11 Tahun reformasi

May 14, 2009

Tanpa terasa sudah 11 tahun Indonesia memulai reformasi terhitung Tragedi 14 dan 15 Mei 1998 di Jakarta dan berbagai kota lainnya. Presiden Soeharto tumbang 21 Mei 1998 setelah berkuasa 32 tahun. Apa yang dihasilkan dari jargon ‘reformasi’ itu sekarang? Dalam pandangan sosiologis kultural, secara umum yang tercipta adalah sebuah negeri yang sedang mubal.

Mubal dalam bahasa Jawa berarti meluap atau menguap yang biasanya berkonotasi negatif. Indonesia saat ini memang seperti sungai atau bak air yang mubal sehingga air yang kotor dan jernih bercampur sehingga rakyat sulit melihat mana yang baik dan yang buruk. Bukan berarti semuanya kotor atau buruk. Rakyat akhirnya sulit mencari atau mendapatkan keteladanan di tengahtengah kekeruhan keadaan.
Kondisi mubal ini bisa dipahami sebagai masa transisi menuju kemapanan suatu keadaan. Ketika awal proklamasi, keadaan mubal ini terjadi dengan kontradiksi antara pro Republik Indonesia (RI) dan kontra RI. Begitu juga saat meletus pemberontakan G-30-S PKI tahun 1965, keadaan ini terjadi antara tuduhan antek PKI atau tidak sehingga banyak orang yang tak berdosa dibunuh atau dipenjarakan.

Ketika Jenderal Soeharto berkuasa akhirnya memunculkan kemapanan kekuasaan dengan jalan kediktatoran dengan dukungan militer. Keadaan menjadi tenang, tidak mubal lagi. Walaupun secara psikologis tertekan, suasana menjadi jelas: pejabat yang korup dan penjilat dengan pejabat yang bersih tampak kasat mata.
Di zaman Soeharto masih terlihat pejabat yang hidupnya sederhana seperti Direktur Tata Guna Tanah (sekarang setingkat Kepala BPN Pusat) Dr I Made Sandy (ayah penyanyi Daesy Arisandy) yang cuma memakai mobil dinas plat merah Nissan Patrol. Anaknya dilarang memakai fasilitas negara. Begitu juga Kapolri Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso yang jujur dan sederhana dan tegas.

Begitu juga pola hidup sederhana mantan Jaksa Agung Prof Dr Baharuddin Lopa ketika menjadi Dirjen Pemasyarakatan awal 1988, tinggal di rumah kontrakan di Jalan Mampang Tegal Parang, Jakarta, hanya punya mobil dinas Toyota tahun 1970-an dan mebel rumah yang sangat sederhana. Kehidupan jujur itu juga dijalankan Kepala PLN Wilayah I Sumut Ir Semiawan pada pertengahan 1970-an yang tinggal di rumah dinas di Jalan Karim MS Medan dengan mobil dinas Nissan Patrol dan pakaiannya sangat sederhana, sementara anaknya kuliah di USU dengan naik angkot. Di zaman sekarang, sangat sulit melihat pejabat seperti itu. Malah barangkali bisa saja dianggap sebagai pejabat yang ‘tolol,’ tak mau memanfaatkan jabatannya.

Secara psikologi sosial, kehidupan semacam itu dapat dipahami karena selama 64 tahun merdeka, Indonesia hanya mengalami 2 jenis kepemimpinan. Fase pertama era Soekarno (1945-1966) dan era Soeharto (1966-1998) dengan pola kekuasaan dengan kepemimpinan personal yang semuanya tergantung kemauan kedua presiden tersebut. Baru pada fase kedua yang pada awalnya disebut era reformasi, kekuasaan berada di tangan rakyat sepenuhnya melalui aspirasi partai politik dan pemilihan presiden dan kepala daerah secara langsung. Negeri ini sedang belajar merangkak walaupun usianya sudah tua.

Satu hal lagi, menurut budayawan Prof Dr Sutan Takdir Alisjahbana, sebagian besar bangsa kita bukanlah masuk dalam klasifikasi ‘manusia logika.’ Tapi kebanyakan jenis ‘manusia estetika.’ Sehingga lebih mengandalkan ‘rasa’ ketimbang ‘pikiran .’ Sutan Takdir banyak benarnya. Misalnya, kita selalu berkata, ‘saya rasa,’ kalau memberikan suatu pandangan. Berbeda dengan bangsa barat yang berkata, ‘I think, (saya pikir) dalam berbicara.
Tak mengherankan bangsa kita selalu terjebak dengan jargon-jargon hiperbola yang sebenarnya kosong makna. Seperti kata ‘Paduka Jang Mulia’ untuk Soekarno ‘Orde Baru,’ ‘Bapak Pembangunan,’ ‘ Kabinet Pembangunan.’ untuk Soeharto. Setelah Soeharto tumbang muncul jargon ‘Reformasi’ lalu jargon ‘Kabinet Gotong Royong’ di era Megawati dan ‘Kabinet Indonesia Bersatu’ di era sekarang.

Kenyataannya, sejak Soeharto tumbang, para politisi dan tokoh masyarakat berebut kekuasaan dari jabatan presiden sampai ke tingkat kepala desa. Istilah jargon Anti Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang dipakai sebagai jargon reformasi, kini tinggal kenangan. Indonesia tetap masih sebagai negara paling korup.
Bahkan nepotisme semakin merajalela di segala aspek pemerintahan. Parpol dipenuhi dengan sanak saudara, politik dipenuhi dengan uang, penerimaan PNS dipenuhi aroma nepotisme dan uang termasuk jabatan penting dapat dibeli. Karena pemilihan umum dan pilkada memang tak terlepas dari permainan uang. Rakyat tak pernah diajarkan dengan logika dan kecerdasan, tapi dipermainkan secara pendekatan emosional sehingga mudah diatur melalui uang dan sembako.

Sudah sebelas tahun kita katanya bereformasi. Tapi sebagian besar rakyat tak kunjung cerdas bernegara sehingga skeptis. Diukur dengan zaman sekarang, masa 11 tahun itu sangat lambat sekali untuk maju. Di masa depan Indonesia membutuhkan sebuah pemerintahan dengan pola kepemimpinan secara manajemen kolektif, bukan secara personal seperti gaya Soekarno atau Soeharto.

Kalau mau maju, di segala aspek harus dibuat sistem pengujian dan kontrol yang ketat untuk menyaring manusia-manusia yang berkualitas. Tentu saja, hukum harus tegas dan pendidikan harus merata di segala strata masyarakat. Seperti yang dilakukan Dr Mahathir Mohammad membangun Malaysia atau Lee Kuan Yew membangun Singapura.
Kalau kita gagal menyeleksi manusia yang berkualitas dan menetapkan sistem demokrasi yang tegas, kita akan terjerumus ke jurang lebih dalam lagi. Tanda-tanda ketidakmauan terhadap seleksi itu sudah terlihat pada parpol atau sistem pemilu dan pilkada yang sembarangan orang bisa ikut pemilihan. Lebih parah lagi, guru-guru ikut membocorkan ujian akhir nasional.

Sebelas tahun reformasi ternyata tak menghasilkan manusia yang berkualitas, malah memunculkan orang-orang yang tak pantas jadi pemimpin. Indonesia akhirnya menjadi negeri yang mubal. Reformasi gagal total karena kekuasaan yang diperoleh justru untuk mengkhiananti reformasi itu sendiri. Akhirnya negeri mubal ini lebih banyak dipenuhi kemunafikan sehingga sulit mencari keteladanan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: