HMI ditengah Keummatan dan Kebangsaan

May 7, 2013

DUA dekade terakhir ini, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yanglahir di Yogyakarta 5 Februari 1947, terus dihujani kritik seputar krisis nilaidalam dinamika empirik organisasi dan macetnya proses reproduksi intelektual yang mengakibatkan miskinnya kritisisme. Sehubungan dengan kondisi itu, para aktivis HMI perlumelakukan refleksi, kontemplasi, dan resolusi, guna memulihkan kredibilitas HMIuntuk Indonesia yang lebih baik. Bagaimanapun, HMI telah memberikan andil dalam perjuangan mempertahankan dan mengisi kemerdekaan, sejak lahir hingga kini.

Kritik-kritik yang mengemuka hendaknya dapat memotivasi pengurus, aktivis, dan kader HMI untuk bangkit kembali sebagai organisasi kaderbernapaskan Islam, yang berwibawa dan kredibel. HMI harus menegaskan kembalikiprahnya sebagai organisasi kemahasiswaan tertua dan terbesar, yang menjadi laboratorium kepemimpinan umat dan bangsa. Konsekuensinya, organisasi itu harusjadi parameter bagi organisasi kemahasiswaan lainnya, dan dituntut inovatif,serta berani menjadi pelopor perubahan. Sebagai komunitas terdidik, HMI harus memiliki kemampuan menawarkan berbagai alternatif pemikiran menyangkut masalah-masalah umat danpembangunan. Hal itu akan memberi pencerahan bagi berkembangnya wacana demokratisasi dan peradaban baru berbasis nilai. Bahkan, sudah saatnya HMI berkiprah dalam event internasional dan go global.

Potensi HMI tersebar di 190 kabupaten/ kota (cabang) dengan17 badan koordinasi (badko), tiga badan khusus tingkat nasional (badanpengelola latihan, badan penelitian dan pengembangan, serta Korps HMI-wati),dan beberapa lembaga kekaryaan/ lembaga pengembangan profesi, didukung olehsuatu majelis pekerja kongres (MPK) yang bertugas memantau pelaksanaanhasil-hasil kongres. Namun, perannya nyaris tak dirasakan masyarakat, bangsa,dan negara

Reproduksi Intelektual

Dies natalis HMI merupakan momen yang tepat untuk melihatkembali perjalanan organisasi itu guna memperbarui gagasan keagamaan dalamrangka pengembangan intelektualisme Islam di Indonesia. Yakni, menemukan pesan agamadalam konteks perkembangan sosial, budaya, dan ekonomi terkini.
Ada kecenderungan tidak sehat, yaitu saat kebijakan pembangunan ekonomi melahirkan pelapisan sosial yang makin tajam. Sementara itu, sistem politik menyulap artis dan pengusaha menjadi penguasa. HMI dalam keadaan demikian bertugas menumbuhkan kesadaranumat untuk menjadi apa yang disebut oleh Hans-Dieter Evers sebagai strategic group (kelompok strategis), yang bertujuan mematahkan kekuatan the ruling class yang hendak memengaruhi pemerintah dan kekuatan sosial politik demi kepentingan kelasnya sendiri.

Rasanya tidak mustahil jika HMI dapat menjalankan misi itu,karena sekarang makin banyak orang Islam, khususnya alumnus HMI, memasukijaringan pemerintahan dan berbagai kelompok kepentingan dalam masyarakat. Tentusaja pemikiran keagamaan Islam perlu terus menerus direkonseptualisasi dan diaktualisasikan dalam berbagai bidang kehidupan untuk menghadapi berbagai persoalan aktual lainnya. Meningkatnya pendidikan umat Islam di berbagai bidang keilmuan sangat memungkinkan perumusan konsep-konsep baru yang bermanfaat bagi masyarakat. Persoalannya, kiprah HMI secara kelembagaan yang nyatamenyentuh kebutuhan masyarakat belum banyak dirasakan. Organisasi itu berkesanelitis dan eksklusif, karena para aktivisnya sibuk dengan dirinya sendiri.Padahal, mestinya potensi HMI yang terdiri atas beragam bidang keilmuan dapat disinergikan lebih optimal lagi melalui lembaga-lembaga pengembangan profesi yang dimilikinya.

Pelatihan Profesional

Lewat lembaga pengembangan profesi HMI, berbagai masalahnasional dan internasional dikaji bersama; juga masalah-masalah keilmuan. Berbagai temuan baru diharapkan muncul dari agenda itu, dan dapat dijadikansolusi alternatif bagi masyarakat dan pengambil kebijakan. Tidak menutup kemungkinan untuk saling bekerja sama dengan komunitas eksternal gunameningkatkan kualitas pengabdian. Selama ini, hubungan HMI dan para alumnusnya dirancang melalui lembaga kekaryaan. Para senior sesuai dengan profesinya dapat membimbing anggota HMI secara profesional, misalnya di bidang kesehatan,dakwah, advokasi, dan jurnalistik. HMI sebagai wadah pelatihan profesional,dengan demikian kualitas kadernya juga akan dapat ditingkatkan.

Sosok kepribadian HMI adalah sejalan dengan paradigma yangditanamkan kepada setiap anggota, bahwa HMI adalah kader umat dan kader bangsadengan memadukan keislaman dan keindonesiaan. Karenanya, HMI tidak bolehmenyendiri sebagai kekuatan politik; apalagi menjadi onderbouw partai politikatau membawa kepentingan politik tertentu. HMI sebagai organisasi dilarang melakukan politik praktis, terlepas bahwa banyak alumnusnya yang jadi politikusdan petinggi negara melalui jalannya sendiri-sendiri. Politik HMI adalah politik kaum intelektual yang merupakanterjemahan dari kritisisme, etos transformatif, serta dibingkai oleh etika danmoralitas. Politik HMI bukan politik kekuasaan, melainkan politik kemanusiaanyang sarat dengan nilai.

Ke depan, HMI diharapkan semakin kokoh dalam menjalankantugasnya sebagai institusi yang nasionalis-agamis. Meskipun HMI bukan partai politik, namun harus tetap peka terhadap persoalan-persoalan politik yangberkembang, serta menyikapinya secara cerdas dan bernas. Semua itu dalam kerangka mewujudkan tujuan HMI, yakniterbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernapaskan Islam, danturut serta mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridai Allah SWT. Beberapa strategi telah dicanangkan dalam Program KerjaNasional (Prokernas) HMI 2006-2010, yang diarahkan untuk pencapaian tujuan organisasi secara terpadu, bertahap, dan berkesinambungan Penjabarannya meliputi tiga tahap; 

Pertama, peningkatan implementasi ajaran Islam;peningkatan sistem pembinaan anggota; restrukturisasi dan peningkatan kualitas aparat organisasi; peningkatkan intelektualitas dan profesionalitas kader;peningkatan keberadaan HMI khususnya di kampus-kampus excellent, kemahasiswaan,dan kepemudaan; serta peningkatan peran kritis HMI-wati.

Kedua, peningkatan peran kritis dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara; peningkatan peran dan partisipasi dalam menegakkan nilai-nilai demokrasi dan hak asasi manusia (HAM); serta mengawal dan memandu jalannya reformasi bangsa Indonesia.

Ketiga, penempatan dan pengembangan semua bidang dalam prosesaktualisasi organisasi dalam peningkatan daya saing bangsa (nationalcompetence) di tengah dinamika internasional.
Alhasil, HMI harus berupaya bangkit dari titik terendahsiklus hidup sebuah organisasi, dalam era transisi demokrasi Indonesia yangmenuntut concern pada proses dan penguatan kelembagaan, bukan personal.Membangun soliditas organisasi dan pengurus di tengah memudarnya citra organisasi, dengan membuat sesuatu yang berbeda dan unik untuk mengukir sejarah masa depan yang gemilang.

Penulis adalah Peneliti di Candidate Center

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: