TERORISME DAN INTELIJEN

July 25, 2011

Diterbitkan Harian Waspada Medan 17 04 2011 06:23

Beberapa hari yang lalu jagad raya kita lagi-lagi dikejutkan dengan peledakan sebuah bom dikawasan utankayu dimana bom tersebut di alamatkan kepada salah satu tokoh Jaringan Islam Liberal Ulil Abshar Adallah. Dilihat dari motif paket bom tersebut pelakunya sangat memahami target yang akan menjadi korban peledakan tersebut. Bom tersebut di bungkus dengan sangat rapi dan apik sehingga tidak mencurigakan penerima bom bahkan pelaku teror sudah memetakan secara komprehensif kawasan yang menjadi target pengeboman. Selang beberapa hari, teror bom ada dimana-mana hingga meresahkan masyarakat dan pihak kepolisian, bahkan bingkisan kotak tanpa tuan yang terletak tanpa pemiliknya diasumsikan berisikan bom oleh masyarakat. Insiden utan kayu yang mencederai aparat kepolisian salah satu rangkaian teror yang menjadi target terorisme sehingga kejadian tersebut jauh-jauh sebelumnya sepertinya sudah direncanakan dengan matang oleh pelaku terorisme. Peledakan bom yang dilakukan teroris sesungguhnya bukanlah hal yang terjadi dengan tiba-tiba, meskipun oleh publik khususnya para korban insiden tersebut dilakukan secara mendadak. Sebenarnya man behind the scene atau dalang dari sebuah peledakan bom itu jauh-jauh hari sudah mempersiapkan secara matang dan detail, seperti kapan, dimana, dan siapa sasaran dari peledakan bom tersebut. Untuk memberikan jaminan rasa keamanan dan kenyamanan bagi bangsa, negara dan rakyatnya lembaga intelijen harus difungsikan secara profesional sehingga mampa mengidentifikasi pola dan menangkal penyebaran bahaya terorisme. Dalam konteks ini, intelijen professional harus mampu menafsirkan berbagai informasi dalam menggambarkan rankaian masa lalu, sekarang ini, dan yang akan dating. Peristiwa pemboman beberapa tahun yang lalu bias dirangkai dengan peristiwa pemboman di utankayu. Dalam mengurai informasi intelijen yang berawal dari dugaan tanpa bukti, prinsip utama kerja intelijen adalah faktor kecepatan yang paling diutamakan.

Sasaran Teror
Insiden gedung kembar tertinggi di dunia WTC yang berada di New York dan Pentagon yang menjadi sasaran terorisme salah satu bentuk sasaran terorisme pada September 2001, yang memakan korban ribuan jiwa. Insiden peledakan gedung kembar ini dilakukan secara sistematis dan jauh sebelum peledakan. Secara logika, tidak mungkin dalam waktu yang bersamaan empat pesawat udara bisa dibajak yang kemudian ditabrakkan ke simbol gedung kebanggaan Amerika Serikat tanpa persiapan yang matang. Satu jet komersial berhasil menabrak menara utara bangunan 110 lantai antara lantai 80 dan 85. Pesawat komersial lainnya beberapa menit kemudian menabrak menara selatan. Pesawat yang lain menyerang Pentagon, Washington, sementara pesawat satu lagi jatuh di daerah pedalaman Pennsylvania. Sama halnya peledakan bom di depan Kedubes Australia di Jakarta pada 08 September 2004, walaupun sebelumnya masyarakat sudah mengalami bom dahsyat, tetap mengejutkan, apalagi dengan modus membawa rangkaian bom dengan mobil boks yang siap diledakkan. Secara psikologis seseorang yang sedang berkendaraan di jalan raya melihat ada mobil boks di dekatnya langsung menjauh karena terbayang peledakan bom di kawasan Kuningan Jakarta Selatan itu. Kalau kita cermati teroris mempunyai pola yang relatif sama dalam menentukan lokasi ledakan bom. Lokasi yang bersifat paling sering dikunjungi menjadi target utama teroris seperti halnya menghancurkan simbol kekuasaan, simbol pemeerintahan, simbol ekonomi yang kalau diledakkan dipastikan berdampak psikologis karena dipastikan di menjadi sorotan publik dan media massa. Informasi penting tentang lokasi atau kawasan eksklusif yang ada unsur asing, hotel, restoran atau kafe yang sangat sering dikunjungi diasumsikan telah di petakan oleh para teroris. Untuk mengeliminasi ruang gerak teroris, maka aparat keamanan harus melakukan pengamanan terhadap lokasi yang dianggap strategis dan merupakan objek vital, seperti kedutaan besar, lembaga pemerintahan bahkan istana Negara harus mendapat pengawalan ketat dari pihak keamanan.

Akar Terorisme
Menurut pengamat Intelijen DR. A.C Manullang dalam bukunya Terorisme dan Perang Intelijen mengatakan ada lima tipe terorisme yang ada di Indonesia. Pertama, kelompok terorisme Negara, mereka berlabel agama. Kedua, bukan berlabel agama. Ketiga, kelompok teroriseme public yang mengobok-ngobok kota. Keempat, kelompok terorisme berdasarkan ideologi dan kelima terorisme oportunisme yaitu teroriseme bayaran. Tren terorisme menurut prediksi tidak akan pernah berakhir, malah semakin berkepanjangan karena dipicu perbedaan ideology dan perbedaan kepentingan, termasuk motif ekonomi atau politik. Banyak pakar dan praktisi mencoba mengidentifikasi akar penyebab tindakan kekerasan oleh teroris. Pemicunya pada umumnya disebabkan oleh kebencian, penindasan, ketidakadilan, dan keputusasaan. Menurut Louis J Freeh, Direktur Biro Investigasi Federal AS, terorisme dipicu oleh kebencian. Orang-orang yang menyimpan kebencian itu tinggal di suatu Negara yang dipengaruhi oleh kefanatikan, dibayang-banyangi oleh persekongkolan, dan dilingkupi oleh kebohongan. Stephen Bowman dalam bukunya “When the Eagle Screams” mengemukakan di samping faktor penindasan, sejumlah besar terorisme disebabkan keputusasaan. Dalam banyak kasus, motivasi utama seorang teroris adalah frustrasi murni terhadap kekuatan politik, social, dan ekonomi yang tampaknya tidak dapat berubah. Adapun Michael Shimoff dalam makalahnya berjudul “Kebijakan Terorisme” mengemukakan bahwa terorisme adalah gejala dan sebuah problem, bukan penyebab yang sebenarnya. Itulah sebabnya kita harus berupaya sekuat mungkin untuk meningkatkan kebebasan, martabat, keadilan dan nilai-nilai kemanusiaan. Pemimpin Open Society Institute George Soros mengatakan upaya memerangi tindak terorisme tidak bisa dilakukan dengan kekerasan atau cara-cara yang militeristik seperti dilakukan Amerika Serikat. Cara-cara tersebut sama artinya dengan mengikuti tindakan kekerasan ala teroris menciptakan lingkaran setan kebencian antar umat manusia. Kemiskinan salah satu penyebab terjadinya terorisme di dunia. Kemiskinan ekonomi seperti member umpan bagi berkembangnya jaringan terror, karena itu perang internasional terhadap terror seyogiyanya lebih difokuskan pada pemberantasan akar terorisme, bukannya tindakan represif terhadap terorisme.

Perlunya Antisipasi

Tren perkembangan ancaman terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) perlu kita cermati, sehingga NKRI bukan hanya tegak berdiri, namun duduk terhormat, punya kepercayaan diri bersanding dan bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Untuk membangun dan melindungi seluruh rakyatnya dari ancaman terorisme perlu kehadiran payung Negara. Setelah membaca fenomena, dan memperkirakan tren perkembangan ke depan, kiranya patut kita sadari bahwa keberadaan dan kelangsungan hidup NKRI menjadi persoalan utama dan terutama diperlihatkan. Untuk itu perlu segera diambi langkah-langkah taktis dan strategis guna mengantisipasi ancaman terorisme yang selama ini marak terjadi. Walau krisis ekonomi dirasakan sebagai momok serius dan masalah yang terus berkepanjangan bagi bangsa dan Negara ini, tapi sebenarnya kita masih punya modal social yang besar mengikuti perkembangan kedepan. Pertama, sejarah kebangkitan, pertumbuhan dan perkembangan Indonesia sebagai sebuah Negara bangsa. Di dalamnya terkandung kearifan yang menjadi daya untuk mempersatukan dan menjamin tingkat kohesita kebangsaan. Kedua, nilain-nilai dasar yang selama ini telah menyertai dan menjadi bagian dari kehidupan warga bangsa, terbukti menjadi peletak dasar yang mampu memperkokoh kehidupan bangsa dan Negara dalam proses panjang sejak kemerdekaan. Kedua aspek ini menurut saya menumbuhkan kembali nilai-nilai nasionalisme ditengah ideologi dunia yang saling bertarung. Kita harus bisa berjalan tegak dan seiring dengan Negara-negara lain dan kemudian mempunyai pendirian yang kuat dalam mensejahterahkan rakyat. Sebagai bangsa kita perlu tahu apa yang menjadi kepentingan nasional (national interest), dan sebagai bangsa kita perlu memahami secara mendalam situasi kondisi politik dunia yang sebenarnya.

*Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta Jurusan Linguistik Terapan dan Peneliti di Candidate Center

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: