Kemandirian dan Kemerdekaan Sebuah Bangsa

September 1, 2010

Kemandirian dan Kemerdekaan Sebuah Bangsa

oleh Hasrul Harahap pada 01 September 2010 jam 14:59

Wednesday, 01 September 2010 00:13

Opini ini Diterbitkan Harian Waspada Medan

Pada tanggal 19 Desember 1961 Presiden Soekarno memproklamirkan ”Trikomando  Rakyat” di Alun-alun Lor Yogyakarta, di tengah-tengah hujan lebat. Komando kedua berbunyi ”Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat Tanah Air Indonesia!”. Setahun kemudian pada tanggal 1 Januari 1963 pukul 00.00, ayam belum berkokok, Sang Saka Merah Putih berkibar di Tanah Papua.

Berakhirlah lima tahun ketegangan dan kobaran emosi bangsa untuk merebut Irian Barat dari Belanda. Bahwa Belanda 1949 tidak mau angkat kaki dari Tanah Papua dan ini merupakan blunder politik paling besar. Papua Belanda tak lain bagian Hindia Belanda. Belanda tidak mau melepaskannya karena jengkel harus angkat kaki dari Indonesia.

Mulai tahun 1957 bersamaan dengan meningkatnya krisis politik di Indonesia kampanye untuk merebut kembali Papua kian memanaskan situasi tanah air, menyingkirkan orang berkepala dingin seperti Mohammad Hatta. Angkatan Bersenjata pun kian mendapat peran. Di lain pihak membuka lebar pintu bagi Partai Komunis Indonesia untuk muncul sebagai jago anti-neo-kolonialis-imperialis (antinekolim) paling radikal.

Pada tahun 1963 untuk sementara masyarakat merasa tenang. Saat itu mulai dipikirkan beberapa usaha untuk membenahi sistim ekonomi nasional yang kian sangat memperihatinkan. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Federasi Malaya, Singapura (yang dua tahun kemudian memisahkan diri), Sabah, dan Sarawak bersama membentuk ”Malaysia”. Kehadiran Malaysia ini juga untuk ”membendung” Indonesia (yang ”kiri” dan ”anti-Barat”)? Kalau kita sedikit set back kebelakang (history) tentang bagaimana para pendiri bangsa (Funding Fathers) memerdekakan Indonesia yang penuh dengan semangat nasionalisme dan patriotisme.

Soekarno mengatakan dalam bukunya “Di Bawah Bendera Revolusi” bahwa Indonesia harus berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi dan berkepribadian dalam bidang budaya. Apa yang dikatakan Soekarno ini sesungguhnya mengandung arti bahwa Indonesia tidak hanya merdeka secara fisik dari kaum penjajah tetapi harus merdeka secara politik dan ekonomi di kancah dunia internasional. Tantangan yang lebih besar lagi yang dihadapi Indonesia adalah penjajahan dalam bentuk nonfisik yang mana Indonesia sekarang dijajah melalui paham kapitalisme dan neoliberalisme yang tidak sesuai dengan ideologi kerakyatan kita. Oleh karena itu, persoalan antara Indonesia dan Malaysia seyogiyanya harus segera diselesaikan dengan cara diplomasi yang intensif melalui Kementerian Luar Negeri agar persoalan perbatasan antara laut Indonesia dan Malaysia bisa selesai dengan damai.

65 tahun Indonesia

Proklamasi kemerdekaan Indonesia yang di proklamirkan oleh Soekarno Hatta pada  tanggal 17 Agustus 1945 merupakan babak baru dan tonggak sejarah dalam perjalanan Indonesia sebagai negara yang berdaulat. Embrio terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi negara melalui proses yang amat panjang dan ini dimulai ketika dibentuknya organisasi Budi Utomo pada tahun 1908, Sumpah Pemuda pada tahun 1928 dan kemudian di proklamirkannya Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno dan Hatta.

Meskipun Indonesia telah merdeka secara fisik dari kolonialisme dan imperialisme tetapi substansi dari kemerdekaan Indonesia belum sepenuhnya belum tercapai secara maksimal sesuai dengan amanah UUD 1945. Kemerdekaan yang selama ini kita maknai bahwa Indonesia terlepas dari belenggu penjajah belum sepenuhnya sejalan dengan semangat proklamasi sehingga apa yang di katakan Bung Karno bahwa seyogiyanya kita selaku bangsa yang besar harus benar-benar berdaulat secara politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian secara budaya sehingga Indonesia bermartabat dan berwibawa di mata dunia internasional.

Masalah kemiskinan salah satu bukti nyata bahwa kita belum sepenuhnya merdeka, sekitar 64 juta rakyat Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan (2008). Itu artinya hampir seperempat jumlah penduduk harus tertatih-tatih memperjuangkan hidupnya sehari-hari. Di tahun 2010 jumlah pengangguran diperkirakan mencapai sekitar 12 juta orang, pemutusan hubungan kerja pada tahun ini diperkirakan akan melanda 4-7 juta pekerja. Dalam konteks ini sejauh kepercayaan para pelaku ekonomi pada pemerintah belum tumbuh utamanya menyangkut konsistensi kebijakan ekonomi dan stabilitas politik maka sudah dipastikan pengangguran akan terus bertambah. Selain kemiskinan dan pengangguran, masalah kesehatan merupakan salah satu kunci dalam jalinan utama masalah sosial yang sangat menentukan Sumber Daya Manusia (SDM), tanpa kesehatan yang memadai sulit bagi seseorang untuk ikut merenung tentang demokrasi dan bernegara. 

Konfrontasi lagi

Analogi ikan busuk mungkin frasa yang sesuai untuk pemimpin negeri ini bahwa secara  natural busuknya seekor ikan tidak pernah dimulai dari ekornya tetapi selalu dimulai dari kepala. Kita dapat menyimpulkan secara sederhana dari analogi tersebut bahwa maju dan mundurnya sebuah negara tergantung kepada pemimpinnya, sejauh mana kepala negara atau pemerintahan melakukan determinasi dan pengaruh dalam politik luar negerinya.

Kasus yang baru-baru ini kita lihat di media massa dan elektronik hubungan antara Indonesia dan Malaysia yang kurang harmonis kembali terjadi. Kisaran selalu soal perlakuan terhadap Tenaga Kerja Inodonesia (TKI), sengketa perbatasan, dan klaim Malaysia terhadap kebudayaan Indonesia dan juga ditangkapnya warga negara Indonesia di perairan laut Indonesia pada tanggal 13 Agustus yang lalu.

Sejumlah tujuh nelayan Malaysia memasuki parairan Bintan, Kepulauan Riau. Kapal Patroli Kementerian Kelautan dan Perikanan menangkap mereka. Para nelayan pindah ke kapal patroli sedangkan tiga petugas berpindah ke kapal nelayan yang merangkai lima kapal itu dengan digandengkan. Namun, setelah 45 menit berlayar, datang kapal patroli dari polisi air Malaysia, mereka menghadang rangkaian kapal nelayan. Selain itu juga, kepolisian Malaysia melakukan penembakan terhadap kapal Indonesia yang melaju dan akhirnya tujuh orang nelayan Malaysia ditahan petugas Indonesia sedangkan tiga petugas Indonesia ditahan pihak Malaysia.

Butuh keberanian dari seorang pemimpin negara dalam mengatasi konflik yang kurang harmonis antara Indonesia dan Malaysia. Karena bangsa yang besar merupakan sejauh mana peran negara dalam hal ini presiden bisa menjaga kepentingan nasionalnya (national interest) di mata internasional. Ini membuktikan bahwa betapa Indonesia tidak mempunyai posisi tawar (Bargaining Position) dalam wacana geopolitik internasional. Butuh keberanian dan niat yang baik dari seorang kepala pemerintahan dan negara untuk menyelesaikan kasus yang baru-baru ini terjadi dengan malaysia, keberanian dan niat saja tidak cukup untuk menyelesaikan kasus ini tetapi butuh dukungan dari semua pihak dalam menemukan solusi yang solutif  agar Indonesia lebih bermartabat dimata dunia internasional.

Penutup

Bagi seorang pemimpin, bertindak cerdas dalam berbangsa dan bernegara hanyalah mungkin dilakukan secara konsisten dan kemudian dilandasi oleh usaha yang maksimal dalam memahami Indonesia yang lebih baik dan bermartabat. Tanpa itu semua mustahil Indonesia akan diperhitungkan dalam geopolitik internasional. Membawa bangsa ini keluar dari persoalan yang sangat kompleks menuju perubahan yang lebih baik dibutuhkan peran kepemimpinan yang mana sudah menjadi tugas pemimpin untuk menggerakkan perubahan.

Perubahan besar (great movement) akan terjadi apabila pimpinan tertinggi di negeri memiliki kesadaran dan kemauan yang kuat untuk berubah agar persoalan yang selama ini terjadi dengan negeri jiran tidak akan terulang kembali. Kepemimpinan transformatif, visioner dan yang kuat (strong leadership) yang dibutuhkan agar kita tidak terbelenggu dalam ketidakberdayaan dan ketidakberanian dan untuk menunjukkan jati diri bangsa bahwa sesungguhnya kita adalah bangsa yang besar. <span> </span>

Penulis adalah Fungsionaris Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) Periode 2008-2010 dan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

(dat02) 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: