Krisis Korea dan Momentum Berbenah Diri

December 2, 2010

Opini ini diterbitkan Harian Waspada Medan pada tanggal 02 Desember 2010 06:03

Kontra terhadap perang: perang menjadikan pihak yang menang bodoh, menjadikan pihak yang kalah berniat jahat. Pro terhadap perang: dengan menghasilkan kedua efek tersebut perang menjadikan manusia barbar dan oleh karenanya lebih alami; perang adalah ibarat musim dingin atau masa hibernasi kebudayaan, ummat manusia keluar dari perang dalam kondisi lebih kuat untuk kebaikan ataupun kejahatan. Friedrich Nietzsche, 1844-1900.

Krisis yang terjadi di semenanjung Korea baru-baru ini terjadi harus dijadikan cermin bagi Indonesia untuk melakukan pembenahan diri secara internal baik itu di sektor ekonomi, politik, budaya dan khususnya angkatan perang Indonesia lebih ditingkatkan lagi. Bisa jadi konflik Korea Utara- Korea Selatan di prediksi akan pecah disebabkan masing-masing negara mempunyai kekuatan angkatan perang dan dukungan negara yang seimbang. Kalau perang kedua korea ini berlangsung maka sudah dipastikan posisi Indonesia mau tidak mau akan terganggu secara keamanan dimana angkatan perang Indonesia belum memadai dibandingkan angkatan perang kedua korea tersebut. Konflik kedua korea ini meningkat sejak Korea Utara menginvasi Pulau Yeonpyeong pada tanggal 26 November 2010 lalu dan menewas korban dua marinir dan warga sipil Korea Selatan. Itulah sebabnya kenapa kedua negara ini selalu mengambil posisi yang siaga satu sama lain. Dengan penyerangan yang dilakukan Korea Utara ke Korea Selatan ini menjadi momentum bagi Korea Selatan akan melancarkan serangan balasan bekali-kali seandainya saja Korea Utara masih terus memprovokasi. Sebaliknya, Korut mengancam akan menembak lebih banyak meriam jika Korsel tetap melaksanakan latihan militer dengan Amerika Serikat. Konflik kedua negara ini terjadi sejak perang tahun 1951-1953 dimana kedua negara ini mengalami kesenjangan kemajuan yang luar biasa dalam hal angkatan perang. Pengalaman di Semenanjung Korea memperlihatkan kepada wajah dunia, perang tidak hanya menimbulkan korban jiwa tetapi juga konflik yang sangat berkepanjangan dan mengabiskan dana yang begitu fantastis, karena memulai perang sangat mudah tetapi sangat sulit untuk mengakhirinya. Perang akan berhenti setelah memakan korban manusia yang cukup banyak dan meluluh lantahkan infrastruktur diantara kedua negara yang serang bertikai. Peperangan tidak akan menguntungkan diantara kedua negara yang saling bertikai sebab kemenangan yang diperoleh oleh salah satu negara dicapai dengan memakan korban yang begitu banyak. Dalam hal ini, mau tidak mau masyarakat dunia menghimbau dengan keras agar pertikaian yang terjadi diantara Korea Utara-Korea Selatan untuk segera mungkin dihentikan. Apalagi seperti yang kita ketahui negara besar seperti Amerika dan China mempunyai kepentingan besar di balik krisis dan pertikaian di Semenanjung Korea. China berada di pihak Korea Utara sementara Amerika Serikat di pihak Korea Selatan.

Biaya perang

Menurut Joseph E. Stiglitz dalam bukunya “Perang Tiga Triliun Dollar Bencana Ekonomi Ekonomi di Balik Invasi Amerika ke Irak” Biaya dibayar di muka untuk Perang Irak dan Afganistan, yakni jumlah yang disediakan oleh Kongres Amerika Serikat dan telah digunakan oleh militer lebih dari 800 dollar. Jumlah ini yang paling sering dibahas di media teramsuk diantaranya adalah permintaan Presiden baru-baru ini sekitar 200 miliar dollar untuk biaya perang pada tahun 2008, ditambah 625 miliar dollar lebih dana yang telah disediakan Kongres untuk Irak dan Afganistan sejak tahun 2001. Uang ini digunakan untuk membiayai operasi-operasi perang, pengangkutan pasukan, penugasan, pemberian ransum makanan, dan penyediaan tempat tinggal bagi mereka, penugasan Garda Nasional dan Pasukan Cadangan, makanan dan pasokan, pelatihan pasukan Irak, pembelian dan perbaikan senjata dan peralatan lainnya, persenjataan, biaya perang tambahan, peemberiaan perawatan medis bagi tentara yang aktif bertugas dan veteran yang kembali, rekonstruksi, dan untuk pembayaran bantuan logistik ke negara-negara seperti Yordania, Pakistan dan Turki. Enam ratus empat puluh lima miliar dollar adalah jumlah yang begitu fantastis apalagi 845 milliar dollar. Dari jumlah ini, tiga perempatnya, atau sekitar 634 milliar dollar, diperuntukkan untuk Irak. Bisa jadi kebijakan ini akan diterapkan kembali oleh Pemerintahan Obama terhadap krisis yang terjadi disemenanjung Korea untuk mendukung Korea Selatan dalam melakukan penyerangan terhadap Korea Utara mengingat Kapal induk Amerika Serikat USS George Washington, Jumat menuju ke Semenanjung Korea tempat AS dan Korsel berencana menggelar latihan Angkatan Laut selama empat hari di Laut Kuning mulai Minggu (28/11). Latihan perang itu telah dirancang sebelum serangan Selasa, namun bertujuan untuk menyoroti kekuatan persekutuan AS-Korea Selatan.

Saatnya berbenah diri

Perkembangan krisis di Semenanjung Korea harus selalu dipantau terus-menerus di Indonesia sehingga kita tidak menjadi korban dari kekuatan besar yang saling mempertahankan kekuataannya seandainya terjadinya perang dintara kedua Korea. Dalam perbandingan kekuatan militer sekarang ini, juga sulit bagi China-Korut melawan kolaborasi AS-Korsel jika terjadi perang, apalagi didukung dengan kekuatan Jepang, Australia, India, atau mungkin Rusia, teman dekat Korsel. Menlu AS James Steinberg di situs The Japan Times, 18 Oktober lalu, menegaskan ”jaminan strategis” bagi sekutu-sekutunya di Asia. Ini adalah jaminan bagi kawasan untuk menghadapi China. Sebenarnya China telah memberi manfaat ekonomi yang besar juga bagi dunia. Karena itu, ramai-ramai berbagai negara merangkul China menjadi teman. Namun, sinyal-sinyal menunjukkan hubungan ini tak saja akan berbuah manis, tetapi bisa mendadak berbuah pahit. Jadi, kita harus mewaspadai, ini bukan sekadar perang antar Korea Utara-Korea Selatan. Kemudian, Tak lagi ada waktu sebenarnya bagi Indonesia untuk terlalu sibuk dengan urusan dirinya sendiri didalam negeri. Indonesia bisa tertelan konflik negara superpower jika tidak melakukan antisipasi dan pembenahan secara internal, atau jika tak sadar dengan China yang akan menjadi negara superpower dan referensi peradaban di Asia Timur. Itulah sebabnya, Indonesia harus mencari solusi yang diplomatif melalui jalur ASEAN sehingga mampu memainkan peranan penting dalam menentukan perdamaian yang terjadi di Semenanjung Korea seandainya perang terjadi dan tidak menjadi boneka dalam permainan konflik diantara kedua negara yang saling bertikai, apalagi China dan Amerika Serikat mempunyai kepentingan besar dibalik konflik kedua Korea tersebut. Apalagi Amerika Serikat berada diambang krisis ekonomi yang menurut sejumlah ahli setara dengan masa Great Depression tahun 1930-an, bahkan mungkin lebih parah lagi diprediksi. Salah satu penyebab kehancuran sistem ekonomi AS ini ditengarai adalah invasinya ke Irak beberapa tahun yang lalu.

Penutup

Sekarang ini yang di bisa dilakukan Indonesia terhadap konflik yang terjadi di Semenanjung Korea adalah menghimbau kepada masyarakat dunia melalui ASEAN untuk mengutuk keras penyerangan yang terjadi diantara kedua negara dan menghimbau juga bahwa perang merupakan salah satu kejahatan luar biasa (Extraordinary Crime) yang tidak bisa ditolerir oleh dalil apapun. Menurut saya ada dua cara untuk menyelesaikan perang yang terjadi di semenanjung Korea. Pertama, secara sepihak ada negara yang menjadi pemenang mutlak sehingga memaksa pihak musuh untuk menyerah. Penyerahan Jepang tanpa syarat pada masa Perang Dunia II merupakan salah satu contoh utama. Akan tetapi, sebagian cara yang umum ditempuh ialah melalui perjanjian perdamaian. Artinya, kedua belah pihak sepakat untuk mengakhiri perang dan menyatakan perdamaian. Perang Vietnam diakhiri melalui cara seperti itu. Kedua Deklarasi berakhirnya perang, cara ini mungkin lebih effektif ditempuh oleh kedua negara untuk mengakhiri perang secara damai. Dengan kata lain, negara-negara yang terlibat dalam perang Korea, yaitu Korea Selatan, Korea Utara, Amerika Serikat dan Cina, sebaiknya duduk bersama untuk menyatakan berakhirnya perang tersebut.

*Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: