HMI’s FUTURE

March 15, 2009

Pertama, Kembali ke Basis Keilmuan. Salah satu pekerjaan terpenting PB HMI adalah mengembalikan fokus keilmuan kader sesuai dengan potensinya masing-masing. Atau bisa dikatakan kembali ke kajian fakultatif. Sedapat mungkin kader HMI Cabang dan Komisariat se-Indonesia mengurangi untuk ikut menyikapi isu nasional. Kecuali jika agenda tersebut berhubungan dengan penegakan hak-hak kaum tertidas. Sementara in hendaknya berupaya untuk mengembangkan keahlian keahlian dan keilmuan di bidangnya. Dengan penguasaan keilmuan itu, kader menjadi lebih berani untuk berkompetisi baik di ranah lokal, nasional maupun internasional.
Mulai sekarang tidak boleh ada lagi istilah kader HMI yang berhenti kuliah, IP jeblok, dan tidak berprestasi di kampus. Dengan cara kembali ke basis keilmuan, maka secara otomatis tradisi intelektual kader juga mulai dibangun terbangun; budaya baca, tulis, diskusi, dan riset, serta kepekaan sosial yang dalam (seperti amanat tri dharma perguruan tinggi). Perlu pula diingat, dalam menghadapi perubahan yang demikian cepat ini, maka ke depan mau tidak mau kader HMI harus berkualitas, dengan pengetahuan, wawasan, skill, mentalitas, dan moralitas.
Kedua, Mengubah Kultur Organisasi yang Formalistis ke Arah Organisasi yang Progresif dan Implementatif. Secara umum hampir sebagian besar aktivitas di HMI mulai dari PB sampai Komisariat suka untuk mentradisikan aktifitas yang formalistik. Hal ini dapat dilihat dari program kerja yang lebih banyak hanya merupakan adopsi dari program kerja kepengurusan terdahulu. Formalisme aktivitas juga dapat dilihat dari tema-tema diskusi yang monoton, tidak memiliki kerangka gerak dan miskin kesiapan teknis sosialisasi. Hal ini muncul disebabkan lebih karena tiadanya arah gerakan yang jelas yang menjadi blue print organisasi. Tengolahlah bagaimana kegiatan up-grading dan raker. Penyelenggaraan up-grading hanya terbatas sebagai rutinitas-rutinitas yang miskin kreatifitas. Parahnya, ketika rapat harian, presidium, raker, rapat anggota komisariat atau bahkan konfrensi cabang tersebut, lebih sering mempermasalahkan soal-soal internal organisasi yang tidak prinsipil. Untuk itu hendaknya aktifitas organisasi bisa diupayakan untuk lebih progresif mengikuti perkembangan yang ada, dan jelas out come-nya. Sebab, harapan akan adanya energi progresif dari keseluruhan anak muda, cukup realistis dilakukan HMI.
Ketiga, Memutus Mental Faksional dan Fragmentaris di Tubuh HMI. Ketidaksadaran politik merupakan suatu kondisi kognitif manusia yang dibentuk oleh hubungan asosiatif mereka dengan lingkungannya. Penjelmaannya di dalam tubuh gerakan kaum muda dan mahasiswa adalah; sulitnya mereka untuk memutus tali hubungan kognitif dengan generasi lama di satu sisi, dan masih kentalnya mental faksional dan fragmentaris di dalam tubuh gerakan mereka di sisi yang lain. Akibatnya, yang menjadi imajinasi kolektif di masing-masing gerakan adalah; bagaimana suatu kelompok bisa meneguhkan identitasnya atau kepeloporannya di antara kelompok-kelompok yang lain, dan bukannya mencari jalan yang sinergis dan visioner bagi perbaikan bangsa.
Keempat, Komitmen, Konsisten dan Berkelanjutan pada semua yang telah diyakini dan direncanakan. Mulailah berusaha keras mematuhi hasil-hasil rapat kerja, tepat waktu dalam setiap event, bertanggung jawab pada semua hal.
Kelima, Konsolidasi, Refleksi dan Aksi. Membangun kepercayaan terhadap kemunitas sangatlah penting. Untuk membangun tren yang begitu kompleks medannya, dibutuhkan dukungan berbagai pihak. Selain itu, evaluasi gerakan harus dilakukan untuk memonitor spirit dan perencanaan.
Level Umat dan Bangsa
Keenam, Masifikasi Gagasan kepada Mahasiswa dengan Gaya Pop-Education. Dengan bersikap lebih moderat terhadap fenomena mahasiswa sekarang seperti: Profesional , Internasionalisasi gagasan berbasis keilmuan teknologi, peka terhadap persoalan sektoral berbasis pada riset dan data; yang kesemuanya dikemas dengan memakai sentuhan-sentuhan Islam baik secara simbol maupun kerangka berfikir. Hasilnya adalah adanya sebuah visi, karakter, dan kompetensi anak muda untuk memperbaiki keadaan dan cara berfikir bangsanya memasuki zaman moderen. Hanya saja, masih adakah anak muda seperti mereka di zaman yang serba pragmatis dan hedonistik ini?! Kekhawatiran akan adanya degradasi mentalitas bukan isapan jempol. Dari sekian banyak anak muda Indonesia, berapa di antara mereka yang berfikir mengenai perbaikan bangsanya? Alih-alih berfikir tentang sesuatu yang luhur dan idealistik semacam itu, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja banyak yang masih kekurangan. Sebagian besar pengangguran baik yang terdidik maupun tidak adalah anak-anak muda.
Ketujuh, Leading Issue. Kemampuan mendesain isu dengan pembangunan opini dan pencitraan gerakan membutuhkan perencanaan dan kepekaan yang matang. Di sana harus ada kebutuhan rakyat, visi kebangsaan, dan cita-cita universal. Tanpa ini, isu yang diusung gerakan mahasiswa justru dianggap corong atau kepanjangan tangan pihak-pihak yang berkuasa.
Kedelapan, Membangun Linkage HMI yang bersifat lintas-wilayah. Linkage HMI menjangkau hampir semua wilayah, terutama kota-kota besar yang menjadi basis gerakan mahasiswa. Kota-kota yang selama ini merupakan enclave gerakan mahasiswa — seperti Bandung, Jakarta, Yogyakarta, danlain-lain — adalah basis utama HMI. Serta membuat akses strategis dengan melibatkan seluruh stakeholder gerakan seperti rakyat, kampus, pakar, tentara, polisi, politikus, kalau perlu negara asing. Seperti diketahui, fasilitas teknologi informasi dan komunikasi era ini sudah sangat memadai untuk membangun gerakan kultural, hingga politis. Koneksi ini tentu tidak untuk mengkhianati koloni, tapi untuk menakar realitas kekinian yang tengah bergerak dan berujung pada perubahan sosial. Seringnya, membangun akses dianggap sebagai bersekutu atau keluar dari koridor moral gerakan.
Kesembilan, Penciptaan Budaya Tanding (Counter Culture). Pembangunan kapasitas kader merupakan hal yang paling utama bagi perbaikan kondisi ke depan. Dengan menghadapi kondisi zaman yang mulai menggila pada saat ini maka diperlukan sebuah sistem rekayasa di tubuh HMI, yang harus tumbuh sebagai kekuatan budaya tanding agar cukup efektif menghadapi kekuatan budaya global saat ini. Budaya tanding yang diharapkan kepada kader-kader HMI ialah memainkan peranannya sebagai director of change ditengah kehimpitan budaya massa yang menggilas.
Kesepuluh, Memiliki Tren Masyarakat Informasi. Maksudnya, kader HMI harus sadar pentingnya informasi, bagaimana mendapatkannya, bagaimana mengolahnya, dan bagaimana menggunakannya. Kemampuan berbahasa dan memahami teknologi tentu sangat dituntut untuk mencapai target ini. Sebab, gerakan yang tak up to date tidak akan direspons kondisi.
Kesebelas, Merancang HMI sebagai Laboratorium Pemikiran Islam Alternatif. Unruk mengambil bagian dari pengertian gerakan transformative, maka HMI harus concern untuk mengikuti diskursus hegemoni neo-liberalisme atau globalisasi di satu pihak dan kecenderungan konservatisme dan fundamentalisme dalam pemikiran Islam dan gerakan, semisal kecenderungan wahabisme dan salafisme, di lain pihak. HMI sudah sepantasnya, untuk membangun kritisisme terhadap kecenderungan ketidakadilan dan kesenjangan akibat globalisasi dan neo-liberalisme baik dalam konteks global maupun nasional dan lokal yang mengakibatkan ketidakadilan. Di lain pihak, HMI juga berupaya mentrasformasi ide-ide moderatisme dan progresivisme dalam Islam sebagai tanggapan alternatif terhadap kecenderungan konservatisme dan fundamentalisme pemikiran dan gerakan keagamaan lain.
Keduabelas, Kembali ke Gerakan Sosial. Bila di bagian sebelas bicara pada aras pemikiran, maka kembali ke gerakan sosial bicara di aras praktis. Selaras dengan pemikiran seperti agenda penyadaran, maka aktifitas gerakan sosial adalah mengorganisir masyarakat atas proses pemiskinan dan ketidakadilan akibat neo-liberalisme dan globalisasi, terutama yang diakibatkan oleh penafsiran agama yang sempit dan konservatif untuk membela kaum mustakbirin, dan HMI senantiasa kritisis terhadap berbagai kebijakan yang kontra kepentingan rakyat miskin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: