VIRUS MENGANCAM NKRI

September 26, 2011

Lagi-lagi ledakan bom bunuh diri di Solo 25/09/12 sekitar pukul 10.00 WIB memakan korban jiwa satu orang. Hingga saat sekarang total korban luka-luka sebanyak 28 orang dan dirawat di Rumah Sakit dr Oen Solo, 14 orang yang mengalami luka-luka serpihan bom harus di rawat inap sementara sisanya dipulangkan kerumahnya masing-masing. Motif bom bunuh diri yang dilakukan seorang diri ini diduga hampir sama dengan insiden bom bunuh diri beberapa waktu lalu terjadi dikota Cirebon tepatnya dilakukan di Mesjid Polresta Cirebon. Menurut beberapa informasi media online Jakarta pelaku bom bunuh diri ini mengaku berasal dari Kota Bandung bahkan sempat makan dan ngenet di sekitar lokasi kejadian. Sudah dipastikan pelaku bom bunuh diri tersebut jauh-jauh sebelumnya sudah melakukan pemetaan (mapping) terhadap sasaran yang akan menjadi target operasi. Insiden yang sangat memprihatinkan ini salah satu bentuk absennya kehadiran negara dalam menjaga masyarakatnya dalam memberikan rasa aman. Padahal dalam konstitusi negara kita sudah diatur secara detail dan tegas bahwa setiap warga Negara tanpa terkecuali dilindungi dalam menjalankan aktivitas agamanya masing-masing. Berapa banyak para tersangka terorisme yang telah dijatuhi hukuman berat bahkan hukuman mati oleh pihak pengadilan tetapi tidak meredam sedikitpun bahwa ancaman teror setiap saat akan terjadi kapanpun. Itulah sebabnya NKRI sebagai negara yang rawan akan target terorisme menjadi tantangan kita bersama khususnya pemerintah bahwa perilaku terorisme merupakan kejahatan yang tidak bisa ditolerir dengan dalil apapun.

Awal Mula Terorisme
Kata “terror” masuk dalam kosa kata politis pada Revolusi Prancis. Di akhir abad 19, awal abad ke 20 dan menjelang Perang Dunia II, terorisme menjadi teknik perjuangan revolusi. Misalnya, dalam rezim Stalin pada 1930-an disebut pemerintahan teror. Di era Perang Dingin teror dikaitkan dengan ancaman senjata nuklir. Terorisme merupakan fenomena yang lazim dalam masyarakat demokratis, liberal dan sebuah pemerintahan yang mengalami transisi. Teroris memanfaatkan kebebasan di masyarakat. Di negara totaliter atau otoriter situasi keamanan lebih terkendali. Kalau toh ada teror, bisa jadi hanya teror oleh negara. Sejauh rakyat patuh terhadap rezim yang berkuasa, keamanan mereka terjaga. Bandingkan keamanan waktu di bawah kontrol Presiden Saddam Husein ata era komunis Uni Soviet dengan kondisi sekarang yang marak ledakan bom. Terorisme pada tahun 1970 beragam fenomena, dari bom yang meledak di tempat-tempat publik sampai dengan kemiskinan dan kelaparan. Biasanya pemerintah diktator menstigma musuh-musuhnya sebagai teroris dan aksi-aksi mereka disebut terorisme. Istilah terorisme jelas berkonotasi peyoratif, layaknya genosida sehingga rentan dipolitisasi. Kekaburan definisi membuka peluang penyalahgunaan, mengingat tidak lepas dari keputusan politis. Dalam sejarah kehidupan manusia, teror adalah fenomena klasik. Menakut-nakuti, mengancam, member kejutan kekerasan atau membunuh dengan maksud menyebarkan rasa takut adalah taktik yang melekat demi merebut kekuasaan, jauh sebelum disebut dengan teror atau terorisme. Menurut Muladi (2002) tindak pidana terorisme dapat dikatekorikan “mala perse” atau “mala in se,” bukan “mala prohibita”. “Mala per se” adalah kejahatan atas nurani (crime against conscience), menjadi jahat bukan karena diatur atau dilarang undang-undang, tetapi memang tercela (natural wrong atau acts wrong in themselves). Siapapun pelakunya dan apa pun motif dibalik tindakan teror, tidak bisa ditolerir. Tindakan itu merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary crime). Aksi teror pada ruang publik dipandang sebagai kejahatan, bukan semata-mata tindakannya, namun juga pada dampak lanjutan yang diakibatkannya. Di samping menimbulkan ketakutan, peristiwa teror, bom dan jenis kekerasan aneka motif sentimen di masyarakat antara pro dan kontra sehingga berpotensi memicu konflik sosial lebih lanjut. Karena itu terorisme merupakan kejahatan luar biasa terhadap kemanusiaan dan peradaban. Terorisme menjadi ancaman bagi manusia dan musuh dari semua agama. Perang melawan terorisme menjadi komitmen bersama yang telah disepakati berbagai negara. Terorisme termasuk ke dalam kekerasan politis (political violence), seperti kerusuhan, huru-hara, pemberontakan, revolusi, perang saudara, gerilya, dan pembantaian. Namun terorisme tidak selalu politis, misalnya penyanderaan yang dilakukan psikopat. Hard-core kelompok teroris adalah fanatikus yang siap mati. Teroris tampaknya adalah seorang pribadi narsistis, dingin secara emosional, asketis, kaku, fanatik, dan seterusnya. Tipe personalitas pra-teroris ini cocok dengan gerakan totaliter, sistem tertup dan sekte. Jika dicermati teror itu sendiri sesungguhnya merupakan pengalaman subyektif sebab setiap orang memiliki ambang batas ketakutan. Ada orang bisa bertahan meski lama dianiaya, namun ada orang cepat panik. Didalam dimensi subyektif inilah terdapat peluang kesewenangan stigmatisasi atas pelaku terorisme.

Dampak Terorisme
Aksi terorisme selain berpengaruh luar biasa pada ketakutan publik, dalam sistem kenegaraan, aksi terorisme juga berdampak jauh pada hampir semua bidang kehidupan seperti ideologi, ekonomi, politik, pertahanan keamanan bahkan agama. Persepsi atau opini yang dibangun bahwa ditengah-tengah masyarakat internasional Osama bin Laden merupakan musuh nomor satu bagi Amerika Serikat beserta organisasi Al Qaedah karena dianggap sebagai kelompok yang anti terhadap kapitalisme dan kebijakan-kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Tetapi disamping itu dikalangan tertentu Osama bin Laden dan organisasinya merupakan pahlawan yang melawan terhadap kebijakan-kebijakan Amerika Serikat dan sekutunya sebagai simbol kapitalisme. Perang yang sedang berlangsung saat ini adalah antara fanatik dan radikalisme agama versus neokolonialisme dan kapitalisme. Mungkin kita sepakat bahwa tujuan semua agama yang ada di Indonesia pada dasarnya menjadi Rahmat, membawa pesan perdamaian umat manusia di dunia. Yang menjadi masalah akhir-akhir ini adalah kalau agama diideologikan dan ideologi diagamakan sekelompok orang tertentu dalam mencapai misi suci. Bila agama dijadikan kendaraan dalam melakukan aksi teror yang selalu terjadi dinegara kita maka bukan tidak mungkin ancaman teror akan berlangsung terus menerus dan bahkan konflik yang berujung SARA. Paska pemboman WTC di New York, 11 September 2001 peta politik dunia berubah drastis. Amerika Serikat mengakomodir kebijakan luar negeri dan menggalang kerjasama berbagai negara untuk memberantas terorisme. Jaringan Osama bin Laden bersama organisasi Al Qaedah-nya dijadikan musuh Amerika Serikat dan sekutunya. Tidak hanya dampak politik paska pemboman gedung WTC tetapi juga berimbas terhadap damapak ekonomi AS. Salah satunya paska pemboman tersebut warga AS enggan bepergian dengan pesawat terbang. Dampaknya juga dirasakan berbagai perusahaan penerbangan di berbagai negara, menyebabkan maskapai penerbangan mengalami kerugian yang sangat besar.

Kotak Pandora Terorisme Indonesia
Gema ledakan bom di Bali 12 September 2002 berdampak internasional. Jumlah korban yang tewas merupakan terbesar dalam sejarah peledakan bom di Indonesia. Ledakan terjadi di tiga lokasi hampir bersamaan, yaitu Renon (dekat konsulat AS), Peddy’s Café dan Sari Club merenggut nyawa banyak warga negara asing, sebagian besar warga negara Australia. Logis kalau kegiga ledakan itu merupakan aksi yang sama, baik oleh pelaku, bahan yang digunakan, maupun dalang atau orang yang merancang kejadian tersebut. melihata pola, metode dan sasaran target, peledakan bom di Bali dilakukan oleh kelompok professional. Tidak heran bila muncul spekulasi bahwa mereka yang ditangkap hanyalah kaki tangan atau orang-orang suruhan. Ada dugaan masih ada Ki Dalang dibalik pengeboman Bali. Pertanyaannya siapa saja mereka? Bagaimana jaringan dan apa motivasinya? Inilah yang menjadi tugas pemerintah khususnya Bada Intelijen Negara (BIN) untuk menyelesaikan kasus pengeboman yang akhir-akhir ini marak terjadi. Bom di Bali lalu menjadi semacam “kotak Pandora” yang ketika dibuka terkuak semua hal yang selama ini tertutup. Salah satu lembaga yang concern mengamati jaringan teror di tanah air adalah International Crisis Group (ICG). Dalam laporannya menguraikan rentetan peledakan bom di tanah air terkait sebuah jariangan terorisme intenasional.

Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta dan Peneliti di Candidate Center

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: