SOSIAL MEDIA & GENERASI MUDA

October 3, 2011

Ditulis dalam rangka mengikuti lomba “Writing Competition” di Indonesia Young Netizen Day 2011 di Jakarta

Semua peristiwa besar di negara ini disosialisasikan lewat media, baik peristiwa itu seperti kebangkitan nasional, sumpah pemuda saat itu. Tokoh-tokoh kebangkitan nasional ini juga menerbitkan buku, seperti Medan Priaji dan buku-buku lain. Gerakan mereka ini dikawal oleh media. Dengan ini, maka ada sebutan pers perjuangan. Meskipun ada yang mengatakan dengan sinis, pers perjuangan lalu menjadi alat perjuangan, tapi pers ini adalah menyertai perjuangan Indonesia. Saat ini setelah Indonesia merdeka peranan media menjadi sangat penting karena komunikasi ini, bukan hanya secara tatap muka tetapi lewat media yang semakin mutahir seperti Facebook, Twitter, Surat Kabar, Radio, Televisi, Internet, Handphone, dan jaringan online lainnya. Kemudian dari media diatas memiliki karakteristik tersendiri. Seperti yang kita ketahui bahwa peranan media seperti yang disebutkan diatas tadi memiliki peranan yang sangat penting dalam mengawal perjuangan bangsa bahkan yang paling lama. Media erat sekali dengan perjalanan sebuah bangsa karena bisa menjadi saksi hidup sejarah sebuah negara. Pada era sekarang ini, informasi itu adalah interaktif, bukan satu arah, sehingga terjadi sebuah komunikasi. Karena itu, media tidak bisa berjalan sendiri, media yang merupakan salah satu referensi pusat informasi harus menyuguhkan fakta-fakta aktual yang bermanfaat bagi publik. Setiap media setidaknya harus memiliki editorial policy atau politik pemberitaan atau kebijakan pemberitaan yang yang mempunyai warna tersendiri. Fakta adalah fakta, tetapi interpretasi terhadap fakta bisa bermacam-macam. Klasik memang klasik, ia akhirnya menjadi kontrol terhadap kekuasaan. Itulah sebabnya mengapa kekuasaan harus dikontrol dalam negara yang menganut paham demokrasi.

Sosial Media dan Kekuasaan
Dalam konteks demokrasi yang semakin liberal peranan sosial media sangat diperlukan dalam mengontrol kekuasaan, karena salah satu pilar demokrasi yang terpenting adalah bagaimana peranan media dalam melihat fakta-fakta yang ada. Kontrol ataupun informasi yang diberikan oleh media seyogiyanya harus dilandaskan secara objektif sehingga dengan kontrol tersebut setidaknya akan terjadi perbaikan bagi sebuah bangsa. Kemudian peranan sosial media tidak hanya dilihat dari informasi yang diberitakan ke publik saja tetapi juga sejauh mana sosial media itu bermanfaat di akses oleh publik. Ketika masyarakat semakin maju dan informasi menjadi global, publik dapat dapat mengakses peristiwa dimanapun dia berada. Disamping itu, setiap peristiwa yang serentak diketahui didunia setidaknya akan menimbulkan reaksi dari pembacanya, sehingga peristiwa itu menjadi interaktif. Kongkretnya, misalnya Amerika mengeluarkan kebijakan keuangan yang berdampak terhadap ekonomi di negara yang berkembang secara otomatis kita yang menjalin hubungan kerjasama bilateral dengan AS pasti akan memberikan reaksi terhadap kebijakan Amerika tersebut. Perkembangan media saat ini makin mengalami kompetisi yang ketat dengan media elektronik. Seperti yang kita ketahui kalau media elektronik lebih cenderung lebih pasif sementara media cetak lebih cenderung aktif sehingga informasi-informasi yang ada dimedia elektronik lebih aktual dibandingkan media cetak. Kalau saja media cetak tidak melakukan perbaikan-perbaikan dan memberikan informasi yang aktual ke publik maka media tersebut tidak berarti apa-apa dalam membangun sebuah demokrasi dan memberikan informasi yang upto date.

Sumpah Pemudah
Proklamasi Kemerdekaan adalah sebuah peristiwa tetapi sekaligus adalah perwujudan dari cita-cita yang selama ini dipupuk dengan penuh pengorbanan. Jadi tidak perlulah diherankan kalau Proklamasi Kemerdekaan tidak hanya dirasakan sebagai suatu “peristiwa sejarah”, yang terjadi disuatu saat dan disuatu tempat tetapi lebih sering dirasakan sebagai mitos purba yang menjadi paradigma dalam memahami dinamika dan struktur kehidupan bangsa. Meskipun berbeda wujud dan prosesnya tetapi termasuk dalam “kategori peristiwa” yang sama dengan Proklamasi Kemerdekaan “Sumpah Pemuda”. Barulah sekian tahun kemudian pernyataan yang dibacakan di saat penutupan Kongres Pemdua Indonesia II, 28 Oktober 1928 disebut sebagai “Sumpah Pemuda”. Peristiwa penutupan kongres yang telah membuat keputusan untuk membubarkan organisasi pemuda kedaerahan dan membentuk perkumpulan yang bernama Indonesia Muda tetapi “dihiasi” oleh pernyataan yang berwujud formula seperti sumpah peristiwa yang dipilih sebagai simbol dari cita-cita perjuangan. “Sumpah Pemuda” tidak memperkenalkan sesuatu yang baru dalam pemikiran dan cita-cita politik, tetapi peristiwa ini berkata banyak tentang hal lain yang sangat significant. Pertama, peristiwa ini adalah pernyataan akan keharusan kontinuitas dalam perkembangan nasionalisme yang mengatasi ikatan etnis, daerah, agama dan sebagainya. Kedua, seketika kata “Indonesia” telah disebut secara tegas maka ketika itu pula sesungguhnya tekad kearah “kemerdekaan bangsa” telah dijadikan sebagai landasan cita-cita yang otentik. Ketiga, seketika “Sumpah Pemuda” diucapkan para wakil generasi muda yang terpelajar itu maka “jalan kembali” ke situasi lama secara konseptual dan ideologis telah tertutup rapi. Keempat, ketika “bahasa Indonesia” telah diakui sebagai “bahasa persatuan” bukan saja sebuah alat komunikasi nasional yang tunggal ingin diteguhkan, demokratisasi dalam hubungan sosialpun dipatrikan pula. Bukanlah “bahasa melayu” yang dijadikan bahasa Indonesia itu pada dasarnya hanya menyediakan beberapa kosa kata untuk menunjukkan penghormatan bagi “orang atasan” tetapi tidak mengenal tingkat-tingkat bahasa? Kelima, setelah “Sumpah Pemuda” ketika kehadiran sebuah bangsa dirasakan sebagai suatu “realitas” pencarian tatanan masyarakat, politik, bahkan kebudayaan baru semakin diperdebatkan dengan intens.

Generasi Muda Penerus Bangsa
Bangsa Indonesia itu pada dasarnya adalah cinta persatuan. Oleh karena orang-orang Indonesia itu berjiwa cinta kepada sesame, yang dilandasi rasa tepa selira. Dengan demikian maka dalam hidup bermasyarakat berperilaku asah, asih, dan asuh terhadap sesame dapat hidup bergotong-royong (reciprocal relations) yang merupakan keterpaduan dengan kesatuan. Sikap dan prilaku demikian itu dilandasi pula oleh keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Mengenal satu sama lain, berarti saling sayang menyayangi. Bukanlah orang yang tiada mengenal tidak akan dapat timbul rasa saying, ada ungkapan yang berbunyi: “Tiada kenal, maka tiada sayang. Perilaku yang demikian itulah yang mewujudkan sikap dan perilaku bangsa Indonesia pada umumnya untuk selalu berusaha melahirkan persatuan dan kesatuan. Sikap dan perilaku tersebut mewujudkan adanya manusia-manusia Indonesia yang pada umumnya berbudi pekerti luhur dan beradab dan kasih sayang pada sesamanya. Itulah sebabnya seharusnya pemuda Indonesia harus mempunyai karakter apa yang disebutkan diatas. Berhubung dengan itu maka individu-individu manusia Indonesia sebetulnya adalah merupakan manusia yang mempunyai kesadaran akan diri pribadi, namun tiada lepas dari orang-orang lain di sekitarnya dan di sekelilingnya. Individualisme manusia Indonesia sebagai orang di waktu-waktu yang lampau merupakan individualisme dengan berkesadaran yang tidak hanya sebagai makhluk sosial (zoon politicon), akan tetapi lebih daripada itu adalah berkesadaran bahwa manusia yang satu ini merupakan bagian dari Kesatuan yang besar bersama-sama dengan manusia-manusia lainnya. Ada beberapa hal yang harus dilakukan kelompok generasi muda agar mendorong majunya Indonesia yang lebih bermartabat:
1. Pemuda janganlah bersikap acuh tak acuh (igonorance) terhadap kejadian-kejadian di tanah air kita, meskipun hal itu tidak menyangkut langsung diri kita.
2. Bersikaplah kritis dan “innovative” terhadap segala kejadian itu dengan selalu melakukan penafsiran yang baik (ethical interpretation) dan penilaian yang benar (just evaluation) dan barulah merespon secara baik (creative).
3. Pemuda harus berprilaku yang baik sehingga orang mau mempercayai dan menuruti dengan tidak ragu-ragu. Menurut Alcoft dikatakan: Fine manners are the mantle of fair minds”, yang maksudnya adalah bahwa tingkah laku yang baik adalah merupakan baju daripada hati yang baik dan jujur. Yong juga mengatakan: “Goede manieren zijn de bloem van het gezonde verstand”, maksudnya adalah perilaku yang baik adalah bagaikan bunga dari pikiran yang sehat.
4. Pemuda harus bergerak terus dan jangan berhenti dalam perjuangan pembangunan bangsa dan Negara, meskipun bentuknya berubah-rubah sesuai dengan kondisinya, baik “internal condition” maupun “external condition” nya.
5. Berjuang dan bergeraklah terus membangun Indonesia tercinta ini dengan tetap memegang prinsip pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sekalipun langkah-langkah dan nilai-nilai dalam kegiatan harus disesuaikan dengan keadaan yang terus berkembang.


*Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta dan Peneliti di Candidate Center

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s