Pemilih Pemula yang Rasional

April 4, 2009

Pendahuluan
Percaturan politik saat in semakin hangat dan seru saja. Kita sama-sama tinggal menghitung hari untuk sampai ke tanggal 9 April 2009 yang bertepatan jatuh pada hari Kamis. Di antara para caleg ada yang optimis dan merasakan “kalau bisa hari tidak ada malamnya” sehingga bisa bergerilya mendatangi massa. Sebaliknya, ada juga yang ragu dengan kemampuan diri dan menginginkan “cepatlah selesai pemilihan umum” tersebut. Di sisi lain masyarakat sebagai sasaran dari para celeg, baik untuk tingkat pusat seperti DPR RI dan DPD RI, tingkat propinsi seperti DPRD TK I maupun tingkat kabupaten kota seperti DPRD TK II ,sudah mulai jenuh dan kebingungan dengan para celeg-caleg tersebut karena banyaknya celeg dari berbagai partai maupun independen (DPD), sementara yang berhak dipilih hanya empat (4) orang saja mewakili satu (1) untuk tiap-tiap tingkatan.

Motivasi kuat untuk berjuang dipilih oleh partai politik sebagai kandidat, dipilih oleh para pemilih dan bekal dana yang memadai merupakan persyaratan yang harus dipenuhi , tidak terkecuali bagi DPD RI yang non partai (independent). Untuk ini semua, para caleg harus mengembangkan kualitas dan kapasitas dirinya baik rasa percaya diri, wawasan pengetahuan, meningkatkan cakrawala seni berpolitik seperti mampu membentuk opini, memformulasikan gagasan/pemikiran dan menyampaikan ide dengan tegas, berpenampilan menarik, dan lain sebagainya.

Dalam perjalanan waktu sosialisasi, banyak sudah cendera mata ada di tangan masyarakat pemilih seperti kalender yang jumlahnya ada beberapa di masing-masing rumah, kartu nama jangan tanya lagi, jilbab , kaos, stiker, pembelian sembako murah bahkan ada yang gratis, pogging, pengobatan gratis, dan lain-lainnya.Tujuannya tidak lain adalah sebagai tanda ikatan dan mencari simpati masyarakat. Menurut hemat penulis hal itu sah-sah saja sebagai jalan untuk terbukanya interaksi dengan kelompok sasaran dan sebaliknya lebih memudahkan massa untuk mengenali celeg tersebut dari jarak dekat. Ditinjau dari “political cost” masih wajar sebab belum menyalahi daripada aturan yang tidak membenarkan “money politic” .

Suatu hal yang harus dipahami oleh masyarakat adalah bagaimana untuk dapat menjadi pemilih yang cerdas agar “tidak salah pilih”. Memang mudah menyebutkan jadilah pemilih cerdas, tetapi ternyata sulit juga dalam menentukan pilihan tersebut. Pada tulisan kali ini, penulis mencoba menyajikan beberapa indikator yang dapat membantu dalam menentukan pilihan yang cerdas.

1. Peranan Tim Keluarga
Keterlibatan keluarga pada kampanye saat ini semua dimanfaatkan oleh para caleg.
Hal ini menjadi satu dasar dengan banyaknya partai dan caleg dari masing masing partai ( mulai no urut 1 sampai belasan) sehingga nomor urut belum menjamin dan menjanjikan untuk seseorang menuju parlemen. Suatu hal yang menarik dalam pesta demokrasi kita kali ini adalah selain bersifat langsung dari keterlibatan arus bawah, juga terbukanya peluang untuk semua caleg dengan “perolehan suara terbanyak”. Siapa yang memperoleh suara terbanyak berhak menuju parlemen. Oleh karenanya tim keluarga dirasakan sangat berperanan dan potensial untuk membantu mewujudkannya, apalagi biayanya sangat minimal ( umumnya tanpa pamrih dan iklas). Bahkan pada keluarga yang terlibat merasa senang dan dihargai karena keterlibatannya dalam mensukseskan seorang caleg apalagi sampai masuk ke parlemen.

Melalui tim keluarga para caleg disosialisasikan kepada sanak saudara/famili, jiran tetangga dan bahkan masyarakat sekitarnya. Lebih jauh lagi, melalui peranan keluarga seorang caleg dapat dihadirkan di tengah-tengah komunitas yang kurang dikenalnya maupun yang tidak dikenalnya. Tetapi masyarakat harus hati-hati juga karena tidak semua tim keluarga objektif dalam mengenalkan jagoannya. Oleh karenanya alternatif lain harus diperhitungkan sebagai sumber rujukan/referensi kalau mau menjadi pemilih yang cerdas.

2. Peranan Tokoh Masyarakat
Tokoh masyarakat adalah orang-orang yang mempunyai pengaruh luar biasa di tengah-tengah masyarakat. Yang termasuk tokoh masyarakat antara lain adalah cerdik pandai, tokoh agama (seperti: ustad, mualimah, pendeta), ketua-ketua pengajian, aktivis, guru/dosen, orang-orang yang peduli dengan masyarakat sekitarnya, dan lain-lain. Keberadaan mereka selalu menjadi incaran para caleg untuk dapat mensosialisasikan para caleg di tengah-tengah kelompok masyarakat. Melalui tokoh masyarakat dapat membantu mencerdaskan masyarakat dalam mengenali caleg dan dalam menentukan pilihannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peranan tokoh masyarakat kurang berperanan di masyarakat perkotaan disebabkan arus informasi yang begitu cepat , tingkat kepedulian masyarakat yang ditopang dengan tingkat pendidikan yang rata-rata ( sudah tamat SMA minimal), lebih mengenali para caleg, dan atribut-atribut para caleg yang menunjang seperti baliho dan spanduk. Berbanding masyarakat pinggiran terutamanya desa, peranan tokoh masyarakat lebih berpengaruh dalam menentukan arah pilihan masyarakat kepada para caleg.

Sekedar mengingatkan agar para tokoh masyarakat harus mampu memobilasi kepada pilihan yang benar agar masyarakat tidak salah pilih dan menjadikan masyarakat menjadi pemilih yang cerdas . Tokoh masyarakat diharapkan adalah orang-orang yang “bebas nilai dan tidak berpihak’ yang sama-sama mempunyai tujuan yaitu adanya perubahan kepada pembangunan bangsa dan negara ke depan.

3. Peranan Media Massa
Semua orang tahu peran penting dari media massa dalam menggapai keberhasilan di kancah politik, teristimewa dalam Pemilu. Media massa, baik cetakan seperti surat kabar maupun media elektronik seperti televisi dan radio punya andil yang besar. Meskipun sifatnya yang satu arah, tapi dapat efektif apabila media massa tersebut secara terus-menerus memperkenalkan para caleg kepada masyarakat pemilih. Tentunya dengan adanya komitmen bersama di antara pihak media massa dan para caleg. Terutama sekali media massa mau mempublikasikan caleg-caleg yang potensial (karena penulis tahu bahwa orang-orang media mempunyai segudang informasi tentang caleg-caleg yang potensial dan punya kepedulian terhadap perubahan). Tanggung jawab media massa juga dituntut dalam mencerdaskan masyarakat pemilih.

Perlu diakui bahwa di antara keluarbiasaan media massa adalah mampu menyapa seluruh lapisan masyarakat sampai ke desa dalam waktu yang cepat. Sebab pengenalan para caleg kalau hanya mengandalkan komunikasi secara langsung (berjumpa langsung satu persatu, berjumpa di kelompok pengajian, di warung kopi, ruang seminar, dll) diakui memang sangat efektif, namun dengan waktu yang sudah semakin dekat maka sosialisasi caleg-caleg yang potensial harus digiatkan melalui media. Khususnya bagi caleg untuk Pusat seperti DPD RI yang harus mengumpulkan sebanyak 300.000 – 400.000 suara kalau mau aman, juga caleg DPR RI yang lebih kurang sama, bahkan untuk DPRD TK I boleh juga mempertimbangkan hal ini. Kalau untuk DPRD TK II mungkin masih aman dengan berkomunikasi secara langsung dan melalui komunikasi kelompok karena daerah pilihan yang lebih terbatas dan suara yang harus dikejar kurang lebih 1500 .

Selain itu, pemberitaan media massa dapat mengorbitkan figur para caleg (laki-laki dan perempuan) melalui aneka liputan . Sebaliknya tanpa liputan/pemberitaan, figur caleg yang tampil meskipun berkualitas “bagai tak berkualitas” karena kurang dikenal masyarakat.

Seterusnya , media massa baik digunakan sebagai media pembelajaran politik kepada masyarakat agar masyarakat cerdas dalam melihat dan memilih. Meskipun disadari, mungkin tidak semua yang membaca surat kabar, melihat televisi apalagi mendengarkan radio. Tetapi media massa merupakan alternatif yang tidak dapat dihindari para caleg untuk mengejar sisa waktu yang tersedia mendekati pemilihan yang semakin dekat.

4. Atribut-atribut pendukung lainnya
Selain ketiga indikator di atas, kita juga tidak dapat melupakan atribut-atribut pendukung kampanye seperti baliho, kartu nama, stiker, poster, spanduk , kalender, bendera partai, dan lain-lain. Hal ini penting untuk mengingatkan masyarakat pemilih terhadap para caleg seperti : nama, no urut, asal partai dan caleg untuk tingkat mana (DPR RI, DPRD TK I, DPRD TK II) dimana tidak ada gambarnya di kertas suara. Terkecuali untuk caleg DPD RI , selain memperhatikan hal tersebut, caleg DPD RI ada gambarnya dan independen (non partai).

Menurut penulis, yang harus dicermati oleh para caleg adalah jangan salah menempel/ memacak / memasang seperti bendera partai, poster, spanduk, baliho , karena kalau memang wilayah tersebut tidak kita masuki dan tim sukses tidak/belum mensosialisasikan anda di daerah tersebut akan menjadi sia- sia.Tetap saja masyarakat tidak mengenal anda , bahkan boleh jadi atribut anda tersebut ditimpah dengan caleg lainnya, dikoyak dan hilang. Setiap caleg harus mempertimbangkan biaya yang sudah dikeluarkan.

Tips untuk menjadi pemilih yang cerdas
Sebelum sampai kepada penutup, mungkin tips ini berguna bagi kita untuk menjadi pemilih yang cerdas.

a.Lihat latar belakang caleg seperti tingkat pendidikannya, kemampuan organisasi / kepemimpinan, sumber kekayaan yang dimiliki, dan juga keluarganya. Kesemua ini penting untuk menghindari terjadinya 3 M ketika seorang kontestan itu sudah duduk di parlemen . (Menguras, Menimbun, Mengembalikan)
b.Seberapa besar interaksi yang telah dilakukannya langsung dengan masyarakat bawah.
c.Lihat aktivitasnya di tengah-tengah masyarakat. Ini dapat diamati langsung melalui pertemuan-pertemuan yang diadakan oleh kelompok-kelompok (seperti memberi ceramah pada pengajian, nara sumber pada kegiatan seminar/ lokakarya) , mengadakan pengobatan gratis, penyuluhan kesehatan, pogging, dan lain-lain. Kemudian secara tidak langsung dapat dibaca melalui tulisannya di media cetak surat kabar, kegiatan-kegiatannya yang dipublikasikan di media massa, debat kandidat di televisi dan lain-lainnya yang menunjang.
d.Kemampuan berkomunikasinya harus ada.

Penutup
Banyaknya partai politik dan tantangan yang dihadapi partai politik , jelas-jelas mengharuskan partai politik untuk membuat strategi yang tepat agar dapat merebut, memuaskan serta mendapatkan dukungan dari masyakat pemilih. Tidak terkecuali pada DPD RI yang non partai. Tujuan akhir dari semua ini adalah membawa pemilih ke tempat pemilihan suara (TPS) sampai akhirnya mencontreng satu (1)) orang kontestan yang paling baik dengan masing-masing warna kertas : untuk DPR RI kertas suara warna kuning pada bahagian atasnya, untuk DPD RI kertas suara warna merah pada bahagian atasnya, untuk DPRD TK I kertas suara warna biru pada bahagian atasnya dan untuk DPRD TK II kertas suara warna hijau pada bahagian atasnya. Keempat-empat nama kontestan harus sudah ada di kepala pemilih sebelum masuk ke bilik suara agar proses pencontrengan dapat berjalan cepat dan efektif .

Hindari untuk golput (tidak memilih) meskipun sudah datang ke TPS ( masuk bilik suara – namun tidak mencontreng ). Harus disadari dan difahami bersama bahwa satu suara pemilih sangat menentukan untuk arah kebijakan dan pembangunan bangsa / negara ke depannya. Meskipun ada isu yang berkembang bahwa golput adalah suatu pilihan yang cerdas, benarkah itu……?. Semoga saja kita dapat menentukan pilihan-pilihan kita yang tepat untuk para kandidat menuju parlemen dan menjadi perwakilan kita yang amanah dan cerdas .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: