TERORISME & KEUTUHAN NKRI

August 10, 2009

Disampaikan pada Diskusi Mingguan di Pusat Inkubasi Kalipasir (PIKP)

pada tanggal 02 Agustus 2009

Hasrul Harahap*

Belum lekang dalam ingatan kita semua insiden 17 Juli 2009 kemarin sebuah bom lagi-lagi meledak di Hotel JW Mariot & Ritz Carlton sehingga memporak-porandakan bangunan megah yang dimiliki oleh negara Super Power tersebut. Pihak polisipun terus melakukan identifikasi dan investigasi apakah insiden tersebut benar-benar bom bunuh diri atau tidak? Atau memang jaringan Al-Qaedah kembali melakukan terornya yang mana mereka perlu pengakuan dari negara Adi Kuasa bahwa bahwa mereka masih tetap eksis di Indonesia. Maka timbul pertanyaan, Mengapa aksi teror kerap dilakukan di Indonesia? Apakah memang ada sebuah skenario besar yang dilakukan oleh kelompok tertentu untuk menguasai sistem ekonomi negara indonesia yang mana Indonesia sangat kaya dengan potensi Sumber Daya Alam. Teka teki ini yang belum terjawab oleh kita semua, atau memang ada pihak yang telah mengetahui aktivitas terorisme yang berkedok jihad agama, sehingga sebuah agama tertentu selalu di justifikasi dalam dalang insiden pengeboman di beberapa tempat di Indonesia. Beberapa hari yang lalu pada tanggal 06 Agustus 2009 media elektronik  mensinyalir tewasnya gemobong teroris internasional Noordin M Top oleh Densus 88 Mabes Polri di Temanggung Jawa Tengah, dan kepastian tewasnya Noordin M Top ini menjadi simpang siur mengingat tidak ditemukannya kesamaan DNA yang dilakukan oleh pihak forensik. Timbul pertanyaan, Apakah Noordin M Top sudah tewas atau masih berkeliaran di Indonesia? Butuh kerja keras pihak kepolisian untuk mencari dimana sebenarnya Noordin M Top berada.

Menurut Berger, Terorisme memiliki tiga komponen yang sangat penting yang mana salah satunya tidak bisa dipisahkan yang pertama adalah pelaku teror, yang kedua adalah tindak teror dan yang ketiga adalah sasaran teror (objek teror). Sehingga kalau mau kita telusuri lebih jauh insiden pengoboman yang terjadi di Indonesia selalu dilakukan secara sistematis dan terencana dan didukung oleh perangkat tehnologi yang sangat canggih bahkan disinyalir memiliki funding dana yang tidak begitu sedikit. Menurut AC Manullang pengamat inetelijen mengatakan bahwa ada lima tipe terorisme di Indonesia? Pertama, Kelompok terorisme negara, mereka ini pada umumnya belabelkan agama, Kedua, terorisme yang bukan belabelkan agama, ketiga, kelompok terorisme publik yang selalu mengobok-obok sebuah negara tertentu, Keempat, kelompok terorisme yang berdasarkan idiologi, kalau di indonesia masih tetap ada paham liberalisme, kapitalisme, marxisme, dan komunisme, Kelima, terorisme oportunis yang mana kelompok ini selalu dibayar oleh sebuh negara tertentu atau terorisme bayaran. Dari beberapa penjelasan AC Manullang diatas kita dapat mengidenfikasikan insiden pengoboman yang telah terjadi di beberapa tempat di Indonesia, sehingga tidak terjadi penafsiran yang salah dalam menyoroti persoalan aksi teror di Indonesia.

Latar belakang aksi terorisme di Indonesia

Ada beberapa hal yang melatarbelakangin terorisme di Indonesia. Pertama, Extrimisme Agama yang motivasi ini didasari oleh radikalisme agama. Paham berasumsi bahwa berperang melawan yang kafir adalah kewajiban, sedangkan kematian ini dianggap jihat untuk memperjuang agama Tuhan. Sikap radikalisme seperti inilah yang pada dasarnya bisa mengacaukan sistem sosial dan politik contohnya seperti pengeboman gereja di beberapa tempat. Kedua, Kelompok kepentingan negara tertentu yang ingin menimbulkan kekacauan, biasanya kelompok ini cenderung melakukan aksi teror untuk kepentingan negara tertentu baik itu kepentingan politik maupun kepentingan ekonomi. Kemajuan tehnologi merupakan salah satu faktor terpenting dalam menjalin koordinasi antar kelompok intelijen. Fasilitas tehnologi ini dipergunaka untuk menghimpun dana para teroris dan rekrutmen anggota teroris dalam melakukan aktivitasnya. Banyak pakar mengidentifikasi akar penyebab aksi teror, yaitu kebencian, penindasan, ketidakadilan, dan keputusasaan. Menurut Louis J Freeh beliau mengatakan bahwa terorisme disulut oleh kebencian, orang-orang yang menyimpan kebencian itu tinggal disuatu negara yang dipengaruhi oleh kefanatikan, dibayang-banyangi oleh persekongkolan, dan dilingkupi oleh kebodohan. Dalam banyak kasus motif utama yang dilakukan oleh para teroris adalah frustasi terhadap kekuatan politik, ekonomi, yang dampaknya tidak membawa apa-apa bagi kemaslahatan ummat di muka bumi ini. Adapun Michael Shimoff dalam makalahnya yang berjudul Kebijakan Terorisme mengemukakan terorisme adalah gejala dari sebuah problem, bukan penyebab yang sebenarnya untuk itu kita harus berupaya untuk meningkatkan kebebasan, martabat, keadilan dan nilai-nilai kemanusiaan. George Soros mengatakan upaya untuk memerangi tindak terorisme tidak bisa dilakukan dengan kekerasan yang seperti dilakukan oleh Amerika karena akan menimbulkan kebencian antar ummat manusia.

Ancaman NKRI

Di era globalisasi yang semakin liberal ini dan tren perkembangan jaman yang semakin maju yang didukung oleh ilmu pengetahuan dan tenologi, bukan tidak mungkin ancaman bom akan datang setiap dan mengancam eksistensi NKRI. Oleh sebab itu, sangat perlu di ambil langkah-langkah strategis dan taktis guna mengantisipasi dan situasi yang setiap saat akan terjadi demi keutuhan NKRI. Kita perlu mengamati situasi ekonomi kita sekarang ini yang mana ada sebuah neokolonialisme. Gerakan ini bukan tidak mungkin menjadi ancaman bagi kelangsungan NKRI dalam beberapa aspek kehidupan. Kemudian, Neokolonisme ini akan menciptakan hegemoni ekonomi dunia yang ini akan berimplikasi akan membahayakan suatu negara tertentu dan perlu disadari juga bahwa negara-negara yang sudah mapan ekonominya akan melegalkan segala macam cara untuk mencapai tujuannya dengan mengusung isu, Demokrasi, HAM, Lingkungan Hidup dan segmentasi lainnya. Samuel P. Huntington dalam bukunya The Clasch of Civilization, Menurut Huntington benturan antar peradaban dan masa depan politik dunia merupakan salah satu referensi kunci untuk memahami di mana posisi indonesia dalam percaturan geopolitik internasional memasuki milenium ketiga paska runtuhnya ideologi komunisme. Perlu dipahami penjajahan gaya baru (Neoliberalisme) ini sangat berpotensi memecah disintegrasi bangsa baik itu wacana budaya, ekonomi dan politik. Noam Chomsky dalam bukunya Global Order: Neoliberalisme and Global Order menuliskan bahwa neoliberalisme ekonomi merupakan penindasan terhadap tatanan humanisme baru di era modern ini. Peran Lembaga Negara dalam hal ini pihak Kepolisian, BIN, TNI, sangat penting dalam mengantisipasi aksi teroris yang ada di negara kita dan keutuhan NKRI. Oleb sebab itu peran intelijen diharapkan mampu bersaing dengan intelijen asing yang mempunyai kepentingan ekonomi global yang berkedokkan selalu membantu negara-negara yang terbelakang. Sudah lama diketahui bahwa intelijen asing melakukan infiltrasi dengan menanamkan agennya di Indonesia dengan berbagai kedok seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Penulis adalah Fungsionaris Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam Bidang Kesekjenan Periode 2008-2010 (PB HMI)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: