Nilai-Nilai Dasar Perjuangan HMI

June 29, 2010

NILAI DASAR PERJUANGAN
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
I. DASAR-DASAR KEPERCAYAAN
Manusia memerlukan suatu bentuk kepercayaan. Kepercayaan itu akan
melahirkan tata nilai guna menopang hidup budayanya. Sikap tanpa percaya atau
ragu yang sempurna tidak mungkin dapat terjadi. Tetapi selain kepercayaan itu
dianut karena kebutuhan dalam waktu yang sama juga harus merupakan
kebenaran. Demikian pula cara berkepercayaan harus pula benar. Menganut
kepercayaan yang salah atau dengan cara yang salah bukan saja tidak
dikehendaki tetapi bahkan berbahaya.
Disebabkan kepercayaan itu diperlukan , maka dalam kenyataan kita temui
bentuk-bentuk kepercayaan yang beraneka ragam dikalangan masyarakat. Karena
bentuk-bentuk kepercayaan itu berbeda satu dengan yang lain, maka sudah tentu
ada dua kemungkinan: kesemuanya itu salah atau salah satu saja diantaranya yang
benar. Di samping itu masing-masing bentuk kepercayaan mungkin mengandung
unsur-unsur kebenaran dan kepalsuan yang campur baur.
Sekalipun demikian kenyataan menunjukkan bahwa kepercayaan itu
melahirkan nilai-nilai. Nilai-nilai itu kemudian melembaga dalam tradisi-tradisi
yang diwariskan turun-temurun dan mengikat anggota masyarakat yang
mendukungnya. Karena kecenderungan tradisi untuk tetap mempertahankan diri
terhadap kemungkinan perubahan nilai-nilai, maka dalam kenyataan ikatan-ikatan
tradisi sering menjadi penghambat perkembangan peradaban dan kemajuan
manusia. Di sinilah terdapat kontradiksi kepercayaan diperlukan sebagai sumber
tata nilai guna menopang peradaban manusia, tetapi pula nilai-nilai itu melembaga
dalam tradisi yang membeku dan mengikat, maka justru merugikan peradaban.
Oleh karena itu, pada dasarnya, guna perkembangan dan peradaban dan
kemajuannya, manusia harus selalu bersedia meninggalkan setiap bentuk
kepercayaan dan tata nilai yang tradisional., dan menganut kepercayaan yang
sungguh-sungguh merupakan kebenaran. Maka satu-satunya sumber dan pangkal
nilai itu haruslah kebenaran itu sendiri. Kebenaran merupakan asal dan tujuan
segala kenyataan. Kebenaran yang mutlak adalah Tuhan Allah.
Perumusan kalimat persaksian (Syahadat) Islam yang ke satu: Tidak ada
Tuhan selain Allah mengandung gabungan antara peniadaan dan pengecualian.
Perkataan “tidak ada Tuhan” meniadakan segala bentuk kepercayaan, sedangkan
perkataan “selain Allah” memperkecualikan satu kepercayaan kepada kebenaran.
Dengan peniadaan itu dimaksudkan agar manusia membebaskan dirinya dari
belenggu segenap kepercayaan yang ada dengan segala akibatnya, dan dengan
pengecualian itu dimaksudkan agar manusia hanya tunduk pada ukuran kebenaran
dalam nenetapkan dalam memilih nilai-nilai, itu berarti tunduk kepada Allah,
Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta segala yang ada termasuk manusia. Tunduk dan
pasrah itu disebut Islam.
Tuhan itu ada, dan ada secara mutlak hanyalah Tuhan. Pendekatan kea rah
pengetahuan akam adanya Tuhan dapat ditempuh manusia dengan berbagai jalan,
bak yang bersifat intuitif, ilmiah, histori pengalaman lain-lain. Tetapi karena
kemutlakan Tuhan dan kenisbian manusia, maka manusia tidak dapat menjangkau
sendiri kepada pengertian akan hakikat Tuhan yang sebenarnya. Namun demi
kelengkapan kepercayaan kepada Tuhan, manusia memerlukan pengetahuan yang
secukupnya tentang Ketuhanan dan tata nilai yang bersumber kepada-Nya, oleh
sebab itu dipoerlukan sesuatu yang lain yang lebih tinggi namun tidak
bertentangan dengan insting dan indera.
Sesuatu yang diperlukan adalah “wahyu” yaitu pengajaran atau
pemberitahuan yang langsung dari Tuhan sendiri kepada manusia. Tetapi
sebagaimana kemampuan menerima pengetahuan sampai ke tingkat yang tertinggi
tidak dimiliki oleh setiap orang, demikian juga wahyu tidak diberikan kepada
setiap orang. Wahyu itu diberikan kepada orang tertentu yang memenuhi syarat
dan dipilih oleh Tuhan sendiri yaitu para nabi dan rasul atau utusan Tuhan.
Dengan kewajiban para rasul itu menyampaikan kepada seluruh manusia. Para
rasul dan nabi itu telah lewat dalam sejarah, semenjak Adam, Nuh, Ibrahim,
Musa, Isa atau Yesus anak Maryam sampai kepada Muhammad SAW.
Muhammad adalah rasul penghabisan, jadi tiada rasul lagi sesudahnya. Jadi para
nabi dan rasul itu adalah manusia biasa dengan kelebihan bahwa mereka
menerima wahyu dari Tuhan.
Wahyu Tuhan yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW terkumpul
seluruhnya dalam kitab suci Al Qur’an. Selain berarti bacaan, kata Al Qur’an juga
berarti “kumpulan”atau kompilasi, yaitu kompilasi daripada segala keterangan.
Sekalipun secara garis besar, Al Qur’an merupakan suatu compendium yang
singkat, namun meliputi dan mengandung keterangan-keterangan tentang segala
sesuatu sejak dari sekitar alam dan manusia, sampai kepada hal-hal gaib yang
tidak mungkin diketahui manusia dengan cara lain.
Jadi untuk memhami Ketuhanan Yang Maha Esa dan ajaran-ajaran-Nya.,
manusia harus berpegang pada Al Qur’an, dengan terlebih dahulu mepercayai
kerasulan Muhammad. Maka kalimat kesaksian yang kedua memuat esensi
daripada kepercayaan yang harus dianut ummat manusia, yaitu bahwa
Muhammad adalah Rasul Allah. Kemudian di dalam Al Qur’an didapat
keterangan lebih lanjut tentang Ketuhanan Yang Maha Esa dan ajaran-ajaran-Nya
yang merupakan garis besar jalan hidup yang harus diikuti oleh manusia. Tentang
Tuhan antara lain; Surat Al Ikhlas menerangkan secara singkat: “Katakanlah: Dia
itu adalah Allah Yang Maha Esa. Dia itu adalah Tuhan. Tuhan tempat segala
menaruh harapan. Tiada Ia berputra dan tiada pula berbapa”. Selanjutnya Ia
adalah Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Kasih
dan Maha Sayang, Maha Pengampun dan seterusnya daripada segala sifat
kesempurnaan yang selayaknya bagi Yang Maha Agung dan Maha Mulia, Tuhan
seru sekalian alam.
Juga diterangkan bahwa Tuhan adalah Yang Pertama dan Yang
Penghabisan, Yang Lahir dan Yang Bathin, dan “Kemanapun manusia berpaling
maka disanalah wajah Tuhan”. Dan “Dia itu bersama kamu kemanapun kamu
berada”. Jadi Tuhan tidak terikat dalam ruang dan waktu.
Sebagai “Yang Pertama dan Yang Penghabisan”, maka sekaligus Tuhan
adalah asal dan tujuan segala yang ada, termasuk tata nilai. Artinya: sebagaimana
tata nilai harus bersumber pada kebenaran dan berdasarkan kecintaan kepada-
Nya, Ia pun sekaligus menuju kepada kebenaran dan mengarah kepada
“persetujuan” atau “ridho-Nya”. Inilah kesatuan antara asal dan tujuan hidup
yang sebenarnya (Tuhan sebagai tujuan hidup yang benr diterangkan di bagian
yang lain).
Tuhan menciptakan alam raya ini dengan sebenarnya, dan mengaturnya
dengan pasti. Oleh karena itu, alam mempunyai eksistensi yang riil dan objektif,
serta berjalan menurut hokum-hukum yang tepat.dan sebagai ciptaan daripada
sebaik-baiknya pencipta, maka alam mengandung kebaikan pada diri-Nya dan
teratur secara harmonis. Nilai ini diciptakan untuk manusia bagi keperluan
perkembangan peradabannya. Maka alam dapat dan harus dijadikan objek
penyelidikan guna dimengerti hokum-hukum Tuhan (sunnatullah) yang berlaku
didalamnya. Kemudian manusia memanfaatkan alam sesuai dengan hukumhukumnya
sendiri.
Jika kenyataan alam ini berbeda dengan persangkalan idealisme maupun
agama Hindu yang menyatakan bahwa alam tidak mempunyai eksistensi riil dan
objektif, melainkan semua palsu atau maya dan sekadar emanasi atau pancaran
lain dari pada dunia lain yang konkrit, yaitu idea atau nirwana. Juga bukan seperti
yang dikatakan filsafat Agnoticisme yang mengatakan bahwa alam tidak
mungkin dimengerti oleh manusia. Dan sekalipun filsafat materialisme
mengatakan bahwa ala mini mempunyai eksistensi riil dan objektif sehingga dapat
dimengerti oleh manusia, namun filsafat itu mengatakan bahwa alam ada dengan
sendirinya. Peniadaan pencipta ataupun peniadaan Tuhan adalah salah satu sudut
dari pada filsafat materialisme.
Manusia adalah puncak ciptaan atau makhluk-Nya yang tertinggi. Sebagai
makhluk tertinggi, manusia dijadikan “Khalifah” atau wakil Tuhan di bumi.
Manusia ditumbuhkan dari bumi dan diserahi untuk memakmurkannya. Maka
urusan di dunia ini telah diserahkan Tuhan kepada manusia. Manusia sepenuhnya
bertanggung jawab atas segala perbuatannya di dunia. Perbuatan manusia di dunia
ini membentuk rentetan peristiwa yang disebut “sejarah”. Dunia adalah wadah
bagi sejarah, di mana manusia menjadi pemilik atau “rajanya”.
Sebenarnya terdapat hukum-hukum Tuhan yang pasti (sunnatullah) yang
menguasai sejarah, sebagaimana adanya hukum yang menguasai alam tetapi
berbeda dengan alam yang telah ada secara otomatis tunduk kepada sunnatullah
itu, manusia karena kesadarannya dan kemampuannya untuk mengadakan pilihan
tidak terlalu tunduk kepada sunnatullah itu, manusia karena kesadarannya dan
kemampuannya untuk mengadakan pilihan tidak terlalu tunduk kepada hukumhukum
kehidupannya sendiri. Ketidakpatuhan itu disebabkan sikap menentang
atau karena kebodohan. Hukum dasar alami dari pada segala yang ada inilah
“perubahan dan perkembangan”, sebab: segala sesuatu ini adalah captain Tuhan
dan pengembangan oleh-Nya dalam suatu proses yang tiada henti-hentinya.
Segala sesuatu ini berasal dari Tuhan dan menuju kepada Tuhan. Makanya satusatunya
yang tak mengenal perubahan hanyalah Tuhan sendiri, asal dan tujuan
segala sesuatu. Di dalam memenuhi tugas sejarah, manusia harus membuat
sejarah dengan arus perkembangan menuju kepada kebenaran. Hal itu berarti
manusia harus selalu berorientasi kepada kebenaran dan untuk itu harus
mengetahui jalan menuju kebenaran itu. Dia tidak selalu mewarisi begitu saja
nilai-nilai tradisional yang tidak diketahuinya dengan pasti akan nilai
kebenarannya.
Oleh sebab itu kehidupan yang baik adalah yang disemangati oleh iman
dan ilmu. Bidang iman dan pencabangannya menjadi wewenang wahyu
sedangkan bidang ilmu pengetahuan menjadi wewnang manusia untuk
mengusahakan dan mengumpulkannya dalam kehidupan dunia ini. Ilmu itu
meliputi tentang alam dan ilmu tentang manusia (sejarah). Untuk memperoleh
ilmu pengetahuan tentang nilai kebenaran sejauh mungkin, manusia harus melihat
alam dan dan kehidupan ini sebagaimana adanya tanpa melekatkan kepadanya
kualitas – kualitas yang bersifat ketuhanan. Sebab sebagaimana diterangkan di
muka, alam diciptakan dengan wujud yang nyata dan objektif sebagaimana
adanya. Alam tidak meyerupai Tuhan dan Tuhanpun untuk sebahagian atau
seluruhnya, tidak sama dengan alam. Sikap mempertuhankan dan mensucikan
(sakralisasi) haruslah ditujukan kepada Tuhan sendiri, Tuhan Allah Yang Maha
Esa.
Ini disebut “tauhid” dan lawannya disebut “syirik” artinya mengdakan
tandingan terhadap Tuhan, baik seluruhnya maupun sebagian. Maka jelasny
bahwa syirik menghalangi perkembangan dan kemajuan peradaban, kemanusiaan
yang menuju kebenaran.
Sesudah sejarah atau kehidupan duniawi ialah “Hari Kiamat”. Kiamat
merupakan permulan bentuk kehidupan yang tidak lagi bersifat sejarah atau
duniawi, yaitu kehidupan akhirat. Kiamat disebut juga “Hari Agama” atau
“Yaumu-Din” di mana Tuhan menjadi satu-satunya Pemilik dan Raja. Di situ
tidak lagi terdapat kehidupan historis seperti kebebasan, usaha dan tata
masyarakat. Tetapi yang ada adalah pertanggung jawab individual manusia yang
bersifat mutlak di hadapan Ilahi atau segala perbuatannya dahulu di dalam sejarah.
Selanjutnya kiamat merupakan “Hari Agama”, maka tidak ada yang
mungkin kita ketahui selain dari pada yang diterangkan dalam wahyu. Tentang
hari kiamat dan kelanjutannya/kehidupan Akhirat yang non historis manusia
hanya diharuskan percaya tanpa kemungkinan mengetahui kejadian-kejadiannya.
II. PENGERTIAN – PENGERTIAN DASAR TENTANG
KEMANUSIAAN
Telah disebutkan di muka, bahwa manusia adalah puncak ciptaan,
merupakan makhluk yang tertinggi dan adalah wakil Tuhan di Bumi. Sesuatu
yang membuat manusia menjadi manusia bukan hanya beberapa sifat atau
kegiatan yang ada padanya, melainkan suatu keseluruhan susunan sebagai sifatsifat
dan kegiatan-kegiatan yang khusus dimiliki manusia saja, yaitu Fitrah. Fitrah
membuat manusia berkeinginan suci dan secara kodrati cenderung kepada
kebenaran (Hanief).
“Diamier” atau hati nurani adalah pemancar keinginan kepada kebaikan,
kesuci dan kebenaran. Tujuan hidup manusia ialah kebenaran yang mutlak atau
kebenaran yang terakhir, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Fitrah merupakan bentuk
keseluruhan tentang diri manusia yang secara azasi dan prinsipil membedakannya
dari makhluk-makhluk yang lain. Dengan memenuhi hati nurani, seseorang berada
dalam fitrahnya dan menjadi manusia sejati.
Kehidupan manusia diwujudkan dalam kerja atau amal perbuatannya.
Nilai-nilai tidak dapat dikatakan hidup dan berarti sebelum manyatakan diri dalam
kegiatan-kegiatan amaliah yang konkrit. Nilai hidup manusia tergantung kepada
nilai kerjanya. Di dalam dan melalui amal perbuatan yang berperikemanusiaan
(fitri sesuai dengan hati nurani) manusia mengecap kebahagian, dan sebaliknya di
dalam dan melalui amal perbuatan yang tidak berperkemanusiaan (jihad) ia
menderita kepedihan. Hidup yang penuh dan berarti ialah yang dijalani dengan
sungguh-sungguh dan sempurna, yang didalamnya manusia dapat mewujudkan
dirinya dengan mengembangkan kecakapan-kecakapan dan keperluankeperluannya.
Dia diliputi dengan semangat mencari kebaikan, keindahan dan
kebenaran. Dia menyerap segala sesuatu yang baru dan berharga sesuai dengan
perkembangan kemanusiaan dan menyatakan dalam hidup berperadaban dan
berkebudayaan. Dia adalah aktif, kreatif dan kaya akan kebijaksanaan (wisdom,
hikmah).
Dia berpengalaman luas, berpikir bebas, berpandangan lapang dan terbuka,
bersedia mengikuti kebenaran dari manapun datangnya. Dia adalah manusia yang
toleran dalam arti kata yang benar, penahan amarah dan pemaaf. Keutamaan itu
merupakan kekayaan manusia yang menjadi milik dari pribadi-pribadi yang
senantiasa berkembang dan selamanya tumbuh ke arah yang lebih baik.
Seorang manusia sejati (insan kamil) ialah yang kegiatan mental dan
phisiknya merupakan suatu keseluruhan. Kerja jasmani dan kerja rohani bukanlah
dua kenyataan yang terpisah. Malahan dia tidak mengenal perbedaan antara kerja
dan kesenangan, kerja baginya adalah kesenggangan dan kesenangan ada dalam
dan melalui kerja. Dia berkepribadian, merdeka, memiliki dirinya sendiri,
menyatakan ke luar corak perorangannya dan mengembangkan kepribadian dan
wataknya secara harmonis. Dia tidak mengenal perbedaan antara kehidupan
individual dan kehidupam komunal, tidak membedakan antara perorangan dan
sebagai anggota masyarakat, hak dan kewajiban serta kegiatan-kegiatan untuk
dirinya adalah juga sekaligus untuk ummat manusia.
Baginya tidak ada pembagian dua (dichotomy) antara kegiatan-kegiatan
rohani dan jasmani, pribadi dan masyarakat, agama dan politik ataupun dunia
akhirat. Kesemuanya dimanifestasikan dalam satu kesatuan kerja yang tunggal
pancaran niatnya, yaitu mencari kebaikan, keindahan, kebenaran. Dia adalah
seorang yang ikhlas, artinya seluruh amal perbuatannya benar-benar berasal dari
dirinya sendiri dan merupakan pancaran langsung dari pada kecenderungannya
yang suci yang murni. Suatu pekerjaan dilakukan karena keyakinan akan nilai
pekerjaan itu sendiri bagi kebikan dan kebenaran, bukan karena kehendak
memperoleh tujuan lain yang nilainya lebih rendah (pamrih). Kerja yang ikhlas
mengangkat nilai kemanusiaan pelakunya dan memberikannya kebahagiaan. Hal
itu akan menghilangkan sebab-sebab suatu jenis pekerjaan ditinggalkan dan kerja
amal akan mejadi kegiatan kemanusiaan yang paling berharga. Keikhlasan adalah
kunci kebahagiaan hidup manusia, tidak ada kebahagiaan sejati tanpa keikhlasan
dan keikhlsan selalu menimbulkan kebahagiaan.
Hidup fitrah ialah bekerja secara ikhlas yang memancarkan dari hati
nurani yang hanief atau suci.
III. KEMERDEKAAN MANUSIA (IKHTIAR) DAN KEHARUSAN
UNIVESAL (TAKDIR)
Keikhlasan yang insani itu tak mungkin ada tanpa kemerdekaan.
Kemerdekan dalam arti kerja sukarela tanpa paksaan yang didorong oleh kemauan
yang murni, kemerdekaan dalam pengertian kebebasan dalam memilih sehingga
pekerjaan itu benar-benar dilakukan sejalan dengan hati nurani. Keikhlasan
merupakan pernyataan kreatif kehidupan manusia yang berasal dari
perkembangan yang tak terkekang dari pada kemauan baiknya. Keikhlasan adalah
gambaran terpenting dari pada kehidupan manusia sejati. Kehidupan sekarang di
dunia dan abadi (eksternal) berupa kehidupan kelak sesudah mati di akhirat.
Dalam aspek pertama manusia melakukan amal perbuatan yang baik dan buruk
yang harus dipikul secara individual dan komunal sekaligus. Sedangkan dalam
aspek kedua manusia tidak lagi melakukan amal perbuatan, melainkan hanya
menerima akibat baik dan buruknya dari amalnya dahulu di dunia secara
individual. Di akhirn tidak terdapat pertanggungjawaban bersama tetapi hanya ada
pertanggungjawaban perseorangan (mutlak). Manusia dilahirkan sebagai individu,
hidup di tengah alam dan masyarkat sesamanya, kemudian menjadi individu
kembali.
Jadi individualitas adalah pernyataan asasi yang pertama dan terakhir, dari
pada kemanusiaan, serta letak kebenarannya daripada nilai kemanusiaan itu
sendiri. Karena individu adalah adalah penganggung jawab terakhir dan mutlak
dari pada awal perbuatannya, maka kemerdekaan, adalah haknya yang pertama
dan asasi.
Tetapi individualitas adalah hanyalah pernyataan asasi yang pertama dan
primer saja dari pada kemanusiaan. Kenyataan lain, sekalipun bersifat sekunder,
ialah bahawa individu hidup dalam suatu hubungan tertentu dengan dunia
sekitarnya. Manusia hidup di tengah alam dan sebagai makhluk sosial hidup di
tengah sesama. Dari segi ini manusia adalah bagian dari keseluruhan alam yang
merupakan satu kesatuan. Oleh karena itu kemerdekaan harus diciptakan untuk
pribadi dalam konteks hidup di tengah masyarakat. Sekalipun kemerdekaan
adalah esensi dari pada kemanusiaan tidak berarti bahwa manusia selalu dan di
mana saja merdeka. Adanya batas-batas bagi kemerdekaan adalah suatu
kenyataan. Batas-batas tertentu itu dikarenakan adanya hukum-hukum yang pasti
dan tetap yang menguasai alam. Hukum yang menguasai benda-benda maupun
masyarakat manusia sendiri yang tidak tunduk dan tidak pula bergantung pada
kemauan manusia. Huku-hukum itu mengakibatkan adanya “keharusan
universal” atau “kepastian hukum” dan takdir. Jadi kalau kemerdekaan pribadi
diwujudkan dalam konteks hidup di tengah alam dan masyarakat di mana terdapat
keharusan untiversal yang tidak tertaklukkan, maka apakah bentuk hubungan yang
harus dipunyai oleh seseorang kepada dunia sekitarnya ?
Sudah tentu bukan hubungan penyerahan, sebab penyerahan berarti
peniadaan terhadap kemerdekaan itu sendiri. Pengakuan akan adanya keharusan
universal yang diartikan sebagai penyerahan kepadanya sebelum suatu usaha
dilakukan berarti perbudakan. Pengakuan akan adanya kepastian umum atau
takdir hanyalah pengakuan akan adanya batas-batas kemerdekaan. Sebaliknya
suatu persyaratan yang positif dari pada kemerdekaan adalah pengetahuan tentang
adanya kemungkinan-kemungkinan kreatif manusia. Yaitu tempat bagi adanya
usaha yang bebas dan dinamakan “ikhtiar”, artinya pilih merdeka.
Ikhtiar adalah kegiatan kemerdekaan dari individu, juga berarti kegiatan
dari manusia merdeka. Ikhtiar merupakan usaha yang ditentukan sendiri di mana
manusia berbuat sebagai pribadi banyak segi yang integral dan bebas; dan di mana
manusia tidak diperbudak oleh suatu yang lain kecuali oleh keinginannya sendiri
dan kecintaannya kepada kebaikan. Tanpa adanya kesempatan unutk berbuat atau
berikhtiar, manusia menjadi tidak merdeka dan menjadi tidak bisa dimengerti
untuk memberikan pertanggungjawaban pribadi dari amal perbuatannya. Kegiatan
merdeka berarti perbuatan manusia yang merubah dunia dan darinya sendiri. Jadi
sekalipun terdapat keharusan universal atau takdir namun manusia dengan haknya
untuk berikhtiar mempunyai peranan aktif dan menentukan bagi dunia dan dirinya
sendiri.
Manusia tidak dapat berbicara mengenai takdir suatu kejadian sebelum
kejadian itu menjadi kenyataan. Maka percaya kepada takdir akan membawa
keseimbangan jiwa tidak terlalu berputus asa karena suatu kegagalan dan tidak
pula terlalu membanggakan diri karena suatu kemuduran. Sebab segala sesuatu
tidak hanya terkandung pada dirinya sendiri, melainkan juga kepada keharusan
yang universal itu.
IV. KETUHANANAN YANG MAHA ESA DAN KEMANUSIAAN
Telah jelas bahwa hubungan yang benar antara individu manusia dengan
dunia sekitarnya bukan hubungan penyerahan. Sebab penyerahan meniadakan
kemerdekaan dan keikhlasan dan kamanusiaan. Tetapi jelas pula bahwa tujuan
manusia hidup merdeka dengan segala kegiatannya ialah kebenaran. Oleh karena
itu sekalipun tidak tunduk pada sesuatu apapun dari dunia sekelilingnya, namun
manusia merdeka masih dan mesti tunduk kepada kebenaran. Karena menjadikan
sesuatu sebagai tujuan adalah berarti pengabdian kepada-Nya.
Jadi kebenaran-kebenaran menjadi tujuan hidup dan apabila demikian
maka sesuai dengan pembicaraan terdahulu maka tujuan hidup yang terakhir dan
mutlak ialah kebenaran terakhir dan mutlak sebagai tujuan dan tempat
menundukkan diri. Adakah kebenaran terakhir dan mutlak itu? Ada, sebagaimana
tujuan akhir dan mutlak dari pada hidup itu ada. Karena sikapnya yang terakhir
(ultimate) dan mutlak maka sudah pasti kebenaran itu hanya satu secara mutlak
pula.
Dalam perbendaharaan kata dan kulturiil, kita sebut kebenaran mutlak itu
“Tuhan”, kemudian sesuai dengan uraian bab I, Tuhan itu menyatakan diri kepada
manusia sebagai Allah. Karena kemutlakannya, Tuhan bukan saja tujuan segala
kebenaran. Maka dia adalah Yang Maha Benar. Setiap pikiran yang maha benar
adalah pada hakikatnya pikiran tentang Tuhan Yang Maha Esa. Oleh sebab itu
seseorang manusia merdeka ialah yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa.
Keikhlasan tiada lain adalah kegiatan yang dilakukan semata-mata bertujuan
kepad Tuhan Yang Maha Esa, yaitu kebenaran mutlak, guna memperoleh tujuan
persetujuan atau “ridho” dari pada-Nya. Sebagaimana kemanusiaan terjadi karena
adanya kemerdekaan dan kemerdekaan ada karena adanya tujuan kepada Tuhan
semata-mata. Hal itu berarti segala bentuk kegitan hidup dilakukan hanyalh nilai
kebenaran itu yang terkandung didalamnya guna mendapat persetujuan atau ridho
kebenaran mutlak. Dan hanya karena pekerjaan “karena Allah” itulah yang bakal
memberikan rewarding bagi kemanusiaan. Kata “iman” berarti percaya dalam hal
ini percaya kepada Tuhan sebagai tujuan hidup yang mutlak dan tempat
mengabdikan diri kepada-Nya. Sikap menyerahkan diri dan mengabdi kepada
Tuhan itu disebut Islam. Islam menjadi nama segenap ajaran pengabdian kepada
Tuhan Yang Maha Esa. Pelakunya disebut “muslim”. Tidak lagi diperbudak oleh
sesama manusia atau sesuatu yang lain dari dunia sekelilingnya, manusia nuslim
adalah manusia yang merdeka yang menyerahkdan dan menyembahkan diri kepda
Tuhan Yang Maha Esa. Semangat Tauhid (memutuskan pengabdian hanya kepda
Tuhan Yang Maha Esa) menimbulkan kesatuan tujuan hidup, kesatuan
kepribadian dan kemasyarakatan. Kehidpan bertauhid tidak lagi berat sebelah,
parsial dan terbatas. Manusia bertauhid adalah manusia yang sejati dan sempurna
yang kesadaran akan dirinya tidak mengenal batas.
Dia adalah pribadi manusia yang sifat perorangannya adalah keseluruhan
(totalitas) dunia kebudayaan dan peradaban. Dia memiliki seluruh dunia ini dalam
arti kata mengambil bagian sepenuh mungkin dalam menciptakan dan menikmati
kebaikan-kebaikan dan peradaban kebudayaan.
Pembagian kemanusiaan tidak selaras dengan dasar kesatuan kemanusiaan
(human totality) itu antara lain, ialah pemilahan antara eksistensi ekonomi dan
moral manusia, antara kegiatan duniawi dan ukhrowi antara tugas-tugas
peradaban dan agama. Demikian pula sebaliknya, anggapan bahwa manusia
adalah tujuan pada dirinya membela kemanusiaan seseorang menjadi : manusia
sebagai pelaku kegiatan dan manusia sebagai tujuan kegiatan. Kepribadian yang
pecah berlawanan dengan kepribadian kesatuan (human totality) yang homogen
dan harmonis pada dirinya sendiri : jadi berlawanan dengan kemanusiaan.
Oleh karena hakikat hidup adalah amal perbuatan atau kerja, maka nilainilai
tidak dapat dikatakan ada sebelum menyatakan diri dalam kegiatan-kegiatan
konkrit dan nyata. Kecintaan kepada Tuhan sebagai kebaikan, keindahan,
kebenaran yang mutlak dengan sendirinya memancar dalam kehidupan sehari-hari
dalam hubungannya dengan alam dan masyarakat, berupa usaha-usaha yang nyata
guna menciptakan sesuatu yang membawa kebaikan, keindahan dan kebenaran
bagi sesama manusia “amal saleh” (harfiah : pekerjaan yang selaras dengan
kemnusiaan) merupakan pancaran langsung dari pada iman. Jadi Ketuhanan Yang
Maha Esa memancar dalam perikemanusiaan. Sebaliknya karena kemanusiaan
adalah kelanjutan kecintaan kepada kebenaran maka tidak ada perikemanusiaan
tanpa Ketuhanan Yang Maha Esa. Perikemanusiaan tanpa Ketuhanan adalah tidak
sejati. Oleh karena itu semangat Ketuhanan Yang Maha Esa dan semangat
mencari ridho dari pada-Nya adalah dasar peradaban yang benar dan kokoh. Dasar
selain itu pasti goyah dan akhirnya membawa keruntuhan peradaban.
“Syirik” merupakan kebalikan dati Tauhid, secara harfiah artinya
mengadakan tandingan, dalam hal ini kepada Tuhan. Syirik adalah sifat menyerah
dan menghambakan kepada sesuatu selain kebenaran baik kepada sesama manusia
maupun alam. Karena sifatnya yang meniadakan kemerdekaan azasi, syirik
merupakan kejahatan terbesar kepada kemanusiaan. Pada hakikatnya segala
bentuk kejahatan dilakukan orang karena syirik. Sebab dalam melakukan
kejahatan itu dia menghambakan diri kepada motif yang mendorong dilakukannya
kejahatan tersebut yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kebenaran. Demikian
pula karena syirik seseorang mengadakan pamrih atas pekerjaan yang
dilakukannya. Dia bekerja bukan karena nilai pekerjaan itu sendiri dalam
hubungannya dengan kebaikan, keindahan dan kebenaran, tetapi karena hendak
memperoleh sesuatu yang lain.
“Musyrik” adalah pelaku dari pada syirik. Seseorang yang menghambakan
diri kepada sesuatu selain Tuhan baik manusia maupun alam disebut musyrik,
sebab dia mengangkat sesuatu selain Tuhan menjadi setingkat dengan Tuhan.
Demikian pula seseorang yang menghambakan (sebagaimana dengan
Tiran atau Diktator) adalah musyrik, sebab dia mengangkat dirinya sendiri sama
dengan Tuhan.
Kedua perlakuan itu merupakan penentang terhadap kemanusiaan, baik
bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Maka setiap berperikemanusiaan adalah
sikap yang adil, yaitu sikap yang menempatkan sesuatu kepada temptnya yang
wajar, seseorang yang adil (just, wajar) ialah yang memandang manusia : tidak
melebihkan sehingga menghambakan dirinya pada-Nya. Dia selalu menyimpan
i’tikad baik dan lebih baik (ichsan), maka kebutuhan menimbulkan sikap yang
adil dan baik kepada manusia.
V. INDIVIDU DAN MASYARAKAT
Telah diterangkan dimuka, bahwa pusat kemanusiaan adalah masingmasing
pribadinya, dan bahwa kemerdekaan pribadi adalah hak azasi yang
pertama. Tidak ada sesuatu yang berharga daripada kemerdekaan itu. Juga telah
dikemukakan bahwa manusia hidup dalam suatu bentuk hubungan tertentu dengan
dunia disekitarnya, sebagai makhluk sosial, manusia tidak mungkin memenuhi
kebutuhan kemanusiaannya dengan baik tanpa berada ditengah sesamanya dalam
bentuk-bentuk hubungan tertentu. Maka dalam masyarakat itulah kemerdekaan
azasi diwujudkan. Tetapi justru karena adanya kemerdekaan pribadi itu maka
timbul perbedaan-perbedaan antara suatu pribadi dengan yang lainnya.
Sebenarnya perbedaan-perbedaan itu adalah untuk kebaikan dirinya sendiri; sebab
kenyataan yang penting dan prinsipil, ialah bahwa kehidupan ekonomi, sosial dan
kultural menghendaki pembagian kerja yang berbda-beda.
Pemenuhan suatu bidang kegiatan guna kepentingan masyarakat adalah
suatu keharusan, sekalipun hanya oleh sebagian anggotanya saja. Namun sejalan
dengan prinsip kemanusiaan dan kemerdekaan, dalam kehidupan yang teratur
tiap-tiap orang harus diberi kesempatan untuk mengembangkan kecakapannya
melalui aktifitas dan kerja yang sesuai dengan kecenderungannya dan bakatnya.
Namun inilah kontradiksi yang ada pada manusia. Dia adalah makhluk yang
sempurna dengan kecerdasan dan kemerdekaannya dapat berbuat baik kepada
sesamanya, tetapi pada waktu yang sama ia merasakan adanya pertentangan yang
konstan dengan keinginan yang terbatas dibawah sadar yang jika dilakukan pasti
merugikan orang lain. Keinginan tak terbatas sebagai nafsu. Hawa nafsu
cenderung kearah merugikan orang lain (kejahatan) dan kejahatan dilakukan
orang karena mengikuti hawa nafsu. Ancaman atas kemerdekaan masyarakat, dan
karena itu juga berarti ancaman terhadap kemerdekaan pribadi anggotanya ialah
keinginan tak terbatas atau hawa nafsu tersebut, maka selain kemerdekaan,
persamaan hak antara sesama manusia adalah esensi kemanusiaan yang harus
ditegakkan. Kemerdekaan tak terbatas hanya dapat dipunyai satu orang,
sedangkan untuk lebih dari satu orang, kemerdekaan tak terbatas tidak dapat
dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan, kemerdekaaan seseorang dibatasi
oleh kemerdekaan orang lain. Pelaksanaan kemerdekaan tak terbatas hanya berarti
pemberian kemerdekaan kepada pihak yang kuat atas yang lemah (perbudakan
dalam segala bentuknya), sudah tentu hak itu bertentangan dengan prinsip
keadilan. Kemerdekaan dan keadilan merupakan dua nilai yang saling menopang.
Sebab harga diri manusia terletak pada adanya hak bagi orang lain untuk
mengembangkan kepribadiannya. Sebagai kawan hidup dengan tingkat yang
sama. Anggota-anggota masyarakat harus saling menolong dalam membentuk
masyarakat yang bahagia.
Sejarah dan perkembangannya bukanlah suatu yang tidak mungkin
dirubah. Hubungan yang benar antara manusia dan sejarah bukanlah penyerahan
pasif, tetepi sejarah ditentukan oleh manusia itu sendiri. Tanpa pengertian ini
adanya azab Tuhan (akibat buruk) dan pahala (akibat baik) bagi suatu amal
perbuatan mustahil ditanggung manusia.
Manusia merasakan akibat amal perbuatannya sesuai dengan ikhtisarnya
dalam hidup ini (dalam sejarah) dalam hidup kemudian (sesudah sejarah).
Semakin seseorang bersungguh-sungguh dalam kekuatan yang bertanggung jawab
dengan kesadaran yang terus menerus akan tujuannya dalam membentuk
masyarakat semakin ia mendekati tujuan. Manusia mengenali dirinya sebagai
makhluk yang nilai dan martabatnya dapat sepenuhnya dinyatakan, jika ia
mempunyai kemerdekaan tidak saja mengatur hidupnya sendiri tetapi juga untuk
memperbaiki hubungan sesama manusia dalam lingkungan masyarakat. Dasar
hidup gotong royong ini ialah kesetiakawanan dan kecintaan sesama manusia
dalam pengakuan akan adanya persamaan dan kehormatan bagi setiap orang.
VI. KEADILAN SOSIAL DAN KEADILAN EKONOMI
Telah kita bicarakan hubungan antara individu dan masyarakat di mana
kemerdekaan dan pembatasan kemerdekaan saling bergantung, dan di mana
perbaikan kondisi masyarakat tergantung kepda perencanaan manusia dan usahausaha
bersamanya. Jika kemerdekaan dicirikan dalam bentuk yang tidak bersyarat
(kemerdekaan tak terbatas), maka sudah terang bahwa setiap orang diperbolehkan
mengejar dengan bebas segala keinginan pribadinya. Akibatnya pertarungan
antara keinginan yang bermacam-macam itu satu sama lain dalam kekacauan atau
anarchi, sudah barang tentu menghancurkan masyarakat dan meniadakan
kemanusiaan. Sebab itu harus ditegakkan keadilan dalam masyarakat. Siapakah
yang harus menegakkan keadilan dalam masyarakat sudah barang pasti
masyarakat itu sendiri, tetapi dalam prakteknya diperlukan adanya suatu
kelompok dalam masyarakat yang karena kualitas-kualitas yang dimilikinya
senantiasa mengadakan suatu usaha-usaha menegakkan keadilan itu dengan jalan
selalu menganjurkan sesuatu yang bersifat kemanusiaan serta mencegah
terjadinya sesuatu yang berlawanan dengan kemanusiaan.
Kualitas terpenting yang harus dipunyai, rasa kemanusiaan yang tinggi,
sebagai pancaran dari kecintaan yang tak terbatas kepada Tuhan. Di samping itu
diperlukan kecakapan yang cukup. Kelompok orang-orang itu adalah memimpin
masyarakat. Memimpin ialah mengakkan keadilan, menjaga agar setiap orang
memperoleh hak asasinya dan dalam waktu yang sama menghormati kemerdekaan
orang lain dan martabat kemanusiaannya sebagai manifestasi kesadaran akan
tanggung jawab sosial.
Negara adalah bentuk masyarakat terpenting, dan pemerintah adalah
susunan pimpinan masyarakat yang terkuat dan berpengaruh. Oleh sebab itu
pemerintah yang pertama berkewajiban menegakkan keadilan. Maksud semula
dan fundamental dari pada didirikannya negara dan pemerintahan ialah guna
melindungi manusia yang menjadi warga negaranya dari pada kemungkinan
perusakan terhdap kemerdekaan dan harga diri sebagai manusia, sebaliknya setiap
orang mengambil bagian yang bertanggung jwab dalam masalah-masalah negara
atas dasar persamaan yang diperoleh melalui demokrasi.
Pada dasarnya masyarakat dengan masing-masing pribadi yang ada
didalamnya haruslah memerintah dan memimpin diri sendiri. Oleh karena itu
pemerintah haruslah merupakan kekuatan yang lahir dari masyarakat sendiri.
Pemerintah haruslah demokratis, berasal dari rakyat, oleh arakyat dan untuk
rakyat menjalankan kebijaksanaannya atas persetujuan rakyat berdasarkan
musyawarah dan di mana rasa keadilan dan martabat kemanusiaan tidak
terganggu. Kekuatan yang sebenarnya di dalam negara ada di tangan rakyat, dan
pemerintah harus bertanggung jawab kepada rakyat.
Menegakkan keadilan mencakup penguasaan atas keinginan-keinginan dan
kepentingan-kepentingan pribadi yang tak mengenal batas (hawa nafsu). Adalah
kewajiban dari pada negara sendiri dan kekuatan-kekuatan sosial untuk
menjunjung tinggi prinsip kegotong-royongan dan kecintaan sesama manusia.
Menegakkan keadilan adalah amanat rakyat kepada pemerintah yang mesti
dilaksanakan. Ketaatan rakyat kepada pemerintah merupakan ketaatan kepada diri
sendiri yang wajib dilaksanakan. Disadari oleh sikap hidup yang benar, ketaatan
kepada pemerintah termasuk dalam lingkungan ketaatan kepada Tuhan
(kebenaran mutlak). Pemerintah yang benar dan harus ditaati ialah yang mengabdi
pada kemanusiaan, kebenaran dan akhirnya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Perwujudan menegakkan keadilan yang terpenting dan berpengaruh ialah
menegakkan keadilan yang terpenting dan berpengaruh ialah menegakkan
keadilan di bidang ekonomi atau pembagian kekayaan diantara anggota
masyarakat. Keadilan menuntut agar setiap orang dapat bagian yang wajar dari
pada kekayaan atau rezeki. Dalam masyarakat yang tidak mengenal batas-batas
individual, sejarah merupakan perkembangan dialektis yang berjalan tanpa
kendali dari pada pertentangan-pertentangan golongan yang didorong oleh ketidak
–serasian antara pertumbuhan kekuatan produksi di satu pihak dan pengumpulan
kekayaan oleh golongan-golongan kecil dengan hak-hak istimewa di lain pihak.
Karena kemerdekaan tak terbatas mendorong timbulnya jurang-jurang pemisah
antara kekayaan dan kemiskinan yang semakin dalam. Proses selanjutnya yaitu
bila sudah mencapai batas maksimal pertentangan golongan itu akan
menghancurkan sendi-sendi tatanan sosial dan membinasakan kemanusiaan dan
peradabannya.
Dalam masyarakat yang tidak adil, kekayaan dan kemiskinan akan terjadi
dalam kualitas dan proporsi yang tidak wajar sekaligus realitas selalu
menunjukkan perbedaan-perbedaan antara manusia dalam kemampuan fisik
maupun mental namum dalam kemiskinan dalam masyrakat yang tidak
menegakkan keadilan adalah keadilan yang merupakan perwujudan dari
kezaliman. Orang-orang kaya menjadi pelaku dari kezaliman sedangkan orangorang
miskin dijadikan sasaran atau korabnnya. Oleh karena itu sebagai yang
menjadi sasaran kezaliman, orang-orang miskin berada di pihak yang benar.
Pertentangan antara kaum miskin menjadi pertentangan antara kaum yang
manjalankan kezaliman dengan yang dizalimi. Dikarenakan kebenaran pasti
menang terhadap kebathilan, maka pertentangan akan disudahi dengan
kemenangan tak terhindar bagi kaum miskin, kemudian mereka memegang
tampuk pimpiunan dalam masyarakat.
Kejahatan di bidang ekonomi yang menyeluruh adalah penindasan oleh
kapitalisme. Dengan kapitalisme dengan mudah seseorang dapat memeras orangorang
yang berjuang mempertahankan hidupnya karena kemiskinan, kemudian
merampas hak-haknya secara tidak sah, berkat kemampuannya untuk
memaksakan persyaratan kerja dan hidup kepada mereka. Oleh karena itu
menegakkan keadilan mencakup pemberantasan kapitalisme dan segenap usaha
akumulasi kekayaan pada sekelompok masyarakat. Sesudah syirik kejahatan
terbesar kepada kemanusiaan adalah penumpukan harta kekayaan beserta
penggunannya yang tidak benar, menyimpang dari kepentingan umum, tidak
mengikuti jalan Tuhan. Maka menegakkan keadilan inilah membimbing manusia
ke arah pelaksanaan tata masyarakat yang akan memberikan kepada setiap orang
kesempatan yang sama untuk mengatur hidupnya secara bebas dan terhormat
(amar ma’ruf) dan pertentangan terus-menerus terhadap segal bentuk penindasan
kepada manusia kepada kebenaran asasinya dan rasa kemanusiaan (nahi
mungkar). Dengan perkataan lain harus diadakan restriksi-restriksi atau cara-cara
memperoleh, mengumpulkan dan menggunakan kekayaan itu. Cara yang tidak
bertentangan dengan kemanusiaan diperbolehkan (yang ma’ruf dihalalkan)
sedangkan cara yang bertentangan dengan kemanusiaan dilarang (yang mungkar
diharamkan).
Pemabgian ekonomi secara tidak benar itu hanya ada dalam suatu
masyarakat yang tidak menjalankan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa, dalam
nilai ini pengakuan ber-Ketuhanan Yang Maha Esa tetapi tidak melaksanakannya
sama nilainya dengan tidak ber-Ketuhanan sama sekali. Sebab nilai-nilai yang
tidak dapat dikatakan hidup sebelum menyatakan diri dalam amal perbuatan yang
nyata.
Dalam suatu masyarakat yang tidak menjadikan Tuhan sebagai satusatunya
tempat tunduk dan menyerahkan diri manusia dapat diperbudaknya antara
lain oleh harta benda. Tidak lagi seorang pekerja menguasai hasil pekerjaannya,
tetapi justru dikuasai oleh hasil pekerjaan itu. Produksi seorang buruh
memperbesar kapital majikan dan kapital itu selanjutnya lebih memperbudak
buruh. Demikian pula terjadi pada majikan bukan ia menguasai kapital tetapi
kapital itulah yang menguasai. Kapital atau kekayaan telah menggenggam dan
memberikan sifat-sifat tertentu seperti keserakahan, ketamakan dan kebengisan.
Oleh karena itu menegakkan keadilan bukan saja dengan amar ma’ruf nahi
mungkar sebagaimana diterangkan di muka, tetapi juga melalui pendidikan yang
intensif terhadap pribadi-pribadi agar tetap mencintai kebenaran dan menyadari
secara mendalam akan adanya Tuhan. Sembahyang merupakan pendidikan
kontinue, sebagai bentuk formil peringatan pada Tuhan. Sembahyang yang benar
akan lebih efektif dalam meluruskan dan membetulkan garis hidup manusia.
Sebagaimana ia mencegah kekejian dan kemungkaran. Jaid sembahyang
merupakan penopang hidup yang benar. Sembahyang menyelesaikan masalahmasalah
kehidupan, termasuk pemenuhan kebutuhan yang ada secara intrinsik
pada rohani manusia yang mendalam, yaitu kebutuhan spiritual berupa
pengabdian yang bersifat mutlak.
Pengabdian yang tidak tersalurkan secara benar kepada Tuhan Yang Maha
Esa tentu tersalurkan ke arah sesuatu yang lain. Dan membahayakan
kemanusiaan.
Dalam hubungan itu telah terdahulu keterangan syrik yang merupakan
kejahatan fundamental terhadap kemanusiaan. Dalam masyarakat, yang adil
mungkin masih terdapat pembagian manusia menjadi golongan kay dan miskin.
Tetapi hal itu terjadi dalam batas-batas kewajaran dan kemanusiaan dengan
pertautan kekayaan dan kemiskinan yang mendekat. Hal itu sejalan dengan
dibenarkannya pemilikan pribadi (private ownership) atas harga kekayaan dan
adanya perbedaan-perbedaan tak terhindar dari pada kemampuan-kemampuan
pribadi, fisik maupun mental. Walaupun demikian, usaha-usaha ke arah perbaikan
dalam pembagian rezeki ke arah yang merata tetap harus dijalankan oleh
masyarakat. Dalam hal ini zakat adalah penyelesaian terakhir masalah perbedaan
kaya dan miskin itu. Zakat dipungut dari orang-orang kaya dalam jumlah
persentase tertentu untuk dibagikan kepada orang miskin.
Zakat dikenakan hanya atas harta yang diperoleh secara benar, syah dan
halal saja. Sedang harta kekayaan yang haram tidak dikenakan zakat tetapi harus
dijadikan milik umum guna manfaat bagi rakyat dengan jalan penyitaan oleh
pemerintah. Oleh karena itu, sebelum penarikan zakat dilakukan terlebih dahulu
harus dibentuk suatu masyarakat yang adil berdasarkan Ketuhanan Yang Maha
Esa, di mana tidak lagi didapati cara memperoleh secara haram, di mana
penindasan atas manusia oleh manusia dihapus.
Sebagaimana ada ketetapan tentang bagaimana harta kekayaan itu
diperoleh, juga ditetapkan bagaimana mempergunakan harta kekayaan itu.
Pemilikan pribadi dibenarkan hanya jika digunakan hak itu tidak bertentangan,
pemilikan pribadi menjadi batal dan pemerintah berhak mengajukan konfikasi.
Seorang dibenarkan mempergunakan harta kekayaan harta kekayaan
dalam batas-batas tertentu, yaitu dalam batas tidak kurang tetapi juga tidak
meleebihi rata-rata israf pertentangan dengan perikemanusiaan. Kemewahan
selalu menjadi provokasi terhadap pertentangan golongan dalam masyarakat
membuat akibat destruktif. Sebaliknya penggunaan kurang dari rat-rata
masyarakat (taqte) merusakkan diri sendiri dalam masyarakat disebabkan
membekunya sebagian dari kekayaan umum yang dapat digunakan untuk manfaat
bersama.
Hal itu semuanya merupakan kebenaran karena pada hakikatnya seluruh
harta kekayaan ini milik Tuhan. Manusia seluruhnya diberi hak yang sama atas
kekayaan itu dan harus diberikan bagian yang wajar dari padanya.
Pemilikan oleh seseorang (secara benar) hanya bersifat relatif sebagaimana
amanat dari Tuhan. Penggunaan harta itu sendiri harus sejalan dengan yang
dikehendaki Tuhan, untuk kepentingan umum. Maka kalau terjadi kemiskinan,
orang-orang miskin diberi hak atas sebagian harta orang-orang kaya, terutama
yang masih dekat dalam hubungan keluarga. Adalah kewajiban negara dan
masyarakat untuk melindungi kehidupan keluarga dan memberinya bantuan dan
dorongan. Negara yang adil menciptakan persyaratan hidup yang wajar
sebagaiman yang diperlukan oelh pribadi-pribadi agar dia dan keluarganya dapat
mengatur hisupnya secara terhormat sesuai dengan keinginan-keinginannya untuk
dapat menerima tanggung jawab atas kegiatan-kegiatannya. Dalam prakteknya,
hal itu berarti bahwa pemerintah harus membuka jalan yang mudah dan
kesempatan yang sama ke arah pendidikan, kecakapan yang wajar kemerdekaan
beribadah sepenuhnya dan pembagian kekayaan bangsa yang pantas.
VII. KEMANUSIAAN DAN ILMU PENGETAHUAN
Dari seluruh uraian yang telah dikemukakan, dapatlah dikumpulkan
dengan pasti bahwa inti dari pada kemanusiaan yang suci adalah iman dan kerja
kemanusiaan atau amal saleh. Iman dalam pengertian kepercayaan akan adanya
kebenaran mutlak yaitu Tuhan Yang Maha Esa, serta menjadikan satu-satunya
tujuan hidup dan tempat pengabdian diri yang terakhir dan mutlak. Sikap itu
menimbulkan kecintaan tak terbatas pada kebenaran, kesucian dan kebaikan yang
menyatakan dirinya dalam sikap perikemanusiaan. Sikap perikemanusiaan
menghasilkan amal saleh, artinya amal yang bersesuaian dengan dan
meningkatkan kemanusiaan. Sebaik-baiknya manusia ialah yang berguna untuk
sesamanya. Tetapi bagaimana hal itu harus dilakukan manusia?
Sebagaimana setiap perjalanan ke arah suatu tujuan ialah gerak ke depan
demikian pula perjalanan umat manusia atau sejarah adalah gerak maju ke depan.
Maka semua nilai dalam kehidupan relatif adanya berlaku untuk suatu tempat dan
suatu waktu tertentu.
Demikian segala sesuatu berubah, kecuali tujuan akhir dari segala yang
ada yaitu kebenaran mutlak (Tuhan). Jadi semua nilai yang benar adalah
bersumber atau dijabarkan dari ketentuan-ketentuan hukum-hukum Tuhan. Oleh
karena itu manusia yang berikhtiar dan merdeka, ialah yang bergerak. Gerak itu
tidak lain dari pada gerak maju ke depan (progresif). Dia adalah dinamis, tidak
statis. Dia buklanlah seorang tradisionalis, apalagi reaksioner. Dia menghendaki
perubahan terius-menerus sejalan dengan arah menuju kebenaran mutlak. Dia
senantiasa mencari kebenaran-kebenaran selama perjalanan hidupnya. Kebenarankebenaran
itu menyatakan dirinya dan ditemukan di dalam alam dari sejarah umat
manusia.
Ilmu pengetahuan adalah alat manusia untuk mencari dan menemukan
lebenaran-kebenaran dalam hidupnya, sekalipun relatif namun kebenarankebenaran
merupakan tonggak sejarah yang mesti dilalui oleh umat manusia
dalam perjalanan sejarah menuju kebenaran mutlak. Dan keyakinan adalah
kebenaran mutlak itu sendiri pada suatu saat dapat dicapai oleh manusia, yaitu
ketika mereka telah memahami benar seluruh alam dan sejarahnya sendiri.
Jadi ilmu pengetahuan adalah persyaratan dari amal saleh. Hanya mereka
yang dibimbing oleh ilmu pengetahuan dapat berjalan di atas kebenarankebenaran,
yang mencapaikannya kepada kepatuhan tanpa reserve kepada Tuhan
Yang Maha Esa. Dengan iman dan kebenaran ilmu pengetahuan manusia
mencapai puncak kemanusiaan yang tertinggi.
Ilmu pengetahuan ialah pengertian yang dipunyai oleh manusia secara
benar tentang dunia sekitarnya dan dirinya sendiri. Hubungan yang benar antara
manusia dengan alam sekelilingnya ialah hubungan dan pengarahan. Manusia
harus menguasai alam dan masyarakat, guna dapat mengarahkannya pada yang
lebih baik. Penguasaan dan kemudian pengarahan itu tidak mungkin dilaksanakan
tanpa pengetahuan tentang hukum-hukmunya gar dapat menguasai dan
menggunakannya bagi kemanusiaan. Sebab alam tersedia bagi umat manusia bagi
kepentingan pertumbuhan kemanusiaan. Hal itu tidak dapat dilakukan kecuali
mengerahkan kemampuan intelektualitas atau rasio. Demikian pula manusia harus
memahami sejarah dengan hukum-hukum yang tetap. Hukum sejarah yang tetap
(sunnatullah untuk sejarah) yaitu garis besarnya ialah bahwa manusia akan
menemui kejayaan jika setia kepada kemanusiaan fitrinya dan menemui
kehancuran jika menyimpang dari padanya dengan menuruti hawa nafsu. Tetapi
cara-cara perbaikan hidup sehingga terus-menerus maju ke arah yang lebih baik
sesuai dengan fitra adalah masalah pengalaman. Pengalaman ini harus ditarik dari
masa lampau, untuk dapat mengerti masa sekarang dan memperhitungkan masa
yang akan datang.
Menguasai dan mengarahkan masyarakat ialah mengganti kaedah-kaedah
umumnya dan membimbingnya ke arah kemajuan dan perbaikan.
VIII. KESIMPULAN DAN PENUTUP
Dari seluruh uraian yang telah lalu dapatlah diambil kesimpulan secara
garis besar sebagai berikut :
1. Hidup yang benar dimulai dengan percaya atau iman kepada Tuhan. Tuhan
Yang Maha Esa dan keinginan untuk mendekat serta kecintaan kepda-Nya
yaitu taqwa. Iman dan taqwa bukanlah nilai yang statis dan abstrak. Nialinilai
itu memancar dengan sendirinya dalam bentuk kerja nyata bagi
kemanusiaan dan amal saleh. Iman tidak memberi arti apa-apa bagi
manusia jika tidak disertai dengan usaha yang sungguh-sungguh untuk
menegakkan perikehidupan yang benar dalam berperadaban dan
berbudaya.
2. Iman dan taqwa dipelihara dan diperkuat dengan melakukan ibadat atau
pengabdian formil kepada Tuhan. Ibadat mendidik individu agar tetap
ingat dan taat kepada Tuhan. Ibadat mendidik individu agar tetap ingat dan
taat kepada Tuhan dan berpegang teguh kepada kebenaran sebagaimana
dikehendaki oleh hati nurani yang hanief. Segala sesuatu yang menyangkut
bentuk dan cara beribadat menjadi wewenang penuh dari pada agama
tanpa adanya hak manusia untuk mencampurinya. Ibadat yang terusmenerus
kepada Tuhan menyadarkan manusia akan kedudukannya di
tengah alam dan masyarakat sesamanya. Ia tidak melebihkan sehingga
kepada kedudukan Tuhan dengan merugikan kemanusiaan orang lain, dan
tidak mengurangi kehormatan dirinya sebagai makhluk tertinggi dengan
akibat perbudakan diri kepada alam maupun orang lain.
3. Kerja kemanusiaan/amal saleh mengambil bentuknya yang utama dalam
usaha yang sungguh-sungguh secara esensiil menyangkut kepantingan
manusia secara keseluruhan, baik dalam ukuran ruang maupun waktu yang
menegakkan keadilan dalam masyarakat sehingga setiap orang
memperoleh harga diri dan martabatnya sebagai manusia. Hal itu berarti
usaha-usaha yang terus menerus harus dilakukan guna mengarahkan
masyarakat kepada nilai-nilai yang baik, lebih maju dan lebih insani usaha
itu ialah amar ma’ruf, di samping usaha lain untuk mencegah segala
bentuk kejahatan dan kemerosotan nilai-nilai kemanusiaan dan nahi
munkar. Selanjutnya bentuk kerja kemanusiaan yang lebih nyata ialah
pembelaan kaum lemah, kaum tertindas dan kaum miskin pada umumny
serta usaha-usaha ke arah peningkatan nasib dan taraf hidup mereka yang
wajar dan layak sebagai manusia.
4. Kesadaran dan rasa tanggung jawab yang besar kepada kemanusiaan
melahirkan jihad, yaitu sikap hidup berjuang. Berjuang itu dilakukan dan
ditanggung bersama oleh manusia dalam bentuk gotong royong atas dasar
kemanusiaan dan kecintaan kepada Tuhan. Perjuangan menegakkan
kebenaran dan keadilan menuntut ketabahan, kesabaran dan pengorbanan.
Dan dengan jalan itulah kebahagiaan dapat diwujudkan dalam masyarakat
manusia. Oleh sebab itu persyaratan bagi bagi berhasilnya perjuangan
adalah adanya barisan yang merupakan bangunan yang kokoh kuat.
Mereka terlibat satu sama lain oleh persaudaraan dan solidaritas yang
tinggi dan oleh sikap yang tegas kepada musuh-musuh dari kemanusiaan.
Tetapi justru demi kemanusiaan mereka adalah manusia yang toleran.
Sekalipun mengikuti jalan yang benar, mereka tidak memaksakan kepada
orang atau golongan lain.
5. Kerja kemanusiaan atau amal saleh itu merupakan proses perkembangan
yang permanen. Perjuangan kemanusiaan berusaha mengarah kepada yang
lebih baik, lebih benar. Oleh sebab itu manusia harus mengetahui arah
yang benar dari pada perkembangan peradaban di segala bidang. Dengan
perkataan lain, manusia harus mendalami dan selalu mempergunakan ilmu
pengetahuan. Kerja manusia dan kerja kemanusiaan tanpa ilmu tidak akan
mencapai tujuannya, sebaliknya ilmu tanpa rasa kemanusiaan tidak akan
membawa kebahagiaan bahkan menghancurkan peradaban. Ilmu
pengetahuan adalah kurnia Tuhan yang besar artinya bagi manusia.
Mendalami pengetahuan harus didasari oleh sikap terbuka. Mampu
mengungkapkan perkembangan pemikiran tentang kehidupan
berperadaban dan berbudaya. Kemudian mengambil dan mengamalkan
dinataranya yang terbaik.
Dengan demikian tugas hidup manusia menjadi sangat sederhana, yaitu
ber-Iman, ber-Ilmu dan ber-Amal.
Wabillahit Taufik Wal Hidayah.
RUJUKAN NILAI-NILAI DASAR PERJUANGAN
BAB I DASAR DASAR KEPERCAYAAN
1. Al Qur’an, Surat An Nahl (XVI): 89, Artinya :
“Dan Kami (Tuhan) telah menurunkan kepada engkau (Muhammad)
sebuah kitab (Al Qur’an) sebagai keterangan tentang segala sesuatu serta
berbagai petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang Muslim.”
2. Al Qur’an, Al Ikhlas (CXII); 1-4, Artinya :
“Katakanlah: Dia itu adalah Allah Yang Maha Esa. Dia itu adalah Tuhan.
Tuhan tempat segala menaruh harapan. Tiada Ia berputra dan tiada pula
berbapak, serta tiada satupunyang baginya sepadan.”
3. Al Qur’an, S. Al Hadid (LVII); 3, Artinya :
“Dia adalah yang pertama dan yang terakhir, yang lahir dan yang bathin.

4. Al Qur’an, S. Al Baqarah (II);115, Artinya :
“Maka kemanapun jua kamu berpaling, disanalah wajah Tuhan. ”
5. Al Qur’an, S. Al An’aam (VI); 73, Artinya :
“Dan ia (Tuhan) itu beserta kamu dimanapun kamu berada”
6. Al Qur’an, S. Al An’aam (VI); 73, Artinya :
“Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. …”
7. Al Qur’an, S. Al Mu’minun (XXIII): 14,
Artinya: “…Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.”
8. Al Qur’an, S. Luqman (XXXI); 20, Artinya :
“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk
(kepentingan) mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan
menyempurnakan untukmu ni`mat-Nya lahir dan batin…”
9. Al Qur’an, S. Yunus (X); 101, Artinya :
“Katakanlah: “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi.
Tidaklah bermanfa`at tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang
memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.”
10. Al Qur’an, S. Shaad (XXXVIII); 27, Artinya :
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara
keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang
kafir,…”
11. Al Qur’an, S. At Tiin (XCV); 4, Artinya :
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang
sebaik-baiknya.”
12. Al Qur’an , S. Al Israa’ (XVII); 70, Artinya :
“Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas
kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”
13. Al Qur’an, S. Al An’aam (VI); 65, Artinya :
“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia
meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa
derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.
Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
14. Al Qur’an, S. Hud (XI); 16, Artinya :
“Dia (Tuhan) menumbuhkan kamu (ummat manusia) dari bumi dan
menyuruh kamu memakmurkannya”
15. Al Qur’an, S. Al Ahzab (XXXIII); 72, Artinya :
“Sesungguhnya Kami (Tuhan) menawarkan sebuah amanat (akal pikiran)
kepada langit-langit, bumi dan gunung-gunung, maka mereka itu menolak
untuk menanggungnya dan merasakan keberatan atas amanat itu,
manusialah yang menanggungnya, sesungguhnya manusia itu mempersulit
diri sendiri dan bodoh”
16. Al Qur’an, S. Al Ankabut (XXIX); 20, Artinya :
“Katakanlah : Mengembaralah kamu di muka bumi, kemudian
perhatikanlah olehmu bagaimana Allah memulai penciptaan-Nya
kemudian mengembangkan pertumbuhan yang kemudian, Sesungguhnya
Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu”
17. Al Qur’an, S. Al Qashash (XXVIII); 20, Artinya :
“Katakanlah : Mengembaralah kami di muka bumi, kemudian
perhatikanlah olehmu bagaimana Allah memulai penciptaan-Nya
kemudian mengembangkan pertumbuhan yang kemudian. Sesungguhnya
Allah itu Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
18. Al Qur’an, S. Al Isra’ (XVII); 72, Artinya :
“Dan barang siapa di sini (dunia) buta (tidak berilmu), maka di akhirat
nanti buta pula dan lebih sesat lagi jalannya. ”
19. Al Qur’an, S. Al Isra’ (XVII); 36, Artinya :
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang engkau tidak mempunyai
pengertian tentang hal itu, sebab sesungguhnya pendengaran, penglihatan
dan hati nurani itu semuanya bertanggung jawab atas hal tersebut.”
20. Al Qur’an, S. Al Mujahadah (LVIII) Artinya :
“Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan
berilmu bertingkat-tingkat.”
21. Al Qur’an, S. Fushilat; 37, Artinya :
“Janganlah kamu bersujud kepada matahari ataupun bulan tetapi
bersujudlah kepada Allah yang menciptakan.”
22. Al Qur’an, S. Al Fatihah (I); 4, Artinya :
“Tuhan adalah pemili atau Raja Hari Agama (Kiamat).”
23. Al Qur’an, S. Al Hajj (XXII); 56, Artinya :
“Kerajaan pada hari itu hanyalah bagi Allah, Dia mengadili antara
manusia (suatu lukisan simbolis). ”
24. Al Qur’an, S. Al Baqrh (II); 48, Artinya :
“Dan berjaga-jagalah kamu sekalian terhadap masa di mana seseorang
tidak sedikitpun membela orang-orang lain dan di mana tidak diterima
suatu pertolongan dan tidak suatu tebusan serta tidak pula itu akan
dibantunya.”
25. Al Qur’an, S. Al ‘Araf (VII); 187, Artinya :
“Mereka bertanya kepada engkau (Muhammad) tentang hari kiamat
kapan akan terjadi? Jawablah : Sesungguhnya pengetahuan tentang hari
kiamat itu hanya ada pada Tuhan. Tidak seorangpun dapat menjelaskan
selain dari Dia Sendiri”.
BAB II PENGERTIAN DASAR TENTANG MANUSIA
1. Al Qur’an, S. Ar Rum (XXX); 30, Artinya :
“Hadapkanlah dengan seluruh dirimu itu kepada agama (Islam)
sebagaimana engkau adalah hanief (secara kodrat melihat kebenaran,
itulah fitrah Tuhan yang telah menfitrahkan manusia padanya)”
2. Al Qur’an, S. Adz Dzariyat (XVL); 56, Artinya :
“Aku (Tuhan) tidaklah menciptakan jin dan manusia hanyalah untuk
berbakti kepadaku”
3. Al Qur’an, S. At Taubah (IX); 105, Artinya :
“Katakanlah, bekerjalah kamu sekalian! Tuhan akan melihat kerjamu
demikian juga Rasul-Nya dan orang-orang beriman (masyrakat).”
4. Al Qur’an, S. Ash Shaf (LXI); 2-3, Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, mengapakah kamu mengadakan sesuatu
yang tidak kamu kerjakan/ besar dosanya jika kamu mengatakan sesuatu
yang tidak kamu kerjakan”
5. Al Qur’an, S. An Nahl (IV); 3, Artinya :
“Barang siapa berbuat baik, lelaki maupun perempuan sedangkan dia
beriman, maka pasti kami (Tuhan) berikan kepadanya hidup yang
bahagia, dan pasti Kami berikan pahala kepada mereka dengan sebaikbaiknya
apa yang telah mereka kerjakan.”
6. Al Qur’an, S. Al Ankabut (XXIX); 6, Artinya :
“Barangsiapa berjuang maka sebenarnya dia berjuang untuk dirinya
sendiri”
7. Al Qur’an, S. An Nisa (IV); 125, Artinya :
“Siapakah yang lebih baik dalam hal agama?dari pada orang yang
menyerahkan diri dengan seluruh pribadinya kepada Tuhan dan dia itu
bernuat baik (cinta kebaikan) serta mengikuti ajaran Ibrahim secara
hanief.”
8. Al Qur’an, S. Az Zumar (XXXIV); 18, Artinya :
“Mereka yang mendengarkan perkataan (pendapat) berusaha untuk
mengikuti dari padanya, mereka itulah yang mendapat petunjuk dari
Tuhan dan mereka itulah yang mempunyai akal pikiran.”
9. Al Qur’an, S. Al Baqarah (II); 269, Artinya :
“Tuhan memberikan kebijaksanaan kepada siapa saja yang dikehendaki-
Nya, maka barangsiapa yang mendapatkan kebijaksanaan itu sungguh dia
telah memperoleh kebaikan yang melimpah. Dan tidaklah memikirkan hal
itu kecuali orang-orang yang berakal.”
10. Al Qur’an, S. Al An’am (VI); 125, Artinya :
“Barangsiapa yang Tuhan kehendaki untuk diberikan kepadanya petunjuk
(kepada kebenaran), tetapi barangsiapa yang dikehendaki Tuhan untuk
disesatkan maka dadanya akan dijadikan sempit dan sesak, seakan-akan
dia sedang naik ke langit.”
11. Al Qur’an, S. Ali Imran (III); 134, Artinya :
“(orang yang bertaqwa itu) mereka yang dapat menahan marah, suka
memafkan kepada sesama manusia dan Tuhan cinta kepada orang yang
selalu berbuat baik.”
12. Al Qur’an, S. Al Bayyinah (XCVIII); 5, Artinya :
“Mereka tidaklah diperintahkan kecuali untuk berbakti kepada Tuhan
dengan mengikhlaskan agama (kebaktian) semata-matanya kepada-Nya
secara hanief (mencari kebenaran), menegakkan sembahyang dan
mengeluarkan zakat. Itulah jalan hidup (agama) yang benar.”
13. Al Qur’an, S. Al Baqarah (II); 207, Artinya :
“Di antara manusia ada yang menyerahkan dirinya (seluruh hidupnya)
untuk memperoleh persetujuan (ridlo) Tuhan. Dan Tuhan mencintai
hamba-hamba-Nya.”
14. Al Qur’an, S. Al Insaan (LXXVI); 8 -9, Artinya :
“Dan mereka itu memberi makan orang miskin, anak-anak yatim dan
orang-orang yang tertawan atas dasar sukarela mereka berkata: kami
memberi makan kepadamu hanya semata-mata karena diri Tuhan (ridlo-
Nya) bukan karena mengharapkan balasan atau ucapan terima kasih.”
15. Ditarik kesimpulan dari gambaran Al Qur’an, S. Al Baqarah (II); 264,
Artinya : “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menggugurkan
sedekahnmu dengan cacian dan celaan, sebagaimana dengan orang yang
mendermakan hartanya karena pamrih kepda sesame manusia serta tidak
percaya kepada Tuhan dan hari kemudian. Maka perumpamaan baginya
seperti batu yang diatasnyaada debu kemudian disapu oleh hujan lebat
dan batu tertinggal licin. Mereka itu tidak sedikitpun menguasai apa yang
telah mereka kerjakan”
16. Disimpulkan dari Al Qur’an, S. Fathir (XXXV); 10, Artinya :
“Barang siapa menghendaki kemuliaan itu pada Tuhan, kepada-Nya
ucapan yang baikmenuju dan pekerjaan yang baik diangkat-Nya.”
BAB III KEMERDEKAAN MANUSIA (IKHTIAR) DAN KEHARUSAN
UNIVESAL (TAKDIR)
1. Tersimpul dalam Al-Qur’an, S. An-Anfal (VIII): 23, artinya:
“Berhati-hatilah kamu sekalian terhadap malapetaka yang benar-benar
tidak hanya menimpa orang-orang jahat di antara kamu.”
2. Al-Qur’an, S. Al-Baqarah (II): 46, artinya:
“Berhati-hatilah kamu sekalian akan hari (akihirat) dimana seseorang
tidak dapat membela orang lain sedikitpun dan tidak pula dapat diterima
pertolongan dan tebusan dari padanya, serta tidak pula orang-orang itu
akan dibantu.”
3. Al-Qur’an, S. Lukman (XXXI): 33< artinya:
“Ingatlah selalu hari kiamat dimana seorang ayah tidak menanggung
anaknya dan tidak pula seorang anak menanggung ayahnya sedikitpun.”
4. Al-Qur’an, S. Al-Hadid (XVII): 22, artinya:
“Tidaklah terjadi suatu kejadianpun dimuka bumi ini dan pada diri kamu
sekalian (masyarakat) melainkan ada catatan sebelum kamu dibeberkan.
Sesungguhnya hal itu bagi Tuhan perkara yang mudah.”
5. Al-Qur’an, S. Ar-Ra’ad (XIII): artinya:
“Sesungguhnya Tuhan tidak merubah sesuatu (nasib) yang ada pada
suatu bangsa sehingga mereka merubah sendiri apa yang ada pada diri
(jiwa) mereka.”
6. Al-Qur’an, S. Al-Hadid (XIII):,artinya:
“Agar kamu tidak menjadi putus asa atas kemalangan yang menimpa dan
tidak pula terlalu bersuka ria dengan kemajuan yang datang kepadamu.”
BAB IV KETUHANAN YANG MAHA ESA DAN PERIKEMANUSIAAN
1. Al-Qur’an, S. Lukman (XXXI): 30, artinya :
“Demikianlah sebab sesungguhnya Tuhan itulah kebenaran, sedang apa
yang mereka puja selain-Nya adalah kepalsuan dan sesungguhnya Tuhan
itu Maha Tinggi dan Maha Agung.”
2. Al-Qur’an, S. Ali Imran (III): 60, artinya :
“Kebenaran itu dari Tuhan. Maka jangan termasuk orang-orang yang
ragu.”
3. Al-Qur’an, S. Al-Lail (XCIX): 19-20-21, artinya :
“Tidak bagi seorangpun kebahagiaan itu dianugrahkan oleh-Nya (Tuhan)
kecuali (jika amal perbuatan) semata-mata untuk mencari muka (ridlo)
Tuhan Yang Maha Tinggi, dan tentulah Ia akan meridloinya.”
4. Al-Qur’an, S. Ali Imran (III): 19, artinya :
“Sesungguhnya agama itu bagi Tuhan adalah penyerahan diri (Islam).”
5. Al-Qur’an, S. Al-Ahzab (XXXIII): 49, artinya :
“Mereka yang menyampaikan ajaran-ajaran Tuhan dan tidak
menghambakan dirinya kepada siapapun kecuali kepada Tuhan, dan
cukuplah Tuhan yang memperhitungkan (amal mereka).”
6. Al-Qur’an, S. Asy-Syu’ara (XXVI): 226, artinya :
“Dan sesungguhnya mereka itu mengatakan hal-hal Yng mereka tidak
kerjakan.”
7. Tentang rangkaian tak terpisahkan dari pada Iman dan amal saleh dapat
dilihat dari pengulangan tidak kurang dari lima puluh kali kata-kata:
Aamanu wa’amilus shalihat dan terdapat dimana-mana di dalam Al-
Qur’an.
8. Al-Qur’an, S. Ann-Nur (XXIV): 39, artinya :
“Orang-orang kafir itu amal-amal perbuatannya bagaikan fatamorgana
di saru lembah: orang yang kehausan mengirimnya air, tetapi setelah
didatanginya tidak didapatnya suatu apapun.”
9. Al-Qur’an, S. Al Baqarah (II); 109, artinya :
“Apakah orang yang mendirikan bangunannya di atas dasar taqwa
kepada Tuhan dan mencari ridho-Nya itu lebih baik, ataukah orang yang
mendirikan bangunannya pada tepi jurang yang retak kemudian rubuh
bersamanya masuk neraka jahanam.”
10. Al-Qur’an, S. Lukman (XXXI); 13, artinya :
“Sesungguhnya syirik itu suatu kejahatan yang besar.”
11. Iman tidak mengkin bercampur dengan kejahatan, sebagaimana tersimpul
dari Al-Qur’an, S. Al An’am (VI), artinya :
“Mereka yang beriman dan tidak mencampur iman dengan kejahatan,
mereka itulah yang mendapat petunjuk.”
12. Hadist : artinya :.
“Sesungguhnya sesuatu yang paling aku khawatirkan menimpa sekalian
ialah syirik kecil, yaitu riya’ (pamrih)”
13. Disimpulkan dari titik perpisahan antara orang-orang Islam dan orangorang
kafir pemegang kitab suci (Kristen dan Yahudi) dalam Al Qur’an S.
Ali Imran (III); 64, artinya :
“Katakanlah : Hai kaum pemegang Kitab Suci Kristen dan Yahudi
marilah kaum sekalian menuju titik persamaan antara kami (ummat
Islam) dan kamu, yaitu bahwa kita tidak mengabdi kecuali pada Tuhan
Yang Maha Esa kita tidak sedikitpun membaut syirik kepada-Nya dan
tidak pula sebagian dari kita mengangkat sebagian yang lain menjadi
Tuhan (dengan kekuasaan dan wewenang seperti yang ada pada Tuhan
Yang Maha Esa) selain Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian jika mereka
megelak katakanlah : Jadikanlah kamu sekalian sebagai saksi kepad
Tuhan saja.”
14. Tersimpul dari penilaian kepad Fir’aun dalam Al-Qur’an, S. Al Quraisy
(XXVII); 4, artinya :
“Sesungguhnya Fir’aun itu telah menjadi sombong di muka bumi ini, dia
menjadikan rakyatnya berkelompok-kelompok (divide et impera) dan
menindas sebagian dari mereka.”
15. Al-Qur’an, S. An Nahl (XVI); 90, artinya :
“Sesungguhnya Tuhan memerintahkan untuk menegakkan keadilan dan
mengusahakan perbaikan.”
BAB V INDIVIDU DAN MASYARAKAT
1. Al-Qur’an, S. Az Zkruf (XLIII); artinya :
“Kami (Tuhan) membagi-bagi di antara mereka manusia kehidupan
mereka selama di dunia.”
2. Al-Qur’an, S. Al Maidah (V); 48, artinya :
“Bagi setiap golongan di antara kamu ialah kami tetapkan suatu cara
dan jalan hidup tertentu.”
3. Al-Qur’an, S. Al Lail (XCII); 4, artinya :
“Sesungguhnya usahamu sekalian (manusia) sangat beraneka ragam.”
4. Al-Qur’an, S. Al Isra’ (XVII); 84, artinya :
“Katakanlah : setiap orang bekerja sesuai dengan pembawaannya.
Sebenarnyalah Tuhanmulah pula, yang lebih mengetahui siapa yang
lebih benar jalan hidupnya.”
Al Qur’an, S. Az Zumar (XXXIX); 39, artinya :
“Katakanlah : Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu,
sesungguhnya aku akan bekerja (pula), maka kelak kamu akan
mengetahu hasilnya.”
5. Al-Qur’an, S. Yusuf (XII); 53, artinya :
“Sesungguhnya nafsu itu mendorong kepada kejahatan, kecuali yang
mendapatkan rahmat dari Tuhanku.”
Al-Qur’an, S. Rum (XXX); 29, artinya :
“Sebenarnya saja orang-orang jahat itu mengabdi kepada hawa nafsu
mereka tanpa ilmu pengetahuan.”
6. Al-Qur’an, S. Al Maidah (V); 2, artinya :
“Bergotong-royonglah kamu sekalian dalam kebaikan dan taqwa, dan
jangalah kamu bergotong-royong dalam kejahatan dan permusuhan.”
7. Al-Qur’an, S. Al Zal Zalah (XCIX); 7 -8, artinya :
“Barang siapa mengerjakan seberat atom kebaikan dia akan
menyaksikan (akibat baiknya) dan barang siapa mengerjakan seberat
atom kejahatan diapun akan menyaksikan (akibat buruknya).”
8. Al-Qur’an, S. At Taubah (IX); 75, artinya :
“Dan jika orang-orang (jajat) itu bertaubat maka kebaikan bagi mereka,
tetapi jika mereka membangkang maka Tuhan akan menyiksa mereka
dengan siksaan yang pedih di dunia dan akhirat”
Al-Qur’an, S. An Nahl (XVI); 30, artinya :
“Bagi mereka yang berbuat baik di dunia ini mendapat kebaikan dan
tentulah kebaikan di akhirat lebih lagi.”
9. Al-Qur’an, S. Al Ankabut (XXIX); 69, artinya :
“Dan mereka berjuang dijalan-Ku (kebenaran), maka pasti Aku
tunjukkan jalannya (mencapai tujuan) sesunggunya Tuhan itu cinta
kepada orang-orang yang selalu berbuat baik (progresif).”
10. Al-Qur’an, S. Al Hujarat (XLIX); 13, artinya :
“Hai sekalian ummat manusia, sesungguhnya Kami (Tuhan) telah
menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku ialah agar kamu saling kenal
mengenal, sesungguhnyan yang paling mulai diantara kamu bagi Tuhan
ialah orang yang bertaqwa (cinta kebenaran) : sesungguhnya Tuhan itu
Maha Mengetahui dan Maha Meneliti.”
Al-Qur’an, S. Al Hujarat (XLIX); 10, artinya :
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman (cinta kebenaran) itu
bersaudara, maka usahakanlah adanya kerukunan di antara dua
golongan saudaramu.”
BAB VI KEADILAN SOSIAL DAN KEADILAN EKONOMI
1. Al-Qur’an, S. Al Lail (XCII); 8 -10, artinya :
“Adapun orang yang kafir tidak mau mengorbankan sedikitpun (dari
haknya) dan merasa cukup sendiri (egoistis) serta mendustakan
(mencemoohkan) kebaikan, maka ia akan licinkan jalan kea rah
kesukaran.”
2. Al-Qur’an, S. Al Maidah (V); 8, artinya :
“Janganlah sekali-kali kebencian segolongan orang itu membuat kamu
menyeleweng dan tidak menegakkan keadilan, tegakkanlah keadilan,
itulah yang lebih mendekati taqwa (kebenaran), dan bertaqwalah kamu
kepada Tuhan.”
3. Al-Qur’an, S. Ali Imran (III); 104, artinya :
“Hendaklah ada di antara kamu suatu kelompok yang mengajak kepada
kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf (baik) sesuai dengan
perikemanusiaan dan melarang yang munkar (jahat) ditolak
kemanusiaan.”
4. Hadist, artinya : Tiap-tiap kamu adalah pemimpin dan tiap-tap kamu
bertanggung jawab atas pimpinannya.
5. Ditarik dari kesimpulan dari keterangan tentang orang-orang yang
beriman, Al-Qur’an, S. As Syura (XLII); artinya :
“Urusan mereka diselesaikan melalui musyawarah di antara mereka.”
Al-Qur’an, S. As Syura (XLII); 42, artinya ;
“Sesungguhnya kesalahan terletak pada mereka yang mandhalimi
(bertindak tidak adil) kepada manusia dan berbuat kekacauan di muka
bumi tanpa alasan kebenaran.”
6. Al-Qur’an, S. An Nisa (IV); 59, artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu sekalian pada Tuhan
agar kamu menunaikan amanat-amanat kepada yang berhak dan jika
kamu memerintah diantara manusia, maka memerintahlah dengan
mengakkan keadilan.”
7. Al-Qur’an, S. An Nisa (IV); artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu sekalian pada Tuhan
dan taatlah kepada Raul-Nya serta kepada orang-orang yang
memegang urusan (pemerintah) diantara kamu.”
8. Al-Qur’an, S. Al Maidah (V); 45, artinya :
“Barang siapa yang tidak menjalankan hukum dengan apa yang
diturunkan oleh Tuhan (ajaran kebenaran), maka mereka itulah orangorang
yang jahat.”
9. Al-Qur’an, S. Al Hadid (LVII); 20, artinya :
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya hidup di dunia (sejarah) ini adalah
permainan kesenangan dan perhiasan, serta sling membanggakan di
antara kamu dan saling mengatasi (perlombaan memperbanyak dalam
hal harta kekayaan dan keturunan).”
10. Al-Qur’an, S. Al Isra’ (XVII); 16, artinya :
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami
perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu
(supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam
negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan
(ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancurhancurnya.”
11. Ditarik kesimpulan dari firman Tuhan tentang orang-orang Yahudi yang
terkutuk (karena sifat-sifat kapitalis mereka), yatiu Al-Qur’an, S. An
Nisa (IV); 160-161, artinya :
“Maka karena kejahatan orang-orang yahudi itulah Kami haramkan
atas mereka kehidupan yang baik yang dahulunya dihalalkan dan
karena mereka banyak sekali menghalangi jalan kepada Tuhan (jalan
kebenaran). Demikian juga karena mereka mengambil riba padahal
sudah dilarang, dan karena mereka merampas harta kekayaan manusia
dengan cara yang tidak benar (bathil).”
Demikian juga dapat disimpilkan dari seruan Nabi Syu’aib kepada
rakyatnya (rakyat Nabi Syu’aib adalah suatu prototype dari masyarakat
yang tidak adil atau kapitalis) tersebut di tiga tempat, antara lain ialah
Al-Qur’an, S. Asy Syu’ara (XXVI); 182 – 183, artinya :
“Dan timbanglah dengan ukuran yang betul (adil), serta janganlah
merampas harta milik sesama manusia dan janganlah kamu melakukan
kejahatan di muka bumi ini sambil membuat kekacauan.”
Terjadinya tindakan-tindakan atas sesama manusia (exploitation
del’home par l’home) dapat dipahamkan dari firman Tuhan dalam Al
Qur’an, Surat Al Baqarah (II); 279, artinya :
“…dan jika kamu taubat (berhenti menjalankan riba atau penindasan
kapitalistis), maka kamu memperoleh kembali kapital-kapitalmu, kami
tidak boleh mendhalimi (memperlakukan secara tidak adil, menindas)
dan tidak pula boleh didzalimi (diperlakukan tidak adil, ditindas).”
“Jaminan kemenangan bagi kaum miskin (dalam Al Qur’an juga disebut
Al Mustazafun”, artinya orang-orang yang dilemahkan, dimelaratkan
atau dijadikan hina dina, ditindas), tersebut dalam rangkaian cerita
tentang Fir’aun, yaitu S. Al Qashash (XXVII); 5, artinya:
“Dan Kami (Tuhan) menghendaki untuk memberikan pertolongan
kepada kaum tertindas di bumi, untuk kami jadikan pula mereka itu
pewaris-pewaris.”
12. Pemberantasan kapitalisme harus dilakukan dengan konsekuen, bila
perlu dengan menyatakan perang kepada kaum kapitalis, sesuai dengan
perintah Tuhan dalam Al-Qur’an, S. Al Baqarah (II); 278-279, artinya :
“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu sekalian kepada
Tuhan, dan tinggal apa yang tersisa dari pada riba (penindasan
kapitalis) kalau kamu benar-benar beriman. Jika tidak kamu kerjakan
(perintah meninggalkan riba) maka bersiaplah kamu sekalian terhadap
adanya perang dari Tuhan dan Rasul-Nya (perang suci jihad). Tetapi
jika kamu taubat (berhenti dari melakukan penindasan kapitalisme),
maka kamu dapat memperoleh kembali kapital-kapitalmu. Kamu tidak
menindas dan tidak pula ditindas.”
13. Al-Qur’an, S. Humazah (CIV); 1-3, artinya :
“Celakalah bagi setiap pencerca (kaum sinis kepada kebenaran) yang
suka mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia mengira
hartanya itu bakal mengekalkannya.”
14. Kaum muslimin yang seharusnya mempelopori tugas suci itu. Kaum
muslimin digambarkan dalam Al-Qur’an, S. Ali Imran (III); 110, artinya
: “Kamu adalah sebaik-baiknya golongan yang diketengahkan diantara
manusia karena kamu selalu menganjurkan kepada kebaikan dan
mencegah dari pada kejahatan dan kamu semua beriman kepada
Tuhan.”
15. Al-Qur’an, S. Ash Shaf (LXI); 2-3, artinya :
“Hai orang yang beriman, mengapakah kamu mengatakan sesuatu yang
tidak kamu kerjakan.”
16. Al-Qur’an, S. Al Ankabut (XXIX); 45, artinya :
“Sesungguhnya sembahyang itu mencegah melakukan kekejian-kekejian
dan sungguh selalu ingat Tuhan itu merupakan suatu yang agung.”
17. Hadist, artinya : “Sembahyang adalah tiang agama, barangsiapa
mengerjakan berarti menegakkan agama dan barangsiapa
meninggalkannya berarti merobohkan agama.”
18. Al-Qur’an, S. Luqman (XXXI); 45, artinya :
“Demikianlah, sebab sesungguhnya Tuhan itulah dan sesungguhnya
apa yang mereka puja selain-Nya adalah kepalsuan dan sesungguhnya
Tuhan itu Maha Tinggi dan Maha Agung.”
19. Al-Qur’an, S. Ar Rum (XXX); 37, artinya :
“Tidaklah mereka melihat bahwa Tuhan melapangkan rizki (ekonomi)
bagi siapa saja yang Ia kehendaki dan meyempitkannya, Sesungguhnya
dalam hal itu ada pelajaran-pelajaran bagi orang yang beriman.”
20. Al-Qur’an, S. At Taubat (IX); 60, artinya :
“Sesungguhnya sedekah (zakat) itu fakir miskin.”
21. Al-Qur’an, S. Al Baqarah (II); 188, artinya :
“Dan janganlah kamu memakan harta dengan cara yang bathil (tidak
benar) di antara kamu, dan kamu mengadakan hal itu kepada hakimhakim
(pemerintah) agar kamu dapat mengambil bagian dari harta
orang lain dengan dosa, pada hal kamu mengetahui”. Dari sini dapat
disimpulkan bahwa pemerintah yang tidak adil mungkin atau selalu
melindungi penindasan.
22. Al-Qur’an, S. Al Furqan (XXV); 67, artinya :
“Dan mereka yang apabila mempergunakan hartanya tidak berlebihan
dan tidak pula berkekurangan, melainkan dalam keseimbangan antara
keduanya.”
23. Al-Qur’an, S. Al Isra’ (XVII); 67, artinya :
“Berikanlah kepad keluarga itu haknya (dari harta yang kamu miliki)
demikian juga kepada orang miskin dan orang yang terlantar dan
janganlah berlebihan, itu adalah kawan-kawan setan sedangkan ssetan
ingkar kepada Tuhannya.”
24. Al-Qur’an, S. Al Isra’ (XVII); 16, artinya :
“Apabila Kami (Tuhan) menghendaki untuk menghncurkan suatu
negeri. Kami berikan kesempatan kepada orang-orang yang mewah di
negeri itu untuk memerintah, kemudian mereka membuat kecurangankecurangan
di negeri itu maka benar-benar terjadilah keputusan kata
(vonis) atas negeri itu, lalu Kami hancurkan.”
25. Al-Qur’an, S. Muhammad (XLVII); 38, artinya :
“demikianlah kamu adalah orang yang diserukan untuk
mempergunakan hartamu di jalan Tuhan (untuk kebaikan kepentingan
umum). Maka di antara kamu ada yang kikir dan barangsiapa kikir
maka sesungguhnya ia kikir kepada diri sendiri. Tuhan tidak
memerlukan sesuatupun, tetapi kamulah yang memerlukan dan kalau
kamu berpaling tidak mau mempergunakan harta untuk kebaikan umum
Tuhan akan menggantikan kamu dengan golongan orang lain, kemudian
mereka tidak lagi seperti kamu.”
26. Al-Qur’an, S. Thaha (XX); 6, 63, 4, 123, 131, 132 artinya :
“Ingatlah bahwa sesungguhnya kepunyan Tuhanlah segala sesuatu
yang ada di langit dan di bumi.”
27. Al-Qur’an, artinya :
“Adalah Kami (Tuhan) yang sesungguhnya menempatkan kamu di bumi
dan membuat untuk kamu sekalian didalamnya perikehidupan/mata
pencaharian.”
28. Al-Qur’an, S. Al Hadid (LVII); 7, artinya :
“Berimanlah kamu kepada Tuhan dan Rasulnya dan demikianlah dari
harta yang kamu jadikan oleh Tuhan untuk mengurusnya.”
29. Al-Qur’an, S. An Nur (XXIV); 33, artinya :
“Dan berikanlah kepada mereka (orang-orang miskin) itu dari harta
Tuhan yang telah diberikan-Nya kepada kamu.”
30. Al-Qur’an, S. Al Ma’aridj (LXX); 24-25, artinya :
“Dan orang-orang itu pad harta mereka terdapat hak yang pasti bagi
orang miskin yang meminta-minta maupun yang tidak meminta-minta.”
BAB VII KEMANUSIAAN DAN ILMU PENGETAHUAN
1. Al-Qur’an, S. At Tien (XCV); 6, artinya :
“Kecuali mereka yang beriman dan beramal saleh.”
2. Al-Qur’an, S. Al Qashash (XXVII), 8, artinya :
“Segala sesuatu itu rusak (berubah) kecuali diri-Nya (Tuhan).”
3. Al-Qur’an, S. Al An’am (VI); 57, artinya :
“Sesungguhnya hukum atau nilai itu hanya kepunyaan Allah, Dia
menerangkan keberatan dan Dia adalah sebaik-baik pemutus perkara.”
4. Al-Qur’an, S. Al Isra’ (XVII); 36, artinya :
“Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak
mempunyai pengertian akan dia, sebab sesungguhnya pendengaran,
penglihatan dan hati nurani itu semuanya bertanggung jawab terhadap
hal tersebut.”
5. Al-Qur’an, S. Fussilat (XLI); artinya :
“Akan kami perhatikan kepada mereka (manusia) tanda-tanda Kami di
luar angkasa dan dalam diri mereka sendiri, sehingga menjadi jelas
bagi mereka bahwa Al Qur’an itu benar. Tidaklah cukup dengan Tuhan
bahwa Dia menyaksikan segala sesuatu.”
6. Al-Qur’an, S. Fathir (XXXV); 28, artinya :
“Sesungguhnnya yang bertaqwa tidak hanya ada Tuhan melainkan
Allah, begitu pula pada Malaikat dan orang-orang yang berilmu
pengetahuan dengan tegak pada kejujuran.”
7. Al-Qur’an, S. Muhaddalah (LVIII); 11, artinya :
“Allah mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan
yang berilmu pengetahuan bertingkat-tingkat.”
8. Al-Qur’an, S. Al Jatsiyah (XLV); 134, artinya :
“Dan Dia (Tuhan) menyediakan bagi kamu apa yang ada di langit dan
di bumi, semuanya berasal dari pada-Nya. Sesungguhnya dalam hal ini
terdapat tanda-tanda (ayat-ayat) bagi golongan yang berpikir.”
9. Al-Qur’an, S. Ali Imran (III); 137, artinya :
“Telah lewt sebelum kamu hukum-hukum sejarah, maka
mengembaralah dimuka bumi kamu kemudian perhatikanlah oelhmu
bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan-Nya”
10. Al-Qur’an, S. As Syam (XCI); 9-10, artinya :
“Sungguh berbahagialah dia yang membersihkannya (dirinya) dan
sungguh celakalah dia mengotorinya (dirinya).”
11. Al-Qur’an, S. Yusuf (XII); 111, artinya :
“Sungguh dalam riwayat mereka itu terdapat pelajaran bagi orangorang
yang berpikir.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: