LEBARAN DAN PERGESERAN BUDAYA

September 26, 2011

Lebaran merupakan agenda rutinitas yang dilakukan ummat muslim setahun sekali. Banyak cara yang dilakukan ummat muslim Indonesia dalam menyambut datangnya lebaran. Salah satunya adalah melakukan mudik kekampung halaman masing-masing atau kembali kedaerah asal dimana seseorang dilahirkan. ada fenomena yang unik dalam tradisi masyarakat kita bahwa lebaran merupakan momentum bersilaturahmi sesama keluarga dan saling memaafkan satu dengan yang lainnya. Mudik kekampung halaman dalam tradisi masyarakat kita dianggap merupakan salah satu bentuk bahwa seseorang telah berhasil diperantauan sehingga stigma yang dibangun di masyarakat seandainya seseorang tidak melakukan tradisi mudik lebaran dianggap belum berhasil diperantauan. Seperti yang kita lihat sekarang bahwa lebaran merupakan tradisi puluhan tahun dan sudah mengakar dalam budaya masyarakat kita, padahal tradisi lebaran ini tidak dikenal dinegara-negara luar. Seorang budayawan terkenal Umar Kayam menyatakan bahwa tradisi Lebaran merupakan terobosan akulturasi budaya Jawa dan Islam. Kearifan para ulama di Jawa mampu memadukan kedua budaya tersebut demi kerukunan dan kesejahteraan masyarakat. Akhirnya tradisi Lebaran itu meluas ke seluruh wilayah Indonesia, dan melibatkan penduduk dari berbagai pemeluk agama. Untuk mengetahui akulturasi kedua budaya tersebut, kita cermati dulu profil budaya Islam secara global. Di negara-negara Islam di Timur Tengah dan Asia (selain Indonesia), sehabis umat Islam melaksanakan salat Idul Fitri tidak ada tradisi berjabatan tangan secara massal untuk saling memaafkan. Yang ada hanyalah beberapa orang secara sporadis berjabatan tangan sebagai tanda keakraban. Menurut Budayawan Rahar Panca Dahana (21/8) mudik lebaran mulai memasuki fenomena sosial sejak tahun 70-an ketika migrasi dan urbanisasi memberikan dampak kuat. Apalagi bagi warga pulau Jawa yang paling banyak melakukan migrasi dan urbanisasi, ada kebutuhan untuk pulang kampong dan kembali kepada dunia asli mereka. Radhar berpendapat bahwa mudik itu tak lebih dari kebutuhan seseorang untuk kembali kepada asal mula mereka. Kembali kepada diri semula, diri dimana seseorang dilahirkan, diri dimana seseorang diteguhkan. “Dengan mudik itu, dia memurnikan dirinya kembali, menemukan dirinya kembali, yang dalam perantauan mungkin dirinya itu hilang dalam kepura-puraan, dalam kepalsuan, dalam kehidupan yang penuh tipu,”

Budaya Lebaran
Kalau kita cermati di tradisi lebaran yang dilakukan di Negara tetangga seperti di Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam, hari lebaran juga dinamai dengan hari raya Aidil Fitri. Di kampung-kampung, masyarakat menyulut pelita (obor) dan mudik lebaran dari kota ke desa juga merupakan hal yang lumrah, dinamakan balik kampung. Tradisi lebaran ini hampir sama dengan lebaran yang terjadi dinegeri kita. Bahkan dari segi mengkonsumsi makanan budaya lebaran di Negara tetangga tersebut relatif sama, makanan khas lebaran mereka adalah ketupat, dodol dan lemang. Laki-laki mereka mengenakan baju Melayu lengkap dengan peci, sementara para wanita mengenakan baju kurung. Di Malaysia, kunjungan ke kuburan orang tua kemudian membacakan Surat Yasin adalah hal yang jamak dilakukan di hari lebaran, kemudian dilanjutkan dengan silaturahmi ke kerabat dan handai tolan. Tetapi lain halnya dengan India, Pakistan, dan Bangladesh, malam terakhir bulan puasa kerap disebut Chand Raat (malam bulan). Penduduk akan memenuhi mal atau pusat-pusat pembelanjaan untuk membeli baju baru, guna dikenakan pada hari Chand Raat atau Idul Fitri itu. Pada hari lebaran tersebut, para wanita ketiga negara di kawasan Asia Selatan tersebut akan mengecat tangan mereka dengan henna (inai) dan mengenakan pakaian yang warna-warni. Ucapan yang paling populer pada saat lebaran adalah “Eid Mubarak”, di mana para orang tua biasanya memberikan eidi (uang atau angpao) kepada anak-anak dan kerabat mereka. Lain halnya tradisi lebaran yang terjadi di Mesir, Idul Fitri tidak disambut semeriah di Indonesia. Karena itu, Idul Fitri sering disebut Id el-Shogayar atau Hari Raya Kecil, sedangkan Idul Adha disebut Idul Kabir (Hari Raya Besar), karena dirayakan jauh lebih meriah. Meskipun demikian Idul Fitri di Mesir tetap menjadi perayaan kegembiraan yang cukup menarik disimak. Anak-anak kecil bermain-main dan meluapkan kegembiraan dengan baju-baju baru mereka. Makanan khas pada hari lebaran ini berupa biskuit manis yang disebut kahk. Rata-rata perayaan lebaran di negara-negara Eropa yang memiliki komunitas muslim sedikit sangat jauh dari kemeriahan. Karena Idul Fitri bukanlah hari libur resmi, maka muslim di negara ini harus tetap bekerja atau sekolah sebagaimana hari biasanya. Muslim akan berusaha mengambil cuti di hari ini supaya tetap bisa mengikuti Shalat Id dan berkumpul dengan sesama muslim di masjid, kemudian berkumpul bersama keluarga di rumah. Meskipun tradisi dan kemeriahan menyambut lebaran atau hari raya Idul Fitri, berbeda antara satu negara dengan negara lainnya atau satu tempat dengan tempat lainnya, namun yang pasti esensi memperingati atau merayakan Idul Fitri adalah sama. Yakni, membuka kesucian diri dan merayakan kemenangan melawan nafsu.

Esensi Lebaran
Pergeseran budaya yang terjadi dalam masyarakat kita dalam menyambut hari lebaran menyebabkan terjadinya hilangnya esensi nilai lebaran tersebut. Esensi lebaran yang dimaknai sebagai momentum untuk menjalani silaturahmi antara sanak saudara berubah begitu drastis kedalam budaya konsumerisme. Sehingga masyarakat di reduksi hanya sebagai makhluk berlabel konsumerisme daripada makhluk sosial. Padahal kalau kita cermati dari segi sosial budaya seharusnya makna lebaran harus menititikberatkan terhadap perubahan pola sikap, tingkah laku, hubungan sesama manusia dan penciptaNya. Kemudian nilai tambah dari nilai-nilai yang terdapat dalam esensi lebaran tersebut adalah meningkatkan rasa sosial individu itu sendiri dalam melihat penyakit sosial yang ada dimasyarakat. Makna lebaran tidak hanya mengajarkan dan membentuk individu memiliki nilai sosial yang tinggi dilingkungan dimana dia tinggal tetapi yang terpenting adalah perubahan sikap yang bertentangan dalam diri seseorang seperti sombong, tamak, angkuh, apatis dan lain sebagainya. Dengan demikian, jika esensi lebaran ini dapat dipertahankan dalam budaya masyarakat Indonesia seperti yang dijelaskan diatas sudah dipastikan nilai-nilai kultural Islam tidak hilang begitu saja. Disamping itu hal ini berguna sebagai modal bagi seseorang untuk peningkatan aktualisasi diri dalam peran sosialnya. Artinya, dengan lebih memahami akar sosial dan budaya, manusia menjadi lebih peduli dengan yang lain sehingga tidak terjebak individualisme dan egoisme, tetapi menjadi pribadi yang peduli.

Asketisme Lebaran
Nilai lebaran akan mempunyai makna kalau pribadi seseorang mempraktekkan jiwa kesederhanaan, kejujuran, rela berkorban dan nilai sosial yang tinggi. Dalam konteks kebangsaan saat sekarang ini diperlukan sebagai media untuk membangun solidaritas dan persaudaraan sesama ummat manusia. Tidak hanya itu saja makna lebaran akan lebih bermanfaat asketisme atau pengendalian nafsu/godaan menjadi salah satu solusi dalam menjawab dan mengembalikan kultur lebaran pada esensinya. Ini berarti bahwa makna lebaran tidak diartikan dan diukur dari banyak materi yang berlimpah ruah akan tetapi lebih menonjolkan kepribadian seseorang sesuai dengan fitrahnya. Bahwa sejatinya keperibadian seseorang terlahir dari sesuatu yang suci dan bersih. Dalam sistem kehidupan dimasyarakat acap kali tradisi lebaran distigmakan dengan materialisme yang melimpah ruah atau pemilik pemodal seolah-olah mereka yang mempunyai kapital yang mapan yang berhak merayakan lebaran. Tentu saja, lebaran tidak selalu identik dengan kesuksesan bagi mereka yang melakukan urbanisasi dinegeri orang. Bagi mereka kaum urban yang tidak sukses ini menjadi beban sosio ekonomis dan psikologis karena momentum lebaran dianggap traumatik bagi mereka yang tidak sukses. Namun tidak sedikit orang yang memanipulasi makna lebaran itu sendiri karena stigma yang dibangun masyarakat kita jika seseorang tidak melakukan silaturrahmi atau sungkeman yang tradisinya dilakukan setahun sekali mereka dianggap gagal dalam perantauan. Semoga asketisme lebaran kali ini yang tradisinya dilakukan oleh ummat muslim Indonesia akan membawa pribadi-pribadi yang bersih dan suci dan kita benar-benar dalam puncak kemenangan dalam menghadapi lebaran nanti. Selamat Idul Fitri Mohon Maaf Lahir dan Batin

Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta dan Peneliti di Candidate Center

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: