaya teks ilmiah seperti makalah atau laporan penelitian. Karena budaya bahasa sumber dan budaya bahasa sasaran berbeda satu sama lain, gaya bahasa yang digunakan oleh kedua bahasa itu tentu saja berbeda.
Jika masalah tingkat kesukaran suatu teks kita kaitkan dengan tingkat kemampuan penerjemah, timbul dua hal yang saling berhubungan. Teksnya dianggap mudah karena tingkat kemampuan penerjemahnya sudah baik sekali, atau teksnya dianggap sukar karena tingkat kemampuan si penerjemah masih sangat rendah. Akan tetapi, karena sipenerjemah adalah pelaku utama dalam proses penerjemahan tingkat kemampuannya menjadi faktor penentu berhasil tidaknya penerjemahan itu dilakukan.
Pesan yang terkandung dalam bahasa sumber akan sulit ditangkap atau dipahami apabila kualitas teks tersebut tidak baik, seperti grammatikalnya tidak benar, kalimatnya taksa, pengungkapan idenya tidak runtut, banyak kesalah ejaan dan fungtuasi, dan lain sebagainya. Masalah kualitas teks dalam konteks penerjemahan juga di bahas dalam sub-bab tentang keterbacaan teks.
4. Hakikat Frasa Verbal dalam Bahasa Inggris
Secara sintaksis setiap kalimat bahasa Inggris paling sedikit terdiri dari dua unsur pokok, subject dan predicate (Kreidler, 1998:65). Subjek dapat berupa nomina atau frasa nomina, sedangkan predicate berupa verba utama atau frasa verba. Frasa nomina dan frasa verba dalam bahasa Inggris merupakan jenis frasa yang paling penting sehingga tidak bisa dihilangkan dalam kalimat (Quirk et. al 2000: 61). Frasa verba bahasa Inggris dapat dibedakan menjadi verba utama dan verba yang diikuti oleh satu atau lebih kata lain yang berfungsi sebagai dependent (Huddleston, 1995: 25) atau modifier (Hurford, 1995:173) dan Roberts (1958:195).
Modifier dalam frasa verba dapat diisi oleh: auxiliary yang terdiri atas modal, be, have, do; infinitival particle to, dan not (Huddleston, 1997:128). Menurut Roberts (1958: 194-197) diisi oleh: auxiliary, adverbia, verba lain, preposisi, kelompok preposisi (preposition groups), dan anak kalimat (subordinated sentences groups). Bagi Quirk et.al (2000: 62) modifier diisi oleh auxiliary verb. Sedang menurut Latief et. al (1994: 285-288) pengisi modifier berupa frasa nomina, frasa adjektiva, frasa preposisi, dan auxiliary. Di sisi lain, frasa verba juga dapat berfungsi sebagai predikat, objek, dan pelengkap.
Perlu pula ditekankan bahwa sebagai elemen verba, salah satu ciri pokok frasa verba adalah menunjukkan kegiatan atau action (House dan Harman, 1950:93), Poutsma (1926: 5), Huddleston (1995: 37), dan Yule (1996: 88) yang dilakukan subjek dalam klausa atau kalimat, sehingga maksud kalimat dapat diketahui. Dengan menghubungkan maksud kalimat dengan kalimat lain dalam satu paragraf, dapat dipahami isi paragraf tersebut. Dengan merangkai isi paragraf itu dengan paragraf-paragraf berikutnya, dapat dipahami maksud sub bab, bab, dan demikian seterusnya sampai kepada maksud teks dan akhirnya isi buku. Dengan kata lain, frasa verba mempunyai peranan penting dalam memahami makna suatu teks.
Selain itu penelitian tentang penerjemahan frasa verba masih terbatas. Oleh karena itu penelitian terhadap masalah ini diharapkan dapat memenuhi dua sasaran. Pertama, dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan kebahasaan, khususnya penerjemahan. Kedua, mendorong mahasiswa atau yang berminat untuk meneliti penerjemahan frasa verba bahasa Inggris lebih lanjut dengan penekanan, cara, pendekatan, dan aspek yang berbeda.

1. Jenis-Jenis Frasa Verbal dalam Bahasa Inggris
Menurut Quirk (1985: 151) frasa verba dapat dibedakan menjadi frasa verba sederhana (simple verb phrase) dan frasa verba kompleks (complex verb phrase).Frasa verba disebut sederhana apabila terdiri dari satu kata kerja pokok (head) saja. Sedang frasa verba disebut kompleks jika terdiri dari satu atau lebih modifier yang mendampingi head. Ditinjau dari susunan modifier dan head terdapat beberapa tipe frasa verba bahasa Inggris sebagai berikut:
a. Tipe frasa verba dengan modifier terletak sebelum head (pre modifier).
Ditinjau dari jenis modifiernya tipe ini dibedakan menjadi dua kelompok. Pertama, modifier berupa auxiliary verb dengan struktur ‘modal, perfect, progressive, passive dan berbagai kombinasinya+head’ (Huddleston, 1997: 128-131) (Quirk, 2000: 151). Kedua, modifier berupa verba lain yang dalam hal ini verba utama (head) dapat berbentuk verb –ing atau didahului to dengan struktur ‘verba lain+head-ing’ atau ‘verba lain+to head’ (Roberts, 1958: 195).
b. Tipe frasa verba dengan modifier terletak sesudah head (post modifier).
Menurut Roberts (1958: 197-198) pengisi modifier yang terletak sesudah head dalam frasa verba adalah: frasa nomina, frasa preposisi, dan anak kalimat (subordinated sentences). Sedang Latief (1994: 286) mengemukakan bahwa modifier sesudah head dalam frasa verba dapat diisi oleh frasa nomina, frasa preposisi, dan frasa adjektiva. Apabila kedua pendapat di atas digabungkan maka terdapat lima kelompok modifier yang terletak sesudah head dalam frasa verba, dengan struktur ‘head+frasa nomina, frasa preposisi, frasa adjektiva, dan anak kalimat (subordinated sentences)’. Selain itu gabungan antara frasa preposisi dengan anak kalimat dapat pula menjadi modifier sesudah head dengan catatan frasa preposisi terletak sebelum anak kalimat. Demikian pula dapat terjadi penggabungan antara dua frasa preposisi, dan antara beberapa adverbia.
c. Tipe frasa verba dengan premodifier dan postmodifier
Premodifier diisi oleh auxiliary dan adverbia, sedang postmodifier diisi oleh preposisi, adverbia, frasa preposisi, dan anak kalimat. Berdasarkan jenis premodifier dan post modifier nya, tipe ini dapat dibedakan menjadi dua jenis. Pertama, adverbia sebagai premodifier; preposisi dan adverbia sebagai postmodifier, dengan struktur adverbia + head + preposisi atau adverbia + head + preposisi + adverbia. Kedua, auxiliary dan adverbia sebelum head; preposisi, frasa preposisi, dan anak kalimat terletak sesudah head, dengan struktur auxiliary + adverbia + head + preposisi + frasa preposisi + anak kalimat (Roberts, 1958:198).
Dari berbagai tipe di atas tipe frasa verba yang dipilih sebagai objek dalam penelitian ini adalah tipe frasa verba yang menggunakan auxiliary sebagai modifier karena tipe ini menjadi perhatian utama para ahli kebahasaan seperti Huddleston (1984,1997: 128), Quirk (1985:151), dan Roberts (1958:195).
5. Hakikat Frasa Verbal dalam Bahasa Indonesia
Verba dapat diperluas dengan menambahkan unsur-unsur tertentu, tetapi hasil perluasan ini tetap ada tataran sintaksis yang sama. Verba datang, misalnya, dapat diperluas menjadi sudah datang atau tidak datang dan kedua bentuk perluasan ini masih tetap berada pada tataran yang sama, yakni tataran frasa. Baik verba maupun verba yang telah diperluas, yang dinamakan frasa verbal, dapat menduduki fungsi yang berbeda-beda dalam kalimat. Frasa verbal ialah satuan bahasa yang terbentuk dari dua kata atau lebih dengan verba sebagai intinya tetapi bentuk ini tidak merupakan klausa. Dengan demikian, frasa verbal mempunyai inti dan kata-kata atau kata-kata lain yang mendampinginya.
Pembicaraan mengenai frasa termasuk bidang sintaksis karena menyangkut hubungan antarkata (Verhaar, 1970: 97). Adapun ciri utama kata, yaitu dapat dipisahkan dari bentuk lainnya. Dalam frasa ‘tidak melupakan’, ‘tidak’ dan ‘melupakan’ merupakan dua buah kata karena antara kata ‘tidak’ dan ‘melupakan’ dapat dipisahkan dengan menyisipkan kata lain seperti kata ‘akan’ menjadi ‘tidak akan melupakan’. Bahkan, dalam posisinya sebagai jawaban, kata ‘tidak’ dan ‘melupakan’ dapat berdiri sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa yang disebut kata adalah bentuk bebas yang mengandung arti utuh. Hubungan antarkata dalam frasa, baik dari segi bentuk maupun makna, bersifat longgar, tetapi tidak melampaui batas fungsi yang diduduki. Misal, kalimat di bawah ini.
1. Ani sekarang menulis novel
Dalam kalimat di atas, tidak ada frasa karena hubungan setiap kata telah melampaui batas fungsi, yakni ‘Ani’ sebagai subjek (yang disingkat S), ‘sekarang’ berfungsi sebagai keterangan (yang disingkat KET), ‘menulis’ berfungsi sebagai predikat (yang disingkat P), dan ‘novel’ berfungsi sebagai objek (yang disingkat O). Jadi, masing- masing kata dalam kalimat ini mengisi satu fungsi sehingga hubungan yang ada di sini adalah hubungan antarfungsi.
Berbeda halnya dengan hubungan antarkata ‘akan’ dengan ‘menulis’ dalam kalimat di bawah ini.
1a. Ani akan menulis novel
Pada kalimat di atas ditemukan frasa ‘akan menulis’ yang menduduki satu fungsi. Jadi, dapatlah disimpulkan bahwa frasa adalah hubungan dua kata yang tidak melampaui batas fungsi. Ramlan (1995: 151) mengatakan frasa adalah satuan gramatik yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa. Pendapat Ramlan ini didukung juga oleh pendapat Elson dan Picket mengatakan frasa adalah satuan linguistik yang secara potensial merupakan gabungan dua kata atau lebih yang tidak mempunyai ciri-ciri klausa (Tarigan, 1986: 50).
Perlu dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan unsur klausa dari batasan di atas adalah satuan gramatik yang terdiri dari S dan P baik disertai O, PEL, dan KET maupun tidak. Malahan, sebagai jawaban dari suatu pertanyaan, sebuah klausa dapat saja terdiri atas P tanpa perlu adanya unsur-unsur lain. Apabila satuan bahasa sudah melampaui batas fungsi, maka bukan lagi disebut frasa, melainkan klausa yang tetap berada di dalam konstruksi yang lebih besar, yaitu kalimat.
Ada kalanya frasa terdiri atas dua kata, tiga kata, atau lebih. Apabila frasa terdiri atas dua kata, akan mudah ditentukan bahwa salah satu dari kata itu merupakan unsur intinya. Akan tetapi, apabila frasa itu sudah lebih dari dua kata, penentuan unsurnya haruslah memperhatikan prinsip hierarki dalam tata bahasa yang bersangkutan.
Kridalaksana (1988: 93) mengatakan frasa verba ialah frasa yang terjadi dari verba sebagai induk dengan verba, atau kata berkelas kata lain, yaitu adverbia, atau frasa preposisional, sebagai modifikator. Moeliono (1988: 127) mengatakan frasa verbal ialah satuan bahasa yang terbentuk dari dua kata atau lebih dengan verba sebagai intinya dan tidak merupakan klausa.
Alwi, dkk. (2000: 157) dalam bukunya Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia membedakan frasa verbal menjadi dua yaitu frasa verbal endosentrik atributif dan frasa verbal endosentrik koordinatif. Frasa verbal yang endosentrik atributif terdiri atas inti verba dan pewatas (modifier) yang ditempatkan di muka atau di belakang verba inti. Yang di muka dinamakan pewatas depan dan yang di belakang dinamakan pewatas belakang (misalnya, ‘harus menjunjung’). Frasa verbal endosentrik koordinatif sangatlah sederhana, yakni dua verba yang dihubungkan dengan memakai kata penghubung ‘dan’ atau ‘atau’, sebagai verba dapat didahului atau diikuti oleh pewatas depan atau belakang (misalnya, ‘tertawa atau marah’).

Marilah kita amati frasa verbal dalam kalimat berkut.
1. Kesehatannya sudah membaik.
2. Pesawat itu akan mendarat.
3. Anak-anak tidak harus pergi sekarang.
4. Kami harus menulis kembali makalah kami.
5. Murid-murid sering makan dan minum di kantin.
6. Kamu boleh menyanyi atau menari.
Konstruksi sudah membaik, akan mendarat, tidak harus pergi, harus menulis kembali dan minum, dan menyanyi atau menari adalah frasa verbal. Yang menjadi verba inti pada kalimat (1-4) masing-masing adalah membaik, mendarat, pergi dan menulis. Pada kalimat (5) dan (6) kedua verba pada masing-masing kalimat menjadi inti dengan dan serta atau sebagai penghubungnya.
1. Jenis-Jenis Frasa Verbal dalam Bahasa Indonesia
Dilihat dari konstruksinya, frasa verbal terdiri atas verba inti dan kata lain yang bertindak sebagai penambah dari verba tersebut. Konstruksi seperti sudah membaik, akan mendarat, tidak harus pergi pada contoh diatas merupakan jenis frasa verbal yang berbentuk endosentrik atributif. Frasa verbal seperti makan dan minum serta menyanyi atau menari masing-masing mempunyai dua verba inti yang dihubungkan dengan kata dan dan atau. Frasa seperti itu disebut frasa endosentrik koordinatif.
a. Frasa Endosentrik Atributif
Frasa verbal yang endosentrik atributif terdiri atas inti verba pewatas (modifier) yang ditempatkan di muka atau di belakang verba inti. Yang di muka dinamakan pewatas depan dan yang di belakang dinamakan pewatas belankang.
Dalam konstruksi kalimat atau klausa, pewatas tidak termasuk konstituen yang berfungsi sebagai Subjek, Predikat, Objek, Pelengkap, Keterangan, tetapi termasuk konstituen yang fungsinya berada di bawah tingkatan fungsi-fungsi kalimat tersebut. Pewatas merupakan konstituen yang berfungsi menerangkan atau menjelaskan konstituen inti dalam tataran frasa. Dengan kata lain pewatas hanya berfungsi membatasi makna inti frasa yang merealisasi fungsi-fungsi kalimat. Jadi, pewatas hanyalah merupakan penerang atau penjelas inti subjek, predikat, objek, pelengkap atau keterangan.
Quirk menjelaskan bahwa secara semantis pewatas dapat berfungsi menambahkan informasi yang lebih khusus pada konstituen intinya serta selalu memperjelas batas acuannya. Quirk menjelaskan pula bahwa posisi pewatas dapat berupa pawatas depan (premodifier) dan dapat pula berupa pewatas belakang (post modifier). Hal ini sejalan dengan Moeliono dkk yang membagi posisi pewatas atas pewatas letak kiri dan pewatas letak kanan.
Matthew mengemukakan bahwa pewatas adalah unsur yang bergantung pada unsur inti dan bersifat opsional, artinya boleh ada dan boleh juga tidak. Konsep lain mengenai pewatas dikemukakan oleh Neilson (1956). Ia menjelaskan bahwa yang menjadi pewatas dalam frasa nominal biasanya adjektiva dan bahwa sebuah frasa bisa memiliki dua pewatas atau lebih.
Selanjutnya Matthew menjelaskan bahwa pewatas yang berupa nomina dapat terdiri dari satu nomina atau lebih. Pewatas-pewatas itu menerangkan intinya dan salah satu pewatas tersebut menjadi pewatas yang menerangkan pewatas lain atau pewatas yang kedudukannya menjadi inti.
Dijelaskan juga oleh Nelson bahwa selain adjektiva dan nomina, klausapun dapat menjadi pewatas pada frasa nominal. Klausa yang mewatasi frasa nomina inilah yang kemudian disebut dengan klausa relatif.
Selalu satu kelompok kata yang dapat berfungsi sebagai pewatas depan adalah akan, harus, dapat (atau bisa), boleh, suka, ingin, dan mau. Dilihat dari segi urutannya, akan selalu mendahului yang lain, dan kata harus mendahului dapat (bisa), boleh, suka, ingin, dan mau. Dengan demikian, akan kita peroleh frasa verbal seperti
akan harus harus boleh
harus dapat akan suka
akan bisa akan harus bisa
harus mau akan harus mau
Perhatikan contoh-contoh berikut.
1. Pemerintah akan menertibkan pengurusan sertifikat tanah.
2. Kami harus memeriksa semua barang yang masuk.
3. Mahasiswa dapat mengajukan permohonan cuti akademik.
4. Kita selalu mau mendengarkan keluhan karyawan.
5. Kita akan harus mengambil langkah yang lebih cepat.
6. Mereka harus dapat menyelesaikan tugas itu minggu ini.
7. Dia harus mau melaksanakan tugas itu.
8. Nanti kalau sudah besar, Tuti tentu akan suka sambal terasi.
9. Dia akan harus dapat menyelesaikan soal itu segera.
Dari contoh-contoh di atas jelaslah bahwa kata-kata pewatas depan seperti akan, harus, dan dapat yang dinamakan verba bantu itu mematuhi urutan tertentu. Kemungkinan tiga jenis itu dipakai bersama-sama juga ada, seperti terlihat pada contoh nomor (9), tetapi pada umumnya orang menghindari bentuk seperti itu.
Ada kelompok kata lain yang dinamakan aspek yang dapat pula bertindak sebagai pewatas di depan verba dan dapat bergabung dengan verba bantu. Kelompok aspek ini terdiri dari dua kata, yakni sudah dan sedang. (Kata telah, tengah, dan lagi dianggap varian stilistis dari sudah dan sedang).
Perhatikan contoh-contoh berikut:
1. Dia sudah/telah setuju.
2. Mereka sedang/tengah/lagi menggarap soal itu.
Meskipun dari segi maknanya kedua kata itu mirip dengan verba bantu akan, perilakunya sintaksisnya berbeda. Aspek sudah dapat mendahului atau mengikuti verba bantu akan dan harus.
Perhatikan contoh-contoh berikut:
12. Dia sudah akan setuju tadi.
13. Kami akan sudah selesai kalau kamu datang pukul 09.00.
14. Kami sudah harus berada disana pukul 6.30 pagi.
15. Kami harus sudah berada di sana pukul
Aspek sedang dapat berperilaku sama dengan sudah, tetapi terbatas pada verba bantu akan saja. Aspek sedang pada umumnya tidak dapat bergabung dengan harus.
Perhatikan contoh-contoh berikut:
1. Ali sedang akan menggarap soal itu ketika kami datang.
2. Kalau kamu datang sekarang, dia akan datang menggarap soal itu.
Dengan memperhatikan keserasian makna, baik sedang maupun sudah dapat digabungkan dengan kelompok urutan ketiga verba bantu dengan ketentuan bahwa kedua kata aspek ini mendahului kelompok itu. Jadi, sudah dapat, sudah boleh, sedang suka, dan sedang dingin dapat diterima, tetapi dapat sudah, suka sedang, dan ingin sedang tidak sesuai.
Perhatikan contoh-contoh berikut:
1. Pasien itu sudah boleh makan makanan yang lunak.
2. Perusahaan kami sudah dapat mengekspor produksi ke luar negeri.
3. Pemerintah sudah akan dapat memenuhi kebutuhan pangan tahun depan.
4. Kami harus sudah bisa berdiri sendiri tahun ini.
Dari contoh di atas kelihatan bagaimana kata aspek sedang dan sudah digabungkan dengan verba bantu. Jika makna memungkinkan, maka urutan tiga kata sebagai pewatas depan juga dapat dibentuk seperti terlihat pada contoh (3) dan (4).
Di samping verba bantu dan aspek, ada kelompok ketiga yang dapat pula bertindak sebagai pewatas depan verba. Kelompok itu dinamakan kelompok pengingkar yang teridir dari kata tidak dan belum. Kaidah umum mengenai pengingkar ialah bahwa pengingkar mengingkarkan kata atau kata-kata yang berdiri di belakangnya, dan tidak yang didepannya.
Perhatikan contoh-contoh berikut:
1. Dia akan kawin.
2. Dia tidak harus kawin.
3. Dia harus tidak kawin.
Pada kalimat (1), tidak mengingkarkan verba kawin. Pada kalimat (2) yang diingkarkan adalah harus atau harus kawin. Pada nomor (3) harus tidak dikenai ingkar oleh kata tidak, yang dikenai ingkar hanyalah kata kawin saja. Dengan demikian, makna kalimat (3) sama dengan ‘dia harus lajang’. Dari contoh-contoh diatas tampak bahwa baik dia maupun harus, yang berdiri di muka kata tidak, tidak diingkarkan.
Pada dasarnya pengingkar tidak dapat ditempatkan di mana saja di antara verba bantu, di antara kata-kata aspek, atau di antara kedua kelompok itu. Demikian pula pengingkar belum yang merupakan pengganti tidak sudah, yang tidak terdapat dalam bahasa kita.
Perhatikan contoh-contoh berikut:
1. Pak Menteri tidak akan datang karena dia sibuk).
2. Pak Menteri akan tidak datang (karena dia marah).
3. Untuk menjadi pramugari seseorang harus belum kawin.
4. Anda baru berumur 19 tahun; Anda belum harus kawin sekarang.
5. Dia tidak akan dapat menepati janji.
6. Dia akan tidak dapat menepati janji.
7. Dia tidak akan mau datang.
Contoh (7) menunjukkan bahwa jika maknanya memungkinkan, dua pengingkar dapat dipakai bersama-sama. Dari uraian diatas jelaslah bahwa pewatas depan verba berdiri atas tiga kelompok: (a) verba bantu, (b) aspek, dan (c) pengingkar. Ketiga kelompok itu secara sendiri-sendiri menambah keterangan pada verba, tetapi juga dapat secara bersama-sama membentuk frasa verbal.
Berbeda dengan pewatas depan, pewatas belakang verba sangat terbatas macam dan kemungkinannya. Pada umumnya pewatas belakang verba terdiri atas kata-kata seperti lagi. (dalam arti ‘tambah satua kali’, bukan ‘sedang’) dan kembali.
Perhatikan contoh-contoh berikut:
E. Dia menangis lagi.
F. Kami harus menulis menulis kembali akan datang lagi.
G. Pak Menteri tidak aka datang lagi.
H. Dia tidak akan dapat mengingkari lagi janji itu.
Contoh (3-4) menunjukkan kemungkinan adanya pewatas depan dan pewatas belakang pada frasa verba yang sama.
b. Frasa Endosentrik Koordinatif
Wujud frasa endosentrik koordinatif sangatlah sederhana, yakni dua verba yang digabungkan dengan memakai kata penghubung dan atau atau. Tentu saja, sebagai verba bentuk itu juga dapat didahului atau diikuti oleh pewatas depan dan pewatas belakang.
Perhatikan contoh-contoh berikut:
6. Mereka menangis dan meratapi nasibnya.
7. Kami pergi atau menunggu dulu?
8. Orang yang beriman kuat tidak akan menangis dan meratapi nasibnya.
9. Anak umumnya harus mematuhi dan melaksanakan ajaran orang tuanya.
10. Dia tidak akan mengakui atau mengingkari perbuatannya.
11. Sesudah ujian kami akan makan dan minum lagi di kantin.
Pewatasa depan dan pewatas belakang pada frasa koordinatif seperti ini memberi keterangan tambahan pada kedua verba yang bersangkutan dan bukan pada verba yang pertama saja. Dengan demikian maka pada kalimat (5) pewatas tidak akan memberi keterangan tambahan pada mengakui dan mengingkari, bukan pada mengakui saja.

2. Struktur Frasa Verbal
Berdasarkan strukturnya, frasa verbal tergolong dalam frasa verbal endosentrik yang dibagi lagi atas (a) frasa verbal endosentrik atributif dan (b) frasa verbal endosentrik koordinatif. Frasa verbal yang endosentrik atributif terdiri atas inti verba dan pewatas yang ditempatkan di muka atau di belakang verba inti. Yang di muka dinamakan pewatas depan dan yang di belakang dinamakan pawatas belakang.
Salah satu kelompok kata yang dapat berfungsi sebagai pewatas depan adalah akan, harus, dapat, boleh, suka, ingin, dan mau. Konstruksi seperti akan membaik, akan mendarat, tidak harus pergi, merupakan contoh frasa verbal endosentrik atributif. Sedangkan wujud frasa verbal sangat sederhana, yakni dua verba yang digabungkan dengan memakai kata penghubung dan atau atau. Sebagai verba bentuk itu juga dapat didahului atau diikuti oleh pewatas depan atau pewatas belakang.
3. Fungsi Verba dan Frasa Verbal
Jika ditinjau dari segi fungsinya, verba (maupun frasa verbal) terutama menduduki fungsi predikat. Walaupun demikian, verba dapat pula menduduki fungsi lain seperti subjek, objek, dan keterangan (dengan perluasannya berupa objek, pelengkap, dan keterangan).

a. Verba dan Frasa Verbal Sebagai Predikat
Telah dikemukakan bahwa verba berfungsi terutama sebagai predikat atau sebagai inti predikat kalimat.
Perhatikan contoh-contoh berikut:
1. Kaca jendela itu pecah.
2. Orang tuanya bertani.
3. Kedua sahabat itu berpuluk-pelukan.
4. Mobil yang ditumpanginya tahan peluru.
5. Pemerintah akan mengeluarkan peraturan moneter baru.
6. Para tamu bersalam-salaman dengan akrab.
Dalam kalimat (1-4), verba pecah, berpeluk-pelukan, dan tahan peluru berfungsi sebagai predikata. (Perlu diperhatikan bahwa tahan peluru adalah verba majemuk. Jadi, tahan dan peluru bukan dua kata yang berdiri sendiri). Predikat kalimat (5-6) adalah frasa verbal, tetapi diikuti oleh unsur-unsur lain. Pada (5) frasa akan mengeluarkan diikuti oleh objek kalimat peraturan moneter baru. Pada (6) keterangan dengan akrab mengikuti predikat bersalam-salaman.
b. Verba dan Frasa Verbal Sebagai Subjek
Pada kalimat-kalimat di bawah ini terlihat bahwa verba dan perluasannya (yang berupa objek, pelengkap, dan/atau keterangan) dapat berfungsi sebagai subjek. Pada umumnya verba yang berfungsi sebagai subjek adalah verba inti, tanpa pewatas depan ataupun pewatas belakang. Jika verba ini memiliki unsur lain seperti objek dan keterangan, unsur itu menjadi bagian dari subjek.
Perhatikan contoh-contoh berikut:
1. Membaca telah memperluas wawasan pikirannya.
2. Bersenam setiap pagi membuat orang itu terus sehat.
3. Makan sayur-sayuran dengan teratur dapat meningkatkan kesehatan.
Dalam kalimat (1), subjeknya ialah verba membaca, sedangkan dalam kalimat (2) dan (3) subjeknya adalah frasa verba bersenam setiap pagi dan makan sayur-sayuran dengan lancar.
c. Verba dan Frasa Verbal sebagai Objek
Dalam kalimat berikut verba dan frasa verbal dengan perluasannya berfungsi sebagai objek.
Perhatikan contoh-contoh berikut:
1. Dia sedang mengajarkan menari pada adik saya.
2. Dia mencoba tidur lagi tanpa bantal.
3. Mereka menekuni membaca Quran pada pagi hari.
Dalam kalimat (1) verba mencari adalah objek dari predikat sedang mengajarkan. Dalam kalimat (2) dan (3), yang berfungsi sebagai objek ialah verba tidur lagi dan membaca Quran, yang masing-masing diikuti oleh keterangan tanpa bantal pada pagi hari.

d. Verba dan Frasa Verbal sebagai Pelengkap
Verba dan frasa verbal beserta perluasannya dapat berfungsi sebagai pelengkap dalam kalimat.
Perhatikan contoh-contoh berikut:
8. Dia sudah berhenti merokok.
9. Mertuanya merasa tidak bersalah.
10. Samuel baru mulai mengerti masalah baru.
Verba merokok, frasa verbal tidak bersalah, dan perluasan verba mengerti masalah itu dalam kalimat (1-3) berfungsi sebagai pelengkap dari predikat berhenti, merasa, dan mulai. Masing-masing predikat itu tidak lengkap, dan dengan demikian predikat yang bersangkutan tidak berterima jika tidak diikuti oleh pelengkap.
e. Verba dan Frasa Verbal sebagai Keterangan
Dalam kalimat berikut verba dan perluasannya berfungsi sebagai keterangan.
Perhatikan contoh-contoh berikut:
1. Ibu sedang pergi berbelanja.
2. Paman datang berkunjung minggu yang lalu.
3. Saya bersedia membantu Anda.
4. Mereka baru saja pulang bertamasya.
Dari contoh diatas tampak bahwa ada dua verba yang letaknya berurutan: yang pertama merupakan predikat dan yang kedua bertindak sebagai keterangan. Pada kalimat (1-3) terkandung pengertian ‘maksud’ atau ‘tujuan’ dari perbuatan yang dinyatakan predikat. Karena itu, perkataan untuk dapat disisipkan: pergi untuk berbelanja, datang untuk berkunjung, dan bersedia untuk membantu Anda. Pada kalimat (4) terkandung pengertian ‘asal’ dan oleh sebab itu dapat disisipkan kata dari; pulang dari bertamasya; dalam hal ini verba (dengan perluasannya) menjadi bagian dari frasa preposional, seperti juga dalam kedua kalimat berikut.
1. Dia mengawini gadis Australia itu untuk memperoleh status penduduk menetap.
2. Pencuri memasuki rumah itu dengan memecahkan kaca jendela.
Dalam (1) dan (2) dibawah ini frasa verbal pada awal kalimat mengungkapkan keadaan subjek (bayi itu dan dia) pada waktu terjadinya peristiwa yang dinyatakan oleh predikat.
1. Baru menetek, bayi itu sudah menangis lagi.
2. Bangun-bangun, dia sudah minta kopi.
6. Hakikat Kata Kerja dalam Bahasa Indonesia
Ciri-ciri verba dapat diketahui dengan mengamati perilaku semantic, perilaku sintaksis, dan bentuk morfologisnya. Namun, secara umum verba dapat diidentifikasi dan dibedakan dari kelas kata yang lain, terutama dari adjektiva. Verba mengandung makna inheren perbuatan (aksi), proses, atau keadaan yang bukan bersifat atau kualitas. Verba, khususnya yang bermakna keadaan, tidak dapat diberi prefiks ter- yang berarti ‘paling’. Verba seperti mati dan suka, misalnya, tidak dapat diubah menjadi termati atau tersuka. Pada umumnya verba tidak dapat bergabung dengan kata-kata yang menyatakan makna kesangatan. Tidak ada bentuk seperti agak belajar, sangat pergi dan bekerja sekali meskipun ada bentuk seperti sangat berbahaya, agak mengecewakan, dan mengharapkan sekali.
Tiap verba memiliki makna inheren yang terkandung di dalamnya. Verba lari dan belajar mengandung makna inheren perbuatan. Verba seperti itu biasanya dapat menjadi jawaban untuk pertanyaan Apa yang dilakukan oleh subjek? Verba lari, misalnya, dapat menjadi jawaban atas pertanyaan Apa yang dilakukan oleh pencuri itu?. Semua verba perbuatan dapat dipakai dalam kalimat perintah, tetapi tidak semua verba proses dapat dipakai dalam kalimat seperti ini. Misalnya, dari verba lari dapat dibentuk kalimat perintah Lari atau Larilah!. Namun, dari verba meledak tidak dapat dibentuk kalimat perintah Meledak(lah).
Perbedaan makna inheren antara verba perbuatan dan verba proses itu perlu diperhatikan. Kita tidak dapat, misalnya, bertanya Apa yang terjadi pada pencuri itu? Dan mendengar jawaban Dia lari. Demikian pula kita dapat bertanya Apa yang dilakukan oleh bom itu? Dengan jawaban Bom itu meledak. Verba keadaan sering sulit dibedakan dari adjektiva karena kedua jenis kata itu mempunyai banyak persamaan. Bahkan dapat dikatakan bahwa verba keadaan yang tidak tumpang-tindih dengan adjektiva jumlahnya sedikit. Satu ciri yang umumnya dapat membedakan keduanya ialah bahwa prefiks adjektiva ter- yang berarti ‘paling’ dapat ditambahkan pada adjektiva, tetapi tidak pada verba keadaan. Dari adjektiva dingin dan sulit, misalnya, dapat dibentuk terdingin (paling dingin) dan tersulit (paling sulit), tetapi dari suka tidak dapat dibentuk tersuka.
Makna inheren suatu verba tidak terikat dengan wujud verba tersebut. Artinya, apakah suatu verba berwujud kata dasar, kata yang tanpa afiks, atau yang dengan afiks, hal itu tidak mempengaruhi makna inheren yang terkandung di dalamnya. Dasar verba seperti beli menyatakan perbuatan; demikian pula verba asal pergi. Verba berafiks seperti menguning menyatakan suatu proses perubahan dari satu keadaan ke keadaan yang lain. Makna inheren juga tidak selalu berkaitan dengan status ketransitifan suatu verba. Suatu verba taktransitif dapat memiliki makna inheren perbuatan (misalanya, pergi) atau proses (misalnya, menguning). Sementara itu, verba transitif pada umumnya memang mengan dung makna inheren perbuatan meskipun tidak semuanya demikian.
Verba transitif mendengar atau melihat, misalnya, tidak menyatakan perbuatan. Di samping ketiga makna inheren di atas, ada pula makna-makna lain yang terdapat pada verba-verba tertentu. Verba seperti mendengar atau melihat seperti dicontohkan di atas berbeda makna inherennya dengan mendengarkan dan memperlihatkan. Mendengar atau melihat merujuk pada peristiwa yang terjadi begitu saja pada seseorang, tanpa kesengajaan dan kehendaknya. Makna yang terkandung dalam verba dapat pula muncul karena adanya afiksasi. Apabila ada suatu verba dan pada verba itu kita tambahkan afiks tertentu, akan muncul makna tambahan. Verba membeli, misalnya, adalah verba perbuatan. Apabila ditambahkan sufiks –kan pada verba ini (sehingga menjadi membelikan), maka muncullah makna tambahan, yakni ‘perbuatan itu dilakukan untuk orang lain’. Tambahan sufiks –i pada verba memukul (sehingga menjadi memukuli) memberikan makna tambahan ‘perbuatan itu dilakukan lebih dari satu kali’. Tambahan prefiks ter- pada bawa (sehingga menjadi terbawa) memberikan makna tambahan ‘tidak sengaja’, dan seterusnya.

B. Hasil Penelitian yang Relevan
Penulis melakukan observasi di beberapa perpustakaan yang berada di Jakarta, seperti di Univeristas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Indonesia (UI), Perpustakaan Nasional, dari pengamatan penulis ternyata penelitian mengenai penerjemahan frasa verbal dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia relatif sangat sedikit. Kemudian, penulis juga melakukan pencarian informasi mengenai frasa verbal di beberapa situs online seperti Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) namun hanya menganalisis mengenai strategi penerjemahan saja. Oleh karena itu, penulis ingin mengupas lebih mendalam mengenai penelitian penerjemahan frasa verbal dari bahasa Inggris kedalam bahasa Indonesia. Seperti yang telah dipaparkan diatas, pada umumnya penelitian ini hanya fokus menggunakan kajian analisis penerjemahan yang dilakukan mahasiswa jurusan bahasa. Selain itu, jurnal yang menjadi acuan penulis adalah Translation Journal. Dari situ, penulis menemukan beberapa penelitian mengenai ideology pada karya terjemahan.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
4. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan utama penelitian ini merupakan metode analisis isi yang bersifat deskriptif untuk mendapatkan pemahaman secara mendalam mengenai beberapa hal sebagai berikut:
4. Bentuk-bentuk kesepadanan yang dipergunakan dalam terjemahan frasa verbal dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia dalam novel “Things Fall Apart”.
5. Strategi-strategi penerjemahan yang dipergunakan untuk Menerjemahkan frasa verbal dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia dalam novel “Things Fall Apart”.
6. Bentuk-bentuk pergeseran yang terjadi dalam tataran satuan gramatikal pada terjemahan frasa verbal dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia dalam novel “Things Fall Apart”?
7. Penyimpangan-penyimpangan di dalam terjemahan novel “Things Fall Apart” yang mempengaruhi tingkat kejelasan dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran dalam novel “Things Fall Apart”.
5. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini tidak terikat dengan tempat penelitian karena merupakan kajian pustaka (analisis novel). Agar penelitian ini berjalan efektif sesuai dengan jawal perencanaan penulis, maka penelitian ini direncanakan selama empat bulan (November 2012-Februari 2013). Adapun jadwal kegiatan penelitian yang telah direncanakan sebagai berikut:
Tabel 1

6. Metode dan Prosedur Penelitian
Sesuai dengan masalah dan tujuan penelitian, maka penelitian ini merupakan metode deskriptif/kualitatif dengan teknik analisis isi yaitu teori penerjemahan berdasarkan status teks terjemahannya. Metode deskriptif/kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan prosedur analisis yang tidak menggunakan prosedur analisis statistik atau cara kuantifikasi lainnya. Jelas bahwa pengertian ini mempertentangkan penelitian kualitatif dengan penelitian yang bernuansa kuantitatif yaitu dengan menonjolkan bahwa usaha kuantifikasi apapun tidak perlu digunakan pada penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif didasarkan pada upaya membangun pandangan mereka yang diteliti yang rinci, dibentuk dengan kata-kata, gambaran holistik dan rumit.
Definisi ini lebih melihat perspektif emik dalam penelitian yaitu memandang sesuatu upaya membangun pandangan subjek penelitian yang rinci, dibentuk dengan kata-kata, gambaran holistik dan rumit. Dari kajian tentang definisi-definisi tersebut dapatlah disintesiskan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan. Secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Fenomena yang dimaksud adalah data berupa kesalahan penerjemahan unsur frasa verbal bahasa Inggris kedalam bahasa Indonesia. Teori ini dipakai karena dalam penelitian ini akan dipaparkan masalah kesalahan dalam terjemahan frasa verbal bahasa Inggris kedalam bahasa Indonesia.
7. Data dan Sumber Data
Data dalam penelitian ini adalah bagian novel yang berisi penerjemahan unsur frasa verbal pada teks yang ditinjau pada aspek linguistik yaitu pada tataran sintaksis dan semantis. Sumber data yang dipakai adalah novel yang berjudul “Things Fall Apart” karya Chinua Achebe yang diterbitkan oleh Bloom’s Literary Criticism, New York dan kemudian diterbitkan oleh penerbit Hikmah diterjemahkan oleh Cahya Wiratama. Sumber data ini dipilih karena novel ini salah satu novel terbaik dari 100 novel dan paling laris (Bestseller) dari karya-karya Chinua Achebe yang lainnya, juga novel ini telah terjual lebih dari sebelas juta eksemplar dan diterjemahkan dalam 50 bahasa.
“Things Fall Apart” merupakan novel yang berisi 274 halaman yang terdiri dari 24 bab yang secara umum bersifat naratif. Novel ini sama seperti novel yang lain terbagi menjadi paragraf, kalimat, klausa, serta frasa dan kata yang merupakan satuan semantis. Keadaan struktur gramatikal dan semantis teks ini diperlukan untuk mengidentifikasi butir-butir unsur frasa verbal.
8. Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data
Data dalam penelitian ini akan dikumpulkan langsung oleh peneliti. Dalam pengumpulan data, peneliti sebagai instrumen utama (key instrument). Adapun instrumen bantu yang akan digunakan untuk mendapatkan data adalah hasil penerjemahan bab I hingga bab VIII dari novel Things Fall Apart yang terdiri dari lebih kurang 8000 kata. Novel ini dipilih karena sarat dengan penggunaan unsur frasa verbal.
Novel ini diterbitkan pada tahun 1958 dan bahasa Inggris yang digunakan dalam novel ini tergolong bahasa Inggris masa kini. Instrumen lainnya adalah tabel yang menjadi perbandingan. Adapun tabel tersebut adalah tabel unsur frasa verbal dalam novel “Things Fall Apart” tabel hasil penerjemahan yang telah dikelompokkan berdasarkan unsur-unsur frasa verbal yang muncul dalam bahasa sasaran. Dengan cara mengidentifikasi kehadiran frasa verbal bahasa Inggris semua frasa verbal dalam bahasa Inggris yang ada, dicatat dengan cara dikelompokkan dan diberi nomor.
9. Prosedur Analisis Data
Dalam menganalisis data penulis akan melakukan langkah-langkah yang meliputi:
1. Mencatat semua unsur frasa verbal yang ada dalam bahasa sumber dimana kalimat yang mengandung unsur frasa verbal itu sendiri merupakan korpus data, setelah itu data diberi nomor urut.
2. Data yang sudah diperoleh sebagai unsur frasa verbal dicari sinonimnya atau padanannya di dalam kamus yang tersedia sesuai dengan Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan.
3. Mengidentifikasi masalah unsur frasa verbal teks bahasa sumber dan teks bahasa sasaran yang dipengaruhi oleh faktor kontekstual diterjemahkan melalui suatu prosedur penerjemahan yaitu transposisi dan modulasi. Prosedur ini akan menyebabkan terjadinya geseran.
4. Selanjutnya geseran tersebut dianalisis, setelah diketahui unit dan kelas kata unsur frasa verbal teks bahasa sumber dan teks bahasa sasaran, dan subkategori frasa verbal teks bahasa sumber dan teks bahasa sasaran. Bila terjadi perbedaan unit, kelas kata dan subkategori frasa verbal berarti penerjemahan frasa verbal sepadan tetapi tidak berkorespondensi formal. Bila ini terjadi maka akan terjadi geseran gramatikal dan geseran semantis.

a. Pemeriksaan Keabsahan Data
Untuk menetapkan keabsahan (trustworthiness) data diperlukan teknik pemerikasaan. Pelaksanaan teknik pemeriksaan didasarkan atas sejumlah kriteria tertentu. Ada empat kriteria yang digunakan, yaitu derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan (depandability), dan kepastian (confirmability). Penerapan kriterium derajat kepercayaan (kredibilitas) pada dasarnya menggantikan konsep validitas internal dari nonkualitatif. Kriterium ini berfungsi: pertama, melaksanakan inquiri sedemikian rupa sehingga tingkat kepercayaan penemuannya dapat dicapai; kedua, mempertunjukkan derajat kepercayaan hasil-hasil penemuan dengan jalan pembuktian oleh peneliti pada kenyataan ganda yang sedang diteliti.
Kriterium keteralihan berbeda dengan validitas eksternal dari nonkualitatif. Konsep validitas itu menyatakan bahwa generalisasi suatu penemuan dapat berlaku atau diterapkan pada semua konteks dalam populasi yang sama atas dasar penemuan yang diperoleh pada sampel yang secara representatif mewakili populasi itu. Keteralihan sebagai persoalan empiris bergantung pada kesamaan antara konteks pengirim dan penerima. Untuk melakukan pengalihan tersebut seorang peneliti hendaknya mencari dan mengumpulkan kejadian empiris tentang kesamaan konteks. Dengan demikian peneliti bertanggungjawab untuk menyediakan data deskriptif secukupnya jika ia ingin membuat keputusan tentang pengalihan tersebut. Untuk keperluan itu peneliti harus melakukan penelitian kecil untuk memastikan usaha memverifikasi tersebut.
Kriterium kebergantungan merupakan substitusi istilah reliabilitas dalam penelitian yang nonkualitatif. Pada cara nonkualitatif, reliabilitas ditunjukkan dengan jalan mengadakan replikasi studi. Jika dua atau beberapa kali diadakan pengulangan suatu studi dalam suatu kondisi yang sama dan hasilnya secara esensial sama, maka dikatakan reliabilitasnya tercapai.
Disamping itu, terjadi pula ketidakpercayaan pada instrumen penelitian. Hal ini benar sama dengan alamiah yang mengandalkan orang sebagai instrumen. Mungkin karena keletihan, atau karena keterbatasan mengingat sehingga membuat kesalahan. Namun, kekeliruan yang dibuat orang demikian jelas tidak mengubah keutuhan kenyataan yang distudi. Juga tidak mengubah adanya desain yang muncul dari data, dan bersamaan dengan hal itu tidak pula mengubah pandangan dan hipotesis kerja yang dapat bermunculan.
Meskipun demikian, paradigma alamiah menggunakan kedua persoalan tersebut sebagai pertimbangan, kemudian mencapai suatu kesimpulan untuk menggantinya dengan kriterium kebergantungan. Konsep kebergantungan lebih luas daripada reliabilitas. Hal tersebut disebabkan oleh peninjauannya dari segi bahwa konsep itu memperhitungkan segala-galanya, yaitu yang ada pada realibilitas itu sendiri ditambah faktor-faktor lainnya yang tersangkut. Bagaimana hal itu akan dibicarakan dalam konteks pemeriksaan.
Kriterium kepastian berasal dari konsep obektivitas menurut nonkualitatif. Nonkualitatif menetapkan obektivitas dari segi kesepakatan antar subjek. Di sini pemastian bahwa sesuatu itu objektif atau tidak bergantung pada persetujuan beberapa orang terhadap pandangan, pendapat, dan penemuan seseorang. Dapatlah dikatakan bahwa pengalaman seseorang itu subjektif sedangkan jika disepakati oleh beberapa atau banyak orang, barulah dapat dikatakan objektif. Jadi, objektivitas-subjektivitasnya suatu hal bergantung pada seseorang.
Menurut Scriven selain itu masih ada unsur ‘kualitas’ yang melekat pada konsep objektivitas. Hal itu digali dari pengertian bahwa jika seseuatu itu objektif, berarti dapat dipercaya, faktual, dan dapat dipastikan. Berkaitan dengan persoalan itu, subjektif berarti tidak dapat dipercaya, atau melenceng. Pengertian terakhir inilah yang dijadikan tumpuan pengalihan pengertian objektivitas-subjektivitas menjadi kepastian (confirm-ability).
Jika nonkualitatif menekankan pada ‘orang’ maka penelitian alamiah menghendaki agar penekanan bukan pada orangnya, melainkan pada data. Dengan demikian kebergantungan itu bukan lagi pada orangnya, melainkan pada datanya itu sendiri. Jadi, isinya di sini bukan lagi berkaitan dengan ciri penyidik, melainkan berkaitan dengan ciri-ciri data.
Menurut Moleong teknik pemerikasaan keabsahan data dapat didasarkan atas kriteria berikut:
9. Perpanjangan Keikutsertaan
Sebagaimana sudah dikemukakan, peneliti dalam penelitian kualitatif adalah instrumen itu sendiri. Keikutsertaan peneliti sangat menentukan dalam pengumpulan data. Keikutsertaan tersebut tidak hanya dilakukan dalam waktu singkat, tetapi memerlukan perpanjangan keikutsertaan pada latar penelitian. Perpanjangan keikut-sertaan berarti peneliti tinggal di lapangan penelitian sampai kejenuhan pengumpulan data tercapai.
Perpanjangan keikutsertaan peneliti akan memungkinkan peningkatan derajat kepercayaan data yang dikumpulkan. Mengapa demikian? Pertama, peneliti dengan perpanjangan keikutsertaannya akan banyak mempelajari “kebudayaan” dapat menguji ketidakbenaran informasi yang diperkenalkan oleh distorsi, baik yang berasal dari diri sendiri maupun dari responden, dan membangun kepercayaan subjek. Dengan demikian, penting sekali arti perpanjangan keikutsertaan peneliti guna berorientasi dengan situasi, juga guna memastikan apakah konteks itu dipahami dan dihayati.
Perpanjangan keikutsertaan juga menuntut peneliti agar terjun ke lokasi dan dalam waktu yang cukup panjang guna mendeteksi dan memperhitungkan distorsi yang mungkin mengotori data. Pertama-tama dan yang terpenting ialah distorsi pribadi. Menjadi ‘asing di tanah asing’ hendaknya mendapakan perhatian khusus peneliti jangan sampai overacting. Tampaknya, jika sejak awal peneliti tidak diterima pada latar penelitian, distorsi itu bisa saja hilang. Di pihak lain, peneliti sendiri biasanya menghasilkan distorsi karena adanya nilai-nilai bawaan dan bangunan tertentu.
10. Ketekunan/Keajegan Pengamatan
Keajegan Pengamatan berarti mencari secara konsisten interpretasi dengan berbagai cara dalam kaitan dengan proses analisis yang konstan atau tentatif. Mencari suatu usaha membatasi berbagai pengaruh. Mencari apa yang dapat diperhitungkan dan apa yang tidak dapat. Seperti yang telah diuraikan, maksud perpanjangan keikutsertaan ialah untuk memungkinkan peneliti terbuka terhadap pengaruh ganda, yaitu faktor-faktor kontekstual dan pengaruh bersama pada peneliti dan subjek yang akhirnya mempengaruhi fenomena yang diteliti. Berbeda dengan hal itu, ketekunan pengamatan bermaksud menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci. Dengan kata lain, jika perpanjangan keikutsertaan menyediakan lingkup, maka ketekunan pengamatan menyediakan kedalaman.
Hal itu berarti bahwa peneliti hendaknya mengadakan pengamatan dengan teliti dan rinci secara berkesinambungan terhadap faktor-faktor yang menonjol. Kemudian ia menelaahnya secara rinci sampai pada suatu titik sehingga pada pemeriksaan tahap awal tampak salah satu atau seluruh faktor yang ditelaah sudah dipahami dengan cara yang biasa. Untuk keperluan itu teknik ini menuntut agar peneliti mampu menguraikan secara rinci bagaimana proses penemuan secara tentatif dan penelaahan secara rinci tersebut dapat dilakukan. Kekurangan pengamatan terletak pada pengamatan terhadap pokok persoalan yang dilakukan secara terlalu awal.
Hal itu mungkin dapat disebabkan oleh tekanan subjek atau sponsor atau barangkali juga karena ketidaktoleransian subjek, atau sebaliknya peneliti terlalu cepat mengarahkan fokus penelitiannya walaupun tampaknya belum patut dilakukan demikian. Persoalan itu bisa terjadi pada situasi ketika subjek berdusta, menipu, atau berpura-pura, sedangkan peneliti sudah sejak awal mengarahkan fokusnya, padahal barangkali belum waktunya berbuat demikian.
11. Triangulasi
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Teknik triangulasi yang paling banyak digunakan ialah pemeriksaan melalui sumber lainnya. Denzin (1978) membedakan empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik, dan teori.
Triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang di peroleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif (Patton 1987: 331). Hal itu dapat dicapai dengan jalan: (1) membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara; (2) membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi; (3) membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu; (4) membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada, orang pemerintahan; (5) membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
Dalam hal ini jangan sampai banyak mengharapkan bahwa hasil pembandingan tersebut merupakan kesamaan pandangan, pendapat, atau pemikiran. Yang penting di sini ialah bisa mengetahui adanya alasan-alasan terjadinya perbedaan-perbedaan tersebut (Patton 1987: 331). Pada triangulasi dengan metode, menurut Patton (1987: 329), terdapat dua strategi, yaitu: (1) pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data dan (2) pengecekan derajat kepercayaan beberapa sumber data dengan metode yang sama.
Teknik triangulasi jenis ketiga ini ialah dengan jalan memanfaatkan peneliti atau pengamat lainnya untuk keperluan pengecekan kembali derajat kepercayaan data. Pemanfaatan pengamat lainnya membantu mengurangi kemelencengan dalam pengumpulan data. Pada dasarnya penggunaan suatu tim penelitian dapat direalisasikan dilihat dari segi teknik ini. Cara lain ialah membandingkan hasil pekerjaan seorang analisis dengan analisis lainnya. Triangulasi dengan teori, menurut Lincoln dan Guba (1981: 307), berdasarkan anggapan bahwa fakta tidak dapat diperiksa derajat kepercayaannya dengan satu atau lebih teori. Di pihak lain, Patton(1987: 327) berpendapat lain, yaitu bahwa hal itu dapat dilaksanakan dan hal itu dinamakannya penjelasan banding (rival explanation).
Jadi triangulasi berarti cara terbaik untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan konstruksi kenyataan yang ada dalam konteks suatu studi sewaktu mengumpulkan data tentang berbagai kejadian dan hubungan dari berbagai pandangan. Dengan kata lain bahwa dengan triangulasi, peneliti dapat me-recheck temuannya dengan jalan membandingkannya dengan berbagai sumber, metode atau teori. Untuk itu maka peneliti dapat melakukannya dengan jalan:
1. Mengajukan berbagai macam variasi pertanyaan,
2. Mengeceknya dengan berbagai sumber data,
3. Memanfaatkan berbagai metode agar pengecekan kepercayaan data dapat dilakukan.
12. Pemeriksaan Sejawat Melalui Diskusi
Teknik ini dilakukan dengan cara mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi dengan rekan-rekan sejawat. Teknik ini mengandung beberapa maksud sebagai salah satu teknik pemeriksaan keabsahan data. Pertama, untuk membuat agar peneliti tetap mempertahankan sikap terbuka dan kejujuran. Dalam diskusi analitik tersebut kemelencengan peneliti disingkap dan pengertian mendalam ditelaah yang nantinya menjadi dasar bagi klairifikasi penafsiran.
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan agar disusun sehingga dapat diklasifikasikan menurut persoalan-persoalan yang berkaitan dengan teori substantif, metodologi, hukum dan peraturan, etika, atau lain-lain yang relevan. Peneliti sebagai pemimpin diskusi hendaknya sepenuhnya menyadari posisi, keadaan, dan proses yang ditempuhnya sehingga dapat memperoleh hasil yang diharapkan. Kedua, diskusi dengan sejawat ini memberikan suatu kesempatan awal yang baik untuk mulai menjajaki dan menguji hipotesis kerja yang muncul dari pemikiran peneliti. Ada kemungkinan hipotesis yang muncul dalam benak peneliti sudah dapat dikonfirmasikan, tetapi dalam diskusi analitik ini mungkin sekali dapat terungkap segi-segi lainnya yang justru membongkar pemikiran peneliti. Sekiranya peneliti tidak dapat mempertahankan posisinya, maka dia perlu mempertimbangkan kembali arah hipotesisnya itu.
Diskusi analitik ini pun dapat memberikan kesempatan kepada peneliti untuk ikut merasakan keterharuan para peserta diskusi hingga memungkinkannya membersihkan emosi dan perasaannya guna dipakai untuk membuat sesuatu yang tepat. Pada dasarnya tidak ada formula yang pasti tentang bagaimana caranya menyelenggarakan diskusi semacam itu. Diskusi itu ada baiknya apabila memanfaatkan cara wawancara psikoanalitik.
Para peserta sebaiknya terdiri dari rekan sejawat yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam bidang yang dipersoalkan, terutama tentang isi maupun metodologinya. Peserta sebaiknya jangan terlalu muda atau jauh lebih tua dari peneliti untuk menjaga suasana diskusi, dan jangan pula mengambil peserta dari mereka yang mempunyai kewenangan, kekuasaan, atau orang yang disegani. Dengan demikian pemeriksaan sejawat berarti pemeriksaan yang dilakukan dengan jalan mengumpulkan rekan-rekan yang sebaya, yang memiliki pengetahuan umum yang sama tentang apa yang sedang diteliti, sehingga bersama mereka peneliti dapat mereview persepsi, pandangan dan analisis yang sedang dilakukan. Jika hal itu dilakukan maka hasilnya adalah:
3. Menyediakan pandangan kritis,
4. Mengetes hipotesis kerja (temuan-teori substantif),
5. Membantu mengembangkan langkah berikutnya,
6. Melayani sebagai pembanding
13. Analisis Kasus Negatif
Teknik analisis kasus negatif dilakukan dengan jalan mengumpulkan contoh dan kasus yang tidak sesuai dengan pola dan kecenderungan informasi yang telah dikumpulkan dan digunakan sebagai bahan pembanding. Dalam suatu latihan kepemimpinan perusahaan, sebagian peserta berhasil dengan baik dan telah menduduki kedudukan yang baik. Peserta yang tidak menyelesaikan program dan meninggalkan latihan sebelum waktunya diambil sebagai kasus untuk meneliti kekurangan program latihan tersebut. Kasus negatif demikian digunakan sebagai kasus negatif untuk menjelaskan hipotesis kerja alternatif sebagai upaya meningkatkan argumentasi penemuan.
14. Pengecekan Anggota
Pengecekan dengan anggota yang terlibat dalam proses pengumpulan data sangat penting dalam pemeriksaan derajat kepercayaan. Yang dicek dengan anggota yang terlibat meliputi data, kategori analitis, penafsiran, dan kesimpulan. Para anggota yang terlibat yang mewakili rekan-rekan mereka dimanfaatkan untuk memberikan reaksi dari segi pandangan dan situasi mereka sendiri terhadap data yang telah diorganisasikan oleh peneliti. Pengecekan anggota dapat dilakukan baik secara formal maupun secara tidak formal. Banyak kesempatan tersedia untuk mengadakan pengecekan anggota, yaitu setiap hari pada waktu peneliti bergaul dengan para subjeknya. Misalnya ikhtisar wawancara dapat diperlihatkan untuk dipelajari oleh satu atau beberapa anggota yang terlibat, dan mereka diminta pendapatnya.
Terhadap hasil tanggapan seseorang dapat dimintakan tanggapan dari orang lainnya. Demikian pula pendapat satu kelompok dapat pula dicek dengan pendapat kelompok lainnya, misalnya kelompok guru dicek dan dimintakan tanggapan dari kelompok pimpinan sekolah. Pengecekan secara informal demikian dapat bermanfaat dalam hal-hal sebagai berikut:
2. Menyediakan kesempatan untuk mempelajari secara sengaja apa yang dimaksudkan oleh responden dengan jalan bertindak dan berlaku secara tertentu atau memberikan informasi tertentu.
3. Memberikan kesempatan kepada responden untuk segera memperbaiki kesalahan dari data menantang suatu penafsiran yang barangkali salah.
4. Memberikan kesempatan bagi responden agar dapat memberikan data tambahan karena dengan memberikan ‘konsep’ tulisan peneliti, responden barangkali akan mengingat lagi hal-hal lain yang belum terpikirkan pada waktu yang lalu.
5. Memberikan kesempatan bagi peneliti untuk mengikhtisarkan hasil perolehan sementaranya yang memudahkannya untuk melangkah kepada analisis data.
6. Memberikan kesempatan untuk mengadakan penilaian terhadap keseluruhan kecukupan data secara menyeluruh dan mengeceknya dengan data dari pihak dirinya sendiri.
15. Uraian Rinci
Usaha membangun keteralihan dalam penelitian kualitatif jelas sangat berbeda dengan nonkualitatif dengan validitas eksternalnya. Dalam penelitian kualitatif hal itu dilakukan denga cara uraian rinci. Keteralihan bergantung pada pengetahuan seseorang peneliti tentang konteks pengirim dan konteks penerima. Dengan demikian peneliti bertanggung jawab terhadap penyediaan dasar secukupnya yang memungkinkan seseorang merenungkan suatu aplikasi pada penerima sehingga memungkinkan adanya pembanding.
Teknik ini menuntut peneliti agar melaporkan hasil peneltiannya sehingga uraiannya itu dilakukan seteliti dan secermat mungkin yang menggambarkan konteks tempat penelitian diselenggarakan. Jelas laporan itu harus mengacu pada fokus penelitian. Uraiannya harus mengungkapkan secara khusus sekali segala sesuatu yang dibutuhkan.

BAB IV
HASIL PENELITIAN
Dalam bab ini penulis akan mengemukakan temuan penelitian serta deskripsi data. Deskripsi data berupa deskripsi tentang bentuk kesepadanan dalam penerjemahan, deskripsi tentang strategi penerjemahan, deskripsi tentang bentuk pergeseran dalam penerjemahan dan deskripsi tentang penyimpangan dalam penerjemahan frasa verbal yang terjadi pada novel Things Fall Apart karangan Chinua Achebe.
10. Gambaran Umum tentang Fokus Penelitian
Sebelum penulis mendeskripsikan temuan penelitian secara khusus, penulis akan mengemukakan terlebih dahulu tentang deskripsi secara umum. Seperti yang sudah penulis paparkan di bab sebelumnya bahwa yang menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah teks dari bahasa sumber (BSu) dan teks bahasa sasaran (BSa) atau terjemahan dari novel “Things Fall Apart” karangan Chinua Achebe.
Novel ini mengisahkan seorang pria yang sepanjang hidupnya takut dianggap lemah. Dia adalah Okonkwo yang terobsesi menjadi pria sejati, pria yang kaya, kuat, dan dihormati. Munurutnya, dia telah melakukan segala yang harus diperbuatnya, termasuk membunuh anak asuhnya dan memukuli istri-istrinya. Tetapi semua pencapaiannya menghadapi tantangan nyata ketika misionaris Kristen mulai merambah benua Afrika. Perlahan mereka mencerabuti tradisi dan budaya kaum Ibo. Melucuti kekuasaan para pemimpinnya. Amarah Okonkwo memuncak, dia merasa inilah waktunya untuk membuktikan diri. Saatnya untuk berperang, melawan penindasan dan menjadikan dirinya pria sejati.
Novel ini diterjemahkan oleh Cahya Wiratama dan penyunting Hilmi Akmal. Novel “Things Fall Apart” ini juga adalah one of time’s best 100 novels dan telah terjual lebih dari 11 juta eksemplar dan diterjemahkan dalam 50 bahasa dunia salah satunya adalah bahasa Indonesia. Novel yang judulnya diambil dari puisi “The Second Coming” karya W.B. Yeats ini terbagi menjadi tiga bagian.
Di bagian pertama banyak dijelaskan mengenai riwayat Okonkwo dan keluarganya, juga kita akan diajak mengikuti rapat suku, upacara pernikahan dan upacara kematian yang diselenggarakan menurut adat istiadat yang berlaku di Umuofia. Bagian kedua menceritakan apa yang terjadi saat Okonkwo sekeluarga dibuang ke Mbanta, dan bagian ketiga menceritakan kisah saat mereka Sang pengarang, Chinua Achebe, lahir pada tahun 1930 dalam sebuah keluarga Kristen injili di Ogidi, Nigeria Timur, adalah seorang akademisi universitas yang pernah belajar ilmu kedokteran dan sastra, menekuni bidang broadcasting dan menulis berbagai novel, cerita pendek, esai, dan buku anak-anak.
Chinua Achebe dianugerahi berbagai gelar pendidikan dari berbagai penjuru dunia. Things Fall Apart, novel pertamanya yang ditulis dalam bahasa Inggris dan terbit pertama kali pada tahun 1958, diakui sebagai batu penjuru bagi sastra Afrika. Novel-novelnya yang lain juga memenangi berbagai penghargaan, dan Achebe meraih penghargaan Man Booker International Prize for Fiction pada tahun 2007.
Mengingat jumlah bab yang ada dalam novel tersebut sangat banyak sehingga penulis hanya memilih 50% dari 25 bab sehingga diambil hanya 12 bab sebagai sampel analisis. Sampel yang dipilih dianggap sudah memenuhi kriteria, kemudian dari 12 bab tersebut ditemukan 215 data yang unsur penerjemahan frasa verbal dalam bahasa sasaran. Dari 215 data tersebut diambil secara purposive 59 data sebagai sampel untuk dianalisis.

11. Temuan Penelitian
1. Deskripsi tentang Kesepadanan Frasa Verbal dalam Penerjemahan
Kesepadanan (equivalence) kerap kali digunakan dalam proses penerjemahan khususnya dalam kasus penggunaan struktur dan makna yang seluruhnya berbeda dari teks BSu selama fungsi situasi komunikasinya masih sama. Penerjemahan dengan metode ini biasanya digunakan ketika penerjemah menghadapi teks yang kompleks dengan bentuk-bentuk idiom dan pepatah. Bell (1991: 71) juga menyebutkan bahwa metode penerjemahan dengan metode kesepadanan adalah metode yang menekankan pada kesepadanan fungsi suatu unit linguistik seperti peribahasa, idiom, dan lain-lain.
Berdasarkan deskripsi data ditemukan bahwa bentuk kesepadanan dinamis merupakan bentuk yang paling banyak ditemukan dalam terjemahan novel “Thing Fall Apart”. Sedangkan bentuk penerjemahan kesepadan formal jarang ditemukan.
Mengingat jumlah bab yang ada dalam novel tersebut sangat banyak sehingga penulis hanya memilih 30% dari 25 bab sehingga diambil hanya 9 bab sebagai sampel analisis.
Berikut di bawah ini adalah temuan data yang mengalami bentuk kesepadanan frasa verbal dalam penerjemahan. Penulis tidak menemukan pendekatan penerjemahan frasa verbal menggunakan kesepadanan formal. Penulis sudah mengidentifikasi 215 penerjemahan frasa verbal pada bahasa sumber ke bahasa target. Dari 215 data yang peneliti temukan penerjemahan frasa verbal dari bahasa sumber ke bahasa target, penulis hanya mengambil 5 data untuk dijadikan sampel analis.
Adapun contohnya:
16. BSu : When he walked, his heels hardly touched the ground and he seemed to walk on springs, as if he was going to pounce on somebody. (h. 4)
BSa : Saat dia berjalan, tumitnya menyentuh tanah dengan keras dan dia seperti berjalan di atas pegas, seolah-olah dia hendak menerkam seseorang. (h. 4)

Penjelasan: Pada penerjemahan frasa verbal “to walk on springs” dipadankan menjadi “berjalan di atas pegas” menggunakan kesepadanan dinamis. Itu terlihat bahwa frasa verbal di dalam bahasa tetap dipertahankan menjadi frasa verbal dalam bahasa Indonesia. Dengan kesepadanan dinamis tersebut menjadikan penerjemahan bahasa sumber dan bahasa target menjadi sepadan.
17. BSu : Sometimes another village would ask Unoka’s band and their dancing egwugwu to come and stay with them and teach them their tunes. (h. 4)
BSa : Kadang-kadang desa lain meminta kelompok musik Unoka dan egwugwu mereka untuk datang dan menginap lalu mendendangkan lagu. (h. 5)
Penjelasan: pada penerjemahan frasa verbal “to come” dipadankan menjadi “untuk datang” menggunakan kesepadanan dinamis. Itu terlihat bahwa frasa verbal di dalam bahasa sumber (BSu) tetap dipertahankan menjadi frasa verbal dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian, kesepadanan dinamis tersebut menjadikan penerjemahan bahasa sumber (BSu) dan bahasa sasaran (BSa) menjadi sepadan.
18. BSu : He was poor and his wife and children had barely enough to eat. (h. 5)
BSa : Dia miskin, dan istri serta anak-anaknya hampir tidak cukup makan. (h. 6)
Penjelasan: Kemudian, pada penerjemahan frasa verbal “to eat” dipadankan menjadi “makan” menggunakan kesepadanan dinamis. Itu terlihat bahwa frasa verbal di dalam bahasa BSu tetap dipertahankan menjadi frasa verbal dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian, kesepadanan dinamis tersebut menjadikan penerjemahan bahasa sumber (BSu) dan bahasa target (BSa) menjadi sepadan.
19. BSu :I have come to pay you my respects and also to ask a favor. But let us drink the wine first.” (h. 19)
BSa : Aku telah datang untuk memberikan kehormatanku dan juga untuk meminta pertolongan. (h. 25)
Penjelasan: Selanjutnya, pada penerjemahan frasa verbal “to ask” dipadankan menjadi “untuk meminta” ini juga menggunakan kesepadanan dinamis. Itu terlihat bahwa frasa verbal di dalam bahasa BSu maknanya tetap dipertahankan menjadi frasa verbal dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian, kesepadanan dinamis tersebut menjadikan penerjemahan bahasa sumber (BSu) dan bahasa target (BSa) menjadi sepadan. Kemudian frasa verbal “to ask” mempunyai variasi makna yang terdapat di dalam kamus bahasa Inggris-Indonesia seperti “menanya kepada”, “menanyakan”, “minta”, “mengundang”.
20. BSu : I know what it is to ask a man to trust another with his yams, especially these days when young men are afraid of hard work. (h. 21)
BSa : Aku tahu rasanya berat meminta seseorang untuk mempercayai orang lain dengan ubi rambatnya, terutama sekarang, ketika lelaki-lelaki muda merasa takut terhadap kerja keras. (h. 21)
Penjelasan: Kemudian, pada penerjemahan frasa verbal “to ask” dipadankan menjadi “meminta” menggunakan kesepadanan dinamis. Itu terlihat bahwa frasa verbal di dalam bahasa BSu masih tetap dipertahankan menjadi frasa verbal dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian, kesepadanan dinamis tersebut menjadikan penerjemahan bahasa sumber (BSu) dan bahasa target (BSa) menjadi sepadan.
Tabel: Lampiran data yang menggunakan penerjemahan dinamis
No Teks Sumber (TSu) Teks Sasaran (TSa)
1 BSu : When he walked, his heels hardly touched the ground and he seemed to walk on springs, as if he was going to pounce on somebody. (h. 4) BSa : Saat dia berjalan, tumitnya menyentuh tanah dengan keras dan dia seperti berjalan di atas pegas, seolah-olah dia hendak menerkam seseorang. (h. 4)
2 BSu : Sometimes another village would ask Unoka’s band and their dancing egwugwu to come and stay with them and teach them their tunes. (h. 4) BSa : Kadang-kadang desa lain meminta kelompok musik Unoka dan egwugwu mereka untuk datang dan menginap lalu mendendangkan lagu. (h. 5)
3 BSu : He was poor and his wife and children had barely enough to eat. (h. 5) BSa : Dia miskin, dan istri serta anak-anaknya hampir tidak cukup makan. (h. 6)
4 BSu :I have come to pay you my respects and also to ask a favor. But let us drink the wine first.” (h. 19) BSa : Aku telah datang untuk memberikan kehormatanku dan juga untuk meminta pertolongan. (h. 25)
5 BSu : I know what it is to ask a man to trust another with his yams, especially these days when young men are afraid of hard work. (h. 21)
BSa : Aku tahu rasanya berat meminta seseorang untuk mempercayai orang lain dengan ubi rambatnya, terutama sekarang, ketika lelaki-lelaki muda merasa takut terhadap kerja keras. (h. 21)
2. Deskripsi tentang Strategi Penerjemahan
Berdasarkan verifikasi temuan data yang dilakukan oleh penulis, bahwa data yang menggunakan strategi penerjemahan harfiah sebanyak 215 data kemudian dari 215 data tersebut penulis tidak akan menampilkan keseluruhan data untuk di analisis namun penulis hanya menampilkan 5 data sebagai sampel untuk di analisis.
Adapun contohnya:
(1) BSu : Sometimes another village would ask Unoka’s band and their dancing egwugwu to come and stay with them and teach them their tunes. (h. 4)
BSa : Kadang-kadang desa lain meminta kelompok musik Unoka dan egwugwu mereka untuk datang dan menginap lalu mendendangkan lagu. (h. 5)

Penjelasan: Pada penerjemahan frasa verbal “to come and stay with them” yang di terjemahkan dalam bahasa target “untuk datang dan menginap” menggunakan strategi penerjemahan harfiah. Ini terlihat penerjemahan yang dilakukan dengan menerjemahkan frasa tersebut mempunyai makna yang sama dengan bahasa sumber (BSu) yang mana strukturnya sudah disesuaikan dengan bahasa sasaran (BSa).
(2) BSu : People laughed at him because he was a loafer, and they swore never to lend him any more money because he never paid back. (h. 5)
BSa : Orang-orang menertawainya karena dia seorang pemalas dan mereka bersumpah tidak akan pernah meminjamkan uang lagi kepadanya karena dia tidak pernah mengembalikan. (h. 6)
Penjelasan: Selanjutnya, pada penerjemahan frasa verbal “to lend him any more money” yang di terjemahkan dalam bahasa target “meminjamkan uang lagi” ini juga menggunakan strategi penerjemahan harfiah yang diungkapkan oleh Newmark (2009 91-103). Ini terlihat penerjemahan yang dilakukan dengan menerjemahkan frasa tersebut mempunyai makna yang sama dengan bahasa sumber (BSu) yang mana strukturnya sudah disesuaikan dengan bahasa sasaran (BSa).
(3) BSu : I have heard that many years ago, when his father had not been dead very long, he had gone to consult the Oracle. (h. 20)
BSa : Aku pernah mendengar bahwa bertahun-tahun yang lalu, tidak lama setelah ayahnya meninggal dunia, dia pergi meminta petunjuk Sang Dewa. (h. 26)
Penjelasan: Kemudian temuan data pada penerjemahan frasa verbal “to consult the Oracle” yang di terjemahkan dari bahasa sumber (BSu) ke bahasa sasaran (BSa) “Meminta petunjuk Sang Dewa” ini juga menggunakan strategi penerjemahan harfiah yang diungkapkan oleh Newmark (2009 91-103). Ini terlihat penerjemahan yang dilakukan dengan menerjemahkan frasa tersebut mempunyai makna yang sama dengan bahasa sumber (BSu) yang mana strukturnya sudah disesuaikan dengan bahasa sasaran (BSa). Disamping itu penerjemah menambah frasa “meminta” ke dalam bahasa sasaran “BSa” untuk menyempurnakan penerjemahan yang dilakukan oleh sipenerjemah.
(4) BSu : Nwakibie cleared his throat. “it pleases me to see a young man like you these days when our youth has gone so soft. (h. 21)
BSa : Nwakibie berdehem. “Aku senang melihat seorang pemuda seperti kau pada zaman ini, ketika para pemuda kita menjadi sangat lembek. (h. 28)
Penjelasan: Dalam temuan ini juga penerjemahan frasa verbal “to see young man like you these days” yang di terjemahkan dalam bahasa target “melihat seorang pemuda seperti kau pada zaman ini” ini juga menggunakan strategi penerjemahan harfiah yang diungkapkan oleh Newmark (2009 91-103). Ini terlihat penerjemahan yang dilakukan dengan menerjemahkan frasa tersebut mempunyai makna yang sama dengan bahasa sumber (BSu) yang mana strukturnya sudah disesuaikan dengan bahasa sasaran (BSa).
(5) BSu : Eneke the bird says that since men have learned to shoot without missing, he has learned to fly without perching. (h. 22)
BSa : Eneke si burung berkata bahwa sejak kaum lelaki belajar menembak tanpa meleset, dia telah belajar terbang tanpa bertengger. (h. 28)
Penjelasan: Dalam temuan ini juga penerjemahan frasa verbal “to shoot without missing” yang di terjemahkan dalam bahasa target “menembak tanpa meleset” ini juga menggunakan strategi penerjemahan harfiah yang diungkapkan oleh Newmark (2009 91-103). Ini terlihat penerjemahan yang dilakukan dengan menerjemahkan frasa tersebut mempunyai makna yang sama dengan bahasa sumber (BSu) yang mana strukturnya sudah disesuaikan dengan bahasa sasaran (BSa).
Tabel: Lampiran data yang menggunakan strategi penerjemahan
No Teks Sumber (TSu) Teks Sasaran (TSa)
1 BSu : Sometimes another village would ask Unoka’s band and their dancing egwugwu to come and stay with them and teach them their tunes. (h. 4) BSa : Kadang-kadang desa lain meminta kelompok musik Unoka dan egwugwu mereka untuk datang dan menginap lalu mendendangkan lagu. (h. 5)
2 BSu : People laughed at him because he was a loafer, and they swore never to lend him any more money because he never paid back. (h. 5) BSa : Orang-orang menertawainya karena dia seorang pemalas dan mereka bersumpah tidak akan pernah meminjamkan uang lagi kepadanya karena dia tidak pernah mengembalikan. (h. 6)
3 BSu : I have heard that many years ago, when his father had not been dead very long, he had gone to consult the Oracle. (h. 20) BSa : Aku pernah mendengar bahwa bertahun-tahun yang lalu, tidak lama setelah ayahnya meninggal dunia, dia pergi meminta petunjuk Sang Dewa. (h. 26)
4 BSu : Nwakibie cleared his throat. “it pleases me to see a young man like you these days when our youth has gone so soft. (h. 21) BSa : Nwakibie berdehem. “Aku senang melihat seorang pemuda seperti kau pada zaman ini, ketika para pemuda kita menjadi sangat lembek. (h. 28)
5 BSu : Eneke the bird says that since men have learned to shoot without missing, he has learned to fly without perching. (h. 22) BSa : Eneke si burung berkata bahwa sejak kaum lelaki belajar menembak tanpa meleset, dia telah belajar terbang tanpa bertengger. (h. 28)

3. Deskripsi tentang Bentuk Pergeseran Frasa Verbal dalam Penerjemahan

Dari 215 data yang peneliti temukan penerjemahan frasa verbal dari bahasa sumber ke bahasa target, penulis hanya mengambil 5 data untuk dijadikan sampel analis yang terjadi bentuk pergeseran dari bahasa sumber ke bahasa target.

Adapun contoh-contoh sebagai berikut:
(1) BSu : But after a while this custom was stopped because it spoiled the peace which it was meant to preserve.” (h. 31)
BSa : Namun, setelah beberapa lama adat ini dihentikan karena itu merusak kedamaian yang semestinya dipertahankan. (h. 40)
Penjelasan: Pada temuan data ini penerjemahan frasa verbal “to preserve” yang dipadankan ke dalam bahasa sasaran (BSa) memiliki makna “dipertahankan”. Kemudian, frasa verbal tersebut mengalami bentuk pergeseran makna dari aktif ke pasif. Disamping itu, pergeseran gramatika dari aktif ke pasif yang terjadi dalam frasa verbal tersebut tidak mengurangi kesepadanan makna. Ini terlihat penerjemah mampu menyesuaikan padanan kata yang sesuai dengan konteks kalimat.
(2) BSu : “Somebody told me yesterday,” said one of the younger men, that in some clans it is an abomination for a man to die during the Week of Peace.” (h. 31)
BSa : “Seseorang berkata kepadaku kemarin,” kata salah seorang lelaki yang lebih muda, “bahwa dalam beberapa klan adalah pantangan bagi seseorang untuk mati selama Minggu Damai.”
Penjelasan: Pada temuan data ini frasa verbal “to die” dalam bahasa sumber (BSu) dipadankan dalam bahasa sasaran (BSa) “untuk mati. Oleh karena itu, terdapat pergeseran kelas kata dari frasa verba ke nomina.
(3) BSu : Onyeka had such a voice; and so he was asked to salute Umuofia before Okika began to speak. (h. 202)
BSa : Onyeka memiliki suara seperti itu; maka dia meminta untuk memberi hormat kepada Umuofia sebelum Okieka mulai bicara. (h. 260)
Penjelasan: Kemudian, pada temuan data ini frasa verbal bahasa sumber (BSu) “to salute” yang di terjemahkan dalam bahasa sasaran (BSa) “untuk memberi hormat” mengalami pergeseran dari unit kata ke frasa. Perbedaan ini menyebabkan terjadinya pergeseran unit yaitu dari unit kata ke unit frasa.
4. Deskripsi tentang Penyimpangan Frasa Verbal dalam Penerjemahan
Selain ditemukan kesepadanan terjemahan frasa verbal bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia, dalam penelitian ini juga ditemukan penyimpangan-penyimpangan frasa verbal dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Kemudian, Dalam analisis penyimpangan frasa verbal dalam penelitian, penulis menggunakan acuan jenis-jenis penyimpangan yang di kemukakan oleh Newmark. Berikut ini adalah tabel deskripsi penyimpangan-penyimpangan penerjemahan frasa verbal bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia.
Dari beberapa data diatas penulis menemukan beberapa penyimpangan penerjemahan frasa verbal pada novel “Things Fall Apart” sebanyak data.
Berdasarkan verifikasi temuan data yang dilakukan oleh penulis, bahwa data yang mengalami penyimpangan sebanyak 10 data kemudian dari 10 data tersebut penulis tidak akan menampilkan keseluruhan data untuk di analisis namun penulis hanya menampilkan 4 data sebagai sampel untuk di analisis.
Berikut ini adalah contoh penyimpangan yang terjadi pada penerjemahan frasa verbal dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia.
a. Penyimpangan penerjemahan yang di sebabkan oleh pergeseran kalimat dalam penerjemahan
BSu : The cut bush was left to dry and fire was then set to it. (h. 32)
BSa : Semak-semak yang telah dipotong dibiarkan hingga kering kemudian dibakar. (h. 41)
Penjelasan: Pada penerjemahan frasa verbal “to dry and fire” dipadankan menjadi “dibiarkan hingga kering” mengalami penyimpangan penerjemahan. Itu terlihat bahwa frasa verbal di dalam bahasa sumber (BSu) menunjukkan bahwa terdapat peyimpangan penerjemahan. Dengan demikian, terjadi penyimpangan kesalahan kesapada gramatikal dan leksikal dan menjadikan penerjemahan bahasa sumber (BSu) dan bahasa sasaran (BSa).
b. Penyimpangan penerjemahan yang di sebabkan oleh frasa yang tidak diterjemahkan
BSu : Many young men have come to me to ask for yams but I have refused because I knew they would just dump them in the earth and leave them to be choked by weeds. (h. 22)
BSa : Banyak pemuda yang datang kepadaku meminta ubi rambat tetapi aku menolack karena aku tahu mereka hanya akan membuangnya ke dalam tanah dan membiarkannya di telan rumput-rumput liar. (h. 28)
Penjelasan: Selanjutnya, pada penerjemahan frasa verbal “to ask for yams” dipadankan menjadi “meminta ubi rambat” mengalami penyimpangan karena adanya teks bahasa sumber (BSu) yang tidak diterjemahkan ke dalam teks bahasa sasaran (Bsa) seperti frasa “for” yang padanan katanya dalam bahasa sasaran (Bsa) “untuk”. Dengan demikian, terjadi penyimpangan atau penghapusan frasa dalam kalimat sehingga menjadikan penerjemahan bahasa sumber (BSu) ke dalam bahasa sasaran (BSa) kurang tepat sasaran.
c. Penyimpangan penerjemahan yang di sebabkan oleh kesalahan kesepadanan gramatikal dan leksikal
BSu : And what is the result? Their clan is full of the evil spirits of these unburied dead, hungry to do harm to the living.” (h. 32)
BSa : Dan apa akibatnya? Klan mereka penuh roh jahat dari mayat-mayat tak terkubur itu, lapar untuk mengganggu orang-orang yang masih hidup.” (h. 41)
Penjelasan: Selanjutnya, pada penerjemahan frasa verbal “to do harm to the living” dipadankan menjadi teks bahasa sumber menjadi “untuk mengganggu orang-orang yang masih hidup” mengalami kesalahan kesepadanan gramatikal dan leksikal yang mana teks bahasa sumber “do” seharusnya dipadankan “melakukan, mengerjakan” diterjemahkan oleh sipenerjemah menjadi “mengganggu”. Dengan demikian, disini terjadi penyimpangan kesalahan kesepadanan gramatikal dan leksikal sehingga menjadikan penerjemahan bahasa sumber (BSu) dan bahasa sasaran (BSa) kurang sesuai.
d. Penyimpangan penerjemahan yang di sebabkan oleh frasa yang tidak diterjemahkan
BSu : Okonkwo brought the wine and they began to drink. (h. 137)
BSa : Okonkwo membawa tuak itu dan mereka mulai minum. (h. 176)
Penjelasan: Selanjutnya, pada penerjemahan frasa verbal “to drink” dipadankan menjadi teks bahasa sumber menjadi “minum” mengalami penyimpangan penerjemahan yang mana teks bahasa sumber “to” seharusnya dipadankan “untuk” tidak diterjemahkan. Dengan demikian, disini terjadi penyimpangan kesalahan penerjemahan sehingga menjadikan penerjemahan bahasa sumber (BSu) dan bahasa sasaran (BSa) kurang sempurna.
Tabel: Lampiran data penyimpangan penerjemahan frasa verbal dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia
No Teks Sumber (TSu) Teks Sasaran (TSa)
1 BSu : The cut bush was left to dry and fire was then set to it. (h. 32) BSa : Semak-semak yang telah dipotong dibiarkan hingga kering kemudian dibakar. (h. 41)
2 BSu : Many young men have come to me to ask for yams but I have refused because I knew they would just dump them in the earth and leave them to be choked by weeds. (h. 22) BSa : Banyak pemuda yang datang kepadaku meminta ubi rambat tetapi aku menolack karena aku tahu mereka hanya akan membuangnya ke dalam tanah dan membiarkannya di telan rumput-rumput liar. (h. 28)
3 BSu : And what is the result? Their clan is full of the evil spirits of these unburied dead, hungry to do harm to the living.” (h. 32) BSa : Dan apa akibatnya? Klan mereka penuh roh jahat dari mayat-mayat tak terkubur itu, lapar untuk mengganggu orang-orang yang masih hidup.” (h. 41)
4 BSu : That is why we ask your people to bring him down, because you are’ strangers. (h. 207) BSa : Itulah mengapa kami orang-orangmu untuk menurunkannya karena kalian orang asing. (h. 266)
5 BSu : “We have sent for strangers from another village to do it for us, but they may be a long time coming.” (h. 207) BSa : “Kami telah menyuruh beberapa orang dari desa lain untuk melakukannya, tetapi mereka tak juga datang.” (h. 266)
6 BSu : In that brief moment the world seemed to stand still, waiting. (h. 204) BSa : Seketika itu juga dunia seakan diam, menunggu. (h. 262)

BAB V
PEMBAHASAN TEMUAN PENELITIAN
Berdasarkan temuan penelitian pada novel Things Fall Apart yang telah dianalisis pada bab sebelumnya, maka pada bab ini akan dibahas hasil temuan tersebut yang kemudian dihubungkan dengan teori pada bagian masing-masing. Pembahasan ini akan dimulai dari bentuk kesepadanan frasa verbal dalam penerjemahan, strategi penerjemahan, bentuk pergeseran frasa verbal dalam penerjemahan, penyimpangan frasa verbal dalam penerjemahan dan metode penerjemahan. Dengan membahas dan menyimpulkan hasil penelitian ini diharapkan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan sebelumnya. Kemudian data dijelaskan satu per satu berdasarkan jenis atau kelompok data sebagai berikut:
5. Pembahasan tentang Kesepadanan Frasa Verbal dalam Penerjemahan
a. BSu : When he walked, his heels hardly touched the ground and he seemed to walk on springs, as if he was going to pounce on somebody. (h. 4)
BSa : Saat dia berjalan, tumitnya menyentuh tanah dengan keras dan dia seperti berjalan di atas pegas, seolah-olah dia hendak menerkam seseorang. (h. 4)
Pembahasan: Pada penerjemahan frasa verbal di dalam kalimat (a) “to walk on springs” dipadankan menjadi “berjalan di atas pegas” menggunakan kesepadanan dinamis. Itu terlihat bahwa frasa verbal di dalam teks bahasa sumber (BSu) tetap dipertahankan menjadi frasa verbal dalam bahasa Indonesia. Dengan kesepadanan dinamis tersebut menjadikan penerjemahan bahasa sumber dan bahasa target menjadi sepadan. Kemudian, penerjemahan frasa verbal yang telah diterjemahkan penerjemah menggunakan kesepadanan dinamis. Menurut Nida dan Taber kesepadanan dapat dibagi menjadi dua: yaitu kesesapadanan formal dan kesepadanan dinamis.
Selanjutnya, penerjemah lebih cenderung menggunakan kesepadanan dinamis dibandingkan dengan kesepadanan formal apa yang telah dipaparkan oleh Nida dan Taber. Kemudian dilihat dari konteks kalimat diatas frasa verbal dalam teks bahasa sumber (BSu) “to walk on springs” yang dipadankan “berjalan diatas pegas” berfungsi sebagai pelengkap subjek. Ini terlihat frasa verbal diatas menjelaskan keberadaan subjek dalam kalimat yang mana subjek kalimatnya dalam bahasa sumber adalah “dia”. Dilihat dari jenis kalimatnya, bahwa kalimat diatas tergolong dalam kalimat majemuk yang terdiri dari dua kalimat tunggal yang saling berhubungan baik koordinasi maupun subordinasi.
Selanjutnya Baker juga menjelaskan bahwa kesepadanan bisa muncul dalam berbagai tingkatan seperti (1) kata dan diatas kata seperti kolokasi (2) gramatikal, (3) tekstual, dan (4) pragmatik. Kemudian dia menjelaskan bahwa penerjemahan menyangkut pemilihan padanan yang paling mendekati untuk unit bahasa sumber (BSu) ke bahasa sasaran (BSa). Dengan merujuk pendapat Baker, penulis berkesimpulan bahwa frasa verbal yang diterjemahkan oleh penerjemah sudah mendekati dari teks bahasa sumber (BSu) sehingga tidak terjadi penyimpangan penerjemahan.
Menurut (Verhaar, 1970: 97) frasa verbal dalam teks bahasa sasaran berbeda dengan bahasa sumber. Dia berpendapat bahwa frasa termasuk bidang sintaksis karena menyangkut hubungan antar kata.
b. BSu : People laughed at him because he was a loafer, and they swore never to lend him any more money because he never paid back. (h. 5)
BSa : Orang-orang menertawainya karena dia seorang pemalas dan mereka bersumpah tidak akan pernah meminjamkan uang lagi kepadanya karena dia tidak pernah mengembalikan. (h. 6)

Pembahasan: Kemudian, pada frasa verbal yang terdapat teks bahasa sumber “to lend him any more money” yang dipadankan ke dalam teks bahasa sasaran “meminjamkan uang lagi” menggunakan kesepadanan dinamis dan strategi yang digunakan adalah strategi penerjemahan deskriptif. Ini terlihat makna frasa verbal yang terdapat dalam kalimat mempertahankan bentuk bahasa sumber (BSu) walaupun terdapat penghapusan frasa bahasa sumber (BSu) “any” yang seyogiyanya dipadankan “apa saja, yang mana saja, sembarang saja”. Ini berbanding terbalik dengan strategi penerjemahan dengan menggunakan penerjemahan harfiah sebab jika tidak dilakukan penghapusan frasa “any” maka terjemahannya akan terlihat kaku. Seperti yang diungkapkan oleh Larson bahwa penerjemahan itu sebagai pengalihan makna dari BSu ke dalam Bsa, dan dalam penglihan tersebut maknalah yang harus dialihkan dan dipertahankan sedengkan bentuk boleh diubah.
c. BSu : I have heard that many years ago, when his father had not been dead very long, he had gone to consult the Oracle. (h. 20)
BSa : Aku pernah mendengar bahwa bertahun-tahun yang lalu, tidak lama setelah ayahnya meninggal dunia, dia pergi meminta petunjuk Sang Dewa. (h. 26)
Pembahasan: pada frasa verbal “to consult the Oracle” yang dipadankan pada teks bahasa sasaran “meminta petunjuk Sang Dewa” menggunakan kesepadanan dinamis. Ini terlihat dari data diatas bahwa dengan kesepadanan dinamis tersebut menjadikan penerjemahan bahasa sumber dan bahasa target menjadi sepadan. Penambahan frasa “meminta” dalam teks bahasa sasaran tidak mengalami distorsi makna. Jika penerjemah tidak menambahkan frasa “meminta” dalam teks bahasa sasaran maka akan terlihat rancu dan tidak sesuai dengan konteks kalimat. Sementara itu, menurut Riazi mengelompokkan pendekatan terhadap penerjemahan menjadi (1) penerjemahan pada tataran kata, (2) penerjemahan pada tataran kalimat, dan (3) penerjemahan konseptual. Kalau dilihat dari temuan data diatas frasa verbal yang diterjemahkan dari teks bahasa sumber ke dalam teks bahasa sasaran menggunakan apa yang disebut Riazi penerjemahan pada tataran kata.
d. BSu : Nwakibie cleared his throat. “it pleases me to see a young man like you these days when our youth has gone so soft. (h. 21)
BSa : Nwakibie berdehem. “Aku senang melihat seorang pemuda seperti kau pada zaman ini, ketika para pemuda kita menjadi sangat lembek. (h. 28)
Pembahasan: Pada temuan data diatas frasa verbal dalam teks bahasa sumber “to see a young man like you these days” yang dipadankan dalam teks bahasa sasaran “melihat seorang pemuda seperti kau pada zaman ini” juga menggunakan kesepadanan dinamis. Kemudian pada frasa “young” yang seyogiyanya diterjemahakan “muda, kaum muda” mengalamai penghapusan makna. Jika penerjemah tidak melakukan penghapusan makna “muda, kaum muda” pada teks bahasa sasaran terjemahan ini akan terlihat kaku dan menghasilkan terjemahan yang tidak sesuai dengan teks bahasa sasaran.
2. Pembahasan tentang Strategi Penerjemahan
a. BSu : Sometimes another village would ask Unoka’s band and their dancing egwugwu to come and stay with them and teach them their tunes. (h. 4)
BSa : Kadang-kadang desa lain meminta kelompok musik Unoka dan egwugwu mereka untuk datang dan menginap lalu mendendangkan lagu. (h. 5)
Pembahasan: Pada penerjemahan frasa verbal “to come and stay with them” yang dipadankan dalam bahasa target “untuk datang dan menginap” menggunakan strategi penerjemahan harfiah. Ini terlihat penerjemahan yang dilakukan dengan menerjemahkan frasa tersebut mempunyai makna yang sama dengan bahasa sumber (BSu) yang mana strukturnya sudah disesuaikan dengan bahasa sasaran (BSa).
Menurut Machali memaparkan dan mengklasifikasikan lima strategi penerjemahan, antara lain: (1) pergeseran bentuk/transposisi, (2) pergeseran makna/modulasi, (3) pemadanan berkonteks, (4) adaptasi, (5) pemadanan bercatatan. Jika dilihat dari sisi strategi penerjemahan, strategi penerjemahan yang digunakan menggunakan strategi penerjemahan transposisi. Pada frasa verbal yang terdapat teks bahasa sumber (BSu) “to come and stay with them” yang dipadankan ke dalam teks bahasa sasaran (BSa) “untuk datang dan menginap” yang mana kata “them” maknanya di letakkan posisinya sebelum frasa verbal seperti yang terdapat dalam kalimat.
b. BSu : People laughed at him because he was a loafer, and they swore never to lend him any more money because he never paid back. (h. 5)
BSa : Orang-orang menertawainya karena dia seorang pemalas dan mereka bersumpah tidak akan pernah meminjamkan uang lagi kepadanya karena dia tidak pernah mengembalikan. (h. 6)
Pembahasan: Pada penerjemahan frasa verbal “to come and stay with them” yang dipadankan dalam bahasa target “untuk datang dan menginap” menggunakan strategi penerjemahan harfiah (literal translation). Ini terlihat penerjemahan yang dilakukan dengan menerjemahkan frasa tersebut mempunyai makna yang sama dengan bahasa sumber (BSu) yang mana strukturnya sudah disesuaikan dengan bahasa sasaran (BSa). Kemudian menurut Bell (1991: 71) bahwa penerjemahan harfiah adalah suatu menerjemahkan kata demi kata dan struktur sintaksisnya secara sama dan hampir sama baik jumlah maupun unsurnya (isomorfik) yang ada dalam teks bahasa sasaran dan teks bahasa sumber. Dari temuan data diatas frasa verbal dari bahasa sumber diterjemahkan dengan menggunakan strategi penerjemahan harfiah.
c. BSu : Eneke the bird says that since men have learned to shoot without missing, he has learned to fly without perching. (h. 22)
BSa : Eneke si burung berkata bahwa sejak kaum lelaki belajar menembak tanpa meleset, dia telah belajar terbang tanpa bertengger. (h. 28)
Pembahasan: Pada penerjemahan frasa verbal “to shoot without missing” yang dipadankan dalam bahasa sasaran“menembak tanpa meleset” menggunakan strategi penerjemahan harfiah (literal translation). Ini terlihat penerjemahan yang dilakukan dengan menerjemahkan frasa tersebut mempunyai makna yang sama dengan bahasa sumber (BSu) yang mana strukturnya sudah disesuaikan dengan bahasa sasaran (BSa). Kemudian menurut Bell (1991: 71) bahwa penerjemahan harfiah (literal translation) adalah suatu menerjemahkan kata demi kata dan struktur sintaksisnya secara sama dan hampir sama baik jumlah maupun unsurnya (isomorfik) yang ada dalam teks bahasa sasaran dan teks bahasa sumber. Dari temuan data diatas frasa verbal dari bahasa sumber diterjemahkan dengan menggunakan strategi penerjemahan harfiah (literal translation).

3. Pembahasan tentang Bentuk Pergeseran Frasa Verbal dalam Penerjemahan

a. BSu : When he walked, his heels hardly touched the ground and he seemed to walk on springs, as if he was going to pounce on somebody. (h. 4)
BSa : Saat dia berjalan, tumitnya menyentuh tanah dengan keras dan dia seperti berjalan di atas pegas, seolah-olah dia hendak menerkam seseorang. (h. 4)

Pembahasan: Pada penerjemahan frasa verbal “to pounce on somebody” yang dipadankan dalam bahasa sasaran “hendak menerkam seseorang” mengalami pergeseran pada tataran sintaksis kata ke frasa. Pada temuan data diatas teks bahasa sumber “to pounce on” diterjemahkan dalam teks bahasa sasaran “hendak mengalami” mengalami bentuk pergeseran gramatikal atau leksikal. Hal tersebut perlu dilakukan oleh penerjemah untuk menyesuai padanan kata-kata dalam teks bahasa sumber. Strategi penerjemahan yang dilakukan penerjemah untuk menerjemahkan teks bahasa sumber ke teks bahasa sasaran dengan menambahkan frasa “hendak” agar makna yang terkandung dalam konteks kalimat tidak rancu.
Dari temuan data diatas penerjemahan frasa “to pounce on” kedalam teks bahasa sasaran “hendak mengalami” sesuai dengan apa yang dipaparkan oleh Catford. menurut Catford menggunakan istilah (shift) yang ditulis dalam bukunya A linguistic Theory of Translation berpendapat bahwa bahwa pergeseran-pergeseran bahasa sebagai alat komunikasi yang berfungsi sebagai fungsional dalam konteks. Terjadinya pergeseran frasa verbal dalam teks bahasa sumber (BSu) ke dalam teks bahasa sasaran (BSa) menurut Catford disebabkan oleh perbedan sistem kebahasaan. Hal ini menunjukkan bahwa sistem kebahasaan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia mempunyai sistem kebahasaan yang berbeda.
b. BSu : The story was told in Umuofia, of how his father, Unoka, had gone to consult the Oracle of the Hills and the Caves to find out why he always had a miserable harvest. (h. 16)
BSa : Kisah yang tersebar di Umuofia adalah bahwa ayahnya, Unoka, telah meminta petunjuk sang Dewa, Penguasa Gunung dan Gua, untuk mencari tahu mengapa dia selalu memiliki panen yang menyedihkan. (h. 20)
Pembahasan: Pada penerjemahan frasa verbal “to find out why he always had a miserable harvest” yang dipadankan dalam teks bahasa sasaran “untuk mencari tahu mengapa dia selalu memiliki panen yang menyedihkan” mengalami pergeseran pada tataran sintaksis kata ke frasa. Pada temuan data diatas teks bahasa sumber “find out” diterjemahkan dalam teks bahasa sasaran “mencari tahu” mengalami bentuk pergeseran gramatikal atau leksikal. Hal tersebut perlu dilakukan oleh penerjemah untuk menyesuai padanan kata-kata dalam teks bahasa sumber. Strategi penerjemahan yang dilakukan penerjemah untuk menerjemahkan teks bahasa sumber ke teks bahasa sasaran dengan menambahkan frasa “tahu” agar makna yang terkandung dalam konteks kalimat sesuai.
Namun, apabila dilihat dari makna yang terdapat didalam kamus secara harfiah frasa “find out” disepadankan dengan makna “mengetahui, menyelidiki, mendapatkan keterangan”. Disini penerjemah mencoba untuk menyesuaikan budaya yang terdapat dalam teks bahasa sumber bahwa frasa “find out” disepadankan dengan “mencari tahu” agar pesan makna yang terdapat dalam teks bahasa sumber tidak rancu.
c. BSu : Onyeka had such a voice; and so he was asked to salute Umuofia before Okika began to speak. (h. 202)
BSa : Onyeka memiliki suara seperti itu; maka dia meminta untuk memberi hormat kepada Umuofia sebelum Okieka mulai bicara. (h. 260)
Pembahasan: Selanjutnya, pada penerjemahan frasa verbal yang terdapat dalam teks bahasa sumber “to salute” yang dipadankan dengan “memberi hormat” juga mengalami pergeseran bentuk gramatikal dan leksikal. Ini terlihat frasa “salute” mengalami pergeseran unit dari kata ke frasa yang diterjemahkan oleh penerjemah dalam bahasa sasaran sebagai “memberi hormat”. Pada temuan data yang terdapat diatas bahwa pergeseran yang terjadi adalah pergeseran kelas kata (class shift). Catford mengklasifikasikan empat jenis pergeseran yaitu: (1) pergeseran struktural, (structural shifts) (2) pergeseran kelas, (class shifts) (3) pergeseran unit, (unit shifts) (4) pergeseran intra-sistem (intra-system shifts). Dari klasifikasi pergeseran yang dipaparkan Catford diatas bahwa temuan data yang terdapat dalam frasa verbal mengalami pergeseran unit (unit shifts).

4. Pembahasan tentang Penyimpangan Frasa Verbal dalam Penerjemahan
e. Penyimpangan penerjemahan yang di sebabkan oleh frasa yang tidak diterjemahkan
BSu : A few moments later he went behind the hut and began to vomit painfully. (h. 28)
BSa : Beberapa saat kemudian Ikemefuna pergi kebelakang pondok dan muntah-muntah. (h. 35)
Pembahasan: Kemudian, pada temuan data yang terdapat pada teks bahasa sumber “to vomit painfully” yang dipadankan ke dalam teks bahasa sasaran “muntah-muntah” mengalami penyimpangan yang disebabkan karena ada frasa teks bahasa sumber yang tidak diterjemahkan oleh penerjemah sehingga pesan makna yang terdapat teks bahasa sumber kurang sempurna. Frasa “painfully” yang mempunyai padanan kata “menyakitkan” seharusnya diterjemahkan oleh penerjemah ke dalam teks bahasa sasaran. Pertimbangan perjemah untuk tidak menerjemahkan frasa “painfully” dianggap karena frasa “muntah-muntah” sudah dianggap representatif dalam teks bahasa sumber.
f. Penyimpangan penerjemahan yang di sebabkan oleh kesalahan kesepadanan gramatikal dan leksikal
BSu : And what is the result? Their clan is full of the evil spirits of these unburied dead, hungry to do harm to the living.” (h. 32)
BSa : Dan apa akibatnya? Klan mereka penuh roh jahat dari mayat-mayat tak terkubur itu, lapar untuk mengganggu orang-orang yang masih hidup.” (h. 41)
Pembahasan: Temuan data yang terdapat pada teks bahasa sumber (BSu) “to do harm to the living” yang dipadankan ke teks bahasa sasaran “untuk mengganggu orang-orang yang masih hidup” mengalami penyimpangan penerjemahan. Penyimpangan penerjemahan yang terjadi disebabkan karena penerjemah menggunakan strategi penerjemahan kata demi kata (word for word translation) sehingga pesan makna yang terdapat dalam teks bahasa sasaran mengalami kerancuan. Ini terlihat, penerjemah penerjemah sangat terikata pada struktur kata teks bahasa sumber tanpa mengubah susunan kata dalam terjemahannya.
Kata “lapar” dalam teks bahasa sumber menjadi rancu diterjemahkan ketika diposisikan sebelum kata “untuk mengganggu orang-orang yang masih hidup”. Seharusnya penerjemah harus melakukan strategi penerjemahan transposisi agar makna yang terkandung dalam teks bahasa sumber sesuai tanpa merubah bentuk yang terdapat dalam teks bahasa sumber.
BAB VI
SIMPULAN DAN REKOMENDASI
Pada bab VI ini penulis menyajikan kesimpulan dan rekomendasi yang berisi proporsi-proporsi gambaran pokok temuan tentang terjemahan frasa verbal dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Saran berisi rekomendasi terhadap pihak-pihak yang terkait langsung dengan temuan penelitian ini.
A. Simpulan
Berdasarkan analisis penerjemahan frasa verbal dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Bentuk kesepadanan dinamis lebih banyak digunakan dibandingkan dengan kesepadanan formal dalam penerjemahan frasa verbal dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia.
2. Mengenai strategi penerjemahan yang dipergunakan dalam penelitian ini, penerjemahan harfiah yang paling banyak digunakan dan paling efektif untuk menerjemahkan frasa verbal dalam novel “Things Fall Apart”.
3. Dari penelitian ini pun terdapat juga peyimpangan frasa verbal dari unit kata ke frasa. Kemudian peneliti jarang menemukan penyimpangan penerjemahan dari frasa ke kalimat dan kalimat ke wacana. Peneliti hanya menemukan penyimpangan penerjemahan karena ada frasa yang tidak diterjemahkan dalam konteks kalimat.
B. Rekomendasi
Sehubungan dengan hasil temuan dan pembahasan hasil temuan, maka perlu adanya pemberian saran secara praktis kepada para peneliti, guru atau dosen dan penerjemah.
Pertama, semua informasi yang terdapat dalam teks bahasa sumber pada terjemahan novel ini penting agar pesan bahasa sumber yang disampaikan bisa tercapai dalam teks bahasa sasaran. Maka penerjemah menerapkan teknik pengurangan (reduction) atau penghilangan (deletion) harus berhati-hati agar tidak mendistorsikan seperti yang terjadi pada data temuan diatas.
Kedua, bagi para mahasiswa program studi linguistik khsususnya yang konsentrasi dalam bidang penerjemahan disarankan untuk lebih meningkatkan kompetensi dengan tidak hanya menguasai teori-teori penerjemahan saja tetapi juga disertai dengan praktik-praktik penerjemah atau melakukan penelitan-penelitian yang terkait dengan bidang penerjemahan sehingga dapat meningkatkan kompetensi supaya dalam penerjemahan mereka dapat menghasilkan produk terjemahan yang memiliki akurasi tinggi.
Ketiga, bagi para peneliti, penelitian ini berguna untuk melihat penerjemahan frasa verbal dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Mengingat penelitian ini jarang dilakukan yang fokus membahas tentang penerjemahan frasa verbal dari bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia dalam novel “Things Fall Apart”. Kemudian, peneliti diharapkan agar dapat meningkatkan kompetensi baik dari bahasa sumber maupun bahasa sasaran serta penguasaan metode-metode penerjemahan sehingga memudahkan untuk melakukan penelitian dalam bidang penerjemahan. Tidak hanya itu, penulis juga menyarankan kepada para peneliti untuk melakukan penelitian lanjutan yang serupa dengan objek yang berbeda agar dapat menambah khazanah keilmuan di bidang penerjemahan khususnya dan lebih umum lagi pada bidang linguistik.
Keempat, bagi para dosen dan guru, dapat menerapkan metode pembelajaran analisis, kritis dan solutif dalam konsep penerjemahan. Sehingga rasa ingin tahun anak didik terhadap suatu objek penerjemahan dapat tergali dalam berbagai aspek. Hal inilah yang akan memicu perkembangan pola kritis dalam pembelajaran penerjemahan.
DAFTAR PUSTAKA

Baker, Mona. 1992. In Other Words: A Coursebook on Translation. London: Roultledge.
Baker, Mona & Saldanha, Gariela. 1998. Roudledge Encyclopedia of Translation Studies. USA & Canada : Roultledge.
Baker, Mona & Saldanha, Gariela. 1998. Roudledge Encyclopedia of Translation Studies. USA & Canada : Roultledge.
Bassnett, S. and A. Lafevere. 1990. Translation, History and Culture. London and NewYork: Pinter.
Bassnett, S. 1991. Translation Studies. London: Routledge.
Bell, Roger T. 1991. Translation and Translating: Theory and Practice. London: Longman.
Catford. 1965. A Linguistic Theory of Translation. New York: Oxford University Press.
Chomsky, Noam. 1957. Syntactic Structures. The Hague: Mounton.
Chomsky, Noam. 1965. Aspect of the Theory of Syntax. Cambridge: Cambridge University Press.
Fawcett, Peter. 1997. Translation and Language: Linguistic Theories Explained. United Kingdom: St. Jerome Publishing.
Hutchins, W.J. 1986. Machine Translation. Ellis Harwood, New York: Halsted Press.
Hatim, Basil & Munday, Jeremy. 2004. Translataion An Advanced Resource Book. London, New York: Routledge.
Hatim, B. dan I. Mason. 1990. Discourse and the Translator. London: Longman.
Hatim, B. dan I. Mason. 1997. The Translator as Communicator. London: Routledge.
Hatim, B. dan Jeremy, M. 2004. Translation: An advanced resource book. London: Routledge.
Moeliono, Anton M. (peny). 1988. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Moeleong, Lexi. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosda Karya.
Nababan, Rudolf. 1999. Teori Menerjeman Bahasa Inggris. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Newmark, p. 1981. Approach to Translation. Great Britain: A Wheaton & co.
Newmark, p. 1988. A Text book of Translation. New York: Prentice Hall.
Nida, E. 1964a. Toward a Science of Translating. Leiden: E.J. Brill.
Nida, E. dan C. Taber. 1969. The Theory and Practice of Translation. Leiden: E.J. Brill.
Sneddon, James. 2003. The Indonesian Language: Its History and Role in Modern Society. Sydney: Universiyt of New South Wales Press.
Stokes, Jane. 2006. How To Do Media and Cultural Studies. Bandung: Bentang.
Venuti, Lawrence. 2000. The Translation Studies Reader. London & Newy York: Roultledge.
Venuti, L (ed.) 1992. Rethinking Translation: Discourse, Subjectivity, Ideology. London: Routledge.
Venuti, L. 1995. The Translator’s Invisibilty: A history of Translation.
Vermeer, H. J. 2000. Skopos and Commission in Translation Action in Translation Studies Reader, ed. by Lawrence Venuti, London and New York: Routledge.
Weissbort, Daniel & Eysteinsson, Astradur. 2006. Translation Theory and Practice: A Historical Reader. New York: Oxford.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Hasrul Harahap lahir di Medan 28 Juli 1983. Putra kedua Aminullah Harahap dan Nurbainah Siregar menghabiskan masa kecilnya di Pematang Siantar. Penulis memperoleh gelar kesarjanaan dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Fakultas Sastra Inggris. Pelbagai prestasi akademik dan non-akademik pernah penulis raih sejak di bangku sekolah dasar hingga jenjang strata satu. Setelah melewati pendidikan di Universitas Islam Sumatera Utara Jurusana Sastra, penulis menempuh pendidikan Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta Jurusan Linguistik Terapan pada tahun 2010. Sejak tahun 2008, bersama kawan-kawan di Ibukota menjadi Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) periode 2008-2010 dan sejak tahun 2012 menjadi Dosen pengajar di Politeknik Negeri Jakarta. Selain sebagai Dosen di Politeknik Negeri Jakarta, pada tahun 2010 penulis juga menjadi Peneliti dan Konsultan Politik di Candidate Center yang banyak menggawein pemenanganan Pemilihan Kepala Daerah Bupati dan Walikota Se-Indonesia.
Diluar bidang akademik Hasrul Harahap seorang penulis yang subur. Penulis menerbitkan ratusan opini di pelbagai media cetak dan online. Penulis juga menjadi pembicara di pelbagai forum formal dan informal. Beberapa artikel dan opini yang terbit di media cetak antara lain: Korupsi Ancam Demokrasi, Dampak Globalisasi terhadap Perekonomian, Kemandirian Sebuah Bangsa, Kontroversi Remisi Koruptor, Korupsi dan Masa Depan Sumatera Utara, Mahalnya Lebaran, Masa Depan KPK, Menunggu Reshuffle Kabinet, Masalah Pendidikan Kita, Sampai Dimana Peran Negara, Pindahkan Ibukota, Krisis Korea dan Momentum Berbenah Diri, Puasa Menuju Kemenangan, Globalisasi dan Liberalisasi Ekonomi, Lebaran, Konsumerisme dan Kemiskinan, Bersama Melawan Kemiskinan, Intoleransi dan Disintegrasi Bangsa, Zona Nyaman Koruptor, Terorisme dan Perang Intellijen, Moratorium Pahlawan Devisa, Masa Depan Partai Islam, HUT Zionis Israel, Demokrasi atau Gerontokrasi, Pendidikan yang Membebaskan, Mempertimbangkan Caleg Artis, Sumpah Pemuda dalam Perspektif Kekinian, Belajar dari India, Menatap Tantangan Masa Depan, Indonesia 2050, Masalah Pendidikan Kita dan banyak lagi artikel yang tak bisa penulis tuliskan satu persatu yang telah dimuat di media cetak dan online.
Penulis yang hobi membaca dan menulis ini aktif di organisasi intra dan ektra kampus salah satu organisasi ekstra yang digeluti penulis adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) hingga penulis di amanahkan menduduki jabatan strategis dari komisariat hingga Pengurus Besar HMI di Jakarta. Semua jenjang pengkaderan di HMI di ikuti mulai dari LK I (Basic Training), LK II (Intermediate Training), dan LK III (Advanced Training), kemudian aktif mengikuti seminar nasional dan internasional. Setelah selesai menjadi Pengurus Besar HMI pada tahun 2010, kini banyak jabatan organisasi yang disandangnya mulai dari pengurus DPP dan DPD KNPI DKI Jakarta Periode 2011-2014. Penulis dapat dikontak melalui e-mail: hasrul_hrp@yahoo.com dan telepon seluler 081396937433.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: