Ada apa islam radikal

May 14, 2009

Majalah Newsweek terbitan Bulan Maret 2009, kembali mengulas radikalisme dalam Islam. Judulnya saja sudah provokatif: Radical Islam Is A Fact of Life. How To Live With It. (Islam Radikal adalah fakta. Bagaimana kita hidup dengan ‘Islam Radikal” itu). Selain provokatif, judul itu sendiri sudah langsung membentuk opini. Paling tidak kita menjadi sangat tertarik membacanya secara utuh.

Ulasan didahului dengan judul pembuka, Learning to Live with Radical Islam (Belajar Hidup dengan Islam Radikal). Kalimat berikutnya sedikit lebih lunak, We don”t have to accept the stoning of criminals. But it”s time to stop treating Islamists as potential terrorists. Kita memang tidak harus menerima stoning of criminals. Tetapi sudah saatnya berhenti memperlakukan semua Umat Islam sebagai sumber terorisme.

Ulasan yang menjadi fokus Newsweek kali ini ditulis Fareed Zakaria, seorang keturunan India yang sangat memahami dunia Islam tetapi menetap di Amerika, memang menjadi sangat menarik. Fareed mencoba memahami cara ‘orang barat” memandang Islam dan berusaha meletakkan posisi Islam ke tempat yang lebih baik. Hampir semua tulisan Fareed bernuansa sekuler. Selalu sulit membaca posisi spiritualitasnya. Tetapi Fareed selalu bisa menampilkan ulasan yang menyeluruh tentang Islam dengan latar bekakang pemahaman yang kuat.

Penulis buku Future of Freedom itu berusaha meyakinkan kita bahwa garis keras Islam radikal ditemukan keberadaannya dan terus melakukan berbagai upaya untuk mendukung agenda-agenda mereka mulai dari Nigeria hingga ke Bosnia, serta ke Indonesia. Faktanya ialah Islam radikal telah memperoleh pijakan yang kuat di dalam benak umat Islam.

Fareed menegaskan, Islam militan adalah manusia yang jahad dan ini menjadi sesuatu berita yang buruk. Tetapi pertanyaannya ialah, apa yang harus kita lakukan, yang berada diluar dunia Islam, kata Fareed. Semua hal sudah dilakukan, mulai dari pengerahan pasukan di Afganistan dan berbagai bentuk kegiatan di dunia lainnya untuk memukul orang-orang jahat ini.
Semua ini disebabkan oleh berbagai alasan yang sangat kompleks sebagaimana telah diulas berulangkali. Tetapi alasan utama timbulnya Islam radikal ialah kegagalan negara-negara Islam untuk membangun dirinya sendiri, baik secara politik maupun secara ekonomi. Fareed mencontohkan Pakistan. Negara itu tidak mampu memberikan jaminan keamanan, keadilan dan pendidikan yang memadai kepada rakyatnya.

Politisi Pakistan selalu saja berkonspirasi satu sama lain bagaimana caranya memenjarakan lawan-lawan politiknya. Dan mereka menghabiskan seluruh waktunya untuk itu. Hasilnya, energi terkuras begitu banyak dan negara lama kelamaan kehilangan legitimasi dan kapasitas untuk memerintah.

Masalah Utama
Pertanyaan kita selanjutnya ialah, dengan menyebut Indonesia segaris dengan negara-negara yang berpotensi melahirkan Islam radikal harusnya tidak boleh membuat kita berdiam diri. Deplu atau Juru Bicaranya harus bereaksi proporsional atas pemberitaan itu. Namun sebulan setelah ulasan Fareed Zakaria itu dipublikasikan, kita tidak pernah bereaksi atau memberikan tanggapan. Padahal dunia kini sudah tanpa batas (boarderless). IT telah menyatukan dunia. Dan kita harus selalu menyikapinya dengan setara: cepat dan tepat.

Para ahli solusi selalu mengatakan, mengetahui masalah atau apalagi akar masalah, telah mengantarkan kita kepada solusi separuh dari masalah yang dihadapi. Masalah utama Islam radikal sebagaimana ditulis Fareed Zakaria sangat beralasan. Dia menyebut: umat Islam gagal membangun diri sendiri secara politik, ekonomi, keadilan dan pendidikan. Umat Islam menjadi masyarakat yang tertinggal dibandingkan dengan masyarakat lainnya.

Tidak untuk membela diri, Islam, sebagaimana yang kita pahami adalah rahmat bagi sekalian alam (didalamnya semua makhluk Tuhan tanpa kecuali). Masalahnya umat Islam menghadapi berbagai masalah di berbagai bagian dunia lainnya. Di Timur Tengah umat Islam mengalami perlakukan yang tidak adil dari Israel bersama sekutunya Amerika Serikat dan Eropah. Mereka berkepentingan dengan kekayaan minyak bumi negara-negara Arab. Dan Israel menyiapkan diri menjadi ‘alat” untuk itu.

Dalam berbagai aspek dan perspektif yang berbeda, umat Islam menghadapi berbagai masalah yang kurang lebih sama. Selain karena alasan-alasan yang diungkapkan oleh Fareed Zakaria, ada dua penyebab lain yang seringkali diabaikan, yaitu, pertama, adanya konflik atau kepentingan pihak ketiga yang berbenturan sedemikian sehingga umat Islam menjadi alat atau bahkan korban daripada konflik. Kedua, ada pihak pihak ketiga yang bekerja sebagai provokator, kolaborator, donatur bahkan inspirator.

Kedua alasan diatas, selalu saja bertemu sedemikian sehingga radikalisme Islam kita temukan di berbagai belahan dunia lainnya. Faktor kelemahan umat Islam, sebagaimana kata Fareed Zakaria, menjadi faktor penyebab ketiga yang amat penting. Kemiskinan atau ketertinggalan secara ekonomi, pendidikan, informasi dan politik membuat posisi umat Islam sangat rentan. Pemahaman yang amat terbatas terhadap geopolitik secara global membuat umat Islam bukan hanya menjadi alat bagi lahirnya radikalisme melainkan menjadi korban daripada radikalisme itu sendiri.
Kita gagal menjelaskan kepada publik mengapa radikalisme Islam timbul. Kita juga gagal mencegahnya. Kita juga gagal mencerdaskan umat Islam yang berpotensi radikal. Kemiskinan yang makin menghimpit juga menjadi bagian daripada akar masalah. Arsitek dan konflik yang tercipta atau diciptakan menjadi pendorong utama terjadinya radikalisme.

Dalam kasus Bom Bali misalnya, hingga kini, yang tersisa di ranah publik ialah adanya kelompok Islam radikal Kelompok Amrozi, Imam Samudera dan kawan-kawan. Kita gagal mengungkap motif di belakangnya sebagaimana kita juga gagal menyelamatkan stigma yang terlanjur melekat bahwa di Indonesia juga ada Islam radikal. Disini, kemiskinan, tingkat pemahaman dan pendidikan geopolitik yang lema serta pihak ketiga yang mempunyai kepentingan ekonomi di dalamnya, berkaitan satu sama lain.

Indonesia Damai

Tetapi kita tidak punya sejarah dan kultur radikal. Budaya kita selalu mengajarkan kita hidup santun, damai dalam harmoni.  Iklan Din Syamsuddin dengan beberapa tokoh lintas agama menyikapi Pemilu Legislatif 2009 yang berlangsung dengan aman dan damai, sangat perlu kita cermati. Indonesia damai. Damai itu Indonesia. Iklan itu sepertinya ingin menegasikan apa yang ditulis Fareed Zakaria. Karena keberagaman dan keberagamaan Indonesia memang seperti itu.
Upaya mencitrakan Indonesia yang beragam dan beragama dengan damai, semestinya sudah lama menjadi contoh bagi negara-negara yang menghadapi konflik yang langsung atau tidak dikaitkan dengan radikalisme Islam. Kasus Aceh, Ambon dan Poso ternyata juga bisa diselesaikan dengan baik. Belajar dari ketiga daerah konflik itu, sudah saatnya kita membangun kebersamaan yang lebih kuat. Lebih-lebih ujian kedua tahun ini akan segera datang: Pilpres.

Pilpres 2009 ini menjadi penting bagi kita untuk mencitrakan diri sebagai negeri yang selalu siap berdamai dengan diri sendiri atas apapun hasil Pilpres. Kita siap berdamai dengan siapa saja untuk Indonesia yang damai. Itu mestinya tidak hanya diucapkan di TV oleh tokoh-tokoh lintas agama melainkan terlihat nyata pada Pilpres nanti.

Disinilah pentingnya para pemimpin, para calon presiden atau siapapun yang mempunyai kapasitas untuk itu, mengungkapkan visi dan misi yang mencegah dan menolak radikalisme dalam segala bentuknya. Sudah banyak contoh negara-negara yang gagal mencegah radikalisme, akhirnya terjerembab menjadi negara bangsa yang gagal, kembali ke titik nol karena konflik yang berkepanjangan.

Terlepas apakah ada negara ketiga yang mendorong atau menciptakan konflik itu, tetapi apabila gayung tidak bersambut di akar rumput, maka konflik Irak, Afganistan dan kini menyusul Pakistan belum tentu terjadi. Semua potensi konflik ada disini, di Indonesia.  Tetapi kita bisa mencegahnya kalau semua kita mau. Sebagai negeri berpenduduk Islam terbesar di dunia, Indonesia perlu membebaskan diri dari Islam radikal. Islam adalah rahmat bagi sekalian alam sementara Islam radikal musuh semua bangsa termasuk umat Islam Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: